Showing posts with label Tafsir Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Tafsir Qur'an. Show all posts

Friday, 21 July 2017

Tafsir Surat Al-Kautsar 1 -3, Penjelasan Sungai di Surga





AL-KAUTSAR, SUNGAI DI DALAM SURGA

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin
 
Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, ketika Ka’ab bin Asyraf tiba di kota Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, “Apakah engkau pemuka mereka? Tidakkah engkau melihat orang ini, yang mengaku lebih baik daripada kami?Padahal kami adalah ahli haji, pengabdi Ka’bah, dan pemberi (penyaji) minuman.’ Ka’ab berkata, ‘Kalian lebih baik darinya.’ Turunlah ayat, ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak’.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al- Bazzar rahimahullah dan sanadnya sahih.

Mufradat Ayat
الْكَوْثَرَ
“Kenikmatan yang banyak.”

Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna “al-Kautsar”:

a. Maknanya adalah sungai di dalam jannah (surga) yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan riwayat dari beberapa sahabat, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, ‘Aisyah , serta tabi’in seperti Mujahid dan Abul ‘Aliyah rahimahumallah.

b. Maknanya adalah kebaikan(nikmat) yang banyak. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, dan Mujahid rahimahumullah. Pada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari rahimahullah dan yang lain, dari Abu Bisyr rahimahullah, dia pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair rahimahullah tentang pendapat yang mengatakan bahwa al- Kautsar adalah sungai di jannah. Beliau menjawab, sungai di jannah termasuk bagian dari kebaikan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Ikrimah rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, kenabian, Islam, al-Qur’an, dan hikmah.

c. Maknanya adalah telaga di jannah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Atha’ rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah telaga di jannah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari sekian pendapat di atas, yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa al-Kautsar merupakan sungai di jannah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya dengan al-Kautsar (kebaikan atau kenikmatan yang banyak) karena keagungan nilainya.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Terdapat beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang ayat di atas.

a. Maknanya adalah meletakkan tangan kanan pada tangan (lengan) kiri di atas dada ketika shalat. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pendapat yang semakna diriwayatkan pula dari asy-Sya’bi.

b. Maknanya adalah shalat fardhu dan mengangkat kedua tangan sejajar nahr (pangkal leher) saat membuka shalat (takbiratul ihram).

c. Maknanya adalah shalat fardhu atau shalat fajar dan menyembelih unta di Mina atau pada hari Idul Adha.

d. Maknanya adalah shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, orang-orang (musyrik) pada waktu itu melaksanakan shalat dan menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau, “Jadikanlah shalat dan sembelihanmu karena Allah Subhanahu wata’ala.” Sebagian ulama berpendapat, ayat ini turun saat terjadi Perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dikepung dan dihalangi dari Ka’bah.
Lalu Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar beliau melaksanakan shalat, menyembelih unta, dan kemudian berpaling. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari semua pendapat di atas, yang paling utama dan yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah ”Jadikanlah shalatmu seluruhnya karena Rabbmu, dengan mengikhlaskannya hanya untuk-Nya, bukan untuk selain- Nya. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala. 

Bersyukurlah kepada-Nya atas kemuliaan dan kebaikan yang tidak ada tandingannya yang hanya diberikan kepadamu.” Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini karena Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pemberian, kemuliaan, dan kenikmatan (al-Kautsar) yang dengannya Dia Subhanahu wata’ala memuliakan beliau. Tafsirnya, sesungguhnya Aku telah memberimu—wahai Muhammad—al- Kautsar, sebagai bentuk pemberian nikmat dan pemuliaan untukmu dari Kami. Maka dari itu, ikhlaskanlah ibadah hanya untuk Rabbmu. Tunaikanlah shalat dan kurban hanya untuk-Nya.
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”

Maknanya, orang yang membenci dan memusuhimu, dialah yang terputus, rendah, hina, dan binasa. Tentang siapa yang dimaksud oleh ayat ini, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan, yang dimaksud adalah al-‘Ash bin Wa’il. Ada pula yang menyatakan, dia adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Yang lain mengatakan, mereka adalah beberapa orang dari suku Quraisy. Yang benar, menurut ath-Thabari t menurutnya, Allah l mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang rendah, hina, dan terputus. Hal itu menjadi ciri setiap manusia yang membenci beliau, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan orang tertentu. (Tafsir ath-Thabari, 24/679—697)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Tafsir Juz ‘Amma, sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah, sedangkan yang lain berpendapat Madaniyah. Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, baik turun di Makkah maupun di Madinah, atau di waktu safar. Jadi, surat Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah hijrah. Inilah pendapat yang kuat dari sekian pendapat ulama. Adapun kata “al-Kautsar”, dalam bahasa Arab artinya adalah kebaikan (kenikmatan) yang banyak.

Demikianlah, Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kebaikan yang banyak, di dunia dan di akhirat. Di antara kebaikan itu adalah sungai besar yang berada di jannah, yang mengalir menuju telaga Nabi. Warna airnya lebih putih daripada air susu, lebih manis daripada madu, dan lebih harum daripada minyak wangi. Telaga itu berada di tempat yang terbuka di hari kiamat. Orang-orang mukmin dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendatangi tempat itu. Jumlah cangkir dan keelokannya sebanyak gugusan dan keindahan bintang yang berada di langit. Barang siapa hidup di dunia menjalani agama Islam di atas syariat beliau (sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), di akhirat ia akan diizinkan mendatangi telaga tersebut. Sebaliknya, barang siapa menjalani agama Islam tidak di atas syariat beliau, di akhirat ia akandihalangi sehingga tidak bisa mendatangi telaga itu. Di antara sekian banyak kebaikan yang telah diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia adalah apa yang terdapat dalam hadits berikut.
أُعْطِيْتُ خَمْسًا، لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةُ وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: (1) Diberikan kemenangan kepadaku dengan sebab gentarnya musuh dari jarak perjalanan satu bulan; (2) dijadikan bumi sebagai tempat shalat dan bersuci untukku, maka siapa pun laki-laki yang sampai kepadanya waktu shalat, hendaklah ia shalat; (3) diberikan kepadaku syafaat; (4) dihalalkan untukku ghanimah; dan (5) dahulu para nabi diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Semua ini adalah kebaikan (nikmat) yang banyak. Karena beliau diutus kepada seluruh manusia, konsekuensinya, beliaulah nabi yang paling banyak pengikutnya. Dimaklumi bersama bahwa seseorang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala seperti halnya pelakunya. Orang yang telah menuntun umat kepada kebaikan dengan jumlah yang luar biasa adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendapatkan bagian pahala dari setiap individu di antara umatnya. Tidak ada yang mampu menghitung jumlah umat beliau selain Allah Subhanahu wata’ala. Di antara kebaikan yang diberikan kepada beliau di akhirat adalah almaqam al-mahmud, seperti syafaat al-uzhma (syafaat yang agung).

Sebab, pada hari kiamat manusia mengalami bencana, kesulitan, dan kesusahan yang tak kuasa mereka menahannya. Akhirnya, mereka meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Nabi Adam, lalu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa ‘Alaihissalam, hingga berakhir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun berdiri dan memberi syafaat. Allah Subhanahu wata’ala  pun memutuskan di antara hamba-Nya dengan syafaat beliau. Ini adalah kedudukan yang akan senantiasa dipuji oleh orang-orang yang mterdahulu hingga akhir zaman. Kedudukan ini termasuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,
ڍ
عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Mudah-mudahan Rabbmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’: 79)
Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Di antaranya adalah sungai yang berada di jannah, yang juga disebut al- Kautsar. Akan tetapi, al-Kautsar tidak terbatas pada hal itu saja. Setelah menyebutkan karunia- Nya yang begitu banyak, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Maknanya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang sangat agung ini, dirikanlah shalat dan berkurbanlah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Yang dimaksud shalat di sini adalah seluruh jenis shalat. Pertama kali yang dimaksud oleh ayat ini adalah shalat yang disertai oleh berkurban, yaitu shalat Idul Adha. Meski demikian, ayat ini mencakup keseluruhan shalat. Jadi, “dirikanlah shalat karena Rabbmu,” baik yang fardhu maupun yang sunnah, demikian pula shalat ied dan shalat jumat. Makna “berkurbanlah” adalah dekatkanlah dirimu kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan cara berkurban. Kata “nahr” maknanya adalah cara penyembelihan unta (dengan menusuk/memotong aliran darah di bagian atas dada, dalam posisi hewan berdiri). Adabun “dzabh”, adalah istilah penyembelihan hewan sapi ataupun kambing (dengan memotong empat saluran pada bagian leher, dalam posisi hewan direbahkan).

Ayat ini hanya menyebutkan “nahr” karena daging unta lebih bermanfaat daripada yang lain ketika dibagikan kepada orang-orang miskin. Karena itu, pada Haji Wada’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memotong 100 ekor unta, 63 ekor beliau potong sendiri dan sisanya beliau wakilkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya beliau sedekahkan kecuali sedikit dari setiap unta, yang beliau ambil untuk dimasak lalu dimakan dagingnya dan diminum kuahnya. Perintah dalam ayat ini berlaku untuk beliau dan umatnya. Maka dari itu, kita wajib mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.”
Makna syaniaka adalah orang yang membencimu, karena syana’an artinya kebencian. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ
“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).” (al Maidah: 2)
Artinya, janganlah kebencian (kalian) kepada mereka membawa kalian berbuat melampaui batas. Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Artinya, janganlah kebencian kepada mereka membawamu untuk meninggalkan keadilan (sikap adil). Al-abtar adalah isim tafdhil. Arti kata ini adalah terputus, yaitu terputus dari semua kebaikan. Hal ini terjadi karena orangorang kafir Quraisy mengatakan bahwa Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah abtar, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya, serta dalam mengikuti ajarannya. Kata ini mereka munculkan ketika Qasim, putra beliau, meninggal. Mereka lalu mengatakan bahwa Muhammad abtar, yaitu tidak ada keturunan. Kalaupun ada, maka akan terputus keturunannya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa al-abtar adalah yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dialah yang akan terputus dari semua kebaikan. Tidak ada berkah pada dirinya. Hidupnya hanya berisi penyesalan. Jika hal ini berlaku atas orang yang membenci beliau, begitu pula bagi yang membenci syariat (ajaran)nya. Oleh sebab itu, barang siapa membenci syariat Rasulullah n, atau salah satu syiar Islam, atau membenci ibadah apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk melaksanakan agama Islam, dia telah kafir, keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Hal itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9)

Tidak ada yang menghapus amalan selain kekufuran. Barang siapa membenci kewajiban shalat, dia telah kafir, walaupun ia menjalankan shalat. Barang siapa membenci kewajiban zakat, dia telah kafir walaupun menunaikannya. Adapun yang merasa berat menjalaninya, namun tidak membencinya, dikhawatirkan pada dirinya ada salah satu perangai kemunafikan, meski tidak dikafirkan. Jadi, terdapat perbedaan antara orang yang merasa berat (tanpa membenci) dengan orang yang membenci. Dengan demikian, surat ini mengandung penjelasan tentang nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu kebaikan yang banyak. Selain itu, surat ini memuat perintah untuk mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Perintah ini berlaku dalam seluruh bentuk ibadah. Surat ini juga menjelaskan, siapa yang membenci Rasul n atau sebagian syariat beliau, dialah yang terputus, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya. Wallahu a’lam.

Saturday, 13 May 2017

Tafsir Al-Baqoroh Ayat 120, Orang Kafir Tidak Akan Pernah Senang Kepada Kita



SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 120

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.


Penjelasan Ayat

Berikut ini adalah makna kandungan surat al-Baqoroh ayat 120
1). Upaya sejak dini memisahkan risalah dan pembawa risalah-nya terungkap jelas melalui ayat ini. Yaitu dengan cara memalingkan Rasul dari risalah yang dibawanya. Agen utama mereka ialah orang-orang Yahudi dan Nashrani. Pertama-tama mereka datang membujuk Rasul, tetapi karena gagal, mereka kemudian melakukannya dengan menyebarkan intrik dan indoktrinasi. Pertama-tama mereka menyebarkan berita yang diakuinya sebagai ajaran yang bersumber dari Kitab Suci mereka. “Dan mereka (kaum Yahudi) berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.’ (2:80).

Tujuannya, menjustifikasi supremasi mereka terhadap Rasul dan pengikutnya tanpa harus meninggalkan kebiasan-kebiasaan lama mereka seperti ajaran baru Nabi Muhammad. Paling tidak, kalau umat Rasul sudah mau berpandangan bahwa “semua agam sama saja”, sudah cukuplah. Tidak perlu mereka pindah agama, cukup mengakui supremasi agama-agama lain. Lalu, mereka (yahudi dan Nashrani) sama-sama datang kepada Rasul dan berkata:“Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani.” (2:111). Harapannya, Rasul ‘memakan’ pancingan mereka. Dan dengan begitu mereka memalingkan Rasul ke pihak mereka, bersekutu dengan mereka, menjalankan agenda-agenda mereka, membiarkan mereka mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan negara dan bangsanya, menggelontorkan investasi dengan cara membeli aset-aset yang berada di bawah kontrol Madinah; kendati—secara de-facto—Rasulullah tetap sebagai ‘Kepala Pemerintahan’ yang sah dan dipanuti oleh umat, bangsa, dan negaranya. Itu sebabnya,  di sini, Allah tidak menggunakan kata الدِّينِ (ad-dĭyn, aturan hidup), tapi kata مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir). Artinya Rasul tidak perlu mengganti الدِّينِ (ad-dĭyn, aturan hidup), gelar kerasulan, dan baju keagamaannya.

Mereka (Yahudi dan Nashrani) juga tidak perlu muncul ke permukaan. Mereka cukup berada di balik layar saja. Yang kelihatan memimpin tetap Rasul. Tetapi yang Rasul musti lakukan ialah melaksanakan rencana-rencana kerja mereka. Apakah Rasul termakan oleh muslihat seperti itu? Tidak. Karena Beliau adalah Khalifah Ilahi yang sah, yang dikontrol langsung oleh Allah sebagai Mursil-nya, yang tak pernah lagi berfikir tentang kepentingan pribadi dan dunianya, maka perangkap politik seperti itu tidak mempan baginya. “Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu, yang (tekita) Kami membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka. Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (47:13-14)

2). Anak kalimat لَن تَرْضَى عَنكَ [lan tardhā ‘anka, sekali-sekali tidak akan pernah redha kepadamu (Muhammad)] menarik untuk diselami. Tiga kata yang ada di anak kalimat ini masing-masing memiliki maknanya yang dalam, kaitannya dengan masa depan Islam (terhitung sejak zaman Rasul hingga kini dan di masa-masa mendatang). Pertama, kata لَن (lan) adalah huruf nafĭ (negasi) yang termasuk jenis taukĭd (kata penguat atau penegas), untuk menegaskan bahwa negasi yang terjadi di situ sifatnya berkelanjutan, seterusnya, selama-lamanya, sama lamanya dengan usia keberlakuan al-Qur’an.

 Karena Kitab Suci samawi terakhir ini berlaku hingga Hari Kiamat, maka fungsi لَن (lan) sebagai negasi taukĭd  di ayat ini juga berlaku sampai Hari Kiamat. Kedua, kata تَرْضَى (tardhā) yang kata dasarnya رضى (ra-dhi-ya), oleh al-Mawrid al-Qareeb Dictionary diartikan dengan “to be satisfied (with), content (with); to content oneself (with), to be pleased (with); to accept (to), agree (to), approve (of)”. Sedangkan penulis Kamus Kontemporer Arab-Indonesia mengartikannya dengan “merestui, meridhai, senang”. Makanya penulis Kamus al-Munawwir menyebutnya sebagai lawan dari kata سَخِطَ (sa-khi-tha) yang berarti “marah, murka, benci”. Ketiga, kata عَنكَ (‘anka), yang aslinya berasal dari dua penggal kata: عَن (‘an) dan كَ (ka). Kata عَن (‘an) sebetulnya adalah bagian dari kata تَرْضَى (tardhā), sehingga lengkapnya harus berbunyi تَرْضَى عَن (tardhā ‘an). Sehingga yang paling penting di dalam kata عَنكَ (‘anka) ini ialah huruf كَ (ka)-nya yang merupakan dhamĭr mukhathab mufrad (kata ganti orang kedua tunggal) untuk Rasulullah. Disinilah menariknya, huruf كَ (ka)-nya untuk Rasulullah, sementara Rasulullah manusia biasa (secara bilogis) yang kematiannya juga pasti.

Padahal tadi dikatakan bahwa kata لَن (lan) menunjukkan negasi taukĭd yang sifatnya berkelanjutan, selama-lamanya. Kalau huruf كَ (ka)-nya hanya dibatasi pada Rasulullah saja, secara otomatis makna yang dikandung kata لَن (lan) menjadi terbatas, bahkan masa berlakunya sangat-sangat singkat dibanding usia keberlakuan al-Qur’an, keberlakuan risalah kenabian. Agar ayat لَن تَرْضَى عَنكَ (lan tardhā ‘anka) terus berlaku, seperti disifati oleh kata لَن (lan), sepanjang keberlakuan al-Qur’an dan risalah kenabian, maka yang bisa difahami di situ ialah bahwa ayat ini memberikan indikasi yang begitu jelas tentang mustinya selalu ada satu sosok ilahi di setiap masa yang mengganti posisi Rasul di huruf كَ (ka)-nya. Sosok-sosok inilah yang akan menerima keberlakuan ayat 120 ini pada dirinya. Kalau sekiranya yang dituju bukan satu sosok khusus, maka ayatnya akan seperti ini: “Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kalian ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kalian ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (9:96)

3). Menurut al-Wahidi, ayat ini turun berkenaan dengan permintaan cease-fire (gencatan senjata) orang-orang Yahudi dan Nashrani kepada Rasul dalam suatu peperangan. Mereka berharap bahwa dengan cease-fire (gencatan senjata) dan waktu tangguh yang diberikan kepada mereka itu, Rasul sekaligus ridha dan sepakat dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka. Sedangkan menurut as-Suyuthi, mengutip Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan pemindahan kiblat salat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, yang membuat orang Yahudi dan Nashrani kecewa dan berputus asa dalam mengusahakan agar Nabi ridha dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka.

 Baik salah satunya atau kedua-duanya benar, tetap tidak bertentangan dengan fakta bahwa melalui ayat ini Allah swt meyakinkan kita melalui Rasul bahwa إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى [inna ɦudallaɦ ɦuwal ɦudā, Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)], sehingga bagaimanapun canggih, rapih, indah, dan sistematisnya cara mereka menarik perhatian kita untuk ridha kepada مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka, kita tetap harus berkeyakinan bahwa Islam sebagai هُدَى اللّهِ (ɦudallaɦ,Petunjuk Allah)-lah yang benar. Dengan modal keyakinan seperti itu, kita boleh bergaul dengan siapapun dan dengan agama atau keyakinan apapun, dengan penuh percaya diri, dan dengan prinsip-prinsip yang tak mudah melorot. Penggunaan frase هُدَى اللّهِ (ɦudallaɦ,Petunjuk Allah) menjelaskan dua hal. Satu, risalah yang dibawa Nabi Muhammad bukanlah inisiatif dan kreasi pribadinya, bahkan bukan produk kejeniusan manusia atau makhluk manapun.

 Risalah Islam adalah Risalah Allah, yang merupakan bukti Kasih Sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya dari kalangan jin dan manusia. Allah tidak ingin membiarkan mereka tersesat. Allah tidak ingin membiarkan mereka menderita dunia-akhirat. Maka Dia mengutus Rasul-Nya untuk membimbing mereka menerapkan risalah tersebut, tanpa perhitungan untung-rugi. Maka kalau manusia menolaknya, manusia itu sendirilah yang merugi. Dua, selain dari yang dibawah oleh Nabi Muhammad, dipastikan bukan هُدَى اللّهِ (ɦudallaɦ), bukan Petunjuk Allah. Sehingga sampai kapan pun dan dengan formula intelektual apapun tetap tidak mampu membawa manusia keluar dari belitan problem hidupnya (individu dan masyarakat). “…Barangsiapa yang menjadikan syaitan (dari kalangan manusia) menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata” (4:119).

4). Bahkan bukan hanya merugi. Siapa yang mengikuti مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka, dengan meninggalkan risalah Islamnya, maka Allah memastikan akan menarik diri sebagai Pelindung dan Penolong mereka: وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ [wa lainit-taba’ta aɦwā-aɦum ba’dalladzĭy jā-aka minal-‘ilmi mā laka minallaɦi min waliyyin wa lā nashĭyr, dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu]. Ada dua jenis pernyataan yang dikandung ayat ini: pernyataan yuridis dan pernyataan logis. Pertama, pernyataan yuridis. Ialah bahwa apabila Nabi atau sosok ilahi pelaksana risalah mengikuti kehendak (hawa nafsu) mereka (Yahudi dan Nashrani), maka Nabi sekalipun, sosok ilahi sekalipun, tidak akan dapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.

Ini adalah hukum takwini (hukum alam) dan tasyri’i (hukum syariat) yang sangat jelas yang perlu difahami oleh kita semua, pengikut Rasulullah, yang mencita-citakan risalah Islam sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara. Kedua, pernyataan logis. Apabila kita menjadi mangsa bangsa-bangsa lain, menjadi pecundang, menjadi korban ipoleksosbudhan, menjadi bahan mainan, menjadi korban represi dan opresi, menunjukkan kita tidak mendapatkan pertolongan dan perlindungan-Nya. Dan tidak mendapatkan pertolongan dan perlindungan-Nya, logikanya, kita mengikuti kehendak (hawa nafasu) mereka, masuk dalam perangkap yang mereka pasang.

Pertanyaannya, apakah ayat ini menunjukkan bahwa Rasul sekalipun ‘nyaris’ masuk ke dalam perangkap mereka sehingga diingatkan oleh ayat ini? Tidak. Karena penggalan ayat ini dimulai dengan sebuah pengandaian: وَلَئِنِ (wa lain, dan jika seandainya). Pengandaian bukanlah kejadian. Ayat ini hanya bersifat tarbiyah (pendidikan) kepada kita agar tetap berpegang teguh dan patuh kepada sosok ilahi pelaksana risalah. Begitu lepas dari sosok ilahi ini, kita pun dengan serta-merta diterkam oleh pukat harimau mereka (bangsa Yahudi dan Nashrani). “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan (al-Qur’an) itu sebagai hukum (peraturan yang benar) dalam Bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (13:37)

 wallahu'alam

Semoga bermanfaat

sumber tafsir al-barru

Wednesday, 30 November 2016

[Tafsir Quran] Makna Celakalah Orang Yang Shalat

Allah SWT Berfirman :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (yaitu) orang-orang yang menampak-nampakan (riya).”

(QS. Al-Maa’uun, 107: 4-5)



MUKADIMAH

Bagi anda yang belum tahu makna ayat ini akan heran, kenapa ada orang yang shalat tapi ia tetap celaka, bukankah sholat itu dapat pahala bukan dapat dosa? tentu saja tapi ada syaratnya yaitu sholat dengan khusuk dan tidak lalai dari shalatnya. Tidak sering lupa bacaan shalatnya karena jasadnya sholat tapi pikirannya kemana-mana memikirkan masalah dunia, atau terkadang ada orang sholat cuman sekedar pamer biar dibilang orang shalih, ahli ibadah, supaya dipandang lelaki alim didepan calon mertua dan sebagainya itu semua adalah riya. Itulah sebab-sebab yang menyebabkan orang yang shalat tetap celaka dan mendapat siksa dihari pembalasan, terus apakah lebih baik tidak sholat? itu malah lebih buruk, karena orang yang menganggap tidak melaksanakan dan menganggap sholat tidak wajib dianggap murtad. untuk lebih jelasnya anda simak bahasan berikut ini


Penjelasan Ayat  


Ayat: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,” 

menurut Ibnu Abbas ra dan yang lainnya berkata, ‘Yakni orang-orang munafik yang melaksanakan shalat secara terang-terangan, namun tidak mau melaksanakan ketika tidak dilihat manusia.
(Sahih Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Maa’uun, ayat 4-6.  Jilid 9, hal. 725., Ibnu Katsir nukil dari Tafsir Ath-Thabari)
Imam Ibn Katsir mengatakan, karena itulah Allah swt berfirman, bahwa kecelakaan itu, “Bagi orang-orang yang shalat.” Yaitu mereka melaksanakan shalat dan konstsiten melaksanakannya, kemudian mereka lalai dari shalatnya. Baik lalai dari melaksanakannya secara keseluruhan, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas ra, maupun lalai dari melaksanakannya pada waktu yang sudah ditetapkan secara syar’i, sehingga dia melaksanakan shalatnya di luar waktu yang semestinya secara keseluruhan, sebagaimana yang dikatakan oleh Masruq dan Abudh Dhuha.
(Sahih Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Maa’uun, ayat 4-6.  Jilid 9, hal. 726. 
, Ibnu Katsir nukil dari Tafsir Ath-Thabari)
Ibnu Katsir berkata, Lalai di sini mencakup 
1) Lalai dengan tidak mengerjakan di awal waktu, sehingga mereka selalu atau sering menunda-nundanya sampai akhir waktu. 
2) Lalai dengan tidak melaksanakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, menurut cara yang telah ditetapkan.
Yaitu tidak shalat sebagaimana Rasulullah saw shalat. Baik bacaan maupun gerakan. Pembaca jika ingin mencaritahu apakah shalatnya sesuai dengan shalat Rasulullah saw ataukah tidak, maka dapat merujuk pada buku-buku sifat shalat Rasulullah saw seperti yang ditulis Syaikh Al-Bani atau ulama-ulama Ahlu Sunnah lainnya. Atau bisa langsung merujuk pada Kitab Sahih Bukhari dan Muslim. Anjuran ini perlu kami sampaikan, karena shalat yang biasanya kita lakukan diperoleh melalui kebiasaan orang-tua, sedangkan orang-tua juga mengikuti kebiasaan yang dulu, dan semua yang dulu tidak belajar langsung dari sumbernya, melainkan hanya mendengar dari orang. Sementara Islam masuk di Indonesia dengan ajarannya namun disampaikan tidak sempurna. Karena masih dipengaruhi oleh budaya Indonesia yang tercampur dengan agama.
3) Lalai dengan tidak menjaga kekhusyu’an dalam shalat. 
4) Lalai dengan tidak merenungkan (Tapi justru memikirkan pekerjaannya, kesibukannya, atau sesuatu yang berkaitan dengan dunianya) serta bacaan-bacaan shalat.
 
Menurut Ibnu Katsir, orang yang memiliki salah satu sifat dari sifat-sifat lalai tersebut di atas, maka ia mendapatkan bagian dari ayat tersebut. Dan orang yang memiliki semua sifat tersebut di atas, maka sungguh lengkaplah bagiannya dari ayat tersebut dan sempurnahlah sifat kemunafikannya. Ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Demikian itulah shalat orang munafik. Demikianlah itulah shalat orang munafik. Demikian itulah shalat orang munafik. Ia duduk (Yakni belum bangkit melakukan shalat) mengamati matahari. Sampai sampai pada saat matahari berada di antara dua tanduk syaitan, maka (barulah) ia bangkit melaksanakan shalat ‘Ashar lalu mematuk-matuk empat rakaat( Yakni shalat tergesah-gesah tanpa thumanina / ketenangan bagai burung mematuk makanannya). Ia tidak mengingat Allah dalam (shalat)nya kecuali sedikit.”

( HR Muslim )
 
Sedangkan ayat “(yaitu) orang-orang yang menampak-nampakan (riya).” Imam Ibnu Katsir mengatakan, barangkali alasan yang mendorongnya menunaikan shalat agar dilihat oleh orang lain (riya), bukan karena mencari ridha Allah swt, sehingga ia sama saja dengan orang yang tidak shalat secara keseluruhan.
Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”(QS. An-Nisaa, 4: 142).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Amr bin Murrah, ia berkata, “Kami sedang duduk bersama Abu Ubaidah, mereka menyinggung riya’. Lalu seorang laki-laki ber-kun-yah (nama panggilan) Abu Yazid berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Amr mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya di hadapan orang lain, maka Allah akan memperdengarkan amalnya di hadapan pendengar (dari kalangan) mahluk-Nya. Dan Dia akan merendahkan dan menghinakannya.”
( HR Imam Ahmad )
Dari tafsir ayat Al-Quran di atas yang berbunyi “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,” maka jika dicermati tidak ada ulama tafsir baik dari kalangan sahabat sampai para ulama sesudah mereka, menafsirkan kata ‘lalai dari shalatnya’ dengan makna maksudnya, ‘yaitu meninggalkan shalat.” Justru kata ‘lalai’ di sini dimaknai orang yang tetap mengerjakan shalat, namun lalai dalam waktunya, rukunnya, khusyunya, dan tidak merenungkan bacaan shalat. 

Lalu bagaimanakah dengan orang yang meninggalkan shalat apakah ia lebih baik? justru itu lebih buruk karena jika seseorang meninggalkan shalat, maka dia dicap murtad. Naudzubillah

Oleh Karena itu marilah kita shalat dengan ketenangan batin, fokus dan khusuk dan dilandasi hati yang ihlas agar diterima Allah sebagai pahala yang besar, amien

wallahu'alam 

Refrensi Tulisan
 -al-Quran
- al Hadits
- Tafsir ibnu katsir
- Surat Kabar Harian Fajar

Sunday, 13 November 2016

Penjelasan Al-anam ayat 162-163, Mengihlaskan Hidup, Mati dan Ibadah Untuk Allah


Terjemahan Q.S. Al An’am, 6 : 162 – 163 adalah : 

Katakanlah ( Muhammad ), “ sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya,

dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri ( muslim)”

1.Kandungan 

o   Suruhan Allah kepada segenap Muslim dan Muslimah untuk berkeyakinan bahwa salatnya, ibadahnya, hidupnya dan matinya adalah semata-mata untuk Tuhan Allah semesta alam
o   Seorang Muslim dan Muslimah harus berkeyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa tiada sekutu baginya yang menentukan hidup dan matinya seseorang, dan yang mengatur segalanya di alam ini.
o   Allah menyuruh kepada Muslim dan Muslimat untuk berlaku ikhlas dalam beribadah, bermuamalah maupun berkeyakinan kepada-Nya.

2.Penjelasan 

Surat Al An’am terdiri atas 165 ayat, dinamakan Al An’am berarti “ binatang ternak “ ( seperti : unta, sapi, kambing, dan biri-biri ). Surat ini termasuk golongan ayat-ayat Makiyyah. Surat ini dinamakan “ Al An’am “ karena di dalamnya disebut kata “ An’am” dalam hubungannya dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka.
Dalam surat yang ke 162 – 163  Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw.  agar mengatakan bahwa salatnya, ibadahnya, hidupnya, dan matinya adalah semata-mata untuk Tuhan Allah semesta alam. Perintah itu harus diteruskan kepada umatnya agar mensikapi hidup itu senantiasa seorang muslim itu dalam melaksanakan salatnya, ibadahnya, dilaksanakan dengan khusyuk, tunduk, ikhlas untuk mencari rida Allah. Begitu pula  hidupnya, matinya diserahkan seluruhnya kepada Allah swt Tuhan semesta alam, karena Allah adalah zat yang menentukan hidup dan matinya semua makhluk di alam ini.

SUmber buku PAI X

Penjelasan An-Nahl ayat 78, Manusia Dikaruniai Panca Indra Supaya Bersyukur


Terjemahan Q.S. An Nahl, 16 : 78 adalah :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.


1.    Kandungan ayat
o   Allah SWT memberitahukan kepada manusia bahwa setiap manusia itu dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan tidak berilmu pengetahuan.
o   Kemudian Allah SWT memberi manusia pendengaran, penglihatan, dan hati ( qalbu) sebagai alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
o   Agar manusia sadar bahwa kesempurnaan fisik dan panca indera yang dimilikinya itu dapat dipergunakan untuk mengabdi kepada Allah SWT, sehingga mereka mau bersyukur kepada-Nya.

2.    Penjelasan
Surat An Nahl terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat Makiyyah. Dinamakan “ An Nahl “ yang berarti “ lebah “ seperti dinyatakan dalam surat ini ayat 68 yang artinya “ Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah “.
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia. Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dan Al Qur’anul Karim. Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan bisa menjadi obat bermacam-macam penyakit manusia ( lihat ayat 69). Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang pernah diturunkan Allah kepada nabi-nabi terdahulu dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat ( lihat ayat 10 ).
Pada Q.S. An Nahl : 78 diterangkan bahwa manusia ketika dilahirkan pertama kali awalnya tidak mengerti apa-apa, dan kondisinya sangat lemah sehingga membutuhkan orang lain untuk menolongnya seperti dokter, bidan, perawat, dan orang tua kita. Pada ayat tersebut Allah menegaskan bahwa sejak manusia lahir telah dibekali tiga kemampuan dasar, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Ketiga bekal tersebut agar manusia dapat mengembangkan sesuai dengan petunjuk Allah dalam Al Qur’an sehingga akan dapat menjadi manusia yang sempurna yang dapat mengemban  tugas sebagai khalifah di bumi dengan baik.
Manusia akan menjadi beriman dan berilmu ketika mereka bisa belajar melalui tiga bekal tersebut sehingga dapat menangkap informasi-informasi di luar dirinya untuk dapat dikembangkan yaitu, membaca melalui penglihatan, mendengar melalui telinga, dan merasa melalui hati.