Kamis, 12 April 2012

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 Makalah Tentang Maksiat, Jenis dan Dampak Maksiat

Oleh : www.ashabul-muslimin.tk


BAB I

DEFINISI MAKSIAT



Maksiat adalah lawan ketaatan, baik itu meninggalkan peintah maupun melakukan suatu larangan. Sedangkan iman, sebagaimana telah diketahui ada 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan “laa illaha illallah” dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Jadi cabang-cabang ini tidak bernilai atau berbobot sama, baik yang berupa mengerjakan (kebaikan) maupun meninggalkan (larangan). Begitu pula dengan maksiat, maksiat mempunyai jenis-jenis tersendiri yaitu ada yang mengkibatkan pelakunya keluar dari Islam dan maksiat yang tidak mengeluarkan pelakunya daripada Islam.



Secara hakiki maksiat adalah perbuatan durhaka (asha) kepada Allah SWT. Perbuatan maksiat bisa berupa menolak melaksanakan perintah Allah SWT atau melanggar  larangan-Nya. Orang yang tidak mau melaksanakan kewajiban sholat, kewajiban shaum Ramadhan, kewajiban membayar zakat, dan kewajiban pergi haji bagi muslim yang punya kemampuan, adalah perbuatan maksiat. Demikian juga perbuatan melanggar larangan Allah SWT seperti perbuatan melanggar larangan mencuri, larangan merampok, larangan berzina, larangan minum-minuman keras dan memakai narkoba, larangan membunuh, larangan memakan riba, larangan mensekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain.[1]  



Oleh karena itu, prinsip dari perbuatan dikatakan maksiat dalam ajaran Islam adalah tindakan menyalahi syariat Allah, atau mengambil alternatif selain keputusan Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzab 36).





AB II

JENIS-JENIS MAKSIAT

Secara garis besar maksiat jika ditinjau dari dampaknya terhadap keimanan tauhid dapat digolongkan menjadi 3, Yaitu :

A.     Maksiat / dosa besar yang mengakibatkan pelakunya murtad .

Jenis maksiat seperti ini sangat berbahaya bagi keimanan seseoarang bila pelakunya tidak segera bertobat maka dia dalam keadaan murtad (kafir) daripada islam dia halal dibunuh jika tidak mau bertobat, konsekuensinya yang lebih berat bila pelakunya meninggal maka dia mendapat azab yang kekal dineraka berbeda dengan kaum muslimin yang melakukan dosa dia masih punya harapan masuk surga, InsyaAllah. Contoh maksiat jenis ini adalah :

-         Syirik akbar / besar (menyekutukan Allah) yaitu menyamakan Allah kepada makhluk-Nya  dalam tauhid rububiyah maupun uluhiyah. Secara kasar syirik besar adalah menyembah dan bergantung kepada selain Allah . Contoh dosa syirik besar adalah : Beranggapan Allah punya anak, menyembah patung atau salib dsb., pergi ke dukun, memakai jimat-jimat. Sedangkan syirik kecil tidak mengakibatkan pelakunya murtad.

-          Mengolok-olok Hukum Allah dan rasul-rasulnya

Ciri seorang munafik adalah mengaku islam tapi hatinya tidak mau menerima islam. Meskipun mengaku  islam kalau pelakunya suka mengolok-olok dan mengejek hukum Allah dan ajaran rasulullah dia sudah dianggap murtad bila dia tidak bertobat dia halal darahnya.

Sesuai firman Allah Ta’ala :

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)

-         Memusuhi kaum muslimin dan berloyalitas kepada kaum kafir.

Banyak sekali munafik jaman sekarang mengaku islam namun sebenarnya tujuannya adalah untuk membuat makar supaya kaum muslimin hancur. Yaitu ciri mereka adalah suka memusuhi umat islam sekalipun mengaku islam dan sebaliknya kepada orang kafir mereka berteman akrab (loyal). Hukuman bagi orang seperti ini adalah dia telah kafir, karena Allah SWT telah berfirman :

“…Barangsiapa yang tawalliy (loyal) kepada mereka (kafirin ) di antara kalian, maka sesungguhnya dia adalah bagian dari mereka…” (QS. Al Maidah [5] : 51)

-         Meninggalkan kewajiban dan menolak ajaran Islam.

Salah satu maksiat yang mengakibatkan perilakunya murtad adalah menolak ajaran islam yang wajib misalnya shalat, puasa ramadhan dan zakat. Karena islam bukan hanya agama “dimulut doang” . Jika seseorang meninggalkan sholat namun tidak mengingkari bahwa sholat itu wajib baginya dia belum termasuk murtad  namun dihukumi sebagi orang fasiq, yaitu tahu tapi tidak mau melaksanakan .



B.    Maksiat / Dosa Besar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Jenis maksiat dosa besar seperti ini walaupun tidak mengeluarkan pelakunya daripada islam namun dampaknya bila dibiarkan maka akan semakin menjauhkan juga dari islam (menjadi murtad) karena maksiat adalah sebab hati menjadi keras sehingga sulit menerima hidayah. Pelaku maksiat dosa besar hukumnya dibunuh bila tidak mau bertobat dari dosa yang telah dilakukan.  Contoh maksiat jenis ini adalah :

-         Durhaka kepada Orang tua

Durhaka kepada orang tua adalah sikap yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Islam adalah agama yang paling mulia, karena mengajarkan bagaimana supaya anak manusia berbakti kepada orang tua yang telah kepayahan melahirkan, mendidik dan membesarkan dengan ikhlas. Nabi bahkan mengatakan kalau ridho Allah tergantung juga ridho kedua orang tua. Durhaka kepada orang tua merupakan dosa terbesar kedua setelah syirik . Sesuai hadits nabi ;

 Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dosa-dosa besar adalah berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa serta sumpah palsu.”
(HR. Bukhari).

-         Membunuh sesama muslim

Membunuh manusia yang diharamkan konsekuensinya dia harus diqishos sesuai dengan perbuatannya yaitu dia juga harus dibunuh. Sesuai sabda Rasulullah SAW :

Dari Ibnu Mas’ud rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal ditumpahkan darah seorang muslim kecuali karena salah satu di antara tiga alasan: orang yang telah kawin melakukan zina, orang yang membunuh jiwa (orang muslim) dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah.” (HR. Bukhori dan Muslim)

-         Berzina (berhubungan badan yang tidak sah)

Nabi telah bersabda kalau pelaku zina adalah seorang yang  telah menikah maka hukumannya adalah dibunuh. Jika pelakunya adalah seorang yang belum menikah maka dia dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan keluar daerahnya.  Allah Ta’ala berfirman :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, ...... (QS. An Nuur : 2)

-         Dosa-dosa lainya dosa mulut dan tangan contohnya seperti Riba’, sumpah palsu, menyia-nyiakan anak yatim, Ujub, melaknat sahabat nabi dsb.



C.    Maksiat / Dosa kecil

Setiap manusia pasti punya dosa karena kita bukan malaikat yang suci, barangsiapa mengaku tidak punya dosa sama sekali maka diapun telah melakukan dosa yang besar  yaitu sombong. Oleh karena itu memang Allah telah menciptakan manusia dengan tabiat penuh dengan kesalahan supaya manusia itu mau bertobat dan berserah diri kepada Tuhan Sekalian Alam.

Dosa-dosa kecil adalah dosa yang disengaja maupun tidak namun dosa kecil ini adalah dosa yang sering disepelekan orang. Namun tak ada dosa kecil yang disepelekan sehingga berkumpul menjadi dosa yang besar, dan tak ada dosa besar bila pelakunya segera bertobat.  Oleh karena itu Nabi menganjurkan supaya jangan sekali-kali menyepelekan dosa kecil  dan supaya kita banyak melakukan amalan baik dan banyak-banyak istighfar. Contoh maksiat jenis ini adalah : melihat aurot wanita baik dijalanan maupun dilayar tv, menyentuh wanita yang bukan mahram, berbohong, mencela orang lain / mengejek, marah-marah, berkata jorok dsb.



BAB III

AKIBAT MAKSIAT



Maksiat membahayakan manusia di dunia dan akhirat. Hanya Alloh yang mengetahui akibat dan pengaruhnya. Meski begitu dampak maksiat dapat dirasakan oleh pelakunya sendiri. Berikut akan dijabarkan beberapa akibat dari maksiat:



1.     Maksiat Menghalangi Ilmu

Ilmu adalah sinar yang diletakkan Alloh di dalam hati. Sebaliknya sinar itu dapat padam dikarenakan adanya maksiat.

          Suatu ketika, Imam Syafi’I duduk di depan Imam Malik.  Dia membacakan sesuatu yang membuat Imam Malik kagum. Imam Malik sangat kecepatannya dalam menangkap pelajaran, juga kecerdasannya dan pemahamannya yang sempurna. Iman Malik berkata, Aku melihat Alloh telah meletakkan sinar dalam hatimu. Jangan padamkan sinar itu dengan kegelapan maksiat.



2        Maksiat Menghalangi Rezeki

          Dalam Musnad[2]dikatakan, Seorang Hamba tidak mendapatkan rezeki kareana dosa yang ia kerjakan.

Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa taqwa kepada Alloh dapat mendatangkan rezeki. Sebaliknya, meninggalkan taqwa akan mendatangkan kefakiran dan kemiskinan. Namun miskin atau kayanya seseorang bukan berarti ia ta’at atau tidak, melainkan kehendak Alloh lahyang menjadikan seseorang itu kaya atau miskin.



3        Maksiat Mendatangkan Bencana dan Kesulitan

          Kemaksiatan menjadikan seseorang menjumpai banyak kesulitan. Ia tidak mempunyai pemecahan, kecuali dengan jalan yang serba sulit. Orang yang bertaqwa mendapat keringanan. Sedangkan orang yang yang tidak bertaqwa mendapatkan kesukaran dari Alloh dalam setiap urusannya. Sangat mengherankan, jika seorang hamba ketika ia mendapatkan pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan[3] tertutup, namun ia tidak mengetahiui asal-muasalnya.

Selain itu kadang bencana banjir, gempa, tsunami dan lainya yang melanda tanah air kita secara sadar atau tidak itu adalah dampak dari maksiat-maksiat yang dilakukan segelintir manusia sehingga orang lain yang tidak terlibat terkena imbasnya juga.



4.  Maksiat sebab tidak terkabulnya do’a

Inilah dampak yang cukup berat dari pelaku maksiat bahkan sampai do’a-do’a dirinya orang sekitarnya tidak mau mencegah pelakunya melakukan maksiat mengakibatkan do’a tidak terkabul. Nabi bersabda : “Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar sebelum kamu berdo'a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma'ruf tidak mendekatkan ajal. Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka.” (HR. Ath-Thabrani)



Berbagai dampak yang kita sebutkan diatas hanyalah segelintir dari banyaknya akibat-akibat dosa maksiat yang ada. Maka dengan hanya ketiga dampak diatas dapat disimpulkan bahwa dampak maksiat sangatlah tidak tanggung-tanggung.  Maka sebagai seorang muslim wajib instropeksi diri dan memperbanyak amal baik dan istighfar agar terhindar dari semua dampak maksiat yang mengerikan itu.





BAB IV

SEBAB-SEBAB MELAKUKAN MAKSIAT



Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Penyebab utama timbulnya semua kemaksiatan baik yang besar maupun yang kecil ada tiga, yaitu:
Pertama, keterkaitan hati kepada selain Allah.

Kedua,  menuruti dorongan amarah.

Ketiga,  menuruti dorongan syahwat.

Keempat, kemaksiatan tersebut terwujud dalam perbuatan syirik, kezhaliman dan perbuatan-perbuatan keji. [4]



Bentuk keterkaitan hati kepada selain Allah cabang-cabangnya begitu banyak dan tingkatan tertinggi di cabang tersebut ialah syirik serta mengakui keberadaan ilah selain Allah. Sedangkan bentuk menuruti dorongan amarah juga memiliki cabang-cabang di ataranya membunuh jiwa yang diharamkan Allah, inilah cabang tertinggi. Dan bentuk menuruti dorongan syahwat yang tertinggi dalam cabang-cabangnya ialah melakukan perbuatan zina. Oleh karena itulah Allah  mengumpulkan ketiganya dalam firman-Nya:
"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,…" (QS. Al-Furqan: 68).



 Ketiga perbuatan di atas saling tarik menarik. Syirik menarik seseorang kepada kezhaliman dan perbuatan keji, sebagaimana ikhlas dan tauhid akan menjauhkan seseorang dari kezhaliman dan kekejian itu. Demikian juga kezhaliman, ia menarik seseorang pada syirik dan pebuatan keji, sebab syirik adalah puncak dari segala kezhaliman seperti yang difirmankan oleh Allah: "Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar."  (QS. Luqman: 13).



Dan perbuatan keji itu sendiri juga dapat menyeret pelakunya kepada perbuatan syirik dan kezhaliman. Ketiganya saling berkaitan, yang satu mengajak kepada yang lain. Jika perbuatan ketiga di atas ada di dalam diri seseorang  maka itu adalah akar dari kemaksiatan yang akan menjadi besar ketika seseorang itu tidak mengetahuinya.



BAB V

SOLUSI MENGHINDARI MAKSIAT



Maksiat adalah hal yang “lumrah” bagi seorang manusia karena memang tabiat manusia sejak diciptakan pertama kali adalah melakukan salah dan dosa. Namun yang tidak “lumrah” adalah yang bermaksiat namun tak mau bertobat , berusaha menghindari dosa dan perantaraannya dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Menciptakan. Oleh karena itu dalam bab ini akan kita bahas sedikit solusi bagi kita untuk meminimalisir kemaksiatan-kemaksiatan yang kita lakukan  diantaranya adalah ;[5]

1. Anggaplah besar dosamu Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu 'anhu berkata,”Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.”

2. Janganlah meremehkan dosa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,"Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.” (Ahmad dengan sanad yang shahih)
3. Janganlah mujaharah (menceritakan dosa)
Rasulullah bersabda,”Semua umatku dimaafkan kecuali mujahirun (orang yang berterus terang). Termasuk Mujaharah ialah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemuadian pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian'. Pada malam hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya.” (Bukhari dan Muslim)

4. Taubat Nasuha yang tulus
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang di antara kamu yang berada di atas kendaraannya di padng pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur dibawah naungannya dalam keadaan bersedih terhadap kendaraannya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya muncul didekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya. Kemudian ia berkata, karena sangat bergembira,”Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu”. Ia salah ucap karena sangat bergembira." (Bukhari-Muslim)

5. Jika dosa berulang, maka Ulangilah bertaubat
Ali bin Abi thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,”Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) lagi bertaubat.” Ditanyakan,”Jika ia mengulangi lagi?” Ia menjawab.”Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.” Ditanyakan,”Jika ia kembali berbuat dosa?” Ia menjawab,”Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat,” Ditanyakan ,”Sampai kapan?” Dia menjawab,”Sampai setan berputus asa.”

6. Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan
Orang yang bertaubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa ia temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauhi darinya secara keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.

7. Senantiasa beristighfar
Saat-saat beristighfar:
a. Ketika melakukan dosa
b. Setelah melakukan ketaatan
c. Dalam dzikir-dzikir rutin harian
d. Senantiasa beristighfar setiap saat Rasulullah beristighfar kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali (dalam riwayat lain 100 kali)

8. Apakah anda berjanji kepada Allah untuk meninggalkan kemaksiatan?

Tidak ada bedanya antara orang yang berjanji kepada Allah (berupa nadzar atas tebusan dosa yang dilakukannya) dengan orang yang tidak melakukannya. Karena yang menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam kemaksiatan tidak lain hanyalah karena panggilan syahwat (hawa nafsu) lebih mendominasi daripada panggilan iman. Maka, apabila kita tergoda untuk melakukan perbuatan maksiat, ingatlah janji kita kepada Allah dan besegeralah untuk menghindar dari tempat itu.

9. Melakukan kebajikan setelah keburukan

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaijkan maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik." (Ahmad dan Tirmidzi)

10. Merealisasikan Tauhid

Rasulullah besabda,”Allah ‘Azza wa jalla berfirman.”Barangsiapa yang melakukan kebajikan maka ia mendapatkan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah (ampunan) yang sama.” (Muslim-Ahmad)

11. Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik

a. Persahabatan dengan orang-orang baik adalah amal shalih.
b. Mencintai orang-orang shalih menyebabkan seseorang bersama mereka, walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal.

c. Manusia itu ada 3 golongan:
1. Golongan yang membawa dirinya dengan kendali takwa dan mencegahnya dari kemaksiatan. Inilah golongan terbaik.
2. Golongan yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan takut dan menyesal. Ia merasa dirinya berada dalam bahaya yang besar, dan ia berharap suatu hai dapat berpisah dari kemaksiatan tersebut.
3. Golongan yang mencari kemaksiatan, bergembira dengannya dan menyesal karena kehilangan hal itu.

d. Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat dipetik dari persahabatan yang baik.
e. Tidak ada alas an untuk berpisah dengan orang-orang yang baik.

12. Jangan tinggalkan Da’wah

Said bin Jubair berkata,”Sekiranya seseorang tidak boleh menyuruh kebajikan dan mencegah kemungkaran sehingga tidak ada dalam dirinya sesuatu (kesalahan) pun, maka tidak ada seorang pun yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran." Imam Malik berkomentar, " Ia benar. Siapakah yang pada dirinya tidak ada sesuatupun (kesalahan)."

13. Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya

Rasulullah menceritakan kepada para sahabat bahwasanya seseorang berkata,"Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan." Allah berfirman,"Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapus amalmu" (HR. Muslim)


BAB VI

PENUTUP



Dari Anas, Rasulullah SAW bsabda, “Semua keturunan Adam adalah orang yg pernah berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yg berbuat salah adalah orang yg bertaubat.” (HR. Ibnu Majah, Ad Darimi, Al Hakim)



Mengambil mukadimah dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa manusia memang bukan makhluk suci seperti halnya Malaikat yang tidak pernah berbuat dosa. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Walaupun begitu kita tidak boleh pasrah dengan keadaan lalu membiarkan diri sendiri tenggelam kedalam kemaksiatan karena segala sesuatu pasti ada pertanggung jawaban baik didunia terlebih lagi diakhirat kelak.



Nabi Muhammad SAW telah memberikan penjelasan kepada kita yaitu sebaik-baik manusia adalah yang mau bertobat dari segala kesalahan dan dosa, dan berusaha memperbaiki diri agar menjadi manusia yang mulia disisi Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala tidak memandang derajat manusia dari penampilan fisik akan tetapi Allah memandang hati manusia seberapa besar ketaatan manusia kepada Allah. Semakin taqwa / taat manusia kepada Allah maka semakin besar pula derajatnya disisi-Nya. Dan begitu pula semakin buruk akhlaq manusia semakin rendah pula derajat manusia disisi-Nya bahkan lebih rendah dari binatang sekalipun, Naudzubillahi min dzalik.



Karena ilmu agama adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat maka alangkah baiknya kita mengkaji terus ilmu ini, oleh karena itu pembahasan kita memang tak cukup sampai disini dan takkan terputus kewajiban menuntut ilmu sampai mati. Semoga dengan kajian yang sekelumit ini bisa menambah pengetahuan dan keimanan kita kepada Allah SWT. 



Wassalamu’alaikum Warohmatullahi wabarokatuh.





DAFTAR PUSTAKA



Qoyyim, Ibnul.(1994). Akibat berbuat maksiat, Penerjemah : Nabhani Idris. Jakarta : Gema Insani Press Cet. I.



Qoyyim, Ibnul.(2008). Kiat-kiat meninggalkan maksiat Penerjemah : Ahmad Warbi. Solo : Tiga serangkai



Majalah Suara Islam Edisi Maret 2012 (http://www.suara-islam.com/detail.php?kid=4366)



Software Hadits Web3.0 Oleh Opi Sofware.



Brosur Khotbah Juma’at Masjid Al-Wustha Panda Palibelo






[1] Majalah Suara Islam edisi 28 Maret 2012

[2] Musnad Al-Kabir atau lebih dikenal dengan Musnad Ahmad adalah salah satu dari Sembilan kitab hadist (Kutubut Tis’ah) yang dijadikan rujukan utama umat islam kebanyakan, terutama dari golongan Ahlus Sunnah

[3] Kegunaan; Kebaikan; Manfaat; atau Kepentingan

[4] Ibnul Qoyyim , kiat-kiat menghindari maksiat

[5] Brosur Khutbah masjid Al-Wustha Panda Palibelo
Reaksi:
Posted by Alie Marz On 14.32 No comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sangat diharapkan, Terima kasih

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Majelis Ashabul Muslimin Page

    KALENDER ISLAM

    Ikuti Blog ini

    Follow Kami