إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه. ولا ينزع من شيء إلا شانه
“Sesungguhnya tidaklah kelembutan berada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali akan merusaknya.” (HR. Muslim 2594)
PELAJARAN DARI HADITS :
Segala puji dan sanjungan hanyalah milik Alloh yang telah menjadikan agama yang agung ini adalah agama yang mudah, sesuai firmannya Alloh Ta’ala berfirman :
“Alloh menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (Al-Baqoroh : 185).
Semoga salam dan kesejahteraan senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi yang mulia telah yang menjadikan agama ini sebagai agama kelemahlembutan dan penuh kedamaian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. Maka wahai hamba Alloh, wajib bagi anda untuk berlemah lembut dengan dirinya dan dengan hamba-hamba Alloh Azza wa Jalla lainnya.
Tidak diragukan lagi, bahwa dakwah adalah salah satu kewajiban terpenting yang diemban oleh kaum muslimin. Bahkan dakwah adalah suatu kebutuhan paling pokok dan lebih pokok dari kebutuhan makanan dan minuman sekalipun. Tanpa adanya dakwah (Nasehat berisi ilmu agama), maka tentulah akan sirna dan pupus agama ini dan hilanglah hikmah Alloh mengutus para Nabi-Nya dan menurunkan kitab suci-Nya. Dan jika demikian manusiapun tak ubahnya hewan buas yang kerjaannya menyibukkan diri dengan menuruti hawa nafsu syahwat yang tidak pernah ada habisnya dan saling bertarung hanya karena berebut tulang (barang sepele) yang mengutamakan sifat iri, dengki, individualisme seperti layaknya kehidupan hewan dialam bebas . Karena agama (islam) manusia jadi mulia karena mencampakkan agama pula manusia bisa lebih rendah kelakuannya daripada hewan.
Dengan dakwah Islam ini, manusia akan terangkat dari kehinaan kebodohan, kemaksiatan dan kekufuran. Dengan dakwah, manusia tercerahkan dari kegelapan menuju cahaya. Dengan dakwah pula, manusia memperoleh kebahagiaan dan kemuliaannya baik di dunia maupun di akhirat.
Allah SWT berfirman : “Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (QS al-Baqoroh : 257)
Namun, dakwah itu haruslah diiringi dengan ilmu dan pengetahuan yang cukup walaupun tidak harus sampai setingkat ustadz atau ulama tapi karena kewajiban dakwah itu adalah wajib bagi setiap muslim dengan berapapun pengetahuan yang dia miliki asal tahu dasar cara berdakwah yang benar dan ilmu walaupun sedikit namun yang penting shahih / lurus dan benar dan percuma juga / sia-sia orang yang banyak ilmu namun ilmunya itu adalah ilmu yang batil dan sesat apalagi diiringi dakwah yang bertipe penyerang. Tanpa ilmu, maka akan sia-sialah dakwahnya dan bahkan akan lebih memadharatkan ketimbang memberikan manfaat. Seorang da’i yang mengajak dengan kejahilan maka dikhawatirkan ia akan menjadi sesat dan menyesatkan.
Alloh Ta’ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia :
“mengikutiku menyeru kepada Alloh kepada hujjah yang nyata.” (QS Yusuf : 108)
Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi dan orang-orang yang mengikuti beliau berdakwah menyeru kepada Alloh di atas bashiroh (hujjah yang nyata). Demikian pula, dakwah itu haruslah dengan cara yang baik. Dengan cara yang hikmah, santun, lemah lembut dan ramah. Tanpa kelemahlembutan dan akhlak yang baik, niscaya dakwah akan menyebabkan orang lari dari kebenaran yang diserukannya dan bahkan justru mereka akan menjadi benci dari agama yang menjadikan sumber kemaslahatan umat ini. Sesuai firman-Nya ;
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl : 125)
Ayat di atas menunjukkan perintah Alloh untuk berdakwah menyeru manusia kepada jalan Alloh dengan cara yang hikmah / penuh dengan pelajaran dan keteladanan, dengan pelajaran yang baik dan membantah dengan cara yang lebih baik daripada yang mereka ucapkan.
Alloh Jalla wa ’Ala berfirman di dalam Kitab-Nya :
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali ’Imran : 159)
Ayat di atas menunjukkan, bahwa Rasulullah sebagai makhluk yang paling mulia dan paling baik, diberikan rahmat oleh Alloh berupa kelemahlembutan. Yang sekiranya apabila Rasulullah tidak bersikap lemah lembut dan bersikap kaku lagi kasar, niscaya orang-orang akan menjauh dan lari dari diri beliau. Demikianlah, dakwah itu dilaksanakan untuk mengajak dan menyeru manusia kepada kebenaran, bukannya malah menjauhkan mereka dari kebenaran. Dakwah itu ditegakkan untuk mendekatkan manusia kepada kebaikan bukannya malah melarikan mereka dari kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepada Mu’adz dan Abu Musa Radhiyallahu ‘anhuma ketika mengutus keduanya ke Yaman :
“Permudahlah dan janganlah kalian berdua mempersulit, berikanlah berita gembira dan jangan membuat mereka lari.” (Muttafaq ‘alaihi)
Namun sungguh amat disayangkan. Betapa banyak di zaman ini, mereka yang mengaku sebagai orang yang meniti manhaj para Nabi di dalam berdakwah (baca: ahlussunah wal jama’ah), yang mengklaim sebagai orang yang mengikuti manhaj salaf di dalam berdakwah, namun realitanya mereka menyelisihi manhaj para Nabi dan Salaf. Mereka berdakwah dengan sikap keras, kasar, kaku, gegabah, tergesagesa lagi berakhlak buruk. Dakwah mereka dikarakteristiki dengan sikap yang keras terhadap kaum muslimin, tidak mau senyum dan memberikan salam, ataupun menjawab salam mereka. Dakwah mereka dikenal sebagai dakwah yang penuh dengan cercaan, makian, hujatan, umpatan, gunjingan, adu domba, fitnah dan segala keburukan lainnya. Namun ironisnya, mereka mengaku sebagai da’i ahlus sunnah pengikut dakwah salaf shalih (orang-orang shalih terdahulu).
Di zaman ini, dakwah ahlus sunah atau dakwah manhaj nubuwah yang mubarokah ini, dicemari oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengkarakteristiki dakwah mereka dengan sifat-sifat buruk sebagaimana tersebut di atas. Dakwah utama mereka bukanlah mengajak ummat kepada Islam yang shahih, kepada Kitabullah yang mulia dan sunnah Nabi yang suci, namun mereka mengajak ummat kepada pertikaian, perselisihan dan permusuhan. Mereka sangat mudah sekali menvonis sesat, bid’ah –bahkan meng-kafirkan- terhadap seudara-saudara mereka sesama muslim yang mereka anggap jatuh kepada kesalahan-kesalahan. Tanpa ada sikap nasehat yang baik terlebih dahulu, tanpa ada kelemahlembutan dan keinginan kuat agar orang-orang yang mereka anggap tersalah ini bisa ruju’ (kembali) kepada kebenaran. Ironisnya, mereka seakan-akan lebih senang dengan ketergelinciran saudara mereka, sehingga dengan demikian mereka dapat menerapkan hobby dan ambisi mereka untuk mencela, mentahdzir, menghajr bahkan mentabdi’. Seakan-akan tidak ada keinginan di benak mereka untuk mengembalikan saudara-saudara mereka seislam kepada kebenaran. Dan akibatnya kita seperti orang yang ribut sendiri sementara musuh-musuh kita (orang kafir) menertawakan kita ditengah keterpurukan dan kebodohan kita. Naudzubillah
Sungguh wahai saudaraku janganlah anda berbuat demikian, yang asal bicara agama tanpa memikirkan akibatnya . Padahal agama ini (islam) adalah agama yang lurus dan haq didalamnya penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan yang membimbing umatnya kedalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka janganlah anda membuat islam seakan-akan seperti agama teroris (baca: yahudi cs) yang ajarannya cuman mengumbar anarkisme dan amat meresahkan masyarakat. Janganlah anda membuat orang lari dari Islam, janganlah anda membuat Islam yang diridhoi-Nya ini dianggap sebagai agama yang gemar mencela, anarkisme, dan agama yang paling fanatik sempit.
Justru yang sebenarnya Islam itu adalah agama rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi seluruh alam) bukti kecilnya yaitu jika kita mau menyembelih hewan kita harus menajamkan pisau supaya hewan itu tidak merasa kesakitan yang panjang atau dengan hewan yang kelaparan kita harus memberinya makan. Jika kita punya kelebihan makanan sementara hewan piaraan kita mati kelaparan itu sungguh hal yang dosa besar bahkan dalam satu riwayat hadits disebutkan bahwa orang yang banyak amalnya masuk neraka hanya karena menelantarkan binatang peliharaannya.
Inilah saudaraku dengan hewan saja yang tidak punya akal kita disuruh berakhlaq baik dengannya apalagi dengan manusia yang punya rasa, hati dan akal pikiran yang tentu saja kita harus berakhlaq baik lebih daripada prilaku kita kepada makhluk lainnya. Oleh sebab itu marilah kita pelajari dan ambil hikmah dari pelajaran sejarah Nabi dalam berdakwah khususnya Nabi muhammad SAW dan para sahabatnya yang diridhoi-Nya. Pelajarilah cara Rasulullah SAW berdakwah dan para sahabatnya ra. dalam menegakkan dinul haq ini dan pahami lalu praktekkan Insya Allah dakwah anda berhasil. Sesuai dengan sabda beliau SAW :
“Kamu tidak akan pernah bisa menarik simpati orang lain dengan harta benda yang kamu miliki, tetapi kamu bisa menarik simpati orang lain dengan wajah ceria (senyum) dan dengan akhlak yang baik.” (HR Abu Ya’la dan Al Baihaqi)
Dari hadits diatas dapat kita ambil pelajaran bahwa dakwah kita takkan berhasil jika dakwah kita tidak beres walaupun kita punya banyak harta untuk membiayai dakwah kita. Akan tetapi orang lain akan simpati dengan ajaran Islam ini jika kita berdakwah dengan murah senyuman dan budi pekerti / akhlaq yang mulia.
“BERDAKWAHLAH DENGAN CARA YANG SYAR’I, JANGAN MEMBUAT ORANG LARI. YAITU DENGAN MENODAINYA DAKWAH ANDA DENGAN KATA-KATA YANG MENYAKITKAN HATI”. (SYAIR ASHABUL MUSLIMIN)
“Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris Nabi-nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham dan mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa-siapa yang mengambilnya berarti dia telah mengambil bahagian yang sempurna”.
(Hadits ini shahih, dan Imam Turmuzi, Ibnu Majah juga meriwayatkan Hadits tersebut.)
PELAJARAN DARI HADITS
Memanglah benar, jika Nabi adalah seorang yang kaya lalu memawariskan uang kepada umatnya maka justru yang ada hanya saling berselisih dan bunuh-membunuh berebut harta. Apalagi harta itu adalah sifatnya terbatas dan mudah sirna. Jika manusia tidak bisa mengelola dan mengembangkan walaupun itu adalah emas sebesar bumi maka akan habis juga. Maka dari itulah yang Maha Bijaksana memberikan Ilmu kepada Nabi-Nya sebagai warisan untuk umatnya agar menjadi manusia-manusia yang sejahtera dan bahagia tidak saja didunia melainkan juga diakhirat yang kekal. Ilmu bersifat tidak terbatas, dapat dikembangkan dan semakin dipelajari semakin pula menambah keuntungan bagi yang mempelajarinya. Ilmu adalah pedoman petunjuk jalan mana yang baik dan mana yang salah, mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan.
Jika manusia itu tidak mau belajar Ilmu (khususnya ilmu agama) maka tak ubahnya seperti hewan. Kesibukannya hanya untuk muasin perut dan nafsu syahwat. Segala sesuatu yang dia cari bukan untuk yang manfaat tapi malah digunakan untuk yang bersifat madharat. Orang yang bodoh tapi kaya lama-kelamaan hartanya akan habis karena dia tidak bisa mengelola hartanya, tapi orang yang pandai namun dia orang yang kekurangan harta pasti hidupnya serba kecukupan jika dia mau mengembangkan harta yang sedikit itu dengan ilmu sehingga harta itu selalu bertambah karena dia bisa mengelolanya.
Apalagi orang yang diberi titipan oleh Allah berupa Ilmu agama yang banyak maka sungguh dia adalah orang yang beruntung karena dia adalah orang yang ‘melek ‘tentang apa-apa yang ada di dunia yang hakikatnya semua adalah menipu, menjebak, melalaikan, melenakan, memperdayakan manusia dari kehidupan yang kekal (akhirat). Inilah sifat ulama dia adalah orang yang mengutamakan kehidupan yang sebenarnya daripada kehidupan fana, maka pantaslah jika ulama juga adalah seorang yang berkuasa lagi banyak harta yang bahagia bukan dirinya tapi justru rakyatnya.
Kita dapat menengok kisah-kisah zaman Rasulullah dan sahabatnya para khulafaurrasyidin yang dirahmati-Nya mereka menjadi seorang pemimpin yang besar namun tidak mempunyai sifat untuk berkuasa dan ingin menang sendiri, apalagi sampai rela menindas rakyatnya hanya untuk kepentingan pribadi semata. Justru jika kita dapat mengambil pelajaran mereka adalah orang-orang yang kehidupannya justru sangat sederhana sampai-sampai orang tidak bisa membedakan mana pemimpin dan mana rakyatnya, karena dari ciri-ciri fisik mereka yang berpakaian lusuh, tidurnya beralas daun, rumahnya yang sederhana bahkan tak pernah dikawal siapapun waktu dia inspeksi (mengengok) keadaan rakyatnya dan sebagainya.
Inilah sifat ulama yang sebenarnya yang patut kita jadikan teladan yang sebenarnya. Sangat berbeda sekali dengan pemimpin jaman kita yang waktunya dihabiskan enak-enakan dikursi istana yang empuk dengan jamuan-jamuan makanan yang serba wah serta pakaian-pakaian yang dikenakan serba mahal. Sementara rakyatnya amat menderita kemiskinan yang luar biasa sampai-sampai ada yang tinggal kulit dan tulang. Sungguh jika anda (penguasa) berbuat demikian maka tanggung jawab pemimpin itu tidak gampang ada satu rakyat saja yang kepalaparan sementara anda makan enak sungguh itu dosa yang amat besar karena menyia-nyiakan tanggung jawab.maka sekarang jika anda bisa berpikir karena begitu besarnya amanah yang dipikul, maukah anda jadi seorang presiden atau semacamnya? memang didunia anda seperti raja yang hidupnya serba ada tapi jika anda tidak adil sungguh terlalu berat beban anda diakhirat!.
Demikan tingginya kedudukan ulama’ di dalam Islam mereka mendapatkan kemuliaan yang tinggi disisi Tuhan Semesta Alam karena Allah tidak memandang manusia dari rupanya, banyak hartanya atau jabatannya tapi Allah memandang manusia dari tingkat ketakwaannya. Sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyembut mereka sebagai pewaris para nabi. Karena ditangan merekalah risalah ini akan menyebar dan akan sampai ke dalam hati-hati hamba Allah. Menyelematkan mereka dari kegelapan jahiliyah dan menuntun ummat menuju jannah. Hidup mereka semata-mata hanya untuk Allah, yaitu untuk menegakkan kebenaran dengan dakwah islam yang lurus mereka habiskan seluruh waktu, kesehatan, harta benda untuk berjuang dijalan yang benar. Maka amat beruntunglah orang yang dekat dengan pewaris nabi (ulama) itu.
Selain dari yang baik tentu saja ada yang buruk. Begitu juga dengan ulama. Tidak semua ulama itu merupakan pewaris Nabi. Ada sekelompok manusia yang mirip (bertopeng) ulama tapi hakikatnya Cuma penampilan. Mereka adalah manusia-manusia munafiq yang gila harta, cinta dunia dan kedudukan. Ilmu mereka semata-mata hanya untuk mencari kesenangan dunia yang sementara. Sungguh merugilah orang yang seperti ini. Banyak umat tersesat karenanya. Mereka adalah manusia bertipe “penjilat” (baca:anjing) yang merengek-rengek kepada penguasa, apa yang penguasa anggap benar menurut ulama jahat ini juga benar mereka tidak mau ambil pusing entah itu dibenarkan agama atau tidak . Begitu pula penguasa yang bertipe singa (diktator, dan menerapkan hukum rimba) maka jika mereka bersekongkol dengan ulama jahat maka itu maka tidak lain rakyat kecil hanya akan menjadi umpan kebuasan penguasa. Sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam :
“Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Alloh berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR: Tirmidzi)
Memang begitu hebatnya fitnah ulama suu’ ini sampai-sampai orang yang baikpun (ulama) menjadi kebingungan menghadapi manusia seperti itu. Mulutnya memang lebih licin daripada seekor belut mampu mebolak balikkan fakta. Yang baik seakan-akan menjadi dianggap jelek oleh masyarakat awam dan begitu pula yang mungkar pun dianggap sebagai hal yang baik karena kata-kata yang beracun itu benar-benar meluluhkan hati masyarakat sehingga walaupun salah tetap saja banyak yang membela mati-matian. Bahkan orang demikian dianggap waliyullah (wali Allah) oleh pengikutnya, naudzubillah.
Sebagai seorang muslim kita patut waspada memilih ulama sebagai teladan bagi kita karena jika salah pilih maka akan ikut tersesat ke neraka bersama mereka naudzubillah, berikut adalah sebagian dari sifat sifat seorang, alim yang menjadi pewaris paranabi dan menjadi pembimbing ummat menuju jalan yang lurus yang patut menjadi teladan bagi kita :
CIRI-CIRI ULAMA PEWARIS NABI
Berikut beberapa sifat ulama hakiki yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya. Dengan semua ini, jelaslah orang yang berpura-pura berpenampilan ulama dan berbaju dengan pakaian mereka padahal tidak pantas memakainya. Semua ini membeberkan hakikat ulama jahat yang mana mereka bukan sebagai penyandang gelar ini.
Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali ciri-ciri ulama yang benar adalah sebagai berikut ;
§Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan mengatakan: “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.” Dalam riwayat lain: “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikitpun dalam menyampaikan ilmu Allah.” (Al-Khithabul Minbariyyah, 1/177)
§Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi As-Sunnah.”
§Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. Dan mereka mengakui ulama-ulama pendahulu mereka serta mengakui bahwa mereka tidak akan sampai mencapai derajat mereka atau mendekatinya.”
Dari kutipan perkataan Imam Ibnu Rajab diatas adalah paling tidak ciri ulama yang haq adalah tidak pernah bangga dengan sebesar apapun ilmunya dan tidak menginginkan pangkat, jabatan, kedudukan atau pujian.
Secara umum dapat kita lihat ciri –ciri mereka :
Pertama : Mereka menjauhi penguasa dan menjaga diri mereka.
Hudzaifah bin Yaman menasehatkan: “Hindari oleh kalian tempat-tempat fitnah.” Beliau ditanya:”Apa itu tempat-tempat fitnah.”Beliau menjawab:’(tempat- tempat fitnah) adalah pintu-pintu para penguasa. Salah seorang diantara kalian masuk menemui seorang penguasa, lantas dia akan membenarkan penguasa itu dengan dusta dan menyatakan sesuatu yang tidak ada padanya.”
Said bin Musayyib menegaskan:”Jika kamu melihat seorang alim bergaul
dengan penguasa, maka hati-hatilah darinya karena sesungguhnya dia adalah pencuri.”
Sebagian Salaf menjelaskan:”Sesungguhnya tidaklah kamu mendapatkan
sesuatu kehidupan dunia (dari para penguasa) melainkan mereka telah memperoleh dari agamamu sesuatu yang lebih berharga darinya.”
Betapa banyak kita saksikan para ulama’ yang menjadi teman dekat para penguasa telah merubah hukum dan aturan-aturan Islam. Yang halal diharamkan, sebaliknya yang haram dihalalkan. Apalagi yang muncul di tv-tv mereka lebih mengedepankan dakwah yang isinya cenderung memberikan manfaat kepada sistem politik para penguasa.
Kedua : Mereka tidak terburu-buru dalam berfatwa (sehingga mereka tidak berfatwa kecuali setelah menyakini kebenarannya).
Adalah para Salaf saling menolak untuk berfatwa sampai pertanyaan kembali lagi kepada orang yang pertama (di tanya). Abdurrahman bin Abi Laila menceritakan kisahnya: Aku pernah mendapati di masjid (nabi) ini 120 orang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tidak ada seorang pun dari mereka saat ditanya tentang suatu hadits atau fatwa melainkan dia ingin saudaranya (dari kalangan shahabat yang lain) yang menjawabnya. Kemudian tibalah masa pengangkatan kaum-kaum yang mengaku berilmu saat ini. Mereka bersegera menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalau seandainya pertanyaan ini dihadapkan kepada Umar bin Khattab, niscaya beliau mengumpulkan ahli Badar untuk di ajak bermusyawarah dalam menjawabnya.
Sedangkan hari ini kita lihat bersama. Semua orang gampang untuk berfatwa. Bahkan mereka tidak segan menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mereka ketahui karena malu pamor mereka turun. Persisi keadaan kita hari ini dengan sebuah hadist nabi sallallahu alaihiwasallam :
“Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga bila tidak tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu. Mereka pun sesat dan menyesatkan (orang lain)
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy 1/163-164 dan Muslim no. 2673.]
Ketiga : mengamalkan ilmunya.
Seorang yang berilmu tapi tidak mau mengamalkan seperti orang-orang yahudi. Sebaliknya, beramal tanpa ilmu adalam menyerupai orang-orang nasrani. Kita diajarkan oleh Allah Ta’ala untuk selalu berdo’a dalam shalat kita :
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [ Al Fatihah 6 – 7 ].
Seorang ulama’ tidak hanya dilihat omongannya. Tetapi yang lebih diperhatikan oleh para muridnya adalah perbuatannya. Apa artinya omongan yang lantang dan tegas serta memukau akan tetapi amalannya jauh dari apa yang disampaikan.
Sahabat ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Sesungguhnya manusia semua pandai bicara, maka barangsiapa ucapannya sesuai dengan perbuatannya, itulah orang yang mendapatkan bagiannya, dan barangsiapa perbuatannya menyalahi ucapannya maka sesungguhnya ia sedang mencaci dirinya.” [Jami’ bayanil ‘ilmi 1/696]
Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: “Engkau tidak akan menjadi seorang alim hingga engkau menjadi orang yang belajar. Dan engkau tidak dianggap alim tentang suatu ilmu, sampai engkau mengamalkannya.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Seorang alim senantiasa dalam keadaan bodoh hingga dia mengamalkan ilmunya. Bila dia sudah mengamalkannya, barulah dia menjadi alim.” (Diambil dari ‘Awa’iq Ath-Thalab, hal. 17-18)
Semoga Allah senantiasa memberikan pada kita kekuatan untuk biasa memilih para ulama’ yang baik. Dan jika kita hari ini Allah takdirkan menjadi seorang guru ataupun ustadz dan juga ulama’, kita berusaha untuk memenuhi sifat-sifat tersebut.
Demikian kajian yang kami sampaikan. Ada benarnya datangnya dari Allah Ta’ala, dan jika ada salahnya datangnya dari saya karena bisikan syaitan yang terlaknat.
Yahudi adalah Nama satu agama yang diambil dari nama pembawanya yaitu Yahuda, salah seorang keturunan Bani Israil (anak Nabi Ya’kub As bin Ishak bin Ibrahim As, yang semuanya membawa ajaran Islam). Mereka (orang-orang Yahudi) beriman kepada Nabi Musa dan kitab Taurat tetapi tidak beriman kepada Nabi Isa As dan Nabi Muhammad saw. Dalam perjalanan waktu, mereka merubah ajaran Nabi Musa As, menolak ajaran Tauhid yang dibawa Nabi Musa As dan menggantinya dengan kesyirikan (dalam QS At Taubah 9: 30) merubah kitab Taurat dari tempat-tempatnya karena bertentangan dengan hawa nafsu mereka (dalam QS Al Baqarah 2: 75, 79), (dalam QS An Nisa 4: 46), dan mereka campur adukkan antara yang haq dengan yang bathil (dalam QS Al Baqarah 2: 42).
Isi kitab Taurat yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, mereka gantikan dengan tulisan tangan mereka, lalu mereka katakan ini dari Allah padahal bukan dari Allah. Maka Taurat yang menjadi pegangan Yahudi sekarang tidak ada kaitannya dengan Taurat di zaman Nabi Musa AS. Taurat saat ini merupakan hasil pemikiran cendekian yahudi dan rabi (pendeta) yahudi. Kaum Yahudi sangat benci dan dendam kepada Nabi Muhammad dan ummatnya karena itu berbagai kejahatan dilakukan kepada Islam dan ummatnya, seperti teror, tangkap, usir, bunuh dan memeranginya secara dzalim dan brutal (dalam QS Al Baqarah 2: 105, 109, 120 dan 217).
Al Qur’an telah membongkar karakter dan sifat keji Yahudi Bani Israil yang akan diuraikan nanti Inssya Allah, antara lain yaitu:
(1) bangsa yang pengecut dan kerdil,
(2) pelaku kriminalitas dan terorisme,
(3) kafir dan pembunuh para nabi-nabi,
(4) pembohong dan memutarbelitkan perkataan untuk menghancurkan aqidah,
(5) pelaku makar dan tipu daya,
(6) pemuja emas dan materi,
(7) pemakan harta haram,
(8) biang kekejian dan kemungkaran,
(9) Mahir praktik riba.
(10) mereka ingkar dan munafik terhadap nikmat Allah,
(11) rasialisme fanatisme dan ekslusifisme,
(12) kejam dan primitif,
(13) biang prostitusi ( pelacuran ),
(14) zalim dan pembangkang,
(15) bangsa penipu,
(16) pencuri dan rakus,
(17) pelaku penindasan dan perbudakan,
(18) bangsa pelaku makar,
(19) pendendam dan pengkhianat,
(20) tujuan menghalalkan segala cara,
(21) keras kepala dan tidak tau balas budi,
(22) bangsa penjajah dan perampas hak asasi manusia, dan
(23) bangsa pembohong nomor satu.
Untuk lebih jelasnya mari kita simak kajian uraian dibawah :
AL QUR’AN MEMBONGKAR KARAKTER JAHAT YAHUDI
Berikut adalah karakter yahudi yang dibongkar langsung oleh Allah SWT didalam al-Qur’an ;
1. Merubah ayat-ayat Kitab Allah.
Allah Swt menerangkan dalam firman Nya:
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?[ Yang dimaksud ialah nenek-moyang mereka yang menyimpan Taurat, lalu Taurat itu dirobah-robah mereka; di antaranya sifat-sifat Nabi Muhammad Saw yang tersebut dalam Taurat itu.” (QS Al Baqarah 2: 75)
2. Menulis Alkitab dengan tangan mereka, lalu mengatakan ini dari Allah.
Allah Swt berfirman:
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh Keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al Baqarah 2: 79)
“Orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya [mengubah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi].” (QS An Nisa 4: 46)
3. Mencampur adukkan Al Haq dan Al Bathil
Sehingga kitab Taurat yang yang pada mereka sekarang ini telah bercampur antara yang haq dengan yang batil, tidak ada kaitannya dengan kitab Taurat yang dibawa Musa AS. Al Qur’an menegur mereka:
“Hai ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil dan menyembunyikan kebenaran sedang kamu mengetahui.” (QS Ali Imran 3: 71)
Mereka telah dilarang melakukan kejahatan itu tetapi mereka tetap melakukannya juga. Allah swt berfirman:
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu [Di antara yang mereka sembunyikan itu Ialah: Allah akan mengutus seorang Nabi dari keturunan Ismail yang akan membangun umat yang besar di belakang hari, Yaitu Nabi Muhammad Saw) sedang kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah 2: 42)
4. Membuat dan menyembah patung anak sapi saat ditinggalkan Nabi Musa As.
Firman Allah Swt:
“Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahann) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah 2: 92)
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, Sesungguhnya kamu telah Menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu (Artinya orang-orang yang tidak menyembah anak lembu itu membunuh orang yang menyembahnya. Adapula yang mengartikan: orang yang menyembah patung anak lembu itu saling bunuh-membunuh), dan apa pula yang mengartikan: mereka disuruh membunuh diri mereka masing-masing untuk bertaubat.” (QS Al Baqarah 2: 54)
5. Bangsa yang keras kepala dan pembantah, tidak mau beriman kecuali melihat Allah.
Firman Allah Swt:
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat Allah dengan terang [melihat Allah dengan mata kepala], karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya [Karena permintaan yang semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Allah]“. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (QS Al Baqarah 2: 55-56)
“Ahli kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka Sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada Kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian. dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.”(QS An Nisa 4: 153)
6. Mengubah perintah dengan yang tidak diperintah.
Merubah perintah agar masuk negeri yang dijanjikan seraya bersujud dan mengucapkan hitthah, yakni memohon ampunan. Tapi mereka mengganti perintah itu dengan cara duduk di atas anusnya dan mengatakan hinthah, yakni sebutir biji gandum.
Firman Allah Swt:
“Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud[menundukkan diri], dan Katakanlah: “Bebaskanlah Kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”, lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.”(QS Al Baqarah 2: 58-59)
7. Manusia Pengkhianat dan Ingkar janji.
Firman Allah Swt:
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS Al Baqarah 2: 83)
8. Manusia pemalas, ingin hidup mewah tanpa kerja, pembunuh para Nabi-nabi.
Allah swt telah memberikan nikmat yang sangat banyak kepada Bani Israil,yang tidak diberikan kepada bangsa selain mereka.Mereka diberi makanan dari sorga berupa Manna dan Salwa,tetapi tidak merasa cukup sedang mereka adalah orang-orang yang malas, lalu mereka dihinakan Allah swt. Allah berfirman:
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”(QS Al Baqarah 2: 61)
9. Bangsa hipokrit, menuduh Nabi Musa As mengolok-olok mereka .
Ketika mereka disuruh menyembelih sapi betina mereka mengajukan berbagai pertanyaan seperti: bagaimana keadaan sapi apakah sudah tua atau masih muda, apa warna bulunya, sudah membajak atau belum dengan maksud mengelak dari perintah. Malah perintah ini dianggap sebagai ejekan terhadap mereka. Firman Allah Swt:
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil… [dst]” (QS Al Baqarah 2: 67-71)
10. Memutar-mutar lidahnya untuk menipu manusia bahwa yang dibacanya itu adalah wahyu yang asli.
“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, Padahal ia bukan dari Al kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, Padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata Dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran 3: 78)
11. Enggan melaksanakan Taurat, sehingga Allah mengangkat gunung Tursina untuk mengambil perjanjian mereka.
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”.” (QS Al Baqarah 2: 63)
12. Mengatakan Tangan Allah terbelenggu.
“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS Al Maaidah 5: 64)
13. Menuduh Allah itu faqir dan mereka yang kaya.
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan Kami kaya”. Kami akan mencatat Perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka) : “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar”.” (QS Ali Imran 3: 181)
14. Menyuruh Nabi Musa dan Tuhannya berperang untuk mereka.
“Mereka berkata: “Hai Musa, Kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya Kami hanya duduk menanti disini saja”.” (QS Al Maaidah 5: 24)
15. Menuduh Nabi Musa punya penyakit kusta karena tidak mau mandi bersama mereka.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS Al Ahzab 33: 69)
16. Melanggar Perjanjian hari Sabtu, lalu mereka berubah menjadi kera.
“Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”.” (QS Al Baqarah 2: 65)
17. Manusia haus darah, peperangan dan pembunuhan.
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2: 217)
18. Pembenci Nabi Muhammad saw dan ummatnya.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS Al Baqarah 2: 120)
19. Bangsa Pendosa, hina dan dihinakan kerena kejahatan mereka.
Mereka memilih dan memilah kitab Taurat yang disukai dan tidak disukai. Yang disukai dimani yang tidak disukai dikafiri sehingga Allah nmenghinakan mereka. Allah berfirman:
“Bangsa Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah 2: 85)
20. Biang kebejatan,kekejian dan kemungkaran.
Bangsa Yahudi adalah bangsa yang sangat bejat moralnya,tidak pernah ridha dengan kehidupan dan kesenangan Agama lain.Kerja mereka memperopokasi dan memfitnah sehingga kehidupannya menjadi tidak aman. Allah berfirman:
“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”(QS Al Maidah 5: 78-79)
“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian) ; dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Baqarah 2: 105)
“Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Baqarah 2: 109)
21. Bangsa Terlaknat karena menuduh Allah swt mempunyai anak .
Langit hampir runtuh,bumi terbelah gunung-gunung berantakan karena marah terhadap ucapan yang mengatakan Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak.Allah swt berfirman:
“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru Perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS Attaubah 9: 30)
“Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak,dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak,tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba(QS Maryam 19:88-930.
22. Bangsa yang Pengecut dan Kerdil.
“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam Keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS Al Hasyr 59:14)
“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.”(QS Al Baqarah 2: 96)
“Mereka berkata: “Hai Musa, Kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya Kami hanya duduk menanti disini saja.” (QS Al Maidah 5: 24)
23. Pelaku Kriminalitas dan Terorisme.Karena itu hati mereka keras membatu.
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”(QS Al Baqarah 2: 74)
“(tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merobah Perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) Senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(QS Al Maidah 5: 13)
24. Bangsa Kafir dan Pembunuh Para Nabi.
“Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?.” (QS Al Baqarah 2: 87)
“Sesungguhnya Kami telah mengambil Perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi Setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.”(QS Al Maidah 5:70)
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, Maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.”(QS Ali Imran 3: 21-22)
25. Pembohong dan Pemelintir Perkataan Untuk menghancurkan Aqidah.
“Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, Yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, Padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) Amat suka mendengar (berita-berita) bohong, dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini Maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”(QS Al Maidah 5: 41)
26. Bangsa Pelaku makar dan Tipu daya.
“Dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.”(QS Ibrahim 14: 46)
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.”(QS Al Anfal, 8:30)
27. Pemuja Emas dan Penuhan Materi dan Pemakan harta haram.
“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”(QS Al A’raf, 7:148)
“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya Amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.” (QS Al Maidah 5: 62)
28. Bangsa Yang Sombong, Pengingkar janji dan Pengobar Peperangan.
Bangsa yahudi identik dengan kesombongan,besar kepala dan suka mengkhianati janji yang telah mereka buat dengan pihak lain.Dan kesombongan dan keangkuhan yahudi sangat nyata.Terkadang mereka mengatakan lebih kaya dari Allah, mereka menuduh Allah kikir,kadang mereka mengklaim diri sebagai bangsa yang paling dicinta Allah .Inilah ungkapan Al Qur’an tentang kesombongan mereka.
“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”[kikir], sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu [ini adalah kutukan dari Allah terhadap orang-orang Yahudi berarti bahwa mereka akan terbelenggu di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain selama di dunia dan akan disiksa dengan belenggu neraka di akhirat kelak.] dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS Al Maidah, 5: 64)
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan Kami kaya”. Kami akan mencatat Perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar.” (QS Ali Imran, 3: 181)
“Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa Sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, Maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS Al Jum’ah, 62: 6)
29. Mahir Praktek Riba.
“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”(QS An Nisa’, 4: 160-161)
30. Biang Kenistaan dan Kehinaan.
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”(QS Al Baqarah, 2: 85)
“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.”(QS Al A’raf, 7: 152)
"Salah satu ayat al Quran, Dan jangan lah kamu mendekati zina. Mendekati saja haram apalagi melakukannya, salah satu pendekatan zina paling besar adalah pacaran, banyak remaja mengabaikan larangan agama karena terdorong nafsu
ketika sudah terjadi zina, dan hilang keperawanan dan berdampak suramnya masa depan. baru ia menyesal merasakan azabnya dan bahkan frustasi ingin bunuh diri takut tak dapat calon suami. Tak ada gunanya sesal dibelakang.
Sesal itu hanya berguna didepan yaitu dengan cara mencegahnya dengan mentaati peraturan agama. Sesungguhnya setan selalu membisiki dengan perkataan yang indah bahwa pacaran adalah pendekatan menuju pernikahan tapi kenyataannya pendekatan besar menuju zina".
"Jomblo Dihina, Pacaran Dipuji, Sungguh Hari Akhir Sudah Dekat"