Showing posts with label Akidah. Show all posts
Showing posts with label Akidah. Show all posts

Saturday, 28 July 2018

Sholat Pemabuk Tidak Di Terima Selama 40 Hari

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

لاَتَقْرَبُوا الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى 

"Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk."(An-Nisa : 43) 

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: 

لا يشرب الخمر رجل من أمتي فيقبل له صلاة أربعين صباحا 

"Tidaklah seorang dari umatku meminum khamr, melainkan shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari." (HR. Ibnu Khuzaimah) 

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhu , ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

من شرب الخمر لم يقبل الله له صلاة أربعين صباحأ فإن تاب تاب الله عليه فإن عاد لم يقبل الله له صلاة أربعين صباحأ فإن تاب الله عليه فإن عاد لم يقبل له صلاة أربعين صباحا فإن تاب الله عليه فإن عاد الرابعة لم يقبل الله له صلاة أربعين صباحا فإن تاب لم يتب الله عليه وسقاه من الخبال قيل يا أبا عبد الرحمن وما نهر الخبال ؟ قال نهر من صديد أهل النار 

"Barangsiapa meminum khamr, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Jika ia kembali meminumnya, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Jika ia kembali meminumnya, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Jika ia kembali meminumnya untuk keempat kalinya, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari. Jika ia bertaubat, Allah tidak akan menerima taubatnya dan Allah akan memberinya minum dari sungai khabal. (HR. at-Tirmidzi) 

Ada yang bertanya: 'Wahai Abu 'Abdirrahman, apa itu sungai khabal?" Beliau menjawab: "Sungai yang berasal dari nanah penghuni Neraka." 

Sunday, 17 June 2018

Ciri Ciri Orang Intelek Pengikut Iblis

Adakah manusia yang mencari ilmu untuk semakin menyesatkan dirinya sendiri. Jawabnya ada bahkan banyak.

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur'an sebagai berikut.
Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya, zulman wa 'uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-'inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-'Aqa'id, dalam Majmu, min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba'ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): "Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)". Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur'an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis. Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha').

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur'an (7:146): "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya."

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.

Sebaliknya, yang haq digunting dan di-'preteli' sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut. Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada.

Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta'lamun?" Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani 'syatan', yang artinya lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur'an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang ('asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai (istah'wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta'uzz), menyeru (yad'u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum a'malahum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan memberikan iming-iming (ya'iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi'u l-'adawah wa l-baghda'), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya'mur bi l-fahsya' wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-insani-kfur).

Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya' al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun penyegaran. Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir'aun dan ada Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri, namun datang ar-Raniri, dan seterusnya. Al-Qur'an pun telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka" (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa "sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik" (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahu a'lam.

(Syamsuddin Arif, Diabolisme Intelektual, Kamis, 30 Juni 2005, hidayatullah.com, penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman)

Inilah Alamat Yayasan Sesat Syiah Di Indonesia, Waspadalah

Sesungguhnya Agama Sesat Syiah-Hadahumullah tidak henti-hentinya mengincar mangsa di negeri kita. Melalui berbagai cara mereka berusaha mendekatkan diri mereka kepada kaum muslimin untuk dengan misi penyebaran agama Sesat Syiah di Indonesia.

Salah satunya dengan mendirikan berbagai yayasan keislaman untuk melancarkan makar Iblis mereka. Maka, berhati-hatilah wahai kaum muslimin terhadap yayasan-yayasan Syiah yang akan mengancam aqidah kita dan keturunan kita

Berikut ini kami bawakan daftar nama dan alamat yayasan Syiah di Indonesia (Semoga Allah memberi hidayah Sunnah kepada orang-orang Syiah).

Maksud kami menampilkan daftar yayasan Syiah disini dengan tujuan agar kaum muslimin dapat berhati-hati terhadap makar dan propaganda sesat Syiah.

Salah satu pusat penyebaran Syiah di Indonesia adalah kota Bandung bersama yayasan Muthohari dengan dedengkotnya seorang Syiah Rafidhah DR. Jalaluddin Rahmat (biasa dipanggil dengan Kang Jalal – salah seorang dosen universitas ternama di kota Bandung). Semoga Allah segera membuka kedok orang ini yang sesungguhnya!!!

Maka, berhati-hatilah wahai Umat Islam dari makar Syiah ini

DAFTAR 77 YAYASAN SYIAH DI NUSANTARA

1) Yayasan Fatimah – JL. Batu Ampar III No.14 Condet Jakarta Timur, 13520

2) Tazkia Sejati Patra Kuningan IX No.6 Kuningan Jakarta Selatan

3) Yayasan Al Mahdi Jakarta Utara

4) Yayasan Al Muntazar Komp Taman Kota Blok E7/43 Kembangan Utara, Jakarta Barat

5) Yayasan Madina Ilmu Sawangan, Parung, Depok

6) Shaf Muslimin Indonesia Cawang – IPABI Bogor Yayasan Insan Cita Prakarsa Jl Lontar 4 No.9 Menteng Atas Jaksel

7) Islamic Center Jakarta Al Huda Jl Tebet Barat II No 8, Tebet, Jaksel, Indonesia 12810

8) Yayasan Asshodiq Jl Penggilingan No 16 A, RT01/07 Jakarta Timur

9) Pengajian Ummu Abiha (HJ Andriyanti) Jl Pondok Hijau VI No.26 Pondok Indah Jakarta Selatan 12310

10) Pengajian Al Bathul (Farida Assegaf) Jl Clilitan Kecil, Jaksel

11) Yayasan Babul Ilmi Jl Taman Karmila, Blok F3/15 Jatiwaringin Asri, Pondok Gede

12) Pengajian Haurah Jl Kampus I Sawangan Depok

13) MPII Jl Condet Raya 14 condet Jaktim 13520

14) FAHMI (Forum Alumni HMI) Depok Jl. Fatimah 323 Depok

15) Yayasan Azzahra Jl. Dewi Sartika Gg.Hj.M.Zen No 17, RT.007/05, Cawang 3, Jakarta Timur

16) Yayasan Al Jawad Gegerkalong Girang, No 92 Bandung 40015

17) Yayasan Muttahhari Jl Kampus II No 32 Kebaktian Kiaracondong 40282

18) Majlis Taklim Al Idrus Rt 04/01 Cipaisan, Purwakarta

19) Yayasan Fatimah Jl Kartini Raya No 11/13, Cirebon 45123

20) Yayasan Al Kadzim

21) Yayasan Al Baro'ah Gg Lenggang IV-66 Blok H, Bumi Resik Panglayungan, Tasikmalaya 46134 Jabar

22) Yayasan 10 Muharrom JL Chincona 7 Pangalengan Bandung

23) Majlis Ta'lim Annur Jl Otista No 21 Tangerang Jabar

24) Yayasan As Shodiq Jl Plesiran 44 Bandung 40132

25) IPABI PO BOX 509 Bogor Jabar

26) Yayasan As Salam Jl Raya Maja Utama 25 Majalengka Jabar

27) Yayasan Al Mukarromah Jl Cimuncang No 79 Bandung Jabar Jl Kebun Gedang 80 Bandung 40274 Jabar

28) T Al Jawad Jl Raya Timur No 321 Singaparna Tasikmalaya Jabar

29) Yayasan al Mujtaba Jl Walangi No 82 Kaum Purwakarta Jabar

30) Yayasan Saifik Jl Setiabudi Blok 110 No 11A/166 D Bandung, Jawa Barat

31) Yayasan Al Ishlah DRS Ahmad M.Ag – Jl Pasar Kramat No 242 Ps Minggu Cirebon, Jabar

32) Yayasan Al-Aqilah Jl. Eksekusi EV No. 8 Komp. Pengayoman, Tangerang 15118, Banten – Indonesia

33) Yayasan Dar Taqrib Jl KH Yasin 31A PO BOX 218 Jepara Jawa Tengah

34) Al Hadi Pekalongan 51123 , PO BOX 88

35) Yayasan Al Amin Giri Mukti Timur II/1003/20, Semarang Jawa Tengah

36) Yayasan Al Khoirat Jl Pramuka 45, RT 05/06 Bangsri Jepara

37) Demak Jateng Desa Prampelan, Rt 02/04 No 50 Kec Sayung, Jateng

38) Yayasan Al Wahdah Metrodanan, 1/1 no 81 Ps Kliwon, Solo Jateng

39) Yayasan Rausan Fikr (Safwan) Jl Kaliurang Km 6, Gg Pandega Reksa No 1B Yogyakarta

40) Yayasan Al Mawaddah Jl Baru I Panaruban, Rt 02/03 Weleri, Kendal Jateng

41) Yayasan Al Mujtaba (BP Arman) Jl Pasar I/59, Wonosobo Jateng

42) Yayasan Safinatunnajah Jl Pahlawan, Wiropati 261, Desa Pancur wening Wonosobo Jateng

43) Yayasan Al Mahdi Jl. Jambu No.10, Balung, Jember Jawa Timur 68161

44) Majlis T'lim Al Alawi Jl Cokroaminoto III/254, Probolinggo Jawa Timur

45) Yayasan Al Muhibbiin Jl. Kh Hasan No.8, Probolinggo, Jawa Timur

46) Yayasan Attaqi Kedai Hijau, Jl. RA Kartini No.7 Pandaan Pasuruan Jatim

47) Yayasan Azzhra Sidomulyo II No 38, Bululawang Malang Jawa Timur

48) Yayasan Ja'far Asshodiq Jl KH Asy'ari II/1003/20 Bondowoso Jawa Timur 68217

49) Yayasan Al Yasin Jl. Wonokusumo Kulon GG 1/No.2 Surabaya

50) Yayasan Itrah PO BOX 2112, Jember Jawa Timur

51) Yapisma Jl. Pulusari I/30, Blimbing, Malang Jawa Timur

52) Yayasan Al Hujjah Jalan Sriwijaya XXX/5 Jember Jawa Timur

53) Yayasan Al Kautsar Jl.Arif Margono 23 A, Malang Jawa Timur

54) YAPI Jl Pandaan Bangil, Kenep Beji, Pasuruan Jatim

55) Yayasan AL Hasyim Jl Menur III/25A Surabaya

56) Yayasan Al Qoim Jl Sermah Abdurrahman No 43, Probolinggo Jawa Timur

57) FAJAR – Al-Iffah Jl. Trunojoyo IX / 17 Jember

58) Yayasan BabIlm Jl. KH. Wahid Hasyim 55 Jember 68137. Jawa – Timur Telpon : 0331-483147 PO. BOX : 232

59) Yayasan al-Kisa' Jl. Taeuku Umar Gg. Sesapi No. 1 Denpasar Bali

60) Al-Hasyimi Toko al-Kaf Nawir Jl. Selaparang 86 Cakranegara Lombok

61) Yayasan Al Islah Kopm Panakkukang Mas II Bloc C1/1 Makasar 90324

62) Yayasan Paradigma Jl Sultan Alaudin no 4/lr 6 – Yayasan Fikratul Hikmah Jl Sukaria I No 4 Makasar 90222

63) Yayasan Sadra Makasar – Yayasan Pinisi JL Pontiku, Makassar, Sulsel

64) Yayasan LSII JL Veteran Selatan, Lorong 40 No 60 Makasar

65) Yayasan Lentera Jl. Inspeksi Pam No. 15 Makassar

66) Yayasan Nurtsaqolain Jl Jendral Sudirman No 36A Palopo Sulsel Belakang Hotel Buana

67) Yas Shibtain Jl Rumah Sakit no 7 Tanjung Pinang Kep Riau

68) Yayasan Al Hakim Pusat Perbelanjaan Prinsewu, Bolk B Lt2, Lampung Selatan 35373

69) Yayasan Pintu Ilmu Jl Kenten Permai, Ruko Kentan Permai No.7 Palembang 30114

70) Yayasan Al Bayan Jl Dr. M. Isa 132/795 Rt 22/8 Ilir Palembang

71) Yayasan Ulul Albab Jl Air Bersih 24 D Kutabelang Loksumawe Aceh

72) Yayasan Amali Jl. Rajawali. Komp. Rajawali I No. 7 Medan 20122 – Kumail Jl. Punai 2 No. 26 Kuto Batu Palembang

73) Yayasan Al Muntadzar Jl Al Kahoi II no 80, Samarinda Kalimantan Timur

74) Yayasan Arridho Jl A Yani KM 6-7 No 59 Banjarmasin Kalimantan Selatan

75) Us Ali Ridho Alatas Jl. Sungai Ampal No.10 Rt43/15 Sumberjo, Balikpapan, Kalimantan Timur

76) Madrasah Nurul Iman Selat Segawin, remu Selatan No 2 Sorong Irian Jaya.

77) ICC( Islamic Culture Center ) Jl. Buncit Raya, samping Gedung Republika dan Mall Pejaten Village, Jakarta Selatan

Mengenal Biografi Raja Setan Atau Iblis Laknatullah

Siapa yang tak kenal iblis mahluk yang terkutuk dan raja syaitan yang merupakan mahluk tersombong sejagad raya. Musuh semua mukmin dan raja semua kafir kita akan mengenal sedikit tentangnya.

Asal Muasal Iblis

Bangsa Jin lebih dahulu menempati bumi daripada manusia. Tatkala mereka berbuat kerusakan di muka bumi, Allah mengutus sepasukan Malaikat. Para malaikat memerangi, mengusir dan mendesak mereka hingga ke lautan. Salah satu jin ditangkap dan dibawa ke langit. Di langit, Jin tersebut menjadi penjaga Jannah.

Dialah Iblis. Dahulu namanya Azazil atau al-Harits dan kuniyahnya Abu al-Kurdus. Dalam riwayat lain, Iblis pernah menjadi ketua malaikat penjaga langit dunia, memiliki empat sayap, rajin beribadah dan memiliki wawasan luas. Diciptakan dari unsur api dan derajatnya hampir sama dengan malaikat karena sangat rajin beribadah.

 

Awal Mula Pembangkangan

Saat Allah menciptakan Adam dan menyuruh seluruh malaikat termasuk Iblis untuk bersujud, Iblis menolak perintah Allah. Dia tidak sudi melakukan sujud penghormatan tersebut semata karena sombong. Allah pun melaknatnya dan melemparkannya ke dunia.

Iblis menolak perintah ini karena memang sebagai jin, dia memiliki pilihan antara melaksanakan dan mengabaikan. Adapun malaikat, semua tercipta dengan karakter sama yaitu tidak akan pernah memaksiati perintah Allah.

Pembangkangan selanjutnya dilakukan Iblis saat memperdaya Hawa dan Adam agar memakan buah larangan yang dia sebut sebagai buah kekekalan (Khuldi). Intensitas rayuannya membuat Hawa terpedaya dan menjerumuskan diri dan juga suaminya melanggar laragan Allah. Keduanya pun memakan buah yang oleh Iblis disebut sebagai buah khuldi dan kemdian diusir oleh Allah dari surga menuju dunia.

Dan Iblis, penolakannya untuk sujud menghormati Adam sangat dimurkai Allah. Iblis pun dilaknat dan kemudian diusir ke dunia bersama Adam dan Hawa.

Iblis pun memohon kepada Allah agar dikekalkan hingga Kiamat. Tujuannya satu, balas dendam pada Adam dan anak turunnya karena membuat dirinya terlaknat. Allah menyetujui hal ini dengan segala kebaijaksanaan dan ilmu-Nya. Iblis dan bala tentaranya akan menjadi ujian bagi bani Adam.

Ada pendapat ngawur yang menyatakan bahwa iblis lebih baik dari malaikat karena hanya mau bersujud kepada Allah dan tidak mau sujud kepada Adam. Pendapat ini jelas ngawur, pertama karena sujud tersebut adalah sujud penghormatan, bukan ibadah. Kedua, Allah yang memerintahkan dan perintah-Nya mutlak, termasuk untuk sujud sekalipun. Ketiga, jika memang sujud itu hanya trik untuk menguji, maka seluruh malaikatlah yang akan dilaknat, sedang Iblis satu-satunya yang lulus. Kenyataannya tidak demikian.


 

Istana Iblis

Pasca Pengusiran dari langit, Iblis membangun kerajaannya di bumi. Dia membangun singgasananya di atas lautan. Setan-setan menjadi bala tentaranya.

Saat Ibnu Shayyad ditanya oleh Rasulullah mengenai apa yang dia lihat, Ibnu Shayyad melihat Singgasana di atas lautan yang dikelilingi ular-ular. Lalu Rasulullah mengatakan bahwa itu adalah Arsy-nya Iblis.

Dari Arsy inilah Iblis memerintah dan menerima laporan hasil kerja bala tentaranya. Dan dari sinilah segala bentuk godaan maksiat bermula. Prestasi mereka dinilai berdasar tingkat maksiat dan dosa dari manusia yang mereka goda. Dalam sebuah riwayat disebutkan, perceraian merupakan hasil godaan yang paling diapresiasi oleh Iblis. Jika ada anak buahnya yang berhasil menceraikan pasangan suami isteri, dia akan didekatkan kepada Iblis dan diberi mahkota.

Wallahua'lam, tidak ada yang tahu letak kerajaan Iblis. Tidak sedikit yang berasumsi bahwa area lautan di Segitiga Bermuda-lah kerajaan Iblis berada. Dugaan ini didasarkan pada beragam misteri dan kecelakakaan pesawat dan kapal di area tersebut. Namun, semuanya hanyalah dugaan semata.

 

Musuh Iblis Terkuat

Musuh terkuat iblis dan bala tentaranya adalah orang-orang "mukhlas". Siapakah orang yang mukhlas? Mukhlas adalah orang yang keikhlasannya sudah menjadi "habit" atau kebiasaan. Seakan-akan, setiap amalnya senantiasa dilingkupi keikhlasan dan sudah tidak perlu usaha lebih keras untuk ikhlas. Tingkat dibawahnya adalah mukhlis, yatu orang yang hatinya masih harus bekerja keras agar bisa ikhlas dalam beramal.

Jika seseorang telah menjadi mukhlas, akan ada dinding antara dirinya dengan setan hingga setan sulit menggoda dan mencuri keikhlasannya. Dialah yang dikecualikan Iblis dari manusia pada umumnya.

"(Iblis berkata) Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka (Qs. Shad: 82-83)

 

Dicekik Nabi Muhammad 

 

عَنْأَبِي الدَّرْدَاءِ ، قَالَ : قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَسَمِعْنَاهُ , يَقُولُ : " أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ، ثُمَّ قَالَ : أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ ثَلَاثًا وَبَسَطَ يَدَهُ كَأَنَّهُ يَتَنَاوَلُ شَيْئًا " , فَلَمَّا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ , قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ , قَدْ سَمِعْنَاكَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا لَمْ نَسْمَعْكَ تَقُولُهُ قَبْلَ ذَلِكَ , وَرَأَيْنَاكَ بَسَطْتَ يَدَكَ , قَالَ : " إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي , فَقُلْتُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ قُلْتُ : أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَرَدْتُ أَنْ آخُذَهُ , وَاللَّهِ لَوْلَا دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ لَأَصْبَحَ مُوثَقًا بِهَا يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ " 

 

Dari Abu Darda berkata, "Rasulullah shalat dan tetiba kami mendengar Beliau mengucapkan, "Aku berlindung kepada Allah darimu." Lantas Beliau mengucap lagi, "Aku melaknatmu dengan laknat Allah" sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membentangkan tangannya seakan-akan Beliau tengah meraih sesuatu. Usai shalat, kami bertanya, "Wahai Rasulullah, kami tadi mendengar anda mengucapkan  ucapan yang belum pernah kami dengar sebelumnya dan kami melihat anda menjulurkan tangan anda." Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya tadi Iblis si musuh Allah datang membawa obor dan ingin membakar mukaku dengannya. Maka aku berkata, "Aku berlindung kepada Allah darimu sebanyak tiga kali. Lalu Aku berkata, "Aku melaknatmu dengan laknat Allah." Tapi Iblis masih belum mau pergi dan akupun berniat menangkapnya. Demi Allah, kalau saja bukan karena doa saudaraku Sulaiman, Iblis itu akan terikat sampai pagi dan akan menjadi mainan anak-anak Madinah." (HR Muslim).

Dalam riwayat lain Nabi mencekik lehernya hingga beliau mampu merasakan basahnya air liur Iblis karena cekikan Beliau.

 

Dilaknat Sampai Kiamat

Kehidupan abadi yang dimiliki Iblis digunakan untuk menyesatkan manusia dan membawa mereka menuju tempat akhir si Pembangkang. Dendam ini menyeret anak-anak Adam yang terpedaya ke dalam neraka. Meski demikian, nasib akhir setiap manusia yang celaka bukanlah menjadi tanggung jawab Iblis, tapi tanggung jawab masing-masing. Kelak, manusia memang akan menyalahkan Iblis, namun Iblis akan berlepas diri dan menyatakan bahwa dia hanya memperdaya dan manusia sendirilah yang percaya. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menyelamakan kita dari tipu daya iblis dan tentaranya.

sumber : majalah arrisalah dari kitab bidayah wa nihayah

Wednesday, 21 March 2018

Ayat Perlindungan Fitnah Dajjal Al Kahfi 1 - 10

Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

"Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal." (HR. Muslim)


Gambar diklik untuk perbesar

Tuesday, 13 March 2018

Barangsiapa Percaya Dukun Dan Pasang Pelet Kesaktian Dll 40 Hari Sholatnya Tidak di Terima

Jaman sekarang ini masih banyak orang orang yang mengaku muslim tapi masih mempercayai hal hal berbau syirik. Santet, teluh, pelet, guna guna, jimat sakti, jimat penglaris, susuk penarik lawan jenis dsb itu semua adalah perbuatan sihir dengan bantuan setan atau jin jahat kafir. Pelakunya dikatakan sudah murtad dosa besar jika dia belum bertaubat. Halal dibunuh jika tak mau bertaubat.


Sihir diambil dari kata Arab “As-Shir”, yang secara bahasa berarti sesuatu yang samar dan tersembunyi serta tidak diketahui penyebabnya. Pada hakikatnya sihir terbagi menjadi dua; pertama, sihir dengan menggunakan bacaan dan jampi-jampi sebagai sarana komunikasi dengan syetan/jin untuk mencelakai orang lain, seperti teluh, santet, guna-guna dan hal lain yang sering dipraktekkan para dukun/paranormal.

Kedua, sihir berupa ramuan obat-obatan yang dapat mempengaruhi obyek sihir, baik tubuh, akal, maupun kehendaknya. Pelaku sihir, bagaimanapun,akan terjerumus ke dalam dua keadaan yang sama-sama buruk; bila tidak syirik, ia menipu. Padahal syirik dan menipu merupakan dosa besar yang membuat seseorang dibenci Allah Subhnahu wa Ta'ala dan tidak mendapatkan ampunan-Nya. 

Dalam syariat Islam pelaku sihir halal ditumpahkan darahnya, sebab mereka telah berbuat kerusakan di muka bumi. Pendapat ini telah disepakati oleh beberapa sahabat, diantaranya Umar bin Al-Khattab, Jundab dan Hafshah radiyallahu 'anhum. Tapi mesti dipahami bahwa pelaksaan hukum bunuh itu harus dilaksanakan oleh imam (dalam hal ini pemerintah); bukan idividu atau sekelompok masyarakat. Dalam masalah ini terdapat beberapa riwayat hadits, diantaranya

"Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, kemudian bertanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari". Shahih Muslim (IV/1701)

 "Barang siapa mendatangi tukang sihir atau dukun kemudian bertanya tentang sesuatu lalu membenarkan perkataannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW." Imam Ahmad (11/429), Mustadrak (1/8) dan al-Baihaqi (VIII/135)

 Maka seseorang yang medatangi tukang sihir/dukun atau peramal lalu bertanya kepadanya, ia terkena ancaman tidak diterima sholatnya 40 hari, dan jika kemudian mempercayainya, ia telah jatuh pada dosa kafir (syirik pada Allah), jika mati sebelum bertaubat maka neraka jahanam kekal tempatnya.
naudzu billah min dzalik.

Maraknya Generasi "Micin" Karena Sepinya Toko Buku dan Perpustakaan

"Pengen Tahu Maju Tidaknya suatu Peradaban Negri? Datang saja ke toko Buku dan Perpustakaan. Semakin ramai semakin maju suatu bangsa semakin sepi semakin banyak generasi bodoh diplesetkan generasi micin disuatu negri tersebut. Kenapa? Karena buku adalah sumber pengetahuan yang disebarkan orang pandai dan sumber majunya peradaban. Semakin canggih teknologi semakin memanjakan manusia dunia hiburan tapi lupa pengetahuan. Jadilah generasi bodoh  dan mudah distir dan dipengaruhi dan yang tak mau berpikir panjang dalam melakukan sesuatu".

Sunday, 4 February 2018

Dzikir Obat Galau, Penerang Kegelapan Hati Dan Penolong dikala Susah

Mukadimah Ayat 

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut tiama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan, bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian dan malaikat-Nya (memohon ampunan untuk kalian), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan, adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (Al-Ahzab: 41-43).

Penjelasan Singkat

Dzikir (mengingat Allah dengan hati dan menyebut-Nya dengan lisan) merupakan tempat persinggahan orang-orang yang agung, yang di sanalah mereka membekali diri, berniaga dan ke sanalah mereka pulang kembali.Dzikir merupakan santapan hati, yang jika tidak mendapatkannya, maka badan menjadi seperti kuburan dan mati. Dzikir merupakan senjata yang digunakan untuk menghadapi para perampok jalanan, merupakan air yang bisa menghilangkan rasa dahaga di tengah perjalanan, merupakan obat yang menyembuhkan penyakit. Jika mereka tidak mendapatkannya, maka hati mereka akan mengkerut, karena dzikir merupakan perantara dan penghubung antara diri mereka dengan alam gaib. Dengan dzikir mereka menolak bencana dan menyingkirkan kesusahan, se-hingga musibah yang menimpa mereka terasa remeh. Jika ada bencana yang datang, maka mereka berlindung kepada dzikir. Yang pasti dzikir merupakan taman surga yang mereka diami dan modal kebahagiaan yang mereka pergunakan untuk berniaga. Dzikir mengajak hati yang dirun-dung kepiluan untuk tersenyum gembira dan menghantarkan pelaku-nya kepada Dzat yang didzikiri, dan bahkan membuat pelakunya menja-di orang yang seakan tidak layak untuk diingaDalam setiap anggota tubuh ada ubudiyah yang dilakukan secara temporal. Sedangkan dzikir merupakan ubudiyah hati dan lisan yang tidak mengenal batasan waktu. Mereka diperintahkan untuk mengingat sesem-bahan dan kekasihnya dalam keadaan seperti apa pun, saat berdiri, duduk, telentang. Seakan-akan surga itu merupakan kebun dan dzikir adalah tanamannya. Begitu pula hati yang bisa diibaratkan bangunan yang ko-song, maka dzikirlah yang membuat bangunan itu semarak.

Dzikir adalah pembersih dan pengasah hati serta obatnya jika hati itu sakit. Selagi orang yang berdzikir semakin tenggelam dalam dzikir-nya, maka cinta dan kerinduannya semakin terpupuk terhadap Dzat yang diingat. Jika ada keselarasan antara hati dan lisan, maka pelakunya akan lalai terhadap segala sesuatu. Sebagai gantinya, Allah akan menjaganya dari segala sesuatu. Dengan dzikir, pendengaran menjadi terbuka, lisan tidak kelu dan kegelapan menyingkir dari pandangan. Dengan dzikir ini Allah menghiasi lisan orang-orang yang berdzikir, sebagaimana Dia meng-hiasi pandangan orang-orang yang bisa memandang dengan cahaya. Lisan yang lalai seperti mata yang buta, telinga yang tuli dan tangan yang bun-tung. Dzikir merupakan pintu Allah yang paling lebar dan besar, terbuka di antara Allah dan hamba-Nya, selagi pintu itu tidak ditutup sendiri oleh hamba dengan kelalaiannya.

Al-Hasan Al-Bashry berkata, "Carilah kemanisan dalam tiga perka-ra: Dalam shalat, dalam dzikir dan membaca Al-Qur'an. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa pintunya dalam keadaan ter-tutup."

Dengan dzikir, hamba bisa mengalahkan syetan, sebagaimana sye-tan yang dapat mengalahkan orang-orang yang lalai dan lupa diri. Di antara orang salaf ada yang berkata, "Jika dzikir ada di dalam hati, lalu syetan mendekatinya, maka dia langsung kalah, sebagaimana manusia yang dikalahkan syetan jika syetan mendekatinya. Dalam keadaan kalah ini syetan-syetan berkerumun di sekelilingnya. Di antara mereka berta-nya, 'Ada apa dengan orang ini?' Yang lain menjawab, 'Dia sedang gila'."

Dzikir merupakan ruh amal-amal yang shalih. Jika amal terlepas dari dzikir, maka amal itu seperti badan yang tidak memiliki ruh.

Di dalam Al-Qur'an disebutkan sepuluh versi dalam hubungannya dengan dzikir, yaitu:

Perintah dzikir secara terbatas dan tidak terbatas.Larangan kebalikannya, yaitu lupa dan lalai.Keberuntungan yang bergantung kepada banyaknya dzikir dan kon-tinyuitasnya.Pujian terhadap para pelakunya dan pengabaran tentang surga dan ampunan yang dijanjikan Allah bagi mereka.

Pengabaran tentang kerugian yang mengabaikan dzikir dan sibuk de-ngan selainnya. Allah mengingat orang-orang yang mengingat-Nya sebagai balasan bagi mereka.Pengabaran bahwa dzikir lebih besar dari segala sesuatu.

Allah menjadikan dzikir sebagai penutup amal-amal yang shalih dan sekaligus sebagai kuncinya.Pengabaran tentang para pelakunya, bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah dan merekalah orang-orang yang berakal.

Allah menjadikan dzikir sebagai pendamping segala amal yang shalih dan ruhnya. Jika amal tidak disertai dzikir, maka ia seperti jasad tanpa ruh. perintah dzikir seperti yang disebutkan dalam firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut tiama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan, bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian dan malaikat-Nya (memohon ampunan untuk kalian), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan, adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (Al-Ahzab: 41-43).
"Dan, sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut" (Al-A'raf: 205).

Di sini ada dua pendapat: Pertama, berdzikir di dalam hatimu dan sembunyi-sembunyi. Kedua, dengan lisan, sehingga engkau pun bisa mendengarnya.

Larangan kebalikan dzikir, yaitu lalai, seperti firman Allah,

"Dan, janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Al-A'raf:205).

"Dan, janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah,lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (Al-Hasyr: 19).

Tentang keberuntungan yang bergantung kepada banyaknya dzikir dan kontinyuitasnya, seperti firman Allah,
"Dan, sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung (Al-Anfal:45)

Pujian terhadap para pelakunya dan kebaikan pahala mereka, seperti firman Allah,
"... dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. "(Al-Ahzab: 35).

Kerugian orang yang mengabaikan dan melalaikan dzikir, seperti firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (Al-Munafiqun: 9).

Allah mengingat orang-orang yang mengingat-Nya sebagai balas-an bagi mereka, seperti firman-Nya,

"Karena itu ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian meng-ingkari (nikmat)-Ku." (Al-Baqarah: 152).

Pengabaran bahwa dzikir lebih besar dari segala sesuatu, seperti firman-Nya

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya meng-ingat Allah itu adalah lebih besar." (Al-Ankabut: 45).

Ada tiga pendapat tentang makna lebih besar di sini, yaitu:

- Mengingat Allah lebih besar dari segala sesuatu dan merupakan ke-taatan yang paling utama. Sebab maksud dari seluruh ketaatan adalah menegakkan dzikir kepada Allah, sehingga dzikir ini merupakan raha-sia dan ruh ketaatan.

Maknanya, jika kalian mengingat Allah, maka Dia mengingat kalian. Sementara pengingatan Allah terhadap kalian lebih besar daripada pengingatan kalian kepada-Nya. Mengingat Allah itu lebih besar daripada membiarkan kekejian dan kemungkaran. Bahkan jika dzikir ini lebih sempurna, maka dzikir itu bisa menghapus segala kesalahan dan kedurhakaan. Begitulah yang disebutkan para mufasir.

Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Makna ayat ini, bahwa di dalam shalat terkandung dua faidah yang amat besar, yaitu: Fungsi shalat itu yang bisa mencegah kekejian dan kemung-karan, kandungan shalat itu terhadap dzikir kepada Allah. Kandungan dzikir ini lebih besar daripada fungsi pencegahannya terhadap kekejian dan kemungkaran."

Penutup amal-amal yang shalih ialah dengan dzikir, seperti dzikir sebagai penutup puasa. Firman-Nya,

"Dan, hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hcndaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur." (Al-Baqarah: 185).Dzikir sebagai penutup haji, seperti firman-Nya,

"Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kalian menyebut-nye-but nenek moyang kalian atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu." (Al-Baqarah: 200).

Dzikir sebagai penutup shalat, seperti firman-Nya,

"Maka apabila kalian telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring." (An-Nisa': 103).

Dzikir sebagai penutup shalat Jum'at, seperti firman-Nya,
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyak-nya supaya kalian beruntung." (Al-Jumu'ah: 10).

Tentang pengkhususan orang-orang yang berdzikir, yang bisa mengambil manfaat dan pelajaran dari ayat-ayat Allah, sehingga mereka disebut pula orang-orang yang berakal, seperti firman-Nya,

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih berganti-nya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring." (Ali Imran: 190-191).

Tentang dzikir yang berfungsi sebagai pendamping segala amal dan sekaligus merupakan ruhnya, seperti firman Allah yang menyertakan dzikir dengan shalat,

"Dan, dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaha: 14).

Allah menyertakan dzikir dengan puasa, haji dan amal-amal lain-nya, dan bahkan menjadikan dzikir ini sebagai ruh haji dan intinya, se-bagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Sesungguhnya thawaf di sekeliling Ka'bah, sa'i antara Shafa dan Marwah. dan melempar jumrah itu dijadikan hanya untuk menegakkan dzikir kepada Allah."

Allah juga menyertakannya dengan jihad, memerintahkan dzikir saat berhadapan dengan pasukan musuh, seperti firman-Nya,

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguhhatilah kalian dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung." (Al-Anfal: 45).

Orang-orang yang berdzikir adalah orang-orang yang lebih dahulu berjalan, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim di dalam Shahih-nya, dari hadits Al-Ala', dari ayahnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melewati suatu jalan di Makkah, lalu beliau melewati sebuah bukit yang disebut Jumdan. Beliau bersabda, "Teruskanlah perjalanan kalian. Ini adalah Jum-dan, dan para mufarridun telah dahulu berjalan."

Para shahabat bertanya, "Siapakah para mufarridun itu wahai Ra-sulullah?"

Beliau menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang berdzikir ke-pada Allah sebanyak-banyaknya, laki-laki dan wanita."Di dalam Al-Musnad disebutkan secara marfu', dari hadits Abud-Darda' Radhiyallahu Anhu,

"Ketahuilah, akan kuberitahukan kepada kalian tentang amal-amal kalian yang paling baik, paling suci di sisi Raja kalian, paling tinggi dalam derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada penganugerahan emas dan perak, lebih baik jika kalian berhadapan dengan musuh, lalu kalian memenggal leher mereka atau mereka yang memenggal leher kalian". Mereka bertanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Beliau menja-wab, "Dzikir kepada Allah Azza wa jalla."

Beliau juga bersabda, sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudry Radhiyallahu Anhuma,

"Tidaklah segolongan orang berdzikir kepada Allah melainkan para malaikat mengelilingi mereka, menyelubungi mereka dengan rahmat, menurunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah menyebut mereka di antara orang-orang yang ada di sisi-Nya."

Bukti kemuliaan dzikir ini, Allah membangga-banggakan para pela-kunya di hadapan para malaikat, sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahih Muslim, dari Mu'awiyah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui sekerumunan para shahabat, sera-ya bertanya, "Apa yang membuat kalian berkumpul?"

Mereka menjawab, "Kami berkumpul untuk menyebut nama Allah, memuji-Nya karena telah menunjuki kami kepada Islam dan menganugerahkan Islam itu kepada kami."

Beliau bersabda, "Demi Allah, apakah hanya karena itu yang men-dorong kalian untuk berkumpul?"

Mereka menjawab, "Demi Allah, hanya inilah yang mendorong kami untuk berkumpul."Beliau bersabda, "Sebenarnya aku tidak meminta kalian untuk bersumpah karena curiga terhadap kalian. Hanya saja Jibril telah menda-tangiku dan mengabarkan kepadaku, bahwa Allah membangga-bangga-kan kalian kepada para malaikat."

Seorang Arab dusun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Apakah amal yang paling utama?"

Maka beliau menjawab,

"Engkau meninggalkan dunia, sedang lisanmu daiam keadaan basah karena sering menyebut nama Allah."

Ada pula seseorang yang pernah berkata kepada beliau, "Se-sungguhnya syariat-syariat Islam terlalu banyak bagiku. Maka perintah-kanlah kepadaku suatu perkara yang dapat kujadikan gantungan." Maka beliau bersabda, "Buatlah lisanmu senantiasa basah karena menyebut nama Allah."

Di dalam Al-Musnad disebutkan dari hadits Jabir, dia berkata, "Ra-sulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui kami seraya bersabda, "Wahai manusia, merumputlah kalian di kebun-kebun surga."

Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kebun-kebun surga itu?"

Beliau menjawab, "Majlis-majlis dzikir."

Beliau juga pernah bersabda,

"Pergilah kalian pada waktu pagi dan petang hari serta berdzikirlah. Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaklah dia melihat bagaimana kedudukan Allah di sisinya. Karena Allah menempatkan hamba di sisi-Nya sebagaimana dia menempatkan-Nya di sisinya."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meriwayatkan dari Ibrahim Alaihis-Salam pada malam Isra', bahwa Ibrahim Alaihis-Salam berkata kepada Rasulullah,"Sampaikanlah salam dariku kepada umatmu dan kabarkanlah kepada mereka bahwa surga itu bagus tanahnya, segarairnya, bahwa surga itu merupakan kebun-kebun dan adapun tanamannya adalah kalimat Subhanallah walhamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu akbar." (Diriwayatkan At-Tirmidzy, Ahmad dan lain-lainya).

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadits Abu Musa Radhi-yallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

"Perumpamaan orang yang menyebut nama Rabbnya dan orang yang tidak menyebut nama-Nya seperti orang hidup dan orang mati."

Lafazh Muslim disebutkan,

"Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebutkan nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebutkan nama Allah seperti orang hidup dan orang mati."

Beliau menganggap rumah orang yang berdzikir seperti rumah yang hidup dan semarak, sedangkan rumah orang yang lalai dan tidak berdzikir sama dengan rumah orang mati atau kuburan. Dalam lafazh pertama, orang yang berdzikir disamakan dengan orang yang hidup, dan orang yang lalai tidak mau berdzikir disamakan dengan orang yang mati. Dua lafazh ini mencakup pengertian bahwa hati yang berdzikir seperti orang hidup yang berada di rumah orang-orang yang juga hidup, sedangkan orang yang lalai tidak mau berdzikir seperti orang mati yang berada di dalam kuburan. Tidak dapat diragukan bahwa tubuh orang-orang yang lalai merupakan kuburan bagi hati mereka, dan hati mereka yang ada di dalam badannya seperti orang mati di dalam kuburan, sebagaimana yang dikatakan dalam syair,"Lalai menyebut nama Allah merupakan kematian hati jasad mereka adalah kuburan sebelum masuk ke liang kubur ruh berada di dalam tubuh mereka dalam keadaan liar saat kembali pun mereka tidak mempunyai tempat kembali."

Dalam atsar Ilahy disebutkan,

:

"Allah befirman, 'Jika yang menang atas hamba-Ku adalah menyebut nama-Ku, tentu dia mencintai-Ku dan Aku pun mencintainya."

Dalam atsar Ilahy yang lain disebutkan,
"Wahai anak Adam, kamu tidak adil kepada-Ku. Aku mengingatmu namun kamu melupakan Aku, Aku menyerumu namun kamu lari kepada selainAku, Aku menyingkirkan bencana darimu, namun kamu senantiasa berada pada kesalahan-kesalahan. Wahai anak Adam, apa yang akan kamu katakan besok jika kamu datang kepada-Ku?"

Dalam atsar Ilahy yang lain disebutkan,
:
"Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika kamu marah, niscaya Aku mengingatmu ketika Aku murka. Ridhalah terhadap pertolongan-Ku kepadamu, karena pertolongan-Ku kepadamu lebih baik daripada per-tolonganmu untuk dirimu sendiri."

Di dalam Ash-Shahih juga disebutkan atsar Ilahy yang diriwayatkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Rabb,
"Siapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku mengingatnya di dalam Diri-Ku, dan siapa yang mengingat-Ku di keramaian orang, maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik daripada mere-ka."

Saya telah menyebutkan sekitar seratus faidah dzikir dalam kitab Al-Wabilush-Shayyib,10 beserta rahasia-rahasia, keagungan manfaat dan buahnya yang bagus. Di sana juga saya sebutkan tiga macam dzikir, yaitu:

Dzikir asma, sifat dan makna-maknanya, pujian terhadap Allah dengan asma dan sifat-sifat itu serta pengesaan Allah.

Dzikir perintah dan larangan, halal dan haram.

Dzikir karunia, nikmat, kemurahan dan kebaikan.

Ada tiga macam dzikir lainnya yang berkaitan dengan cara pelak-sanaannya, yaitu:

Dzikir dengan menyelaraskan antara lisan dan hati. Ini merupakan tingkatan dzikir yang paling tinggi.

Dzikir dengan hati semata.

Dzikir dengan lisan semata.

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Dzikir artinya membebaskan , diri dari lalai dan Iupa."

Perbedaan antara lalai dan Iupa, bahwa lalai merupakan pilihan pelakunya. Sedangkan Iupa bukan karena pilihannya. Karena itu Allah befirman, "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai". Tidak dikatakan, "Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lupa", karena lalai tidak termasuk dalam pembebanan kewajiban, sehingga tidak dilarang.

Menurut Syaikh, ada tiga derajat dzikir, yaitu:

Dzikir secara zhahir, berupa pujian, doa atau pengawasan.

Yang dimaksudkan zhahir adalah apa yang disampaikan lisan dan se-suai dengan suara hati. Jadi tidak sekedar dzikir sebatas lisan semata, karena banyak orang yang tidak beranggapan seperti ini. Sedangkan pujian seperti ucapan Subhanallah wal-hamdu lillah, la ilaha illallah wallahu akbar. Sedangkan doa seperti yang banyak disebutkan dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah, dan hal ini sangat banyak jenisnya. Sedangkan pengawasan, seperti ucapan, "Allah besertaku. Allah meli-hatku. Allah menyaksikan aku", dan lain sebagainya yang dapat me-nguatkan kebersamaannya dengan Allah, yang intinya mengandung pengawasan terhadap kemaslahatan hati, menjaga adab bersama Allah, mewaspadai kelalaian dan berlindung dari syetan serta hawa nafsu. Dzikir-dzikir Nabawy menghimpun tiga perkara, yaitu: Pujian terhadapAllah, penyampaian doa dan permohonan, pengakuan terhadap Allah. Maka disebutkan di dalam hadits, "Doa yang paling baik adalah ucapan alhamdulillah."

Ada seseorang bertanya kepada Sufyan bin Uyainah, "Apa pasalnya alhamdulillah dijadikan doa?" Maka dia menjawab, "Apakah engkau tidak mendengar perkataan Umayyah bin Ash-Shallat kepada Abdullah bin Jud'an yang mengharapkan pemberiannya, "Layakkah aku menyebutkan kebutuhanku, padahal orang yang memberiku telah mencukupi aku? Perilakumu itu pun sudah disebut pemberian." Dzikir-dzikir Nabawy juga mencakup kesempurnaan pengawasan, ke-maslahatan hati, kewaspadaan dari kelalaian dan berlindung dari sye-tan.

Dzikir tersembunyi, yaitu membebaskan diri dari segala belenggu, berada bersama Allah dan hati yang senantiasa bermunajat kepada Rabb-nya.

Yang dimaksudkan tersembunyi di sini ialah dzikir hanya dengan hati. Ini merupakan buah dari dzikir yang pertama. Sedangkan maksud membebaskan diri dari segala belenggu artinya membebaskan diri dari lalai dan Iupa, membebaskan diri dari tabir penghalang antara hati dan Allah. Berada bersama Allah artinya seakan-akan dapat melihat Allah. Senantiasa bermunajat artinya menjadikan hati bermunajat, terkadang dengan cara merendahkan diri, terkadang dengan cara memuji, mengagungkan dan lain sebagainya dari macam-macam munajat yangdilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau dengan hati. Ini merupakan keadaan setiap orang yang jatuh cinta dan yang dicintai.

Dzikir yang hakiki, yaitu pengingatan Allah terhadap dirimu, membe-baskan diri dari kesaksian dzikirmu dan mengetahui bualan orang yang berdzikir bahwa ia berada dalam dzikir.

Dzikir dalam derajat ini disebut yang hakiki, karena dzikir itu dinis-batkan kepada Allah. Sedangkan dzikir yang dinisbatkan kepada ham-ba, maka itu bukan yang hakiki. Allah yang mengingat hamba-Nya merupakan dzikir (pengingatan) yang hakiki. Ini merupakan kesaksian dzikir Allah terhadap hamba-Nya dan Dia menyebutnya di antara orang-orang yang layak untuk diingat, lalu menjadikannya orang yang senantiasa berdzikir kepada-Nya. Jadi pada hakikatnya dia orang yang berdzikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena Allahlah yang menjadikan dirinya orang yang berdzikir kepada-Nya, lalu Allah pun mengingatnya Orang yang berada dalam dzikir lalu dia mempersaksikan terhadap dirinya bahwa dia orang yang berdzikir, merupakan bualan. Padahal dia tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat. Bualan ini tidak hilang dari dirinya kecuali jika dia meniadakan kesaksian terhadap dzikirnya.

Sumber : madarijus salikin karya ibnul qoyyim

Mimpi Yang Benar Seorang Mukmin Adalah Salah Satu Mukjizat Yang Dimiliki Nabi


Mimpi yang benar, yang merupakan satu bagian dari nubuwah, seperti yang dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

"Mimpi yang benar itu merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian dari nubuwah/kenabian."

Tapi dalam riwayat lain yang shahih disebutkan merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian dari nubuwah. Yang pasti, mimpi meru-pakan permulaan wahyu. Kebenarannya tergantung kepada orang yang bermimpi, dan mimpi yang paling benar ialah mimpinya orang yang per-kataannya paling benar dan jujur. Jika kiamat sudah dekat, maka hampir tidak ada mimpi yang meleset, karena jaraknya yang jauh dari masa nubu-wah. Sementara pada masa nubuwah tidak membutuhkan mimpi-mimpi yang benar ini, karena sudah ada kekuatan cahaya nubuwah.

Kebalikan dari mimpi yang benar ini adalah karamah yang muncul setelah masa shahabat, namun tidak muncul pada masa dekatnya hari kiamat. Hal ini disebabkan kuat dan lemahnya iman. Begitulah yang dite-gaskan Al-Imam Ahmad.

Ubadah bin Ash-Shamit berkata, "Mimpi orang Mukmin merupa-kan perkataan yang disampaikan Allah kepada hamba-Nya ketika dia ti-dur."

Mimpi itu layaknya suatu pengungkapan, di antaranya ada yang berasal dari Allah, ada yang berasal dari kejiwaan dan ada yang berasal dari syetan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

:

"Mimpi itu ada tiga macam: Mimpi dari Allah, mimpi sedih dari syetan dan mimpi yang terbawa bisikan seseorang ke dalam hatinya saat terjaga, lalu dia memimpikannya saat tidur."

Mimpi yang menjadi sebab hidayah adalah mimpi yang secara khu-sus datangnya dari Allah. Sementara mimpi para nabi sama dengan wahyu, karena mimpi mereka terlindung dari syetan. Begitulah kesepakatan umat.

Karena itu Al-Khalil Ibrahim hendak menyembelih putranya, sekalipun itu bermula dari perintah dalam mimpi yang beliau alami. Sedangkan mimpi selain para nabi, bisa dilaksanakan seperti halnya wahyu yang jelas, jika memang tepat. Jika tidak, maka tidak perlu diamalkan. Lalu apa ko-mentar kalian tentang mimpi yang benar? Jika mimpi itu mimpi yang benar, maka ia tidak akan bertentangan dengan wahyu. Siapa yang ingin agar mimpinya benar, maka hendaklah dia terus-menerus menjaga keju-jurannya, memakan yang halal, menjaga perintah dan larangan, tidur dalam keadaan suci, menghadap ke arah kiblat, menyebut asma Allah hingga matanya terlelap. Jika dia berbuat seperti ini, hampir pasti mimpi-nya bukan mimpi yang dusta.

Mimpi yang paling benar adalah mimpi pada waktu sahur, karena itulah waktu turunnya wahyu, rahmat, ampunan dan saat syetan me-nyingkir jauh. Sebaliknya, mimpi pada permulaan malam adalah mimpi yang banyak ditebari syetan dan ruh-ruh syetan.

Sumber : kitab madarijus shalikin karya ibnul qoyyim

Sunday, 19 November 2017

Jenis Jenis Wanita Penghuni Neraka dan Macam Siksaannya

Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Singkat 




Hadits diatas menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka di dominasi kaum wanita sebab dosa dosa mereka yang tidak mereka sadari namun mereka terus melakukan itu tanpa bertaubat hingga akhir hayat, apakah alasan mengapa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita? memang kebanyakan wanita adalah lemah akalnya dan kurang bisa berpikir dengan akal sehat sehingga mudah tergoda imannya untuk berbuat kemaksiatan simak bahasan berikut ini.

Ali r.a. meriwayatkan sebagai berikut : Saya bersama-sama Fathimah berkunjung kerumah Rasulullah, maka kami temui beliau sedang menangis. Kami bertanya kepada beliau: “Apakah yang menyebabkan engkau menangis wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pada malam aku di Israkan ke langit, saya melihat orang-orang yang sedang mengalami penyiksaan, maka apabila aku teringat keadaan mereka, aku menangis.”

Saya bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apakah engkau lihat?” Beliau bersabda:
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya serta tangan dicopot dari punggungnya, aspal mendidih dari neraka dituang ke kerongkongnya.
3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya dari balik punggungnya, sedang air getah kayu Zakum dituangkan ke kerongkongnya.
4. Wanita yang digantung, diikat kedua kaki dan tangannya kearah ubun-ubun kepalanya, serta dibelit dan dibawah kekuasaan ular dan kala jengking.
5. Wanita yang memakan badannya sendiri, serta dibawahnya tampak api yang berkobar-kobar dengan hebatnya.
6. Wanita yang memotong-motong badannya sendiri dengan gunting dari neraka.
7. Wanita yang bermuka hitam serta dia makan usus-ususnya sendiri.
8. Wanita yang tuli, buta dan bisu didalam peti neraka, sedang darahnya mengalir dari lubang-lubang badannya (hidung, telinga, mulut) dan badannya membusuk akibat penyakit kulit dan lepra.
9. Wanita yang berkepala seperti kepala babi dan berbadan himmar (keledai) yang mendapat berjuta macam siksaan.
10. Wanita yang berbentuk anjing, sedangkan beberapa ular dan kala jengking masuk melalui duburnya atau mulutnya dan keluar melalui duburnya, sedangkan malaikat sama-sama memukuli kepalanya dengan palu dari neraka.

Maka berdirilah Fatimah seraya berkata, “Wahai ayahku, biji mata kesayanganku, ceritakanlah kepadaku, apakah amal perbuatan wanita-wanita itu.” Rasulullah s.a.w. bersabda : “Hai Fatimah, adapun tentang hal itu :
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya kerana tidak menjaga rambutnya (di jilbab) dikalangan laki-laki.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya, kerana dia menyakiti hati suaminya, dengan kata-katanya.”
Kemudian Rasulullah S.A.W. bersabda : “Tidak seorang wanita pun yang menyakiti hati suaminya melalui kata-kata, kecuali Allah s.w.t. akan membuat mulutnya kelak dihari kiamat selebar tujuh puluh dzira kemudian akan mengikatkannya dibelakang lehernya.”
3. Adapun wanita yang digantung dengan buah dadanya, kerana dia menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.
4. Adapun wanita yang diikat dengan kaki dan tanganya itu, kerana dia keluar rumah tanpa seizin suaminya, tidak mandi wajib dari haid dan dari nifas (keluar darah setelah melahirkan).
5. Adapun wanita yang memakan badannya sendiri, kerena dia bersolek untuk dilihat laki-laki lain serta suka membicarakan aib orang lain.
6. Adapun wanita yang memotong-motong badannya sendiri dengan gunting dari neraka, dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) dikalangan orang banyak, dengan maksud supaya mereka (orang banyak) itu melihat perhiasannya, dan setiap orang yang melihatnya jatuh cinta padanya, karena melihat perhiasannya.
7. Adapun wanita yang diikat kedua kaki dan tangannya sampai keubun-ubunnya dan dibelit oleh ular dan kala jengking, kerana dia mampu untuk mengerjakan sholat dan puasa, sedangkan dia tidak mau berwudhu dan tidak sholat dan tidak mau mandi wajib.
8. Adapun wanita yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai (himmar), karena dia suka mengadu-domba serta berdusta.
9. Adapun wanita yang berbentuk seperti anjing, kerana dia ahli fitnah serta suka marah-marah pada suaminya.

Dalam sebuah hadis Rasulullah S.A.W. bersabda : empat jenis wanita yang berada di surga dan empat jenis wanita yang berada di neraka dan beliau menyebutnya di antara empat jenis perempuan yang berada di surga adalah :
1. Perempuan yang menjaga diri dari berbuat haram lagi berbakti kepada Allah dan suaminya.
2. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati dengan keadaan yang serba kekurangan (dalam kehidupan) bersama suaminya.
3. Perempuan yang bersifat pemalu, dan jika suaminya pergi maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya, dan jika suaminya datang ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
4. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan ia mempunyai anak-anak yang masih kecil, lalu ia mengekang dirinya hanya untuk mengurusi anak-anaknya dan mendidik mereka serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia kawin karena khawatir anak-anaknya akan tersia-sia (terlantar).


Kemudian Rasulullah S.A.W. bersabda : Dan adapun empat jenis wanita yang berada di neraka adalah :
1. Perempuan yang jelek (jahat) mulutnya terhadap suaminya, jika suaminya pergi, maka ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminnya datang ia memakinya (memarahinya).
2. Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang ia tidak mampu.
3. Perempuan yang tidak menutupi dirinya dari kaum lelaki dan keluar dari rumahnya dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik perhatian kaum lelaki).
4. Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minum dan tidur dan ia tidak senang berbakti kepada Allah, Rasul dan suaminya.

Oleh karena itu seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat (empat) ini, maka ia dilaknat termasuk ahli neraka kecuali jika ia bertaubat. Diceritakan dari isteri Khumaid As-sa-idiy bahwa ia datang kepada Rasulullah S.A.W. lalu berkata : “Hai Rasulullah sesungguhnya aku senang mengerjakan sholat bersamamu”. Beliau berkata : “Aku mengerti bahwa engkau senang mengerjakan sholat bersamaku, akan tetapi sholatmu di tempat tidurmu itu lebih baik dari pada sholatmu dikamarmu dan sholatmu dikamarmu lebih baik dari solatmu dirumahmu dan sholatmu dirumahmu lebih baik daripada solatmu di mesjidku”. (Bagi lelaki sangat dituntut sembahyang berjemaah di mesjid)

Rasulullah S.A.W. bersabda : “Sesungguhnya yang lebih disukai sholatnya perempuan oleh Allah ialah yang dilakukan pada tempat yang amat gelap dirumahnya”.

Diceritakan dari Aisyah r.a. : “Pada suatu ketika Rasulullah S.A.W. duduk di masjid, tiba-tiba masuklah seorang perempuan dari suku Muzainah yang memakai pakaian yang terseret-seret ditanah untuk perhiasan pada dirinya di dalam masjid”. Maka Rasulullah S.A.W. bersabda : “Wahai manusia laranglah isteri-isterimu dari memakai perhiasan dan memperindah gaya berjalan di dalam masjid. Kerana sesungguhnya kaum Bani Israil itu tidak dilaknat hingga mereka memberi pakaian isteri-isteri mereka dengan pakaian perhiasan dan mereka berjalan dengan gaya sombong di dalam masjid”.

Ibnu Abas r.a. meriwayatkan juga bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda : “Apabila seorang wanita keluar rumahnya dengan mempesolek dirinya serta memakai bau-bauan (sedang suaminya redha akan berbuatan yang demikian itu), maka dibangunkan untuk suaminya pada setiap langkahnya sebuah rumah di neraka.”

Sabda Rasulullah S.A.W. lagi yang bermaksud : “Jihad seorang wanita ialah taatkan suami dan menghiaskan diri untuknya.”Isteri tidak wajib taat perintah dan arahan suami, apabila perintah dan arahan itu bertentangan dengan hukum Allah S.W.T.Imam Al-Ghazali menegaskan : “Seorang isteri wajib mentaati suami sepenuhnya dan memenuhi segala tuntutan suami dari dirinya sekiranya tuntutan itu tidak mengandungi maksiat.” 

Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik asli yang sudah bersusah payah lagi ikhlas membuat artikel ini. Aamiin.

wallahualam

Monday, 2 October 2017

Contoh Amalan Amalan Yang Bisa Mendatangkan Syafaat di Hari Kiamat

Syafaat adalah hal besar yang diharapkan seorang mukmin dihari kiamat kelak. Syafaat adalah pertolongan dari Allah dan RasulNya ketika kita mengalami kesulitan di akhirat kelak. Syafaat itu bisa berbentuk bertambahnya catatan amal kebaikan maupun dihindarkan dari siksa neraka kelak. dan suatu yang tidak diragukan lagi dari sebab terbesar dan paling utama utama untuk mendapatkan syafaat adalah memurnikan tauhid dan keikhlasan kepada Allah SWT serta memurnikan al-ittibaa' (mengikuti dan meneladani) petunjuk Rasulullah saw

Selain itu, dalam hadits-hadist yang shahih Rasulullah saw menyebutkan beberapa amalan shalih yang bisa menjadi sebab untuk mendapatkan syafaat pada hari kiamat nanti, di antaranya:

1. Membaca al-Qur'an dengan merenungi kandungan maknanya. Seperti riwayat dari Abu Umamah al-Bahili ra bahwa Rasulullah saw bersabda,

اِقْرَؤُا اْلقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah al-Qur'an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur'an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia)." ) Hadits shahih riwayat Muslim (no. 804).

2. Memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah setelah melaksanakan shalat-shalat yang wajib).

عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي زِيَادٍ ، عَنْ خَادِمٍ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَقُولُ : أَلَكَ حَاجَةٌ ؟ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، حَاجَتِي ، قَالَ : وَمَا حَاجَتُكَ ؟ قَالَ : حَاجَتِي أَنْ تَشْفَعَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، قَالَ : وَمَنْ دَلَّكَ عَلَى هَذَا ؟ قَالَ : رَبِّي ، قَالَ : فَأَعِنِّي بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.

"Dari Ziyad bin Abi Ziyad dari seorang pelayan laki-laki atau wanita , Rasulullah saw berkata : Pada suatu hari Rasulullah saw bertanya : "Apa kamu memiliki keperluan?", Dia menjawab: Aku memiliki keperluan. Lalu Rasulullah bertanya : "Apa keperluanmu?, Dia menjawab :"Keperluanku adalah agar engkau (wahai Rasulullah saw) memberi syafaat bagiku pada hari Kiamat." Maka, Rasulullah saw bersabda, "Bantulah aku (untuk keperluanmu itu) dengan memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah)." ) Ahmad (3/500), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 2102).

3. Banyak berpuasa, baik yang wajib maupun yang sunnah/ anjuran. Seperti dalam riwayat dari 'Abdullah bin 'Amr bin 'al-'Ash ra bahwa Rasulullah saw bersabda :

الصِّيَامُ وَ اْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَقُوْلَ الصِّيَامُ : رِبِّ إِنِّي مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّرابَ بِالنَّهَارَ فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ رَبِّ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، فَيَشْفَعَانِ.

"Puasa dan al-Qur'an akan memberikan syafaat pada hari kiamat bagi seorang hamba (yang mengamalkannya). Puasa berkata, 'Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.'. (Bacaan) al-Qur'an (juga) berkata, 'Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.'" Rasulullah r bersabda, "Maka, keduanya pun diizinkan memberi syafaat." ) Imam Ahmad (2/174), Abu Nu'aim dalam Hilayatul Auliyaa' (8/161) dan al-Hakim (1/740), dari dua jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Tamaamul Minnah (hal. 394).(

4. Tinggal di kota Madinah Al Munawwarah, bersabar atas kesusahannya dan meninggal dunia di sana.

Ini disebutkan dalam beberapa hadits shahih diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda :
مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

"Barangsiapa yang mampu meninggal di Madinah maka lakukanlah, karena sesungguhnya aku akan memberikan syafaat bagi mereka yang meninggal di dalamnya." ) Di antaranya hadits shahih riwayat Muslim (no. 1374 dan 1377), juga hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 3917), Ibnu Majah (no. 3112), Ahmad (2/74) dan Ibnu hibban (no. 3741), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Albani.

5. Membaca shalawat kepada Rasulullah saw dan meminta al-wasiilah untuk beliau (seperti yang diucapkan pada doa setelah mendengar azan selesai dikumandangkan).

Seperti dalam hadist yang shahih dari Abdullah bin Amr bin 'Ash t berkata, Rasulullah r bersabda :
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
"Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kalian kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah I akan membalasnya sepuluh kali kepadanya, kemudian mintalah kepada Allah I wasilah untukku, karena sesungguhnya ia itu adalah kedudukan yang tinggi di surga, yang tidak pantas (ditempati) kecuali oleh seorang hamba dari para hamba-hamba Allah I. Dan aku berharap akulah hamba tersebut. Barangsiapa yang memohon wasiilah untukku, maka dia berhak (mendapatkan) syafaatku." (Shahih mukhtashar Muslim no : 198, Muslim 1/288, Aunul Ma'bud 2/225 dan selainnya).

6. Jenazah yang dishalatkan oleh empat puluh orang ahli tauhid. Dari Abdullah bin 'Abbas ra beliau berkata, "Sungguh aku mendengar Rasulullah saw bersabda :
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ
"Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/ mengabulkan syafaat mereka terhadapnya." (Muslim 2242)

nah itu dia amalan amalan yang bisa mendatangkan syafaat semoga kita termasuk orang yang mengamalkannya.
sumber : darussunah.com

Friday, 1 September 2017

Kewajiban Seorang Muslim Kepada Kitab AlQuran

Al-Qur'an adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau-lah Nabi & Rasul terakhir, pun dengan Al-Qur'an yang menjadi kitab suci terakhir. Al-Qur'an bukan dibuat oleh Nabi Muhammad, sebab beliau tidak bisa membaca. Nabi Muhammad SAW hanyalah perantara dari Allah SWT kepada seluruh manusaia.

Sebagai umat Islam, tentu Al-Qur'an tidak akan kita biarkan begitu saja sebagai pajangan, koleksi, atau apa pun.. Selain 5 rukun Islam, kita pun memiliki 5 kewajiban terhadap Al-Qur'an.. Berikut ke-5 kewajiban tersebut:

1 At Tilawah (dibaca)

At Tilawah artinya membaca. Mengapa wajib dibaca? Sebab tanpa dibaca mustahil untuk mengerti maknanya, dapat mengamalkannya, bahkan menyampaikannya. Bicara masalah membaca, hukum membaca Al-Qur'an dengan benar (memakai tajwid) adalah Fardhu 'Ain (wajib untuk setiap orang). Sementara hukum mempelajari ilmu tajwid tersebut adalah Fardhu Kifayah (wajib untuk sekelompok orang, apabila sudah ada yang menjalankan maka gugurlah kewajiban untuk sekelompok orang itu). Jadi mau tidak mau kita harus tetap mempelajari ilmu tajwid walau sedikit, sebab akan sangat sulit untuk membaca dengan tajwid yang benar pabila kita tidak mengerti ilmu tajwid sama sekali.

2 Al Hifzu (dihafal)

Menghafal… Mengapa Al-Qur'an wajib dihafal? Sebab apabila tidak dihafal tentu akan sulit untuk mengamalkannya. Misalnya Anda ingin sholat, namun tidak hafal Al-Fatihah dan surat pendek, tentu akan menyulitkan Anda saat sholat. Masalah menghafal ini tidak mesti seluruh isi Al-Qur'an yang kita hafalkan. Minimal surat-surat pendek untuk bacaan sholat kita. Pun apabila kita sering membaca Al-Qur'an, nantinya kita akan hafal dengan sendirinyaJ

3 al Fahmu (dipahami)

Memahami Al-Qur'an wajib bagi setiap muslim, mengapa? Sebab salah satu tujuan membaca adalah untuk memahami. Pun sebelum kita mengamalkan sesuatu, kita harus memahami dulu sesuatu itu, supaya tidak salah dalam mengerjakannya. Sama halnya dengan Al-Qur'an… Ia adalah pedoman hidup yang paling lengkap. Tentu apabila kita memahaminya, akan mempermudah kita dalam mengamalkan isinya.

4 Al A'malu (diamalkan)

Seorang yang memahami dan mengerti sebuah kebaikan namun tidak mengamalkan bagaikan lebah yang tidak menghasilkan madu.. Al-Qur'an ada sebagai pedoman hidup manusia untuk diamalkan isinya, supaya manusia dapat menjalani hidup ini dengan baik sesuai yang diridhoi oleh Allah SWT.

5 Ad Da'wah (disampaikan)

Kebaikan bukanlah hanya untuk diri sendiri saja. Alangkah baiknya apabila ia dapat dirasakan oleh orang lain. Kebaikan yang terus menyebar ini akan menjadi lahan pahala yang terus mengalir bahkan apabila kita sudah meninggal sekalipun, kebaikan itu akan terus mengalir layaknya air zamzam yang tak pernah berhenti memancar.
Diluar sana masih banyak umat Islam yang belum mengetahui kewajiban-kewajiban ini. Sebagai sesama muslim tentu kita wajib memberitahu mereka. Mereka adalah saudara se-iman kita. Jangan biarkan mereka membiarkan Al-Qur'an tergeletak begitu saja hingga berdebu..

Monday, 7 August 2017

Hadits ; Yahudi Kaum Yang Dimurkai, Nasrani Kaum Yang Tersesat

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda,

"Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani."(HR Ahmad dan Tirmidzi)


Dua hal yang buruk ini, yaitu kesesatan dan penderitaan, banyak disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya. Allah SWT memberitakan bahwa kedua hal itu akan ditimpakan kepada musuh-musuh-Nya. Dia juga banyak menyebutkan lawan dari kedua hal ini, yaitu petunjuk dan keberuntungan. Dia mengabarkan bahwa dua hal ini adalah untuk kekasih-kekasih-Nya. Adapun yang pertama, yaitu kesesatan dan kesengsaraan adalah seperti terdapat dalam firman Allah,

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan di dunia dan dalam neraka." (al-Qamar: 47)

Yang dimaksud dengan kesesatan dalam ayat di atas adalah kesesatan itu sendiri, sedangkan neraka maksudnya adalah penderitaan dan azab. Allah SWT juga berfirman,


"Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk." (Yunus: 45)

Sedangkan yang kedua, yaitu petunjuk dan keberuntungan adalah seperti terdapat dalam firman Allah SWT di awal surah al-Baqarah, yaitu ketika Allah SWT menyebutkan sifat-sifat orang-orang mukmin,

"Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan merekalah orang-orang yang beruntung." (al-Baqarah: 5)

Demikian juga dalam surah al-An'aam,

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukannya dengan kezaliman, merekalah yang medapatkan keamanan. Dan mereka adalah orang-orang yang berpetunjuk." (al-ArTaam: 82)

Karena surah al-Faatihah merupakan surah yang paling agung, paling wajib dibaca, paling mencakup apa yang dibutuhkan hamba, serta paling luas manfaatnya, maka Allah SWT menyebutkan kebaikan dan keburukan di dalamnya. Allah SWT memerintahkan kita mengucapkan,

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka." (al-Faatihah: 6)

Di sini Allah SWT menyebutkan hidayah dan nikmat yang merupakan petunjuk dan kemenangan. Kemudian Allah SWT berfirman,

"Bukan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang sesat" (al-Fatihah:7)

Di sini Allah SWT menyebutkan orang-orang yang mendapat murka-Nya, yaitu mereka yang menderita. Juga menyebutkan orang-orang yang tersesat, yaitu mereka yang tersesat dari jalan yang lurus. Masing-masing dari kedua golongan ini adalah orang-orang yang mengalami penderitaan dan kesesatan. Allah SWT menyebutkan kedua sifat buruk ini secara bersamaan, supaya apa yang dituju oleh surah tersebut diungkapkan dengan lafal yang paling jelas.

Allah SWT juga menyebutkan salah satu sifat yang paling jelas bagi masing-masing golongan. Untuk orang-orang Yahudi, kemurkaan lebih sesuai dan lebih jelas. Hal ini dikarenakan mereka menentang kebenaran setelah mereka mengetahuinya. Sedangkan untuk orang-orang Nasrani, maka kesesatan lebih cocok dan lebih jelas, karena mereka tersesat disebabkan kebodohan dan ketidaktahuan mereka.

Wallahu'alam

Apakah Jin Ada Yang Masuk Surga Sebagaimana Manusia?


Dalam al quran  Firman Allah SWT

"Dan apabila petunjuk-Ku datang kepadamu." (Thaahaa: 123)

Adalah ditujukan kepada orang-orang yang diturunkan Allah SWT dari surga dengan firman-Nya,

"Turunlah semua dari surga itu kamu berdua, sebagian dari kamu menjadi musuh sebagian yang lain." (Thaahaa: 123)

Setelah itu Allah SWT berfirman, "Maka apabila petunjuk-Ku datang kepadamu."

Kedua hal di atas ditujukan kepada bapak jin dan bapak manusia. Ini menunjukkan bahwa jin mendapat perintah serta larangan dari Allah SWT. Mereka juga tercakup dalam syariat-syariat para nabi, dan kejahatan mereka juga layak mendapat hukuman. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus kepada mereka sebagaimana diutus kepada manusia. Semua ini tidak diperselisihan para ulama. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tenang apakah jin yang muslim juga masuk surga? Mayoritas ulama berpendapat bahwa jin muslim akan masuk surga, dan jinyang kafir akan masuk neraka. Ada juga yang mengatakan bahwa pahala jin yang muslim hanyalah keselamatan dari siksa neraka namun tidak akan masuk surga. Karena surga hanya dimasuki oleh Adam dan keturunannya, dan ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Orang-orang yang mengatakan bahwa jin muslim juga akan masuk surga memiliki beberapa argumentasi.

Pertama. Dalam ayat 123 dari surah Thaahaa di atas, Allah SWT memberitakan bahwa barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Nya, maka ia tidak akan merasa takut, sedih, tersesat dan menderita. Ini merupakan konsekuensi dari kesempurnaan nikmat-Nya. Tidak bisa dikatakan bahwa ayat tersebut hanya menunjukkan peniadaan azab, karena sudah menjadi kesepakatan bahwa jin mukmin tidak akan disiksa. Seandainya ayat di atas hanya menunjukkan peniadaan azab, maka itu bukanlah pujian bagi manusia yang mukmin, namun sekedar informasi peniadaan ketakutan dan kesedihan. Sebagaimana diketahui bahwa konteks dan maksud ayat adalah bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah SWT, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang paling besar dan terhindar dari penderitaan yang sangat pedih. Allah SWT mengungkapkan semua itu dengan meniadakan rasa takut dan kesedihan tersebut sesuai dengan tuntutan keadaan. Sehingga, ketika Allah SWT menurunkan Adam a.s. dari surga, maka ia dirundung rasa takut, kesedihan dan penderitaan. Lalu Allah memberitahukan kepadanya bahwa Dia memberikan janji baginya dan bagi keruturunannya. Yakni, barangsiapa mengikuti petunjuk-Nya, maka akan terhapus ketakutan, kesedihan, kesesatan, dan penderitaan darinya. Dan dimaklumi bahwa semua itu tidak akan hilang kecuali dengan masuk ke surga. Tetapi, dengan menyebutkan peniadaan keburukan yang paling berat adalah lebih tepat.

Kedua. Firman Allah SWT,

"Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Ai-Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu untuk mendengarkannya.' Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.' Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab 64/-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.'" (al-Ahqaaf: 29-31)

Dalam ayat di atas Allah SWT memberitahukan kepada kita tentang ancaman-Nya terhadap para jin, yaitu barangsiapa yang memenuhi seruan utusan-Nya, maka akan diampuni dan dibebaskan dari neraka. Seandainya ampunan bagi mereka hanya berupa pembebasan dari azab, maka cukup dengan firman-Nya, "Dan melepaskan kamu dari azab yang pedih." Akan tetapi, kesempurnaan ampunan itu adalah masuk ke surga dan selamat dari neraka. Sehingga barangsiapa yang mendapat ampunan dari Allah, maka dia masuk surga.

Ketiga. Firman Allah SWT tentang bidadari di surga,

"Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin." (ar-Rahmaan: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa jin dan manusia yang beriman akan masuk surga, dan bahwa bidadari di dalamnya belum pernah disentuh oleh mereka. Maka, ini menunjukkan jin-jin yang beriman dapat menyentuh bidadari setelah mereka masuk surga, sebagaimana yang terjadi pada manusia. Seandainya mereka tidak masuk surga, tentulah tidak pantas bagi mereka menerima berita seperti itu.

Keempat. Firman Allah SWT,

"Maka jika kami tidak dapat membuatnya, pasti kamu tidak akan dapat membuatnya. Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga itu, mereka mengatakan, 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. 'Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (al-Baqarah: 24-25)

Di antara jin ada yang mukmin dan ada yang kafir, sebagaimana dikatakan oleh jin-jin saleh di antara mereka,

"Dan sesungguhnya dari kami ada orang-orang taat dan ada pula orang-orang yang menyimpang dari kebenaran." (al-Jinn: 14)

Maka karena golongan jin yang kafir masuk dalam ayat kedua (al-Jinn: 14), maka

golongan jin mukmin juga harus masuk dalam ayat pertama (al-Baqarah: 25).

Kelima. Firman Allah SWT tentang jin-jin yang saleh,

"Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus." (al-Jinn: 14)
Maksud ar-rusyd di sini adalah petunjuk dan kemenangan, yaitu petunjuk dari Al-Qur'an. Maka, barangsiapa tidak masuk surga, dia tidak memperoleh tujuan dari petunjuk tersebut, melainkan petunjuk tersebut sekedar dalam pengetahuannya saja.

Keenam. Firman Allah SWT,

"Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (al-Hadiid: 21)

Golongan jin yang mukmin adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dan para rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka termasuk orang-orang yang memperoleh berita gembira dan berhak menerimanya.

Ketujuh. Firman Allah SWT,

"Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (Yunus: 25)

Dalam ayat ini Allah SWT menjadikan seruan-Nya bersifat umum, dan menjadikan hidayah-Nya bersifat khusus. Maka, barangsiapa mendapatkan petunjuk-Nya, dia termasuk yang diseru kepada petunjuk-Nya itu. Jadi jin yang mandapatkan hidayah-Nya, adalah termasuk yang diseru kepada hidayah itu.

Kedelapan. Firman Allah SWT,

"Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dan golongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan-Ku hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat seimbang dengan apa yang dikerjakannya. Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (al-ArTaam:

128-132)

Penjelasan ayat ini adalah umum untuk jin dan manusia. Dalam ayat tersebut Allah SWT memberitakan kepada mereka bahwa masing-masing mereka memiliki derajat sesuai dengan amalnya. Sebagai konsekuensinya, maka jin yang melakukan kebajikan juga memiliki derajat sesuai dengan amalnya, sebagaimana manusia.

Kesembilan. Firman Allah,

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' (Fushshilat: 30)

Dan firman Allah SWT,

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak ada pula berduka cita. Mereka-mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (al-Ahqaaf: 13-14)

Ayat ini kami jadikan dalil, karena tiga alasan. Pertama, kata penghubung (alladziina) di dalam ayat tersebut bersifat umum. Kedua, disebutkannya pahala setelah hal-hal terpuji yang disebutkan sebelumnya. Dan ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menyandang hal-hal tersebut berhak menerima pahala itu. Hal-hal terpuji tersebut adalah ikrar bahwa tiada tuhan selain Allah disertai dengan istiqamah. Ketetapan ini adalah umum karena keumuman sebab. Apabila masuk surga adalah konsekuensi dari kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan pengakuan akan rububiyah-Nya, disertai dengan konsisten terhadap segala perintah-Nya, maka barangsiapa yang melakukan hal ini, dia pun berhak atas balasan tersebut. Ketiga, Allah SWT berfirman,

"Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak ada pula berduka cita. Mereka-mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (al-Ahqaaf: 13-14)

Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih adalah penghuni surga. Dan, tentang siapa yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih telah disebutkan dalam firman Allah,

"Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka mereka tidak akan merasa takut dan merasa sedih." (al-Baqarah: 38)

Ayat ini meliputi dua golongan, dan ayat ini menujukkan bahwa siapa saja yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih, maka dia adalah penghuni surga.

Kesepuluh. Jika jin-jin yang kafir masuk neraka karena keadilan Allah, maka masuknya jin-jin yang mukmin ke surga karena kemuliaan dan kasih sayang Allah adalah lebih utama. Sebab, kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya dan kebaikan lebih umum daripada keadilan.

Oleh karena itulah, tidak akan masuk neraka kecuali mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni neraka. Berbeda dengan surga, ia dapat dimasuki oleh mereka yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali. Karena Allah SWT telah menciptakan golongan untuk surga yang akan menempatinya tanpa harus melakukan amal kebajikan. Di dalam surga juga Allah akan menaikkan derajat hamba-hamba-Nya tanpa ada usaha dari mereka, melainkan karena doa, shalat, sedekah dan perbuatan baik yang dihadiahkan orang lain kepada mereka.

Merupakan ketetapan Al-Qur'an serta kesepakatan umat, bahwa jin kafir akan masuk neraka karena keadilan Tuhan dan karena apa yang mereka perbuat. Sedangkan, jin-jin mukmin akan masuk surga karena kemuliaan Allah dan karena amal mereka.

Ada juga yang berpendapat bahwa jin-jin mukmin tersebut berada di dasar surga, di mana mereka dapat dilihat oleh penghuni surga lainnya tapi mereka sendiri tidak melihat penghuni surga lainnya. Menurut pendapat ini, kondisi mereka di surga ini kebalikan di dunia, di mana jin-jin tersebut dapat melihat anak-cucu Adam, sedangkan anak-cucu Adam tidak dapat melihat mereka.

Akan tetapi, hal seperti ini tidak dapat diketahui tanpa ada dalil yang tidak bisa dibantah. Dan jika dalil tersebut memang benar, maka itu wajib diikuti. Namun jika tidak ada dalil yang mendukungnya, maka pendapat ini sekedar disampaikan agar dapat diketahui, sedangkan kebenarannya tergantung pada dalil. Wallaahu a'alam


Sumber ,: Buku kunci kebahagiaan karya ibnul qoyyim