Wednesday, 8 June 2011

Pengertian Iman, Islam, Ihsan (penjelasan Hadits Arbain Nawawi Ke-2)


Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .
[رواه مسلم]
 

Dari ‘Umar radhiyallahu’anhu –juga- dia berkata: Pada suatu hari, ketika kami berada di sisi Rasulullah, tiba-tiba muncul di hadapan kami, seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan berambut hitam legam, tidak terlihat padanya bekas-bekas perjalanan jauh, dan tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya.Hingga ia duduk di hadapan Nabi, lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.
 Lalu ia berkata, “Ya Muhammad, khabarkan kepadaku tentang Islam?” Maka Rasulullah bersabda, ”Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Ilah yang diibadahi dengan hak, kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata, ”Engkau benar.” Dia (rawi) berkata, “Maka kami pun terheran-heran dengannya. Ia bertanya kepada Rasulullah, namun ia sendiri yang membenarkannya. ”Lalu orang itu bertanya lagi, “Khabarkan kepadaku tentang iman?” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” Dia berkata, “Engkau benar.” Lalu ia berkata lagi, “Khabarkanlah kepadaku tentang ihsan?”

Rasulullah bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”Dia berkata, “Khabarkan kepadaku tentang hari kiamat?” Beliau bersabda, “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” Dia berkata, “Kalau begitu, khabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya?” Beliau bersabda, “Budak wanita akan melahirkan tuannya, dan engkau akan melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang lagi miskin, para penggembala kambing saling berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” Dia berkata, “Kemudian orang itu pergi. Lalu aku tidak bertemu (dengan Rasullah) beberapa waktu. Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, “Ya ‘Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah bersabda, “Dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)

Penjelasan:

Dari hadits ini dapat dipetik banyak faedah, di antaranya adalah:

1. Di antara perilaku Nabi adalah beliau bermajelis dengan para shahabatnya. Perilaku ini menunjukkan bagaimana baiknya budi pekerti beliau. Seseorang manusia sepatutnya bergaul dengan sesama, dan bermajelis (dengan mereka) dan tidak mengucilkan diri dari mereka.

2. Bergaul dengan sesama lebih baik daripada mengisolasi selama ia tidak mengkhawatirkan agamanya. Jika dia mengkhawatirkan agamanya, maka mengisolasi diri lebih baik, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Akan terjadi sebentar lagi, di mana sebaik-baik harta seseorang adalah kambing yang diikutinya, hingga puncak bukit dan tempat yang dicurahi hujan.” (Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Al Iman/19/Fath])

3. Para malaikat bisa menjelma di hadapan manusia dalam sosok manusia, karena Jibril muncul di hadapan para shahabat dengan gambaran yang telah disebutkan dalam hadits ini (Lelaki yang berambut hitam legam, berpakaian sangat putih dan, tidak terlihat padanya bekas-bekas perjalanan jauh, dan tidak ada seorangpun dari shahabat yang mengenalnya).

4. Baiknya etika seorang yang belajar di hadapan gurunya, di mana Jibril duduk di hadapan Nabi dengan cara duduk yang menunjukkan adab sopan santun, memasang telinganya, siap untuk menerima semua pelajaran yang akan disampaikan kepadanya, lalu dia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.

5. Bolehnya memanggil Nabi dengan namanya, berdasarkan ucapan Jibril, “Wahai Muhammad.” Ini mengandung kemungkinan hal itu terucapkan sebelum adanya larangan, yakni sebelum adanya larangan dari Allah agar tidak memanggil seperti itu,
 dalam firman-Nya:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاء الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاء بَعْضِكُم بَعْضًا

“Janganlah kamu jadikan panggilan rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian lainnya.” (An Nuur: 63)

Menurut salah satu penafsiran dari ayat ini, atau bisa juga mengandung kemungkinan bahwa panggilan seperti itu sudah menjadi kebiasaan orang arab badui yang datang kepada rasul, sehingga mereka memanggil beliau dengan namanya, “Ya Muhammad. ”dan inilah yang lebih dekat kebenaran. Karena kemungkinan yang pertama butuh pada (pembuktian) sejarah.

6. Seseorang boleh bertanya tentang sesuatu yang telah diketahui dalam rangka memberikan pelajaran kepada orang yang belum mengetahui, karena Jibril telah mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, berdasarkan ucapannya dalam hadits, “Engkau benar.” Akan tetapi jika si penanya bermaksud agar orang yang berada di sekitar orang yang menjawab tersebut dapat mengambil pelajaran, maka yang seperti itu dapat dianggap memberikan pelajaran kepada mereka.

7. Orang yang menjadi sebab dapat dihukumi sama dengan orang yang melakukan perbuatan tersebut secara langsung, jika perbuatan itu dilandasi oleh suatu sebab. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,“Dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kepada kalian.”Padahal orang yang memberikan pengajaran secara langsung (kepada para shahabat) adalah Rasulullah. Akan tetapi, karena Jibril dengan pertanyaan yang ia lontarkan itu, maka Rasulullah menganggapnya sebagai orang yang memberikan pengajaran (kepada mereka).

8. Penjelasan bahwa rukun Islam ada lima, karena Nabi menjawab dengan jawaban seperti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Ilah yang hak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu untuk melakukannya.”

9. Seseorang harus mengikrarkan syahadat dengan lisannya dan meyakini dengan hatinya, bahwa tiada Ilah yang hak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Makna “Ilah” adalah tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah. Engkau bersaksi dengan lisanmu dan meyakini dengan hatimu bahwa tidak ada sesembahan apapun yang hak –dari segenap makhluk, baik dari kalangan nabi, wali, orang-orang shaleh, pepohonan, bebatuan, dan lain-lainnya, kecuali Allah. Dan segala sesuatu yang diibadahi selain Allah adalah bathil. Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِير

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, dialah (Rabb) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar. (Al Hajj: 62).

10. Agama ini tidak sempurna, kecuali dengan persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Beliau adalah Muhammad bin Abdillah Al Qurasyi (dari suku Quraisy) Al Hasyimi (dari kalangan Bani Hasyim). Barangsiapa yang ingin mengetahui secara lengkap ikhwal rasul yang mulia ini, hendaknya ia membaca Al Qur’an, hadits, dan kitab-kitab tarikh (buku sejarah Islam).

11. Rasulullah telah menyatukan syahadat “Laa ilaaha illallah” dan “Muhammad Rasulullah” ke dalam satu rukun. Yang demikian itu karena ibadah tidaklah sempurna kecuali dengan dua perkara ini, yakni: Ikhlas untuk Allah (memurnikan peribadahan hanya untuk Allah semata). Inilah yang dikandung oleh syahadat bahwa tiada ilah yang hak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Dan mutabaah, dan inilah yang dikandung dari syahadat bahwa Muhammad utusan Allah. Oleh karena itu, Nabi menyatukan kedua syahadat ini ke dalam satu rukun. Dalam hadits ‘Umar, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Islam dibangun di atas lima perkara; Persaksian bahwa tiada ilah yang diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, mendirikan shalat……” (Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam (Al Iman/8/Fath), Muslim di dalam (Al Iman/16/Abdul Baqi).dan seterusnya.

12. Keislaman seorang hamba tidak sempurna hingga ia mendirikan shalat. Mendirikan shalat yaitu dengan mengerjakan shalat tersebut dengan istiqamah, sesuai dengan tuntunan yang telah dibawa oleh syari’at. Mendirikan shalat ini ada yang dikerjakan sekedar yang wajib-wajibnya saja, dan ada yang dikerjakan secara sempurna. Yang wajib-wajib dalam shalat adalah dengan melakukan batas minimal dari hal-hal yang telah diwajibkan dalam shalat tersebut. Sedangkan pelaksanaan shalat yang sempurna yaitu dengan melaksanakan berbagai hal yang dapat menyempurnakan pelaksanaan shalat tersebut sesuai dengan apa yang telah dikenal dalam Al Qur’an, hadits-hadits Nabi, dan ucapan-ucapan para ulama. (bersambung ke bagian tiga)
13. Keislaman seorang hamba tidak sempurna hingga menunaikan zakat. Zakat adalah harta yang diwajibkan berupa harta-harta yang dikenai zakat, mengeluarkan dan memberikannya kepada orang yang berhak menerimanya. Allah telah menjelaskan ini ke dalam surat At Taubah dalam firman Allah subhanahu wata’ala,


إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”(At Taubah: 60).

14. Adapun puasa ramadhan, ialah beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan, dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Ramadhan adalah bulan antara bulan Sya’ban dan bulan Syawal. Adapun berhaji ke Baitullah, ialah menuju Mekkah untuk melaksanakan manasik haji, dan disyaratkan adanya kemampuan, karena secara umum di dalam pelaksanaannya ditemui berbagai hal yang memberatkan dan menyulitkan. Tidak hanya pada ibadah haji semata, ternyata seluruh kewajiban disyari’atkan adanya faktor kemampuan. Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kepada Allah menurut kemampuan.” (At Taghaabun: 16)

15. Dan di antara faedah yang telah dibakukan oleh para ulama adalah, “Tidak ada kewajiban bersama ketidakmampuan, dan tidak ada keharaman bersama keadaan darurat.”

16. Utusan dari kalangan malaikat (Jibril) mensifati utusan dari kalangan manusia (Rasulullah) dengan sifat benar (jujur). Sungguh Jibril telah berlaku benar pada apa yang telah ia sifatkan kepada Rasulullah dengan sifat benar (jujur), karena memang Nabi adalah makhluk yang paling benar.

17. Kecerdasan para shahabat yang mana mereka merasa keheranan. Bagaimana mungkin seorang yang bertanya menilai benar orang yang ditanya. Pada umumnya, orang yang bertanya tidak mengetahui. Sedangkan orang yang tidak mengetahui, tidak mungkin menghukumi ucapan seseorang bahwa dia benar atau dusta. Akan tetapi keheranan itu hilang setelah Nabi mengatakan, “Dia adalah Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian. ”

18. Keimanan mencakup enam perkara: Beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik dan yang buruk.

19. Pembedaan antara islam dan iman. Hal ini ketika kedua kata itu disebutkan secara bersama-sama. Islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan (amalan zhahir), sedangkan iman dengan amalan-amalan hati (batin). Akan tetapi, ketika salah satu kata itu disebutkan begitu saja (tanpa diiringi dengan yang lainnya), maka masing-masing dari kata itu mencakup kata yang lainnya, mencakup Islam dan Iman. Adapun jika keduanya disebutkan secara bersamaan, maka masing-masing dari keduanya ditafsirkan dengan makna yang telah ditunjukkan oleh hadits ini. Firman Allah subhanahu wata’ala,

وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

 “...Dan telah Aku ridhai Islam menjadi agamamu.” (Al Maa’idah: 3)

Dan firman-Nya,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ


"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi."(QS. Al-Imran [3]:85)

Firman Allah subhanahu wata’ala,

وَأَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

“…Dan bahwasanya Allah bersama orang-orang yang beriman.” (Al Anfaal: 19)

Dan ayat-ayat serupa yang mencakup iman dan islam. Demikian pula dengan firman-Nya,



وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِناً إِلاَّ خَطَئاً وَمَن قَتَلَ مُؤْمِناً خَطَئاً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ أَن يَصَّدَّقُواْ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مْؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةً فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللّهِ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً


"Dan tidak layak bagi seorang mu'min membunuh seorang mu'min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja) , dan barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah . Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya , maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."(An Nisaa’: 92)

20. Keimanan kepada Allah adalah rukun iman yang paling penting dan paling besar. Oleh karena itu, Nabi menyebutkannya lebih dahulu. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau beriman kepada Allah.” Keimanan kepada Allah mencakup keimanan kepada wujud-wujud-Nya, uluhiyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Jadi, keimanan kepada Allah tidak hanya beriman kepada wujud-Nya semata. Akan tetapi, harus mencakup keimanan kepada empat perkara ini, yakni beriman kepada wujud, rububiyah, uluhiyah, nama, dan sifat-sifat-Nya.

21. Menetapkan adanya malaikat. Malaikat adalah makhluk ghaib yang telah Allah sifati dengan banyak sifat dalam Al Qur’an dan telah disifati oleh Nabi dalam hadits-haditsnya. Cara beriman kepada mereka adalah dengan mengimani nama-nama mereka yang telah kita ketahui. Kita pun mengimani sifat-sifat yang mereka miliki sebatas apa yang telah kita ketahui. Di antaranya, Nabi pernah melihat malaikat Jibril –dalam bentuk aslinya- memiliki enam ratus sayap yang menutupi ufuk. Kewajiban kita berkenaan dengan malaikat adalah kita mempercayai dan mencintai mereka, karena mereka adalah para hamba Allah yang senantiasa melaksanakan perintah-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَنْ عِندَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُون يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

“…dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al Anbiyaa’: 19-20)

22. Wajib beriman dengan kitab-kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al kitab dan neraca (keadilan)…” (Al Hadiid: 25)

Kita beriman kepada semua kitab yang Allah turunkan kepada rasul-rasul-Nya, akan tetapi kita mengimaninya secara global dan mempercayai bahwa kitab-kitab itu adalah haq (benar). Adapun secara rinci, kitab-kitab terdahulu mengalami penyelewengan, perubahan, penggantian. Seseorang tidak mungkin dapat menilai mana yang haq dan mana yang bathil. Atas dasar itu, kita katakan, “Kita beriman kepada yang telah Allah turunkan tersebut secara global. Adapun secara rinci, kita merasa khawatir itu adalah di antara hal-hal yang telah diselewengkan dan diubah. Ini dalam hal yang berkaitan dengan keimanan dengan kitab-kitab tersebut. Adapun yang berkaitan dengan pengamalannya, maka yang diamalkan hanyalah apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad semata. Adapun yang selainnya telah dihapus masa berlakunya dengan datangnya syari’at ini. ”

23. Wajibnya beriman kepada rasul, kita beriman bahwa semua rasul yang diutus oleh Allah adalah benar, membawa kebenaran, benar (jujur) dalam berita yang dikhabarkan, dan benar pula dengan apa-apa yang telah diperintahkan. Dan beriman kepada mereka secara global, yakni pada para rasul yang tidak kita ketahui, dan secara rinci terhadap mereka yang telah kita ketahui. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa rasul sebelummu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. ”(Al Ghafir: 78)

Rasul yang telah diceritakan kepada kita dan kita telah mengetahuinya, maka kita mengimani mereka orang-perseorangan. Sedangkan para nabi yang belum diceritakan kepada kita dan kita tidak mengetahuinya, maka kita mengimani secara global. Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, sedang rasul yang terakhir adalah Nabi Muhammad. Di antara mereka terdapat lima rasul yang digelari ulul azmi yang nama mereka telah Allah sebutkan secara bersamaan dalam dua ayat dalam Al Qur’an. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al Ahzab,

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan darimu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam.” (Al Ahzab: 7)

Dan Dia berfirman dalam surat Asy Syuura,

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyari’atkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. . . ’ “(Asy Syuura: 13)

24. Beriman kepada hari akhir. Hari akhir adalah hari kiamat, dinamakan hari akhir karena hari itu adalah masa putaran terakhir bagi umat manusia. Karena manusia mengalami empat masa:
1. Masa di perut ibunya.
2. Dunia ini.
3. Alam barzah.
4. Hari kiamat.
Tidak ada masa putaran setelah itu, hanya ada dua kemungkinan; masuk surga atau masuk nereka.
Beriman kepada hari akhir, masuk di dalamnya –sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Semua yang dikhabarkan oleh Nabi tentang apa-apa yang terjadi setelah kematian, masuk juga ke dalamnya adalah apa-apa yang akan terjadi di alam kubur. Yakni pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada orang-orang yang telah mati tentang Rabbnya, agama, dan Nabinya. Dan apa-apa yang akan manusia dapatkan di alam kubur, baik berupa kenikmatan atau siksaan.

25. Wajibnya beriman kepada taqdir, yang baik dan yang buruk. Hal itu dengan mengimani empat perkara, yaitu :
-Mengimani bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik secara global, secara rinci, sejak dahulu hingga selama-lamanya.
-Mengimani bahwa Allah telah mencatat taqdir segala sesuatu sampai hari kiamat di lauhul mahfuzh.
-Mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini terjadi dengan kehendak Allah, tidak ada sesuatu apapun yang lepas dari kehendak-Nya.
-Mengimani bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, segala sesuatu adalah makhluk ciptaan Allah, baik itu terjadi dengan perbuatan yang khusus dimiliki oleh-Nya, seperti menurunkan air hujan, mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, atau perbuatan hamba dan perbuatan para makhluk, karena kehendak dan kemampuan. Sedangkan kehendak dan kemampuan adalah di antara sifat-sifat hamba. Sedangkan hamba dan sifat-sifatnya adalah makhluk Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu yang ada di dalam semesta ini adalah hasil ciptaan Allah. Allah telah menakdirkan segala sesuatu hingga hari kiamat. Lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.

Apapun yang telah ditakdirkan atas seseorang, tidak mungkin meleset darinya. Dan apapun yang tidak Dia takdirkan, tidak akan menimpanya. Inilah keenam rukun-rukun iman yang telah dijelaskan oleh Rasulullah dan iman seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan mengimani semua rukun-rukun tersebut.

26. Di antara faedah yang ada di dalam hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan. Ihsan adalah seseorang beribadah kepada Rabbnya dengan peribadahan raghbah (harapan) dan tholab (memohon), seolah-olah ia melihatnya, lalu ia suka untuk mencapainya. Ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Jika ia tidak sampai pada keadaan seperti ini, ia berada pada tingkatan yang ke dua, yaitu: beribadah kepada Allah dengan peribadahan khauf (takut) dan harab (lari) dari siksanya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Yakni, jika engkau tidak beribadah kepada-Nya seolah-olah engkau melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.

27. Pengetahuan tentang hari kiamat tersembunyi, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Maka barangsiapa mengaku bahwa dia mengetahuinya, maka dia pendusta. Pengetahuan tentang hal itu tidak diketahui oleh rasul yang paling utama dari kalangan malaikat dan manusia, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Jibril.

28. Hari kiamat memiliki tanda-tanda, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَن تَأْتِيَهُم بَغْتَةً فَقَدْ جَاء أَشْرَاطُهَا

“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya.” (Muhammad: 18)
Dan ulama telah membagi tanda-tanda kiamat menjadi tiga macam:
1. Yang telah berlalu.
2. Senantiada datang dengan bentuk yang baru.
3. Tidak datang kecuali tepat menjelang hari kiamat. Dan itu adalah tanda-tanda kiamat yang besar, seperti: turunnya Isa bin Maryam, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari dari sebelah barat.


Nabi telah menyebutkan beberapa tanda hari kiamat, yaitu: 


- Budak wanita melahirkan tuannya, penjelasannya: Seorang budak wanita (Al amah) akan melahirkan tuannya. Kata ‘Al amah’ mengandung dua tafsiran:
Pertama, mengisyaratkan akan adanya banyak penaklukan yang dilakukan oleh kaum Muslimin yang dengan sendirinya maka banyak pula jumlah para tawanan perang yang mana mereka adalah ‘al ima’ atau budak-budak wanita. Karena, apabila budak tersebut melahirkan anak dari tuannya maka derajat anak tersebut akan sama dengan ayahnya dan dengan sendirinya ia akan menjadi tuan dari ibunya sendiri karena ia adalah anak dari tuan ibunya. Kedua, bahwa al amah juga berarti wanita merdeka, dan hal ini mengisyaratkan akan banyaknya kedurhakaan manusia kepada orang tua mereka khususnya terhadap ibu mereka yang disebabkan karena rusaknya akhlak anak-anak di akhir zaman. 


- Lalu yang disebutkan hadits Nabi SAW tetang" Engkau akan melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang lagi miskin, para penggembala kambing saling berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi". Merupakan ungkapan tentang cepat, banyak, dan tersebarnya harta di tengah-tengah manusia. Hal ini sudah nampak terlihat kita bagaimana orang arab bermegah-megahan membangun gedung-gedung yang tinggi hanya untuk bermegah-megahan, misalnya pembangunan menara dubai yang bahkan adalah bangunan tertinggi didunia saat ini, dibawah ini adalah gambar menara dubai.

Gb. 2 menara burj dubai
sungguh apa yang telah disabdakan Rasulullah SAW telah terjadi.


29. Baiknya pengajaran Nabi, yang mana beliau bertanya kepada para shahabatnya, apakah mereka mengetahui orang yang bertanya tadi apa tidak, dalam rangka memberikan pengajaran kepada mereka melalui orang tersebut. Cara ini lebih mengena daripada beliau mengajarkan kepada mereka secara langsung (tanpa diawali dengan pertanyaan), karena jika beliau bertanya kepada mereka kemudian beliau memberitahukan kepada mereka setelah itu, maka yang demikian itu lebih mendorong untuk memahami dan meresapi apa yang beliau katakan.

30. Orang yang bertanya tentang ilmu dapat dianggap sebagai orang yang memberikan pengajaran. Telah lewat isyarat akan hal itu. Akan tetapi, aku ingin menjelaskan bahwa seseorang seyogyanya bertanya apa-apa yang dibutuhkan oleh orang-orang, kendati ia mengetahuinya, dalam rangka mendapatkan pahala pengajaran. Dan Allahlah Dzat Pemberi Taufik.

sumber : ulama sunnah.

Monday, 6 June 2011

Niat adalah titik tolak sebuah amalan

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. 

[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]


Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.

Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.

Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.

Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.

Pertama : Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya.
Misalnya, kalimat pada firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman). (QS. Ar-Ra’d : 7)
Kalimat ini secara sepintas menyatakan bahwa tugas Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya beliau mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar gembira dan lain sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah : “Innamal hayatud dunyaa la’ibun walahwun” à “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”. (QS. Muhammad : 36)
Kalimat ini (wallahu a’lam) menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.

Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.

Kedua : Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya, walahu a’lam

Ketiga : Kalimat “Dan Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya.

Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Wallahu a’lam

Tafsir AL-Anam ayat 116 "mengikuti yang banyak belum tentu benar"


وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ


 “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”
[QS.al-An'am/6: 116]

Gb.1 gambaran kecil tentang ikut-ikutan yang tidak baik
 
Hanya karena kedangkalan ilmu agama maka manusia banyak tertipu oleh kelompok mayoritas, padahal jika manusia mengetahui tabiat manusia yang jelek pasti mereka menyesal mengikuti mereka. Barangsiapa ingin selamat dari makar mereka, simaklah pembahasan berikut:

Makna Ayat Secara Umum

Imam Abu Ja’far ath-Thobari rahimahullah berkata: “Allah azza wa jalla menjelaskan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: Wahai Muhammad, janganlah kamu taat kepada orang yang berpaling dari agama Allah, karena mereka mengajak kamu mengikuti sesembahan mereka. Jangan kamu taati mereka ketika mengajak kamu agar makan sesembelihan yang disajikan untuk tuhan-tuhan mereka, dan yang disembelih dengan menyebut nama tuhan mereka, dan jangan kamu taati perbuatan mereka yang tersesat. 

Jika kamu taat kepada umumnya manusia di permukaan bumi ini, pasti mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah yang benar dan menghalangi kamu dari yang benar juga, karena pada saat itu mereka kufur dan tersesat. Dan jika kamu menaati mereka kamu akan seperti mereka, karena mereka tidak mengajak kamu kepada petunjuk, bahkan mereka telah jatuh kepada kesesatan karena mereka hanya mengikuti dugaan dan kira-kira belaka. 

Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melarang kamu yang demikian itu karena Allah lebih tahu tentang mereka daripada kamu. Wahai Muhammad, ikutilah yang Aku perintahkan kepadamu dan tinggalkan apa yang Aku larang kepadamu dan jangan kamu menaati mereka, dan jangan kamu tinggalkan larangan mereka, karena Aku lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk dan siapa yang tersesat.” [Tafsir ath-Thobari: 12/65]

Komentar Ulama Sunnah Tentang Mayoritas Umat

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Kamu jangan merasa rendah diri karena menempuh jalan yang benar walaupun sedikit orang yang menempuhnya, dan kamu jangan tertipu dengan yang bathil walaupun banyak orang yang mengamalkannya.” [Minhajul Taksis wat Taqdis fi Kasfi Syubuhat, Dawud bin Jarjis: 1/84]

Imam Baidhowi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan umumnya manusia adalah orang-orang kafir atau orang-orang bodoh tentang agama atau pengikut hawa nafsu.” [Tafsir al-Baidhowi: 2/199]

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/270]

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Orang yang berakal sehat jangan tertipu dengan kebanyakan manusia, karena kebenaran tidak ditentukan karena banyak orang yang berbuat, akan tetapi kebenaran adalah syariat Allah azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Majmu' Fatawa wa Maqolat Ibnu Baz: 1/231]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Sebagian menusia jika dilarang dari perbuatannya yang menyimpang dari ajaran syariat Islam atau menyimpang dari adab Islam berargumen umumnya manusia mengerjakannya. Jika demikian, bagaimana kita menjawabnya? Mayoritas bukanlah dasar kebenaran, karena Allah azza wa jalla berfirman (Baca QS.al-An’am/6:116 dan QS.Yusuf/12:103]. Sedangkan tolak ukur kebenaran jika Allah azza wa jalla berfirman dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, atau ulama salafush sholih yang berfatwa.” [Majmu' Fatawa wa Rosa'il, Ibnu Utsaimin: 3/103]

Selanjutnya beliau rahimahullah berkata: “Hendaknya kita tidak tertipu dengan mayoritas, karena mayoritas kada kala tersesat seperti ayat diatas (QS.al-An’am/6:116). Dari sisi lain, jika manusia tertipu dengan mayoritas sehingga dia menduga bahwa dialah yang menang, inilah penyebab manusia menjadi hina. Kamu jangan berkata: Semua manusia berbuat demikian, mengapa kami sendiri yang tidak? Kamu jangan tertipu dengan mayoritas, jangan tertipu dengan umumnya orang yang hancur akidah dan akhlaknya sehingga kamu hancur bersama mereka, dan janganlah kamu tertipu dengan orang yang sukses, sehingga kamu termasuk orang yang sombong, sehingga kamu tinggalkan golongan yang sedikit, sebab boleh jadi yang sedikit itu lebih baik dari pada yang mayoritas.” [al-Qoulul Mufid ala Kitabut Tauhid: 1/7]

Tabiat Dasar Manusia Menurut Al-Qur’an

Pada saat manusia lahir, dia suci dari dosa, karena akal dan indra mereka belum bekerja dengan sempurna. Setelah mereka dewasa dan mengenal lingkungan, terkadang mereka dikalahkan oleh hawa nafsunya sehingga dirinya menjadi hina. Berikut ini tabiat dasar manusia menurut al-Qur’an.

Tabiat-tabiat ini merupakan bukti bahwa sifat dasar manusia adalah menyimpang maka hendaknya kita mengikuti syariat Allah, bukan mengikuti mayoritas manusia.

1. Berbuat zalim

إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [QS.Ibrahim/14:34]

2. Putus asa dari rahmat Allah azza wa jalla dan berbuat kufur

إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ
“Pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” [QS.Hud/11 :9]
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah azza wa jalla mengabarkan tabiat manusia, dia itu bodoh lagi menganiaya diri sendiri, tatkala Allah azza wa jalla merasakan kepada mereka kesehatan, rezeki dan punya anak, lalu Allah azza wa jalla mencabutnya, tiba-triba mereka putus asa dan tidak berharap pahalanya.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/278]

3. Tergesa-gesa mencari yang baik dan yang buruk

وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا
“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” [QS.al-Isro':17: 11]
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Mereka terburu-buru mencari kenikmatan dunia walaupun hanya dapat sedikit, dan lamban mencari akhirat padahal pahalanya cukup besar.” [Tafsir al-Qurthubi/10: 226]

4. Bakhil dalam beramal dan berinfak

وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا
“Dan adalah manusia itu sangat kikir.” [QS.al-Isro'/17: 100]

5. Suka membantah ajaran Islam

وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا
“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” [QS.al-Kahfi/18: 54]
Ibnu Zaid rahimahullah berkata: “Manusia banyak membantah nabinya dan menolak risalah yang dibawanya.” [Tafsir ad-Durul Mansur: 6/376]

6. Sangat bodoh

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” [QS.al-Ahzab/33: 72]
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Manusia itu menganiaya dirinya sendiri dan sangat bodoh dengan perintah Allah dan bodoh membawa amanat.” [Tafsir al-Baghowi: 6/380]

7. Berkeluh kesah

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” [QS.al-Ma'arij/70:19]
Berkata Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah: “Mereka mengeluh ketika ditimpa musibah dan enggan beramal ketika ditimpa kesenangan.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/887]

8. Sangat suka berbuat maksiat

بَلْ يُرِيدُ الإنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ
“Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.” [QS.al-Qiyamah/75:5]
Ibnu Anbari rahimahullah berkata: “Manusia lebih suka berbuat jahat sepanjang umurnya dan tidak ingin bertobat dari perbuatan dosanya.” [Tafsir Fathul Qodir: 7/362]

9. Melampaui batas dari yang wajib, yang haram dan yang mubah

كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.” [QS.al-'Alaq/96:6]
Al Qurthubi rahimahullah berkata: “Manusia melampaui batas berbuat aniaya dan keluar dari ketentuan Allah azza wa jalla.” [Tafsir al-Qurthubi: 6/245]

10. Sedikit bersyukur

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.” [QS.Saba'/34:13]

11. Memiliki sifat lemah jiwa, mudah tergoda

وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” [QS.an-Nisa'/4:28]
Imam Mujahid rahimahullah berkata: “Manusia lemah jiwa dan semangatnya.” Berkata Thowus rahimahullah: “Mereka lemah menghadapi godaan wanita.” [Tafsir Ibnu Katsir: 2/267]
Semua sifat mereka yang jelek ini dan apa yang dikatakan oleh Allah azza wa jalla memang benar menurut kenyataan, lalu bagaimana manusia menyandarkan kebenaran kepada kenyataan yang hina, dan jika sifat yang hina ini dijadikan pegangan hidup manusia tanpa disadari dinul Islam, tentu semua manusia sesat didunia dan diakhiratnya. Firman-Nya azza wa jalla:

وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [QS.Ali Imron/3:164]

Allah azza wa jalla mengingatkan peristiwa keadaan sahabat yang mulanya kafir sebelum masuk Islam, dengan akal dan hawa nafsunya mereka bertengkar satu sama lain, bunuh membunuh, tindas menindas, menghina kedudukan wanita, yang kuat yang menang. Inilah asal tabiat manusia bila dikendalikan oleh hawa nafsunya. Allah azza wa jalla berfirman:
وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” [QS.Ali Imron/3:103]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Makna ‘karena nikmat Allah’ kamu menjadi bersaudara didalam agama yaitu nikmat dinul Islam.” [Tafsir al-Qurthubi: 4/164]

Jika demikian keberadaan pribadi manusia yang jelek sebab mengikuti hawa nafsunya, maka bagaimana manusia bersandar kepada umumnya? Sungguh amat hina hidupnya.

Tabiat Mayoritas Manusia Menurut Al-Qur’an

Setelah kita mengetahui tabiat pribadi manusia menurut al-Qur’an, mari kita melihat keberadaan umumnya manusia sebelum menerima ajaran Islam, bagaimana kehidupan mereka?

1. Umumnya tidak beriman

إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya (al Qur’an) itu benar-benar dari Robbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” [QS.Hud/11: 17]

2. Umumnya menolak ajaran Islam

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلا كُفُورًا
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya).” [QS.al-Isro'/17: 89]

3. Umumnya mereka membenci ajaran Islam

وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ
“Dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.” [QS.al-Mukminun/23: 70]

4. Umumnya berbuat curang

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ
“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih; dan amal sedikit lah mereka ini.” [QS.Shod/38: 24]
Allah azza wa jalla mengabarkan bahwa orang yang benar itu jumlahnya sedikit, akan tetapi sedikit itu tidak membahayakan dirinya.

5. Prinsipnya hanya dugaan belaka

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya  persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” [QS.Yunus/10: 36]

6. Umumnya manusia bodoh, tidak tahu Islam

وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ
“Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [QS.al-An'am/6: 111]
Inilah umumnya sifat manusia, jika mereka mengikuti umumnya pasti akan rusak agama dan akhlaknya, dan pasti hina hidupnya di dunia dan di akhirat.

Mayoritas Umat Menurut as Sunnah

As-Sunnah atau hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bagian daripada wahyu Allah azza wa jalla yang juga memiliki kedudukan sama seperti al-Qur’an dalam hal wajibnya kita berpegang teguh dan beramal, sekalipun beda defisini antara keduanya. Karena Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berbicara masalah urusan ad-Din melainkan berdasarkan wahyu. [Baca QS.an-Najm/53:3-4]

Mayoritas menurut penilaian as-Sunnah pun tidaklah menunjukkan bukti suatu kebenaran, oleh karena itu beliau diutus untuk menghukumi mereka dan bukan sebaliknya. [Baca QS.an-Nisa'/4:105]

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kamu jumpai manusia seperti seratus unta, tidaklah seorang itu menjumpai untanya yang dapat ditungganginya.” [HR.Muslim: 7/192]

Maksudnya yaitu manusia itu jumlahnya banyak, akan tetapi yang diridhoi Allah azza wa jalla hanya sedikit. Seperti seratus ekor unta akan tetapi hanya satu yang bisa ditunggangi. Hadits ini menunjukkan abad yang hina pada akhir zaman. [Syarah Ibnu Bathol: 19/274, ad-Dibaj alal Muslim: 5/491]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku diperlihatkan neraka, tiba-tiba penghuninya mayoritas wanita yang kufur, lalu ada yang bertanya: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri kebaikan keluarga dan mengingkari kebaikan suami, seandainya kamu berbuat baik kepada salah satu di antara mereka selama satu tahun, lalu dia melihat kamu sedikit perkara yang dibenci, dia berkata: “Saya tidak pernah melihat kebaikan dirimu sedikitpun.” [HR.al-Bukhari: 1/59]

Hadits ini menunjukkan mayoritas wanita kurang baik agama dan akhlaknya. Maka bagaimana jika suami mengikuti wanita?
Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut, tetapi dengan mewafatkan ulama, sehingga tidak lagi tersisa seorang alim, maka orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpinnya yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan.” [HR.al-Bukhari: 1/44 dan lainnya]

Hadits ini menunjukkan bahwa pemimpin umat atau pengikutnya banyak yang bodoh, tidak tahu ajaran Islam yang benar.

Umumnya umat Islam banyak yang masuk neraka kecuali satu golongan sebagaimana hadits yang tertera berikutnya. Umumnya orang Islam taklid atau mengikuti orang yang tersesat, maka bagaimana dengan orang selain muslim? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh kamu sekalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga  walaupun  mereka masuk ke dalam sarang biawak kamu sekalian pun akan mengikuti mereka. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Beliau menjawab: Lalu siapa lagi selain mereka?” [HR.al-Bukhari: 3/1274]

Inilah sebagian dalil yang menerangkan mayoritas manusia yang jelek perangainya menurut Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahaya Mengikuti Masyarakat Umum

Dengan bukti dalil di atas yang menjelaskan berbagai macam tabiat manusia yang buruk, dan kenyataan masyarakat pada umumnya, maka orang yang mengikuti umumnya manusia yang dasarnya hanya perkiraan dan hawa nafsu, pasti berbahaya di dunia dan di akhirat. Adapun di antara bahayanya:

1. Manusia pasti dijauhkan dari ajaran Islam

Karena hawa nafsu pasti tidak menerima ajaran Islam. Silahkan baca QS.al-An’am/6: 116 di atas.

2. Hidup manusia pasti dilanda kesedihan dan kehancuran

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأمْرِ لَعَنِتُّمْ
“Dan ketahuilah oleh bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan.” [QS.al-Hujuroot/49: 7]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menuruti kemauan kalian sebelum jelas perkaranya, kalian pasti memperoleh kesulitan, kehancuran dan berlumuran dengan dosa.” [Tafsir al-Qurthubi: 16/314 dan al-Baghowi: 7/339]

3. Penyebab datang musibah dan kebinasaan

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.” [QS.al-Mukminun/23: 71]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hendaklah kalian waspada kepada perkata yang dikerjakan oleh sebagian manusia, karena mereka membangun akidah atau amalnya berpijak kepada pendapat orang tertentu. Apabila mereka mengetahui dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menyelisihi pendapatnya, mereka memalingkan makna nash tersebut sesuai dengan hawa nafsunya, mereka memaksakan al-Qur’an dan as-Sunnah agar mengikuti kehendaknya, padahal mestinya merekalah yang harus mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka menjadikan selainnya keduanya sebagai imam panutan. Inilah jalannya penyembah hawa nafsu, mereka tidak mengikuti kebenaran, maka Allah mencela mereka dengan QS.al-Mukminun/23:71 (diatas).” [Majmu' Fatawa wa Rosa'il, Ibnu Utsaimin: 3/259]

4. Mereka menjadi budak orang yang berkuasa

Orang yang mengikuti umumnya manusia kebanyakan mereka bodoh, tidak mengenal ajaran Islam, sehingga sandaran mereka berpijak kepada tokoh yang berwibawa, padahal dasar bertindak dari tokoh ini ialah hawa nafsu dan dugaan belaka, sedangkan hawa nafsu selalu berubah, pagi hari lain dengan sore hari, maka dengan kekuasaannya mereka mengajak umat bagaikan bola yang ditendang kesana kemari. Lihat kehidupan orang yang fanatik kepada golongan. Baca QS.as-Saba’/34: 33 Tentang penyesalan mereka pada hari kiamat.

5. Hidup mereka pasti berpecah belah

Setiap manusia memiliki pikiran dan keinginan yang berbeda, sedangkan mereka tidak memiliki pemersatunya. Adapun Islam sebagai satu-satunya pemersatu umat mereka membenci dan menolaknya, mereka hanya bangga dengan hawa nafsu dan golongannya. [Baca QS.ar-Rum/30: 31-32]

6. Mereka pencela Islam dan mengolok-ngolok pengikutnya

وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون
“Dan tidak datang seorang rosul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.” [QS.al-Hijr/15: 11]
Perhatikan orang yang mengandalkan hawa nafsunya, pasti mengolok-ngolok orang yang menyampaikan ajaran Islam dan yang mengamalkannya, dan mendiamkan orang yang berbuat maksiat, bid’ah dan syirik.

7. Hidupnya bagaikan hewan yang dikendalikan oleh hawa nafsunya

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebihsesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [QS.al-Furqon/25: 44]

8. Umumnya mereka ahli neraka

Inilah bahaya yang paling berat bagi orang yang mengikuti umumnya manusia hendaknya mereka waspada bahwa manusia akan dihisab amalnya.
إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Robbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” [QS.Hud/11: 119]

10. Mereka pasti menyesal

Selagi akal manusia masih sehat, dia pasti menyesal karena mengikuti umumnya manusia, yaitu mereka banyak menipu orang lain untuk kepentingan pribadi dan hawa nafsunya.
فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.” [QS.asy-Syu'aro'/26: 102]

Jangan Biarkan Dirimu Menyesal Di Kemudian Hari

Orang yang mengikuti mayoritas pasti menyesal di kemudian hari. Sebagaimana firman Allah azza wa jalla:
وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ
“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” [QS.al-Baqoroh/2: 16]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Para pengikut berkata: “Seandainya kami dikembalikan ke dunia maka kami beramal sholih dan kami berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka membiarkan kita ketika datang siksa ini.” [Tafsir al-Qurthubi: 2/206]

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. [QS.al-Mulk/67: 10]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Mereka kembali dalam keadaan mengeluh dan menyesal.” [Tafsir Ibnu Katsir: 2/119]

Dan masih banyak ayat lain yang menjelaskan penyesalan mereka pada hari Kiamat, silahkan baca QS.al-Mukminun/23: 106, QS.al-An’am/6: 27-29, QS.az-Zukhruf/43: 67, QS.Fushshilat/41: 29 dan surat lainnya.

Golongan Yang Selamat Dan Yang Benar
Golongan yang selamat dan benar umumnya hanya sedikit. Firman Allah azza wa jalla:

بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلا يُؤْمِنُونَ إِلا قَلِيلا
 
Bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka.” [QS.an-Nisa'/4: 155]

Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa jumlah umatnya yang di atas sunnah pun hanya sedikit. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Islam itu mulanya aneh dan akan kembali aneh seperti mulanya.” [HR.Muslim 1/90, bersumber dari Ibnu Umar]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa umatnya pada akhir zaman lebih banyak mengikuti hawa nafsu daripada mengikuti sunnah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan akan terpecah belah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah. Lalu ada yang bertanya: Siapakah yang satu itu? Beliau menjawab: Orang yang mengikuti saya pada hari ini dan mengikuti sahabatku.” [HR.Tirmidzi: 6/141 dan lainnya, dihasankan oleh al-Albani, al-Miskat: 171]

Hadits ini menjelaskan kepada kita umat Islam bahwa golongan yang selamat dari api neraka dan golongan yang haq hanyalah orang yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para sahabatnya.

Syaikh Muhammad al-Mubarokfuri rahimahullah berkata: “Golongan yang selamat adalah ahli Sunnah yang jernih pengikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jernih.” [Tuhfatul Ahwadzi: 6/440]

Imam al-Munawi rahimahullah berkata: “Sedangkan sumber golongan yang tersesat dari umat ini ada enam: Khawarij, Qodariyyah, Jahmiyyah, Murjiah, Rofidhoh, dan Jabriyah, masing-masing berpecah belah menjadi dua belas golongan, sehingga jumlah keseluruhan tujuh pula dua.” [Faidhul Qodir: 2/27]

Berkata Syaikh Sholih Fauzan hafizhahullah: “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Orang yang mengikuti sunnahku hari ini dan sahabatku, mereka adalah golongan yang selamat seperti yang dijelaskan oleh Allah azza wa jalla di dalam QS.at-Taubah/9: 100. [Maqolat oleh Syaikh Sholih Fauzan: 2/23]

Golongan yang selamat ini, tidak boleh bersedih dan berkecil hati. Walaupun jumlahnya hanya sedikit akan tetapi tetap menang bila melawan orang ahli bid’ah dan kelompok yang tersesat. Allah azza wa jalla berfirman:

مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS.al-Baqoroh/2: 249]

Allah azza wa jalla akan menghinakan kelompok umat yang tersesat, walaupun jumlah mereka banyak, karena orang yang tersesat mereka mengikuti hawa nafsu dan mencari keuntungan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bahkan jumlahmu pada hari itu banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih seperti kotoran buih yang di atas air.” [HR.Abu Dawud: 2/514. Dishohihkan oleh al-ALbani, Silsilah Shohihah: 2/647]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Senantiasa golongan dari umatku ini membela kebenaran [mereka menang] tidak lah membahayakan bagi mereka orang yang menyelesihinya sampai datang ketentuan Allah, sedangkan dia tetap menang.” [HR.Muslim: 6/52, bersumber dari Shohabat Tsauban]

Imam al-Bukhari rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ‘golongan’ di dalam hadits ini adalah orang yang mengilmui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR.al-Bukhari: 6/2666]

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ‘golongan’ di dalam hadits ini jika bukan ahli hadits saya tidak tahu siapa mereka?” [Tausiril Azizil Hamid: 1/330]

Imam an Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ‘golongan’ di dalam hadits ini: Orang yang berani berperang membela agama Allah, sebagian mereka ahli fiqih, sebagian mereka ahli hadits, sebagian mereka ahli zuhud dan memerintahkan yang ma’ruf dan nahi mungkar, dan sebagian  mereka golongan  yang baik yang lain, mereka tidak harus bersatu di dalam satu tempat, boleh jadi penyebar di semua penjuru bumi.” [Syarah an-Nawawi 'ala Muslim: 6/400]

Semua keterangan di atas memberi kabar gembira kepada orang yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pasti menang di dalam berhujjah dan di bela oleh Allah azza wa jalla sekalipun jumlahnya hanya sedikit. Firman Allah azza wa jalla:

قُلْ لا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ

“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu…” [QS.al-Maidah/5: 100]

Selanjutnya agar kita tidak tertipu oleh musuh-musuh Allah azza wa jalla yang berselimut di dalam wadah dan kelompok, maka kita wajib menuntut ilmu syar’i kepada orang-orang yang membela Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para sahabatnya, mereka adalah ahli hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Dengan menuntut ilmu kita akan mengetahui orang yang tersesat dan mnyesatkan dan mengetahui orang yang menuntun kita kepada petunjuk Allah azza wa jalla dan Sunnah Rasul-Nya.

Hendaknya kita menjauhi orang yang berpegang kepada rasio atau hawa nafsunya, karena mereka pasti memusuhi ajaran Islam dan memusuhi orang yang beriman.

Imam Habbatullah bin Hasan al-Lalikay rahimahullah berkata: “Tanda orang ahli bid’ah dia mencaci ahli atsar ahli hadits.” [I'tiqodi Ahlis Sunnah: 1/179]
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Janganlah kamu berteman kepada ahli bid’ah, karena dia akan menyakitkan hatimu.” [I'tishom: 1/172]

Sebagai umat Islam hendaknya kita bersabar tatkala ditimpa fitnah yang datang dari ahli bid’ah dan hendaknya istiqomah di atas yang haq, karena para pendahulu kita dimenangkan oleh Allah azza wa jalla karena keistiqomahan mereka di atas dua perkata ini.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka menyakini ayat-ayat Kami.” [QS.as-Sajdah/32: 24]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Maka dengan bersabar akan ditinggalkan syahwat dan dengan yakin di atas yang haq akan tergusur kerancuan atau syubhat.” [Iqtidho' Sirothol Mustaqim li Mukholafatil Ashabil Jahim: 1/120]

Upaya lain agar kita tidak menjadi ajang bagi musuh-musuh Islam, hendaknya kita tidak ambisi dunia, karena di antara yang menjadi sebab jauhnya dari dinul Islam adalah karena cinta dunia. Allah azza wa jalla mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama  dengan orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [QS.al-Kahfi/18: 28]

Akhirnya kita mohon kepada Allah azza wa jalla semoga kita senantiasa diberi petunjuk dan dijauhkan dari menyembah hawa nafsu dan pemikiran orang.

Wallahu A’lam.


Sumber :  Majalah al-Furqon Edisi 5 Tahun Kesembilan, Dzulhijjah 1430, Nop-Des 2009 Hal.6-13