Oleh : Dadang Ari Murtono
"BENARKAH
Tuhan seperti yang kausangka?" perempuan yang di mata Haji Ahmad
sudah terlihat begitu menjijikkan dan pekat oleh dosa itu bertanya
dengan muka lebam, lembab, dan pasai. Lebam karena beberapa menit
sebelumnya, Haji Ahmad menimpukkan genggaman tangan di sana, lembab
karena airmata yang daritadi tak henti-henti berjatuhan, dan pasai
karena gering yang sudah tiga hari tak mau surut.
Haji
Ahmad merutuki perempuan itu. Ia juga mengutuki hari di mana ia
bertemu perempuan itu untuk pertama kali dan jatuh cinta kepada si
perempuan bertahun-tahun yang lampau. "Betapa setan benar-benar pintar
menyarukan neraka menjadi seakan surga," kata Haji Ahmad. Ya,
bertahun-tahun yang lampau, Haji Ahmad seakan melihat surga dalam diri
perempuan itu. Perempuan yang terlihat begitu cantik dalam balutan
jilbab berwarna hijau, pandangan yang begitu teduh seperti teduhnya
pohon-pohon di kebun belakang rumah masa kecilnya, dan senyuman
sesejuk es setrup di hari-hari panjang musim kemarau yang panasnya
minta ampun.
Haji Ahmad keturunan orang baik. Bapak
dan ibunya adalah dua orang pertama yang bisa pergi ke Mekkah di
kampungnya. Bapaknya menjadi ketua takmir masjid dan ibunya kepala
kelompok pengajian ibu-ibu di desanya. Haji Ahmad anak satu-satunya.
Dan semenjak usianya lima tahun, ia telah dikirim ke pondok pesantren
terkenal di daerah Jombang, Jawa Timur. Banyak orang besar, alim, dan
pintar yang merupakan alumni pondok pesantren tersebut. Bapak dan
ibunya menaruh harapan besar kepada Haji Ahmad.
"Semoga
kau bisa menjadi seperti tokoh-tokoh yang berperan besar dan
bermanfaat bagi negara seperti beberapa alumni pondok pesantren itu,"
demikian dulu bapak dan ibunya berkata setiap kali ia pulang kampung
di musim liburan pondok pesantren. Dan ia mengaminkan doa itu. Doa
siapa yang lebih ampuh selain doa orangtua?
Namun
sayangnya, tidak semua doa mesti terkabul. Tidak semua harapan terwujud
menjadi kenyataan. Sepuluh tahun sejak Haji Ahmad kecil berangkat ke
pondok pesantren tersebut, beberapa kawannya mendapat beasiswa untuk
melanjutkan pendidikan di Mesir dan Arab Saudi, namun Haji Ahmad masih
juga berkutat dengan nahwu yang belum juga dikuasainya. Dia juga belum
lancar benar membaca kitab kuning dengan hurup-hurup arab pego gundul.
Pengasuh pondok pesantren suatu kali berkata kepada bapak dan ibu
Haji Ahmad ketika mereka datang menengok ke pondokan, "anak Abah
memang tidak secerdas beberapa temannya yang lain, namun bukan berarti
anak Abah bodoh."
Setelahnya, bapak dan ibu Haji
Ahmad berkata kepada Haji Ahmad, "kalau tidak bisa menjadi orang besar
dan bermanfaat bagi negara, paling tidak, kau bisa menjadi orang
besar dan
bermanfaat bagi propinsimu."
Namun
sekali lagi, doa tidak selalu terkabul sekali pun bapak dan ibu Haji
Ahmad terus berdoa agar ia menjadi orang besar dan bermanfaat bagi
propinsinya dan Haji Ahmad tak henti mengaminkan doa-doa itu.
Orang-orang
tua yang sudah banyak makan asam garam, yang sepertinya lebih dekat
dengan Tuhan daripada orang awam seperti kiai pengasuh pondok
pesantrennya pada kesempatan yang lain berkata kepada orangtua Haji
Ahmad, "jangan terlalu membebani Ahmad dengan harapan-harapan semacam
itu. Dia memang tidak bodoh, tapi sepertinya akan sulit baginya menjadi
orang besar yang berkiprah di propinsi. Dan harapan-harapan yang
terlalu besar kepadanya bisa membuatnya tertekan dan hanya akan
menjadikannya tidak berkembang. Semoga dia bisa menjadi orang yang
baik dan bisa menjaga dirinya dari dosa, dan kelak, menjadi kepala
keluarga yang mampu membimbing keluarganya ke jalan yang benar."
Dan
semenjak itulah, bapak dan ibu Haji Ahmad tidak lagi mengatakan
sesuatu yang muluk-muluk kepada Haji Ahmad. Pesan si pengasuh pondok
pesantren benar-benar mereka pegang, "menjadi kepala keluarga yang
baik dan bisa membawa keluarganya ke jalan yang diridhoi Allah itu
lebih baik daripada menjadi kepala negara tapi lalim dan mengabaikan
kesejahteraan rakyatnya."
Ketika tiba masa bagi Haji
Ahmad lulus dari pondok pesantren, orangtuanya berupaya segera
menikahkan Haji Ahmad dengan perempuan yang baik, perempuan yang alim,
perempuan yang bisa menjadi ibu yang baik dan mau terus dibimbing
menuju jalan yang benar yang diridhoi Allah. Tapi ternyata mencarikan
jodoh bagi orang seperti Haji Ahmad bukanlah pekerjaan mudah. Beberapa
kali mereka mencoba menjodohkan Haji Ahmad dengan putri kenalan
mereka, namun ada saja hal yang mengganjal sehingga perjodohan itu
tidak bisa diteruskan.
"Ya kalau memang bukan
jodohnya, mau apa lagi?" demikian akhirnya mereka mencoba menghibur
diri dengan kenyataan yang mereka hadapi.
Hingga pada
suatu hari, di sebuah acara semaan alquran, Haji Ahmad bertemu dengan
perempuan itu, perempuan berjilbab hijau yang seperti menyimpan surga
di dalam dirinya. Dengan bertanya kepada beberapa orang, tahulah Haji
Ahmad bahwa perempuan itu sering mengikuti acara semaan alquran. Haji
Ahmad merasa bahwa perempuan itu adalah jodohnya. Dan Haji Ahmad
semakin kepikiran perempuan itu ketika mendapat lebih banyak informasi.
Perempuan itu adalah perempuan yang tak putus dirundung malang.
Orangtuanya meninggal karena penyakit panas ketika si perempuan masih
berusia sepuluh tahun. Perempuan itu anak tertua dan masih memiliki dua
adik lagi. Setelah kematian kedua orangtuanya, si perempuanlah yang
bekerja untuk menghidupi dua adiknya.
"Dia bekerja apa
saja. Tak tentu. Namun dia selalu rajin mengikuti semaan alquran dan
kerap hadir pada acara-acara pengajian. Dia perempuan yang baik dan
pasti bisa menjadi istri yang berbakti. Kalau kau menikah dengannya,
rumahtanggamu insyaallah sakinah," demikian yang dikatakan salah satu
hafidz yang ditemui Haji Ahmad.
Sebulan kemudian,
Haji Ahmad menikahi perempuan itu. Waktu itu, Haji Ahmad belum
menunaikan ibadah haji. Dan ia tidak memiliki pekerjaan selain sholat,
membaca alquran, mengikuti pengajian, tahlilan, dan hal-hal semacam
itu. Kebun dan sawah orangtuanya cukup luas dan dikelola dengan baik
oleh orangtuanya sehingga hasilnya lebih dari cukup untuk menunjang
kehidupan Haji Ahmad dan istrinya. Perempuan itu, setelah resmi
menjadi istrinya, juga tidak tampak lagi bekerja serabutan seperti
dulu. Adik-adik perempuan itu juga bisa meneruskan sekolahnya dengan
biaya dari orangtua Haji Ahmad. Namun meski pun sudah menjadi istri
Haji Ahmad, perempuan itu tetap saja tidak menceritakan secara detail
pekerjaan apa yang dulu dilakukan si perempuan. "Pokoknya serabutan,"
begitu si perempuan senantiasa menjawab.
Kehidupan
pernikahan mereka sepertinya baik-baik saja sekali pun mereka belum
dikaruniai anak. Ketika usia pernikahan mereka menginjak lima tahun,
kedua orangtua Haji Ahmad meninggal karena kecelakaan lalu lintas
dalam perjalanan untuk menghadiri sebuah pengajian di kota kecamatan.
Sesaat sebelum meninggal, di rumah sakit, bapak Haji Ahmad berpesan
agar kalau punya rejeki berlebih, Haji Ahmad segera menunaikan ibadah
haji. Haji Ahmad menganggap pesan bapaknya sebagai wasiat yang harus
segera dilaksanakan. Namun tentu saja itu hal yang sulit karena selama
ini ia tidak bekerja selain beribadah. Haji Ahmad juga tidak tahu
bagaimana caranya bertani sekali pun orangtuanya mewarisinya sawah dan
kebun yang cukup luas. Untunglah, adik-adik istrinya sudah selesai
sekolah dan telah pula sanggup bekerja di kota propinsi hingga tak
lagi membebani Haji Ahmad.
Pesan bapaknya untuk
segera menunaikan ibadah haji terus mengiang di telinga Haji Ahmad,
membuatnya tidak tenang. Hingga pada tahlilan empatpuluh hari
meninggalnya orangtuanya, Haji Ahmad mendapat ide cemerlang, "aku akan
menjual sawah dan kebun itu dan hasil penjualannya akan kugunakan untuk
pergi haji."
Istrinya keberatan dengan hal itu.
Namun Haji Ahmad berkata, "toh, aku juga tidak memiliki kemampuan
bertani. Dan jangan khawatir tentang kehidupan kita setelahnya. Allah
tidak akan membiarkan hamba-Nya kelaparan, apalagi hamba yang seluruh
waktunya dihabiskan untuk memuji dan beribadah kepada-Nya. Rejeki akan
datang dengan cara yang tidak disangka-sangka."
Haji
Ahmad kemudian memang pergi menunaikan ibadah haji. Tidak ada lagi
sisa penjualan sawah dan ladang itu. Dan sepulangnya dari tanah suci,
Haji Ahmad semakin giat beribadah. Jauh lebih giat dari sebelumnya.
Dan pada waktu itulah, orang-orang mulai sering melihat istri Haji
Ahmad keluar rumah. Ketika ada yang bertanya, perempuan itu menjawab,
"pergi bekerja." Dan tetap tak ada yang tahu apa pekerjaan perempuan
itu.
Haji Ahmad sepertinya juga tidak perduli dengan
pekerjaan istrinya. Ia benar-benar ahli ibadah yang baik. Dan ia
memang berkonstrasi penuh ke sana. Istrinya memang bekerja untuk
menunjang kehidupan mereka, namun Haji Ahmad yakin rejeki yang didapat
istrinya itu adalah juga karena ibadahnya yang tak putus-putus. Allah
memang selalu mendatangkan rejeki dari arah yang tidak
disangka-sangka, bukan?
Hingga semua berubah pada suatu
hari. Seorang lelaki perlente memarkir mobilnya di depan rumah Haji
Ahmad. Lelaki itu turun dari mobil, mengetuk pintu rumah Haji Ahmad dan
mengganggu Haji Ahmad yang tengah mendaras alquran. Istri Haji Ahmad
gering sudah tiga hari terakhir ini dan hanya bisa terbaring di atas
dipan.
"Benarkah ini rumah Siti?" lelaki itu bertanya.
Haji Ahmad mengiyakan, mempersilakan lelaki itu masuk. Dan bertanya
bagaimana si lelaki kenal dengan istrinya.
"Sudah
tiga hari Siti tidak terlihat di komplek. Setiap siang saya datang ke
komplek karena saya tahu Siti hanya siang hari saja di sana. Saya
pelanggan tetapnya. Saya sebenarnya mencintainya. Namun dia selalu
menolak lamaran saya. Padahal maksud saya baik, ingin mengentasnya
dari dunia pelacuran. Saya kira, dia menolak karena tidak mau menjadi
istri simpanan saya. Oya, apakah saudara ini kakaknya? Siti pernah
cerita kalau dia tinggal dengan kakaknya yang menderita suatu penyakit
sehingga tidak memungkinkan untuk bekerja."
Untuk
beberapa saat, Haji Ahmad tertegun, tak mampu bicara sepatah kata pun.
Namun begitu dia bisa menguasai dirinya, dengan berang yang
luarbiasa, dengan suara menggelegar, Haji Ahmad
mengusir lelaki itu.
Dari
kamar, istrinya mendengar kejadian itu. Ia menangis. Namun tangisan
itu tak cukup menghadirkan rasa belas pada diri Haji Ahmad. Malah,
marahnya semakin menjadi-jadi. Dan dengan kalap, Haji Ahmad memukul
dan menampar istrinya.
"Kau perempuan laknat! Kau
kerak neraka! Kau pelacur sial! Allah akan menyiksamu dengan adzab
yang tak terkira pedihnya! Allah membencimu dan tak ada tempat untukmu
di rumah ini. Allah akan menempatkanmu di neraka selama-lamanya!"
rutuk Haji Ahmad.
Makian dan cercaan seperti tak
habis-habisnya. Haji Ahmad dengan menggunakan dalil-dalil,
hadits-hadits, dan ayat suci-ayat suci, terus saja meneriaki dan
menakuti istrinya. Sampai istrinya bertanya lirih,
"benarkah Tuhan seperti yang kau sangka?".
Padahal
orang yang bertobat dari maksiat itu sama saja bayi yang baru lahir
dihadapan Allah SWT. dan tidak jarang hati seorang alim pun lebih kotor
dari pelacur karena merasa diri paling hebat dan paling berilmu. ada
kisah dari hadist Rasulullah saw bahwa pelacur bisa masuk surga karena
kebaikan akhlaqnya dan ahli ilmu masuk neraka karena kesombongan dan
hanya mengharapkan pujian orang.
Nasehat Yang Tersirat dari Kisah Ini :
-
Dunia Memang ladang ujian dan cobaan barangsiapa bersabar dan mampu
menerima kenyataan, dan pasrahkan kepada Allah SWT maka ia akan
memperoleh kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak.
-
Jodoh sudah diatur Allah SWT, tidak akan tertukar, jika jodoh kita
berakhlaq buruk maka itu cermin dari kekotoran hati yang tidak terlihat
oleh diri sendiri. maka jangan salahkan istrimu, apalagi Takdir Tuhanmu
salahkan dirimu, apakah hatimu sudah bersih untuk mendapatkan seorang
jodoh yang sempurna? apakah akalmu cukup sehat untuk mendapatkan jodoh
yang bersikap dewasa? Apakah akhlaqmu sudah sempurna untuk mendapat
jodoh yang begitu sempurna pula?
- Orang yang bertobat
dari maksiat sama dengan orang yang baru masuk islam seperti bayi yang
baru lahir. jadi jangan seenaknya menjustice (memvonis) seseorang karena
Takdir Allah belum tentu seperti yang kau kira, bisa jadi ahli maksiat
mati khusnul khotimah dan ahli ibadah malah mati buruk. semua itu adalah
sebab tersembunyi dari penyakit hati manusia.
- Allah
SWT maha penerima Taubat, mumpung hembusan nafas masih dirongga dada
jangan menunda berhenti dari maksiat sebelum ajal memutuskan kita dari
pintu taubat.
-Harga diri seorang laki-laki adalah
bekerja, kemudian bekerja adalah sebagian ibadah yang tidak boleh
ditinggalkan demi kelangsungan hidup didunia, oleh karena itu sejak
kecil kita harus belajar bekerja untuk bekal dihari tua dan tidak
melupakan ilmu agama untuk bekal akhirat. ilmu dunia dan akhirat tidak
boleh ditinggalkan atau akan pincang kehidupan kita. Memang
menyeimbangkan keduanya sulit terkadang waktu bekerja menyita waktu
ibadah dan sebaliknya. tetapi mudah bagi orang yang sabar dan takwa.
Coba saja haji ahmad dalam kisah yang diatas adalah orang yang tekun
bekerja sehingga kebutuhan keluarganya tercukupi dan tidak hanya
beribadah saja, mestinya istrinya tidak akan kembali pergi lagi untuk
"bekerja" dijalan yang salah.
- Sebagai kepala keluarga tidak boleh acuh tak acuh terhadap keaadaan anggota keluarga.
-
Rerefensi :
Koran Suara Merdeka
Nasehat Oleh :
www.Ashabul-Muslimin.tk