Kemuliaan Orang Yang Belajar Hadits

ععَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِت رصي الله عنه قاَلَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: (نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ — وَفِيْ لَفْظٍ: فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا — حَتَّى يُبَلِّغَهُ (فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

Dari Zaid bin Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghapalnya’ —dalam lafadz riwayat lain, ‘lalu dia memahami dan menghapalnya—, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya’.” (Hadits yang shahih dan mutawatir).

TAHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh :
§  imam Abu Dawud (no. 3660),
§  at-Tirmidzi (no. 2656),
§  Ibnu Majah (no. 230),
§  ad-Darimi (no. 229),
§  Ahmad (5/183),
§  Ibnu Hibban (no. 680),
§  ath-Thabrani dalam "al-Mu'jamul kabiir" (no. 4890),
§  dan imam-imam lainnya.
Hadits ini adalah hadits yang shahih dan mutawatir, karena diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat ra.dari Rasulullah SAW, dan diriwayatkan dari berbagai jalur yang banyak sekali Imam Shalahuddin al-'Ala'i berkata: "Hadits ini diriwayatkan dari berbagai jalur yang banyak, dari sejumlah besar sahabat ra., diantaranya: Abdullah bin mas'ud, Jubair bin muth'im, Zaid bin Tsabit, Nu'man bin Basyir, Abu Sa'id al-Khudri, Abdullah bin 'Umar, Anas bin Malik, Ibnu 'Abbas, 'Aisyah, Abu Hurairah, Ubay bin Ka'ab, Jabir bin Abdillah, Rabi'ah bin 'Utsman, Abu Qarshafah dan sahabat lainnya ra." .
Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani berkata: "Hadist ini sangat masyhur (dikenal), dikeluarkan dalam kitab-kitab "as-Sunan" atau dalam sebagiannya, dari hadits (riwayat) Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit dan Jubair bin muth'im. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dan (imam) Abul Qasim Ibnu Mandah menyebutkan dalam kitabnya "at-Tadzkirah" bahwa hadits ini diriwayatkan dari Rasulullah SAWoleh dua puluh empat orang sahabat ra., kemudian beliau menyebutkan nama-nama sahabat tersebut…" .
Bahkan imam as-Suyuthi dalam kitab "Tadriibur raawi" (2/179) menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh sekitar tiga puluh orang sahabat ra. , ini dinyatakan shahih oleh sejumlah besar imam Ahlul hadits, diantaranya: Imam Abdurrahman bin Abi Hatim , Ibnu Hibban , al-Mundziri , al-'Ala'i , Ibnul Qayyim , al-Bushiri dan syaikh al-Albani .
PENJELASAN HADITS
Hadits ini menjelaskan betapa besar manfaatnya  bagi orang yang berusaha mempelajari hadits dari Rasulullah Salallahu’alaihiwassalam. Orang yang mempelajarinya akan mendapatkan kemuliaan yang besar karena telah berusaha memurnikan ajaran Islam dari segala kotoran-kotoran ajaran diluar islam yang ‘mengaku-aku’ dari ajaran islam alias sering disebut bid’ah atau perkara baru diluar Islam karena segala bid’ah adalah sesat dan sesat itu bertempat dineraka.  Hal itu karena hadits adalah berisi perkataan dan perbuatan nabi dari lahir sampai beliau wafat dan menjelaskan kebiasaan dan tata cara ibadah yang benar menurut perintah Allah SWT. Karena sudah pasti jika kita menaati ajaran yang dibawakan Rasulullah SAW maka otomatis kita telah menaati Allah Tuhan Semesta Alam, Sebagaimana Firmannya :
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”[Q.s An-Nisa’ ayat 80]
Selain itu sudah jelas kita mengetahui bahwa sumber pedoman hidup kita adalah al-Qur’an dan yang kedua adalah Assunah (hadits sah (sahih) dari Rasulullah SAW), mempelajari al-Qur’an adalah utama dan akan lebih utama jika mempelajari juga hadits-hadits dari rasulullah. Karena tidaklah sempurna ibadah seseorang jika mengambil sumber hukum hanya dari al-Qur’an karena al-Qur’an hanya menjelaskan kepada masalah yang umum dan perkara-perkara tatacara ibadah dan hukum-hukum syar’i lainnya tidak dibicarakan detail didalam al-Qur’an akan tetapi akan lebih detail dan lebih mudah dimengerti jika belajar juga dari hadits nabi Muhammad SAW. Dan manfaat lainnya dari belajar hadits adalah mengetahui mana hadits yang sah / shahih dari Rasulullah  dan mana hadits yang palsu yang dibuat-buat orang munafik untuk mengotori ajaran islam dan berdampak terhadap timbulnya bid’ah sampai kemusyrikan.
Imam Ibnul Qayyim ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata: "Seandainya tidak ada keutamaan mempelajari ilmu (tentang hadits Rasululah SAW) kecuali (keutamaan yang disebutkan dalam hadits) ini, maka cukuplah itu sebagai kemuliaan (yang agung), karena sungguh Nabi SAW mendoakan kebaikan bagi orang yang mendengar ucapan beliau SAW, kemudian memahami, menghafal dan menyampaikannya (kepada orang lain)" .
 Semakna dengan ucapan di atas, Mulla 'Ali al-Qari berkata: "Hadits ini menunjukkan keagungan hadits (Rasulullah SAW), keutamaan dan kedudukan orang-orang yang mempelajarinya, karena Rasulullah SAW mengkhususkan/mengistimewakan mereka dengan doa (kebaikan) yang tidak ada seorangpun dari umat ini yang menyertai mereka dalam doa (kebaikan) tersebut. Seandainya tidak ada manfaat (keutamaan) dalam mempelajari, menghafal dan menyampaikan hadits (Rasulullah SAW) kecuali (hanya) mendapatkan berkah dari doa yang agung ini, maka cukuplah itu sebagai manfaat (yang agung), kemuliaan di dunia dan akhirat, serta bagian dan keutamaan (yang besar)" .
 Doa kebaikan yang berupa kecerahan dan keindahan (rupa), yang diucapkan Rasulullah SAWbagi orang-orang yang mempelajari dan menyampaikan petunjuk beliau SAW kepada umat ini adalah sebagai al-Jaza'u min jinsil 'amal (balasan yang sesuai dengan perbuatan baik mereka), karena mereka telah mengusahakan sebab sampainya petunjuk dan bimbingan kebaikan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW kepada manusia, yang dengan mengamalkan ini semua, wajah manusia akan menjadi putih berseri pada hari kiamat nanti, sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah SWT:
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ، فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُون. وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُون
"Pada hari yang (di waktu itu) ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman, karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya" (QS Ali 'Imraan: 106-107) .
Dan sungguh doa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW ini benar-benar terbukti secara nyata pada diri orang-orang yang diberi taufik oleh Allah SWT untuk mempelajari dan mendakwahkan sunnah Rasulullah SAWdengan sungguh-sungguh dan disertai dengan keikhlasan serta mengharapkan balasan pahala dari Allah SWT  .
Mulla 'Ali al-Qari berkata: "Ada yang mengatakan: Sungguh Allah telah mengabulkan doa Rasulullah SAW(tersebut), oleh karena itu kamu dapati para (ulama) ahli hadits adalah orang yang paling bagus (elok) wajahnya dan indah penampilannya. Diriwayatkan dari imam Sufyan bin 'Uyainah bahwa beliau berkata: "Tidak ada seorangpun yang menuntut (ilmu) hadits kecuali (terlihat) pada wajahnya kecerahan" , yaitu: keindahan yang tampak atau (yang bersifat) maknawi (tidak tampak)"  .
Hal ini tidaklah mengherankan, karena secara umum Allah SWTmenjadikan perbuatan baik dan amalan shaleh sebagai sebab yang menjadikan kebaikan dan keindahan lahir dan batin pada diri orang yang mengamalkannya, terlebih lagi pada diri orang-orang yang membawa petunjuk Rasulullah SAWyang merupakan sumber kebaikan dalam agama ini.
Inilah makna ucapan sahabat yang mulia, Abdullah bin Abbas ra. sewaktu beliau berkata: "Sesungguhnya (amal) kebaikan itu memiliki (pengaruh baik berupa) cahaya di hati, kecerahan pada wajah, kekuatan pada tubuh, tambahan pada rezki dan kecintaan di hati manusia, dan (sebaliknya) sungguh (perbuatan) buruk (maksiat) itu memiliki (pengaruh buruk berupa) kegelapan di hati, kesuraman pada wajah, kelemahan pada tubuh, kekurangan pada rezki dan kebencian di hati manusia" .
Oleh karena itu, imam Ibnul Qayyim berkata: "Doa Rasulullah SAW ini (keindahan rupa) mengandung arti keindahan/keelokan pada lahir dan batin, karena (kata) an-nadhrah berarti kecerahan dan keindahan yang menghiasi wajah, (yang bersumber) dari pengaruh iman (dalam hati), serta kegembiraan, kesenangan dan kebahagiaan (yang dirasakan dalam) batin dengan keimanan tersebut, sehingga kegembiraan, kesenangan dan kebahagiaan itu akan tampak (nyata) berupa kecerahan pada wajah. Oleh karena itulah, Allah SWTmengumpulkan kesenangan dan kebahagiaan (dalam hati) dengan keceriaan (pada wajah, sebagai balasan kemuliaan bagi penduduk surga), sebagaimana dalam firman-Nya:
{فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورً}
"Maka Allah menjaga mereka dari keburukan pada hari itu dan menganugerahkan kepada mereka kecerahan (pada wajah mereka) serta kegembiraan (dalam hati mereka)" (QS al-Insaan: 11).
Maka kecerahan (ada) pada wajah-wajah mereka dan kegembiraan/kebahagiaan (ada) pada hati mereka, (ini berarti) bahwa kesenangan dan kegembiraan (dalam) hati akan menampakkan (pegaruh baik berupa) kecerahan pada wajah. Sebagaimana firman Allah SWT(tentang keadaan penduduk surga):
{تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيم}
"Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan" (QS al- Muthaffifiin:24).
Kesimpulannya, kecerahan pada wajah bagi orang yang mendengarkan sunnah Rasulullah SAW, kemudian memahami, menghafal dan menyampaikannya (kepada orang lain), ini adalah pengaruh kemanisan (iman), dan kesenangan serta kebahagiaan (yang dirasakannya) di dalam hati" . Keterangan di atas menunjukkan keutamaan yang agung dari mempelajari dan memahami hadits Rasulullah SAWdalam membersihkan penyakit hati dan kotoran jiwa manusia, yang itu semua merupakan penghalang utama untuk mencapai kemanisan iman dan kebahagiaan hati.
Oleh sebab itu, Rasulullah SAW menganalogikan petunjuk dan ilmu yang beliau bawa dengan air hujan yang Allah SWTturunkan ke bumi untuk memberikan kehidupan bagi tanah yang tandus dan bagi makhluk hidup. Rasululah SAW bersabda:
"إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا..."
"Sesungguhnya perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah  wahyukan kepadaku adalah seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…" .
Imam Ibnu Hajar dalam kitab "Fathul Baari" membawakan ucapan para ulama dalam menerangkan makna hadits ini: "Rasulullah SAWmembuat perumpamaan bagi agama yang beliau bawa (dari Allah SWT) seperti air hujan (yang baik) yang merata dan turun ketika manusia (sangat) membutuhkannya, seperti itu jugalah keadaan manusia sebelum diutusnya Rasulullah SAW, maka sebagaimana air hujan tersebut memberi kehidupan (baru) bagi negeri/tanah yang mati (kering dan tandus), demikian pula ilmu agama akan memberi kehidupan bagi hati yang mati…" .
     Imam Ibnul Jauzi berkata: "Ketahuilah bahwa hati manusia tidak (mungkin) terus (dalam keadaan) bersih, akan tetapi (suatu saat mesti) akan bernoda (karena dosa dan maksiat), maka (pada waktu itu) dibutuhkan pembersih (hati), dan pembersih hati itu adalah menelaah kitab-kitab ilmu (agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW)" .

Maraatib (tingakatan/tahapan) dalam menuntut ilmu agama
Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah SAWjuga mengisyaratkan tentang maraatib (tingakatan/tahapan) yang harus ditempuh dalam menuntut ilmu agama, agar ilmu yang dipelajari benar-benar dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi orang yang mempelajarinya.
Tahapan-tahapan ilmu tersebut adalah:
1- Mendengarkan/menyimak ilmu dari sumbernya, sumber ilmu yang utama adalah al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW. Dan termasuk dalam hal ini membaca dan menelaah kitab-kitab ilmu agama yang bersumber dari wahyu Allah SWT tersebut.
2- Berusaha memahami dan meresapi kandungan maknanya, agar ilmu itu benar-benar menetap dalam hati dan tidak hilang.
3- Berusaha menjaga dan menghafalnya, agar tidak dilupakan.
4- Menyebarkan dan menyampaikannya kepada umat, supaya kebaikan dan petunjuk Allah SWT tersebar dan diamalkan dalam kehidupan manusia, karena ilmu agama itu ibaratnya seperti perbendaharaan harta yang terpendam dalam tanah, kalau tidak segera dikeluarkan maka harta itu terancam akan musnah .
Dalam hal ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: "Menyampaikan sunnah (hadits) Rasulullah SAWkepada umat lebih utama daripada menyampaikan (melontarkan) anak panah ke leher musuh (berperang melawan musuh-musuh Islam. Karena menyampaikan (melontarkan) anak panah ke leher musuh mampu dilakukan oleh mayoritas manusia, adapun menyampaikan sunnah (hadits) Rasulullah SAW(kepada umat) hanyalah bisa dilakukan oleh waratsatul Anbiya' (orang-orang yang mewarisi ilmu para Nabi SAW dengan tekun mempelajarinya) dan orang-orang yang menggantikan (tugas) mereka (dalam mempelajari, memahami dan menyebarkan petunjuk Allah SWT) di umat-umat mereka. Semoga Allah SWTmenjadikan kita termasuk (golongan) mereka, dengan anugerah dan kemurahan-Nya" .
Kemudian, sabda Rasulullah SAWdi akhir hadits ini: "…Terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya...", ini menunjukkan salah satu manfaat besar dari menyampaikan petunjuk Rasulullah SAWkepada umat.
Imam Ibnul Qayyim berkata: "Sabda Rasulullah SAW (di akhir hadits) ini merupakan peringatan akan pentingnya menyampaikan (petunjuk Rasulullah SAWkepada umat). Karena terkadang orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah SAW) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, sehingga orang tersebut mendapatkan (manfaat besar) dari hadits Rasulullah SAW(yang disampaikan kepadanya) melebihi yang didapatkan si penyampai. Atau (bisa juga) diartikan bahwa orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah SAW) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, maka ketika dia mendengarkan hadits tersebut, dia akan mengartikannya dengan sebaik-baik kandungan makna, menarik kesimpulan (hukum-hukum) fikh, dan memahami kandungan (yang benar) dari hadits tersebut" .

PELAJARAN DARI HADITS
1- Besarnya perhatian dan semangat Rasulullah SAW untuk memberikan bimbingan kebaikan kepada umatnya, untuk kemuliaan mereka di dunia dan akhirat. Allah SWTberfirman:
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya apa-apa yang menyusahkanmu, sangat menginginkan (petunjuk dan kebaikan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min" (QS at-Taubah:128).
2- Peringatan untuk memberikan perhatian besar dalam mempelajari hadits Rasulullah SAW, baik secara riwayah (yang berhubungan dengan periwayatan/perawi dalam sanad hadits) maupun dirayah (makana dan kandungan hadits).
3- Keutamaan menekuni ilmu hadits Rasulullah SAW, karena Nabi SAW mendokan kebaikan bagi orang-orang yang menekuninya.
4- Anjuran untuk menyebarkan dan mendakwahkan petunjuk Rasulullah SAW kepada umat.
5- Agungnya kemuliaan dan keutamaan para ulama ahli Hadits.
6- Anjuran untuk menjaga dan menghafal hadits Rasulullah SAW.
7- Al-Jaza'u min jinsil 'amal (balasan yang Allah SWT berikan kepada manusia adalah sesuai dengan jenis perbuatan mereka).
8- Keutamaan para sahabat Rasulullah SAW, karena merekalah orang yang paling pertama dan sungguh-sungguh dalam mendengarkan, memahami dan menyampaikan hadits Rasulullah SAWkepada umat ini, maka merekalah yang paling berhak untuk mendapatkan kemuliaan doa Rasulullah SAW ini.
9- "Barangsiapa yang mengajak (manusia) untuk (melakukan) kebaikan, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang melakukannya" .
10- Mendoakan kebaikan yang berupa kecerahan dan keindahan rupa bagi orang yang mempelajari dan mendakwahkan sunnah Rasulullah SAW.
11- Larangan menyembunyikan ilmu dan petunjuk kebaikan.
12- Hadits ahad (hadits yang hanya diriwayatkan oleh perawi yang jumlahnya sedikit) adalah dalil dan hujjah (argumentasi) yang wajib diamalkan kandungannya, karena Rasulullah SAWdalam hadits ini tidak mensyaratkan jumlah yang banyak bagi orang yang mendengar dan menyampaikan hadits-hadits beliau SAW.
13- Kebaikan manusia lahir dan batin hanyalah dicapai dengan memahami dan mengamalkan petunjuk Allah SAW dalam al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW.
14- Fungsi utama petunjuk yang dibawa oleh Rasullullah SAW sebagai pembersih penyakit hati dan kotoran jiwa manusia.
15- Mempelajari, memahami, menghafal dan menyampaikan sunnah Rasulullah SAW adalah termasuk sebab utama terjaganya kemurnian sunnah Rasulullah SAW, dan ini termasuk makna firman Allah :
{إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an , dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (QS al-Hijr:9).
16- Keutamaan dan kemuliaan mempelajari ilmu agama.
17- Hadits Rasulullah SAWyang shahih adalah sumber pengambilan hukum-hukum fikh.
18- keutamaan menggabungkan antara menghafal hadits Rasulullah SAWdan memahami kandungan maknanya .
Wallahu ‘alam
                                                                      
Refrensi :
Tulisan dari   Abdullah bin Taslim al-Buthoni
   
      


Komentar

  1. Islam, Dien yang haq yang mampu memecahkan problem-problem manusia. Dengan menerapkan sistem Islam yang kekal dan mabda’ (ideologi) Islam yang adil, maka kita pasti akan meraih kemuliaan. Tetapi apabila hal tersebut kita lalaikan dan telantarkan, maka kita tertimpa kehinaan dan akan dihina.

    BalasHapus
  2. al-Qur'an dan Sunah merupakan 2 benda pusaka wasiat Rasulullah SAW yang paling berharga sejagad

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TANDA KIAMAT : ANAK SD JAMAN SEKARANG !! PUBER AWAL & RUSAK MORAL

DOWNLOAD GRATIS EBOOK HADITS SHAHIH MUSLIM (ARAB-INDO)

Kumpulan Foto-Foto Tanda Kebesaran Allah