Wednesday, 20 July 2016

INILAH DIANTARA KESESESATAN KEYAKINAN SYIAH





Ditulis oleh :
Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.
di Hail, KSA



الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على خاتم الأنبياء والمرسلين، وبعد.
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.
Amma ba'du :
Sebenarnya, sudah lama saya ingin menterjemah buku kecil ini, yang penuh dengan bukti yang akurat dari buku-buku pegangan kaum syi'ah. Tatkala salah seorang ikhwan yang mulia mengirim email kepada saya untuk minta dikirimi makalah tentang syi'ah, disebabkan di kampusnya sedang gencar-gencarnya dakwah syi'ah, maka saya semakin terdorong untuk cepat-cepat menterjemahkan buku ini, agar kerusakan aqidah golongan yang sesat ini bisa diketahui oleh masyarakat umum.
Tulisan ini insya Allah akan saya kirim lewat group diskusi ini secara bertahap menjadi 16 edisi. Terjemahan ini diizinkan untuk disebarluaskan bagi siapa yang ingin menyebarkannya secara cuma-cuma, asalkan tidak dirobah sedikitpun dari tulisannya.
Akhirnya kepada Allah -lah kita memohon agar kita semua diberi keikhlasan dalam beramal shaleh, dan ditetapkan di atas agama-Nya yang lurus, dianugerahkan niat yang baik, dan pemahaman yang benar terhadap Al Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat. Serta dijauhkan dari segala yang merusak akidah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Amiin.


Pendahuluan

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على خاتم الأنبياء والمرسلين، وبعد.
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.
Amma ba'du :
Sesunguhnya motivasi yang mendorong untuk menulis makalah ini adalah apa yang terlihat belakangan ini, yakni, semakin gencarnya kegiatan Rafidhah (syi'ah) dalam mendakwahi ajaran mereka setaraf dunia Islam, dan bahaya terhadap agama islam yang dimiliki oleh golongan yang keluar ini, serta kelengahan dari kebanyakkan dari awam kaum muslimin terhadap bahaya mereka, serta apa-apa yang terdapat dalam akidah mereka berupa syirik, celaan terhadap Al Quran, celaan terhadap para sahabat, ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para imam. Sungguh penyusun telah bertekat untuk menulis makalah ini, dan menjawab apa yang menjadi problem dalam permasalahan ini secara ringkas, mengikuti metode syeikh kita Syeikh Alaamah abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin -semoga Allah menjaganya- dalam kitab beliau ((At Ta'liiqaatu 'Ala Matni Lum'atil 'Itiqaad)), dan dengan cara menukil dari buku-buku Rafidhah yang terkenal dan tersohor di kalangan mereka, serta dari buku-buku ahli sunnah dari kalangan para imam-imam terdalulu dan belakangan, dimana mereka telah membantah dan menerangkan kerusakan akidah mereka yang berdiri atas kesyirikan, ghuluw (sikap berlebih-lebihan), kedustaan, caci maki, celaan, tikaman, dll.
Sesungguhnya penyusun telah berusaha dalam makalah yang singkat dan kurang berharga ini, untuk membuktikan kesalahan mereka dari buku-buku mereka dan karangan-karangan yang terpercaya di kalangan mereka, sebagaimana perkataan Syeikh Ibrahim bin Sulaiman Al Jabhan -semoga Allah menjaganya- : "Dari mulutmu aku menghukummu wahai pemeluk syi'ah".
Akhirnya, penyusun memohon kepada Allah 'Ajja wa Jalla semoga makalah ini bermanfaat bagi orang-orang yang bisa memandang dengan baik, sebagaimana firman Allah:

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya " (Surat : Qoof, ayat : 37).
Dan penyusun mengucapkan terima kasih, kepada setiap orang yang ikut menanam saham bersama penyusun dalam menerbitkan buku kecil ini, Wallahu 'Alam, semoga Allah senantiasa menganugerahkan shalawat dan salam atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.
Ditulis oleh :
Abdullah bin Muhammad As Salafi.



Kapan Munculnya Firqah Rafidhah?

Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin Saba. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi'ah sendiri.
Al Qummi berkata dalam bukunya "Al Maqaalaat wal Firaq"[1] : “Ia mengakui keberadaannya, dan menganggabnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj’iyah Ali[2], dan menampakkan celaan terhadap Abi Bakr, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya "Firaqus Syi'ah"[3]. Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan "Rijaalul Kissyi"[4]. Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syeikh-syeikh besar Rafidhah.”
Al Baghdadi berkata : “Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebiahn lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.”
Al Baghdadi berkata juga : “Adalah ia (Abdullah bin Saba) anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.”
Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba, bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali  mengatakan masalah ghaibah[5] dan akidah raj’iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba. Yang akhirnya syi'ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.
Begitulah syiah membuat bid'ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan[6], karena mengikuti Ibnu Saba orang yahudi itu.


Kenapa Syi'ah Dinamakan Dengan Rafidhah?

Penamaan ini disebutkan oleh syeikh mereka Al Majlisi dalam bukunya "Al Bihaar" dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka[7].
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : "Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakr dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!", lalu beliau menjawab : "Mereka berdua (Abu Bakr dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka". Mereka berkata : "Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai'at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah[8].
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar[9]. Dan dikatakan mereka dinamakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama[10].




Rafidhah Terpecah Menjadi Berapa Firqoh (Golongan)?

Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma'arif bahwasanya : golongan yang muncul dari cabang-cabang syi'ah jauh melebihi dari angka tujuhpuluh tiga golongan yang terkenal itu[11].
Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad[12], sesungguhnya seluruh firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini menjadi tujuh puluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi'ah. Dan sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.
Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga ratus) firqoh[13].
As Syahrastaani berkata : “Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al Ismailiyah[14].”
Al Baghdadi berkata : “Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan : Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah.[15]”
Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari firqoh-forqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.



Apakah dimaksud dengan akidah Al Badaa’ yang diimani oleh Rafidhah?

Al Badaa’ yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna timbulnya pandangan baru. Al Badaa’ sesuai dengan kedua makna itu, haruslah didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah) menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa'.
Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : "Saya telah mendengar Al Ridha berkata : "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa'"[16].  Dan dari Abi Abdillah ia berkata : "Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa'[17]. Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.
Lihatlah wahai saudaraku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan tentang diri-Nya :
Artinya : "Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu ghaib kecuali Allah."
Dan di sisi lain Rafidhah (syi'ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.
Apakah ini keyakinan Islam (akidah Islam) yang dibawa oleh nabi Muhammad -Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam- ??????


Apa Akidah Rafidhah Dalam Masalah Sifat?

Adalah Rafidhah orang yang pertama kali mengatakan tajsiim (bersifat seperti tubuh manusia).  Sungguh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menentukan bahwa sesungguhnya orang yang melakukan kedustaan ini dari kalangan kaum Rafidhah adalah Hisyam ibnul Hakam[18], dan Hisyam bin Salim Al Jawaliqi, Yunus bin Abdurrahman Al Qummi, dan Abu Ja'far Al Ahwal[19].
Seluruh orang yang disebutkan tadi termasuk syeikh-syeikh besar golongan Itsna Asyariyah (Rafidhah), kemudian mereka menjadi pemeluk paham Jahmiyah mu'athilah, sebagaimana sekumpulan riwayat mereka menyifati Rabb semesta alam dengan sifat-sifat negetif yang mereka masukkan sebagai sifat yang tetap bagi Allah. Dan sungguh Ibnu Babawaih meriwayatkan lebih dari tujuhpuluh riwayat yang mengatakan bahwa Allah Ta'ala, tidak disifiti dengan jaman, tidak dengan tempat, tidak dengan bagaimananya, tidak dengan gerak, tidak dengan berpindah, tidak dengan sesuatupun dari sifat-sifat tubuh, Dia bukan yang bisa diraba, bukan bertubuh dan berbentuk."[20] Maka syeikh-syeikh mereka mengikuti jalan (metode) yang sesat ini dengan menta'til (menghilangkan) sifat-sifat yang tercantum dalam AlQuran dan sunnah.
Sebagaimana mereka mengingkari turunnya Allah yang Maha Agung. Mereka mengatakan Al Quran makhluk, mereka mengingkari ru'yah (melihat kepada Allah) pada hari akhirat. Tercantum dalam kitab "Biharul Anwar", bahwasanya Abu Abdillah Ja'far As Shodiq ditanya tentang Allah ta'ala, apakah bisa dilihat pada hari akhirat? Beliau berkata : "Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar, sesungguhnya pandangan tidak akan bisa mencapai kecuali hal-hal yang mempunyai warna dan bentuk, dan Allah yang menciptakan warna-warni dan bentuk".
Bahkan mereka mengatakan : "Jika seandainya dinisbatkan kepada Allah sebagian sifat seperti ru'yah, maka dihukum sebagai murtad, sebagaimana yang didapatkan dari syeikh mereka  Ja'far Al Najfi di kitab "Kasyful Ghitho'" hal : 417. Perlu diketahui bahwasanya melihat kepada Allah pada hari akhirat adalah benar adanya dan sudah konsisten dalam Kitab dan Sunnah tanpa meliputi seluruhnya dan tanpa bagaimananya, sebagaimana firman Allah :
"Wajah-wajah pada saat itu berseri-seri, kepada Rabbnya melihat" (Al Qiyamah : 22,23).
Dan dari sunnah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Jarir bin Abdillalh Al Bajali, berkata : "Adalah kami duduk-duduk bersama Rasulullah, lalu beliau melihat kepada purnama, pada malam empat belas, lalu bersabda : "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang, sebagaimana kalian melihat ini (purnama), dimana kalian tidak berdesakan melihatnya"[21]. Dan ayat-ayat serta hadits-hadits dalam masalah itu banyak sekali, yang tidak memungkinkan kita untuk menyebutkannya.[22]

Apa Keyakinan Rafidhah (Syiah) Terhadap Al Quran-ul Karim Yang Ada Di Tengah-Tengah Kita Sekarang, Padahal Allah Telah Berjanji Untuk Menjaganya?

Sesungguhnya Rafidhah yang dinamakan pada zaman kita sekarang ini dengan syiah, mengatakan sesungguhnya Al Quran yang ada di pada kita, bukanlah Al Quran yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad, akan tetapi telah dirubah, ditukar, ditambah dan dikurangi. Jumhur ahli hadits dari kalangan syi'ah meyakini adanya pelencengan (perubahan) dalam Al Quran seperti yang disebutkan oleh An Nuuri Al Tibrisi dalam kitabnya "Fashlul Khithab Fi Tahrifil Kitabi Rabbil Arbab".[23]
Dan Muhammad bin Ya'qub Al Kulaini berkata di "Ushulul Kafi" di bawah Bab bahasan : "Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengumpulkan Al Quran seluruhnya, kecuali para iman" dari Jabir ia berkata : saya telah mendengar Abu Ja'far berkata : "Tidaklah seseorang dari manusia mendakwakan bahwasanya dia telah mengumpulkan Al Quran secara keseluruhannya sebagaimana Allah telah menurunkannya, kecuali ia itu adalah orang pendusta. Tidak ada yang mempu mengumpulkannya dan menghafalnya seperti yang telah diturunkan Allah kecuali Ali bin Abi Talib dan para imam setelah mereka".
Dan Ahmad Al Tibrisi dalam kitab "Al Ihtijaaj" dan Al Mulla Hasan dalam tafsirnya "As Shaafi" sesungguhnya Umar telah berkata kepada Zaid bin Tsabit : Sesungguhnya Ali telah datang kepada kita dengan membawa Al Quran, yang di dalamnya tercantum aib-aib orang muhajirin dan anshor.
Dan sungguh kami telah memandang untuk mengumpulkan Al Quran dan menghilangkan setiap apa-apa yang di dalamnya terdapat aib-aib muhajirin dan anshr. Dan Zaid pun telah memenuhinya untuk itu, kemudian berkata : "Jika saya telah selesai dari (mengumpulkan) Al Quran sesuai yang anda minta, lalu jelas atas saya akan Al Quran yang dikumpulkannya (Ali), bukankah itu menghancurkan setiap apa yang telah anda kerjakan?
Maka berkata Umar : "Jadi bagaimana jalan keluarnya? Berkata Zaid : Anda lebih tahu dengan jalan keluarnya", berkata Umar : Tiada jalan keluar kecuai kita harus membunuhnya agar kita lega darinya. Lalu ia pun merancang pembunuhannya (Ali) lewat tangan Khalid bin Walid, akan tetapi dia tidak mempu melakukannya[24].
Tatkala Umar menjadi khalifah, mereka (para sahabat) meminta Ali untuk mendatangkan Al Quran kepada mereka, agar mereka sama mereka merubahnya. Lantas Umar berkata : Wahai Abul Hasan, alangkah baiknya kalau seandainya kamu membawa Al Quran yang pernah kamu bawa ke hadapan Abu Bakr, agar kita bersatu atasnya. Lalu Ali berkata : Tidak mungkin, dan tidak mungkin ada jalan untuk itu, sebenarnya saya membawanya ke hadapan Abu Bakr hanyalah untuk menegakkan hujjah atasnya, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat
"Sesungguhnya kami akan hal ini dalam keadaan lengah" (Al A'raf :172), atau agar kalian tidak mengatakan; "Kamu tidak pernah mendatangkannya kepada kami" (Al A’raf : 129). Sesungguhnya Al Quran ini tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, dan orang-orang yang diwasiatkan dari kalangan anakku. Lalu berkata Umar : "Apakah ada waktu untuk menampakkannya diketahui ? Lantas Ali berkata : "Ya, jika telah bangkit seseorang dari anakku, ia akan menampakkannya dan membawa manusia atasnya[25].
Walau bagaimanapun orang syiah menampakkan sikap berlepas dirinya terhadap buku An Nuri al Tibrisi ini, demi mengamalkan akidah Taqiyah, akan tetapi kitab itu terselubung dan tersimpan dalam ratusan nas-nas (pernyataan-pernyataan) dari ulama mereka dalam kitab-kitab yang diakui, menetapkan hal itu, dan bahwasanya mereka betul-betul yakin dengan perubahan itu, dan beriman dengannya, akan tetapi mereka tidak ingin timbul kehebohan sekitar akidah mereka ini terhadap alquran.
Dan tinggal setelah itu, bahwa ada dua Al Quran, yang pertama yang diketahui, dan yang lain khusus, tersembunyi. Diantaranya surat Wilayah, dan diantara yang didakwakan oleh syi'ah Rafidhah, bahwa ada satu ayat telah dihapus dari Al Quran yaitu :
"Dan kami telah menjadikan Ali sebagai menantumu", Mereka mendakwakan ayat ini dihapus dari surat Alam Nasyrah, sementara mereka tidak pernah malu dangan dakwaan mereka ini, karena mereka mengetahui bahwa surat itu adalah makkiyah, dan Ali belum menjadi menantu Nabi saat di Mekah.


Bagaimana Akidah Rafidhah Terhadap Para Sahabat Rasulullah?

Akidah Rafidhah berdiri atas caci maki, mencela dan mengkafirkan para sahabat -semoga Allah meridhoi para sahabat-. Al Kulaini menyebutkan di "Furu' Al Kafi" dari Ja'far 'alaihi salam : "Manusia menjadi murtad setelah Nabi (meninggal) kecuali tiga orang, lalu aku bertanya : siapa tiga orang itu ? beliau berkata : Al miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisi[26].
Al Majlisi dalam kitab "Haqqul Yakin" menyebutkan : "Bahwasanya seorang budak Ali bin Husein berkata kepadanya : saya mempunyai hak pelayanan yang wajib atas dirimu, maka beritahu aku tentang Abu Bakr dan Umar, lalu ia menjawab : "Mereka berdua adalah orang kafir, dan orang yang mencintai mereka maka ia orang kafir juga."[27]
Dalam tafsir Al Qummi pada firman Allah (An Nahl : 90)  :
 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Mereka mengatakan : al fahsyaa' (keji) adalah Abu Bakr, al-munkar adalah Umar dan baghyi (kezoliman) adalah Utsman[28].
Mereka mengatakan dalam buku mereka "Miftahul Jinaan" : Ya Allah anugerahkanlah salawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad dan laknatlah dua berhala kaum Quraisy dan dua yang mereka sembah selain Allah[29]. dan dua thoghut serta anak perempuan mereka berdua....dan seterusnya[30]. Dan yang mereka maksudkan dengan itu adalah Abu Bakr, Umar, Aisyah dan Hafshah.
Pada hari asyura (hari ke sepuluh bulan Muharram), mereka membawa seekor anjing lalu mereka namakan dengan umar, kemudian mereka menghujani dengan pukulan pakai tongkat, serta melontarnya dengan batu sampai mati, kemudian mereka menghadirkan seekor anak kambing, mereka beri nama dengan Aisyah, kemudian mereka mulai mencabut bulunya, dan menghujani dengan pukulan pakai sandal, sampai mati[31].
Sebagaimana mereka merayakan hari terbunuhnya Faruq Umar bin Khatab dan mereka memberi nama pembunuh umar yaitu abu Lu’lu’ al Majusi dengan nama Baba Syujaa'uddin (bapak) pemberani agama (pahlawan agama)[32], semoga Allah meridhoi seluruh sahabat dan para ummul mukminin.
Lihatlah wahai saudaraku muslim, alangkah dengkinya dan alangkah kejinya golongan yang keluar dari agama ini, tentang apa yang telah mereka katakan terhadap manusia pilihan setelah para nabi, yang mana Allah dan rasul-Nya telah memuji mereka. Dan telah sepakat umat ini atas keadilan (kelurusan dan keterpercayaan) dan keutamaan mereka. Sejarah dan kenyataan pun telah membuktikan dan menyaksikan serta perkara-perkara ini sudah merupakan pengetahuan yang wajib diketahui (oleh setiap umat) atas kebaikan, dan posisi mereka selalu di depan serta jihad mereka dalam Islam.
 
Apa Segi Kesamaan Antara Yahudi dengan Rafidhah?

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata : ”Bukti dari, sesungguhnya bencana Rafidhah adalah bencana Yahudi, hal  itu terlihat pada :
v Sesungguhnya orang  Yahudi mengatakan : Tidak boleh yang menjadi raja kecuali dari keluarga nabi Daud, Rafidhah berkata : Tidak boleh menjadi imam kecuali dari anak Ali.
v Yahudi mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Masehid Dajjal dan diturunkan pedang. Orang Rafidhah mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Al Mahdi, dan datingnya penyeru menyeru dari langit.
v Orang Yahudi mengakhirkan (mengundurkan) shalat sampai bintang bertebaran, begitu juga orang Rafidhah mereka mengundurkan shalat maghrib sampai bintang-bintang bertebaran, padahal hadits mengatakan : "Senantiasa umatku di atas  fitrah, selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib sampai bintang bertebaran[33].
v Orang Yahudi telah merubah taurat, begitu juga orang Rafidhah, mereka telah merubah Al Quran.
v Orang Yahudi tidak memandang bolehnya mengusap khuf (sepatu kulit yang menutupi mata kaki), begitu juga orang Rafidhah.
v Orang Yahudi membenci malaikat Jibril, mereka mengatakan : Malaikat Jibril adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Begitu juga orang Rafidhah, mereka mengatakan : Malaikat Jibril telah salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad[34].
v Begitu juga orang Rafidhah meyerupai orang kristen pada satu ajaran nasrani yaitu, wanita-wanita mereka tidak memiliki hak  mendapatkan mahar, akan tetapi hanya bersenang-senang dengan mereka dengan kesenangan, begitu juga orang Rafidhah, mereka menikah dengan cara mut'ah, dan mereka menghalalkan itu.
v Orang yahudi dan kristen lebih utama dari orang Rafidhah dengan satu sifat  (yaitu) :
v Orang yahudi jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Musa.
v Orang Kristen jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah Hawari (sahabat-sahabat) Isa.
v Orang rafidhah jika ditanya : siapakah orang yang terburuk di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Muhammad.”[35]
 

Apa Akidah Orang Rafidhah Terhadap Para Imam Mereka?

Rafidhah mendakwakan kema'suman (terjaga dari dosa) bagi para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui hal ghaib. Dinukil oleh Al Kulaini dalam Usulul Kafi : "Telah berkata Imam Ja'far as Shodiq : "Kami adalah perbendaharaan ilmu Allah, kami adalah penterjemah perintah Allah, kami adalah kaum yang maksum, telah diperintahkan untuk menta'ati kami, dan dilarang untuk menentang kami, kami adalah hujjah Allah yang kuat terhadap siapa yang berada di bawah  langit dan di atas bumi"[36].
Al Kulaini meriwayatkan di Al Kafi : Bab "Sesungguhnya para imam, jika mereka berkehendak untuk mengetahui, maka mereka pasti mengetahuinya". Dari Jafar ia berkata : "Sesungguhnya Imam jika ia berkehendak mengetahui, maka ia pasti mengetahui, dan sesungguhnya para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan sesungguhnya mereka tidak akan mati kecuali dengan pilihan mereka sendiri."[37]
Khumaini yang celaka menyebutkan - dalam salah satu tulisannya bahwa para imam lebih afdhal (mulia) dari para nabi dan rasul, ia berkata  - semoga Allah menghinakannya : "Sesungguhnya imam-imam kita mempunyai suatu kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang didekatkan, dan tidak pula oleh nabi yang diutus"[38].
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : "Orang Rafidhah mendakwakan sesungguhnya agama ini diserahkan kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, maka yang halal itu adalah yang dihalalkan mereka, dan yang haram itu adalah yang diharamkan mereka, serta agama itu adalah apa yang mereka syariatkan".[39]
Jika pembaca ingin melihat kekufuran, kesyirikan dan ghuluw (sikap berlebih-lebihan mereka) -semoga Allah melindungi kita- maka bacalah syair-syair yang diungkapkan oleh syeikh mereka zaman sekarang ini yaitu Ibrahim Al Amili, terhadap Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridhai Ali- :
Abu hasan, engkaulah hakikat Tuhan (yang diibadati),    
dan alamat kekuasaan-Nya yang tinggi.
Engkaulah yang menguasai ilmu ghaib,
maka mungkinkah tersembunyi bagimu akan sesuatu yang hasul.
Engkaulah yang mengendalikan poros alam,
bagimu para ulamanya  yang tinggi.
Bagimu amar (urusan) bila engkau menghendaki, kau menghidupkan besok,
bila engkau menghendaki kau cabut ubun-ubun.
Ali bin Sulaiman Al Mazidi mengutarakan syairnya dalam memuji Ali bin Abi Thalib :
Abu Hasan engkaulah suami orang yang suci,
Dan (engkaulah) sisi tuhan yang diibadati serta jiwa rasul.
Dan (engkaulah) pernama kesempuranaan dan matahari akal,
(engkau) Hamba dari tuhan, dan engkaulah yang Maha Raja.
Engkau dipanggil oleh nabi di hari kadir,
Dan telah menaskan atas dirimu sesuai dengan kejadian Ghadir
Bahwasanya engkau bagi kaum mukminin adalah amir (pemimpin),
dia telah mengkalungkan kepadamu buhul kekuasaannya.
Kepadamulah kembalinya seluruh perkara,
dan engkaulah yang maha mengetahui dengan kadungan dada.
Engkaulah yang akan membangkitkan apa yang ada dalam kubur
Bagimulah pengadilan hari kiamat berdasarkan kepada nas.
Engkaulah yang maha mendengar dan engkaulah yang maha melihat
Engkau atas setiap sesuatu maha mampu.
Kalaulah tidak karena engkau, pasti bintang tidak berjalan
Kalaulah tidak karena engkau, pasti planet tidak berputar.
Engkaulah, dengan setiap  makhluk mengetahui,
Engkaulah yang berbicara dengan ahli kitab.       
Kalaulah tidak karena engkau, tidak mungkin musa
akan diajak berbicara, Maha suci Dzat yang telahmenciptakanmu
Engkau akan melihat rahasia namamu di jagat raya,
Kecintaan terhadap dirimu seperti matahari di atas kening.
Kebencian terhadap dirimu di wajah orang yangmembenci,
Bagaikan peniup api, maka tidak akan beruntung yangmembencimu.
Siapa itu yang telah ada, dan siapa itu yang ada,
Tidak  para nabi dan tidak (pula) para rasul,
Tidak (pula) qalam lauh dan tidak (pula) alamsemesta,
(kecuali) Seluruhnya adalah hamba-hamba bagimu.
Wahai Abu Hasan wahai yang mengatur wujud,
(wahai) goa orang yang terusir, dan tempat berlindungpendatang.
yang memberi minum pengagungmu pada hari berkumpul(hari kiamat).
orang yang mengingkari hari berbangkit, adalah orangyang mengingkarimu.
Wahai Abu Hasan wahai Ali yang gagah.
Kesetiaan padamu bagiku di dalam kuburku sebagaitanda penunjuk,
Namamu bagiku dalam keadaan sempit merupakan lambang
Dan kecintaan kepadamu adalah yang memasukkanku kedalam surgamu
Dengan lantaran dirimu kemulian yang ada pada diriku.
Bila datang perintah Tuhan yang Maha Mulia
Menyeru penyeru, berangkat-berangkat(kematian-kematian).
Dan tidaklah mungkin engkau akan meninggalkan orangyang berlindung denganmu.
Apakah syi'ir seperti ini diucapkan oleh seorang muslim yang memeluk agama Islam?, Demi Allah, bahkan sesungguhnyaorang-orang jahiliyah (Kafir) sekalipun belum pernah jatuh dalam kesyirikan dankekufuran, terlalu muja-muji / ghuluw seperti yang diperbuat oleh orang rafidhahcelaka ini.[40]
 
Apa Akidah Raj’ah Yang Diimani Oleh Orang Rafidhah?

Orang Rafidhah telah membuat bidah Raj’ah, berkata Al Mufid : "Telah sepakat mazhab Imamiyah atas wajibnya terjadi Raj’ah di kebanyakan dari para orang yang telah mati"[41]. Yaitu (yang mereka maksudkan dengan Raj’ah ini) bangkitnya penutup imam-imam mereka, yang bernama Al Qaaim pada akhir zaman, ia keluar dari bangunan di bawah tanah, lalu menyembelih seluruh musuh-musuh politiknya, dan mengembalikan kepada syiah hak-hak mereka yang dirampas oleh kelompok-kelompok lain sepanjang masa (yang telah berlalu)[42].
Berkata sayid Al Murtadho di dalam kitabnya "Al Masail An Nashiriyah" : "Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar disalib pada saat itu di atas suatu pohon di zaman Al Mahdi -yakni imam mereka yang kedua belas- yang mereka beri nama Qaaim Ali Muhammad (penegak keluarga Muhammad), dan pohon itu pertamanya basah sebelum penyaliban, lalu menjadi kering setelahnya[43].
Berkata Al Majlisi di dalam Kitab "Haqul Yakin" dari Muhammad Al Baqir (berkata) : "Jika Al Mahdi telah keluar, maka sesungguhnya ia akan menghidupkan 'Aisyah Ummul Mukminin dan ia melaksanakan (menjatuhkan) hukum had (hudud) atas diri Aisyah".[44]
Kemudian bagi mereka pemahaman Raj’ah ini berkembang, dan mengatakan (berlakunya) Raj’ah (kembali hidup) seluruh orang syiah dan imam-imam mereka dan seluruh musuh mereka bersama imam-imam mereka. Akidah khurafat ini mengungkapkan rasa dengki yang tersembunyi di dalam diri mereka, yang mereka mengungkapkan rasa dengki itu dengan cerita dongeng seperti ini. Dan adalah keyakinan ini merupakan sarana (jembatan) yang diambil oleh orang-orang Sabaiyah untuk mengingkari hari akhirat.

 
Apa Akidah Taqiyah Menurut Orang Rafidhah?

Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama mereka zaman sekarang dengan ucapannya : "Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan dengan apa yang kamu yakini[45]; untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu"[46].
Bahkan mereka mendakwakan bawah sesungguhnya Rasulullah telah melakukannya (Taqiyah) tatkala Abdullah bin Ubai bin Salul kepala orang-orang munafik meninggal, dimana beliau datang untuk menyolatkannya, lalu Umar berkata kepadanya : Tidakkah Allah telah melarangmu dari hal itu? -yakni berdiri di atas kuburan munafik ini-, lalu Rasulullah menjawabnya : "Celaka kamu, kamu tidak tahu apa yang saya ucapkan : sesungguhnya saya mengucapkan : Ya Allah isilah perutnya dengan api, dan penuhilah kuburannya dengan api dan selalulah api membakar dirinya ".[47]
Lihatlah wahai saudaraku muslim, bagaimana mereka telah menyandarkan kepada diri Rasulullah kedustaan. Apakah masuk akal, bahwa para sahabat Rasulullah mendoakan rahmat untuknya (Abdullah bin Ubai), sedangkan Nabi melaknatnya?
Al Kulaini menukilkan di usul Kafi : " Berkata Abu Abdillah: "wahai Abu Umar sesungguhnya sembilan per sepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak pada (akidah) Taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan Taqiyah, Taqiyah ada pada setiap sesuatu kecuali di nabidz (korma yang direndam dalam air untuk membuat arak) dan di dalam menyapu atas khuuf (kaus atau kulit kulit)." Dan dinukilnya juga dari Abi Abdillah ia berkata : "Jagalah agama kalian dan tutuplah agama itu dengan Taqiyah, karena tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai Taqiyah."[48]
Maka orang Rafidhah memandang Taqiyah itu adalah fardu (wajib), tidak akan berdiri mazhab ini kecuali dengan Taqiyah, dan mereka menerima pokok-pokok mazhab secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Mereka selalu melaksanakannya Taqiyah itu terlebih-lebih, bila konsisi yang sulit telah mengepung mereka, maka hati-hatilah dari orang Rafidhah wahai kaum muslimin.


Apa Keyakinan At-thiinah (Tanah) Yang Diimani Oleh Orang Rafidhah?

Yang dimaksud dengan at thiinah (tanah) menurut orang Rafidhah adalah tanah perkuburan Husain –radhiallahu ‘anhu-. Salah seorang dari orang-orang sesat mereka yang bernama Muhammad An Nu’man Al Haritsi yang bergelar dengan “Syeikh Al Mufid”, menukilkan di kitabnya “Al Mazaar” dari Abi Abdillah ia berkata : “Di tanah perkuburan Husain terdapat obat untuk segala penyakit dan ia merupakan obat yang paling besar (ampuh)”.
Berkata Abdullah : “Oleskanlah di mulut bayi kalian tanah (perkuburan) Husain”
Ia berkata : Telah dikirim kepada Abi Hasan Al Ridha dari negeri Khurasan sebuah bungkusan kain di antaranya terdapat segumpal tanah, maka dikatakan kepada utusan itu : Apa ini? Ia berkata : Tanah perkuburan Husain, tidaklah ia mengirim sedikitpun dari bungkusan kain atau lainnya, kecuali ia meletakkan di dalamnya tanah itu, dan berkata tanah itu pengaman insya Allah. Dikatakan kepadanya : Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Shadiq tentang pengambilannya akan tanah perkuburan Husain, maka Shodiq menjawab : “Apa bila kamu mengambilnya maka ucapkanlah : “Ya Allah sesungguhnya saya meminta kepadamu disebabkan oleh hak malaikat yang telah mengenggamnya (tanah ini), dan meminta kepadamu, disebabkan oleh hak Nabi yang telah menyimpannya, dan oleh hak Al Washi (Ali) yang telah bersatu di dalamnya agar Engkau melimpahkan Shalawat kepada Muhammad dan atas keluarga Muhammad dan agar Engkau menjadikannya obat penawar untuk seluruh penyakit, dan pengaman dari seluruh ketakutan, dan penjaga dari seluruh kejahatan.
Abu Abdillah ditanya tentang penggunaan dua jenas tanah dari perkuburan Hamzah dan pekuburan Husain serta mana yang paling utama diantara keduanya, maka ia berkata : “Tasbih yang dibuat dari tanah perkuburan Husain akan bertasbih (sendirinya) ditangan, tanpa (pemiliknya) bertasbih.”[49]
Sebagaimana orang Rafidhah mendakwakan, sesungguhnya orang syi’ah tercipta dari tanah yang khusus dan orang Sunni tercipta dari tanah yang lain, lalu terjadilah pengadukkan antara kedua tanah tadi dengan cara tertentu, maka apa-apa yang terdapat pada orang syiah dari kemasiatan dan kejahatan, maka itu merupakan pengaruh dari tanah sunni, dan apa-apa yang terdapat pada orang sunni dari kebaikan dan anamah, maka itu disebabkan oleh pengaruh tanah syi’ah. Dan apabila pada hari Kiamat nanti, maka kejelekan dan dosa-dosa orang syi’ah diletakkan di atas Ahli Sunnah, dan kebaikan (pahala) Ahli Sunnah akan diberikan kepada orang syi’ah.[50]
 
Apa Akidah Orang Rafidhah Terhadap Ahli Sunnah?

Akidah orang Rafidhah berdiri di atas penghalalan harta dan darah ahli sunnah. Al Shoduq di kitab (Al ‘Ilal) meriwayatkan dengan sanadnya kepada Daud bin Farqad, ia berkata : “Saya telah berkata kepada Abi Abdillah : Apa yang anda katakan terhadap An Naashib (Ahli Sunnah), ia berkata : “Darahnya halal, akan tetapi saya berTaqiyah atasmu, jika kamu mampu untuk membalikkan dinding atas dirinya (ahli sunnah) atau menenggelamkannya di laut, agar ia tidak akan bersaksi atas dirimu, maka lakukanlah. Saya berkata : Apa pandanganmu di hartanya? Ia menjawab : “Ambillah semampumu”.[51]
Bahkan orang syi’ah Rafidhah memandang, bahwa kekafiran Ahli Sunnah lebih berat dari kekafiran orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka (Yahudi dan Nasrani) menurut Rafidhah orang-orang kafir asli, dan mereka ini (ahli sunnah) adalah kafir murtad, dan kafir murtad lebih berat menurut ijma’, oleh karena itu mereka (mau) berkerja sama dengan orang-orang kuffar untuk melawan kaum muslimin, hal itu seperti yang disaksikan oleh sejarah.[52]
Terdapat di dalam kitab “Wasaail As Syi’ah” (diriwayatkan) dari Al Fudhail bin Yasaar, ia berkata : saya telah bertanya kepada Abu Ja’far tentang wanita ‘Arifah (yakni wanita bermazhab Rafidhah) apakah saya menikahkannya dengan An Nashib (ahli Sunnah)? Maka ia berkata : “Tidak; karena Nashiba (ahli sunnah ) orang kafir.”[53]
An Nawasib (orang-orang An Nasib) menurut pemahaman Ahli sunnah adalah mereka yang membenci Ali bin Abi Thalib –radhiallahu ‘anhu-, akan tetapi menurut orang Rafidhah, mereka menamakan Ahli sunnah dengan Nawashib (An Nashib), karena mereka mendahulukan keimaman Abu Bakr, dan Umar dan Utsman atas Ali, padahal sesungguhnya mengutamakan Abu Bakr dan Umar atas diri Ali telah terjadi sejak zaman Nabi, dalilnya perkataan Ibnu Umar : “Adalah kami di zaman rasulullah memilih di antara sahabat siapa yang terbaik, maka kami memilih (orang yang terbaik) Abu Bakr, kemudian Umar kemudian Utsman”. (H.R. Bukhari), dan ditambah oleh At Thabrani di Kitab “Mu’jam Al Kabir” : Nabi pun mengetahui hal yang demikian dan tidak mengingkarinya”. Dan bagi Ibnu Asaakir : “Adalah kami mengutamakan Abu Bakr, dan Umar, dan Utsman dan Ali”.
Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib sesungguhnya ia berkata : “Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakr, kemudian Umar, kalau aku berkehendak pasti aku telah menyebutkan orang yang ketiga”. Berkata Adz Dzahabi : Ini (Hadits ini) Mutawatir.”[54]
 
Apa Keyakinan Orang Rafidhah Tentang Nikah Mut’ah? Dan Apa Keutamaannya Menurut Mereka?

Nikah mut’ah mempunyai keutamaan yang agung sekali di sisi orang Rafidhah –Al’iyaadzu billah-. Tercantum dalam kitab “Manhaj As Shodiqin” karangan Fathullah Al Kaasyaani dari As Shodiq (menerangkan) bahwasanya nikah mut’ah itu adalah dari ajaran agamaku dan agama bapak-bapakku, dan orang yang melaksanakannya berarti dia mengerjakan ajaran agama kita, dan orang yang mengingkarinya berarti dia mengingkari ajaran agama kita, bahkan ia memeluk agama lain dari agama kita. Dan anak (hasil) nikah mut’ah lebih mulia dari anak istri yang tetap. Orang yang mengingkari nikah mut’ah adalah kafir murtad.”[55]
Al Qummi menukilkan di dalam kitab “Man Laa Yahduruhu Al Faqiih” dari Abdulah bin Sinan dari Abi Abdillah, ia berkata : “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan atas golongan kita setiap yang memabukkan dari sertiap minuman, dan telah mengganti mereka dari hal itu dengan nikah mut’ah”[56].
Orang Rafidhah tidak pernah menyaratkan (membatasi) bilangan tertentu dalam nikah mut’ah. Tercantum dalam kitab “Furuu’ Al Kafi” dan At Tahdziib” dan “Al Istibshoor” dari Zaraarah, dari Abi Abdillah, ia berkata : “Saya telah menyebutkan kepadanya akan nikah mut’ah apakah nikah mut’ah itu (terjadi) dari empat (yang dibolehkan), ia berkata : nikahilah dari mereka-mereka (para wanita) seribu, sesungguhnya mereka-mereka itu adalah wanita yang disewa (dikontrak). Dan dari Muhammad bin Muslim dari Abi Ja’far sesungguhnya ia berkata tentang nikah mut’ah : “Bukan nikah mut’ah itu (dilakukan) dari empat (istri yang dibolehkan), karena ia (nikah mut’ah) tidak ada talak, tidak mendapat warisan, akan tetapi ia itu hanyalah sewaan”[57].
Bagaimana mungkin ini, padahal Allah telah berfirman :

Artinya : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. (Al Mukminun : 5-7).
Maka jelaslah dari ayat yang mulia ini bahwa sesungguhnya apa yang dihalalkan dari nikah adalah istri dan budak perempuan yang dimiliki, dan diharamkan apa yang lebih dari (selain) itu. Wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan, maka ia bukanlah istri (yang sah), dan ia tidak bisa mendapatkan warisan dan tidak bisa ditalak, jadi dia itu adalah pelacur / wanita pezina –wal’iyaadzubillah-.
Syeikh Abdullah bin Jibriin berkata : “Orang Rafidhah berdalih dalam menghalalkan nikah mut’ah dengan ayat di surat An Nisa’ yaitu firman Allah :

Artinya : “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban;”. (An Nisa : 24).
Jawab : Sesungguhnya ayat ini semuanya dalam masalah nikah; dari firman Allah ayat 19 di surat An Nisa sampai 23, setelah Allah menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi karena nasab dan sebab, kemudian Allah berfirman : Artinya : “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.”
Maksudnya dihalalkan bagimu menikahi selain wanita-wanita (yang disebutkan tadi) bila kamu menikahi mereka untuk bersenang-senang yaitu bersetubuh yang halal, maka berikanlah mahar mereka yang telah kamu wajibkan untuk mereka, dan jika mereka mengugurkan sesuatu dari mahar-mahar itu berdasarkan dari jiwa yang baik (keridhoan hati), maka tidak mengapa atas kamu dalam hal itu. Beginilah ayat ini ditafsirkan oleh jumhur (mayoritas) sahabat dan orang-orang setelah mereka[58]. 
Bahkan di sisi (menurut) orang Rafidhah perkaranya telah sampai menghalalkan menyetubuhi wanita di lubang anusnya. Tercantum dalam kitab “Al Istibshoor” dari Ali bin Al Hakam ia berkata : “Saya telah mendengar Shofwan berkata : “Saya telah berkata kepada Al Ridha : Sesungguhnya seorang laki-laki dari budak-budakmu memerintahkan saya untuk menanyakan kepadamu akan suatu masalah, maka dia takut dan malu kepadamu untuk menanyakanmu, ia berkata : apa itu? Ia berkata : Apakah boleh bagi laki-laki untuk menyetubuhi wanita (istrinya) di lubang anusnya? Ia menjawab : Ya, hal itu boleh baginya”[59].


Apa Keyakinan Orang Rofidhah Terhadap Najaf Dan Karbala? Dan Apa Keutamaan Menziarahinya Menurut Mereka?

Orang syi’ah sungguh telah menjadikan tempat-tempat perkuburan imam-imam mereka baik imam dakwaan mereka belaka atau hakiki, sebagai tempat yang haram dan suci (seperti maram Makkah) : maka kota Kufah adalah haram, Karbala haram, Qum haram. Dan mereka meriwayatkan dari As Shidiq : “Sesungguhnya Allah memiliki haram yaitu kota Mekkah, dan Rasulullah memilik haram yaitu kota Madinah, dan Amirul mukminin memiliki haram yaitu kota Kufah dan kita memiliki haram yaitu Qum.
Karbala menurut mereka lebih afdhol (utama) dari Ka’bah. Hal ini tercantum dalam kitab “Al Bihaar” dari Abi Abdillah bahwasanya ia berkata : “sesungguhnya Allah telah mewahyukan ke Ka’bah; kalaulah tidak karena tanah Karbala, maka Aku tidak akan mengutamakanmu, dan kalaulah tidak karena orang yang dipeluk oleh bumi Karbala (Husain), maka Aku tidak akan menciptakanmu, dan tidaklah Aku meciptakan rumah yang mana engkau berbangga dengannya, maka tetap dan berdiamlah kamu, dan jadilah kamu sebagai dosa yang rendah, hina, dina, dan tidak congkak dan sombong terhadap bumi Karbala, kalau tidak, pasti Aku telah buang dan lemparkan kamu ke dalam Jahanam.[60]
Dan tercantum juga di dalam kitab “Al Mazaar” karangan Muhammad An Nu’man yang diberi gelar dengan syeikh Mufid, di dalam Bab “Ucapan saat berdiri di atas kuburan” yaitu orang yang menziarahi kuburan Husain mengisyaratkan dengan tangan kanannya sambil mengucapkan doa yang panjang, diantaranya :
“Saya datang berziarahmu, untuk mencari keteguhan kaki di dalam berhijrah kepadamu, dan sungguh saya telah meyakini bahwasanya Allah Jalla Tsanaauhu, dengan lantaranmu Dia melapangkan kesulitan, dan dengan lantaranmu Dia menurunkan Rahmat, dan dengan lantaranmu Dia menahan bumi yang jatuh bersama penduduknya, dengan lantaramu Allah mengokohkan gunung-gunung di atas pondasinya, dan sungguh saya telah menghadap (munajat) kepada Rabbku, bahwa dengan lantaranmu wahai tuanku untuk menyelesaikan hajat kebutuhan dan keampunan dosa-dosaku.”
Dan tercantum dalam kitab “Al Mazaar” tentang keutamaan kota Kufah, dari Ja’far Al Shodiiq ia berkata : “Tempat yang paling mulia (utama) setelah haram Allah dan haram rasul-Nya adalah kota Kufah, karena kota Kufah Suci bersih, di sana terdapat kuburan para nabi dan rasul dan ahli wasiat yang jujur, dan di sana terlihat keadilan Allah, dan di sana datang Qaimah (penegak) dan pengegak-penegak setelahnya, Kota Kufah itu tempat turunnya para nabi dan ahli wasiat serta orang-orang yang sholeh[61].
Lihatlah wahai pembaca yang budiman, bagaimana mereka itu jatuh dalam kesyirikan, karena mereka meminta kepada selain Allah dalam menyelesaikan dan memenuhi hajat kebutuhan, meminta dan memohon pengampunan dosa-dosa kepada manusia, bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan Allah telah berfirman :

“Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah” (Ali Imran : 135).
Kita berlindung dengan Allah dari perbuatan syirik.

 
Apa Segi Perbedaan Antara Syi'ah Rafidhah Dengan Ahli Sunnah?

Berkata : Nizhomuddin Muhammad Al 'Azhomi di dalam mukaddimah buku "Syiah dan Nikah Mut'ah" : Sesungguhnya perbedaan antara kita dengan mereka bukanlah terpokus di perbedaan cabang-cabang fikih, seperti masalah nikah mut'ah saja, sama sekali tidak, sesungguhnya perbedaan itu pada dasarnya adalah perbedaan dalam masalah pokok-pokok prinsip, ya.. perbedaan dalam akidah terpokus di beberapa point dibawah ini :
1. Rafidhah mengatakan sesungguhnya Al Quran dirubah (diselewengkan) dan kurang.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan : Sesungguhnya Al Quran adalah kalamullah lengkap tanpa ada kekurangan, tidak pernah dan tidak akan dihinggapi oleh penukarbalikan, mengurangan dan perubahan sampai Allah mewariskan bumi ini dan orang-orang yang ada di atasnya (hari Kiamat), sebagaimana Allah berfirman:

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr : 9)
2. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah terkecuali beberapa orang, telah murtad setelah rasulullah wafat, dan mereka berbalik 180 derajat, dan mereka mengkhianati amanah dan agama, terutama tiga orang khalifah; As Shidiq (Abu Bakr), Al Faruq (Umar) dan Dzu Nurain (Utsman), oleh karena itu mereka yang bertiga ini menurut mereka (Rafidhah) adalah termasuk orang yang paling bersangatan kekufuran, kesesatan dan kesalahannya.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi, dan sesungguhnya mereka itu adalah adil (istiqomah) seluruhnya, tidak pernah sengaja berdusta atas nabi mereka, mereka orang-orang yang terpercaya dalam menukilkan berita.
3. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para imam adalah imam-imam Rafidhah yang dua belas yang ma'shum (terjaga dari dosa), mereka mengetahui hal ghaib, dan mengetahui seluruh ilmu yang dikeluarkan (diajarkan) kepada para malaikat, para nabi dan para rasul, dan sesungguhnya mereka mengetahui ilmu yang terdahulu dan sekarang, dan tidak ada yang tersembunyi bagi mereka sesuatu apapun, dan sesungguhnya mereka mengetahui seluruh bahasa alam semesta, dan sesungguhnya seluruh bumi ini adalah milik mereka.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan, sesungguhnya mereka itu adalah manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya, tiada perbedaan antara mereka, diantara imam-imam itu adalah ahli fikih, ulama dan khalifah, dan kita tidak menisbahkan kepada mereka apa yang tidak pernah mereka katakan terhadap diri mereka sendiri, bahkan kita berlepas diri darinya dan mereka pun (para imam) berlepas diri dari hal itu.[62]

 
Apa Keyakinan Orang Rafidhah Pada Hari Asyura (Sepuluh Muharram) Dan Apa Keutamaannya Menurut Mereka?

Sesungguhnya Rafidhah mengadakan perayaan dan perkumpulan dan ratapan tangis, mereka melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan umum. Mereka memakai pakaian hitam tanda duka cita dalam memperingati mati syahidnya Husain dengan mengonsentrasikan pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram di setiap tahun, dengan keyakinan sesungguhnya perbuatan itu termasuk dari sebaik-baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka mereka memukul-mukul pipi mereka dengan tangan mereka sendiri, memukul-mukul dada dan punggung mereka. Mereka merobek-robek baju sambil menangis dan berteriak-teriak dengan menyeru : wahai Husain, wahai Husain. Terlebih-lebih pada hari ke sepuluh setiap bulan Muharram, bahkan mereka memukul diri mereka sendiri dengan rantai besi dan pedang, seperti yang terjadi di negeri-negeri yang dihuni oleh Rafidhah seperti Iran.
Dan para ulama mereka mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang bodoh ini dimana hal itu menjadi bahan tawaan semua umat. Sungguh salah seorang dari pembesar mereka yaitu Muhammad Hasan Alu Kasyif al Ghatha, telah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh pengikut golongannya seperti menukul dan menampar wajah.... dst, ia berkata : sesungguhnya ini termasuk dari mengagungkan syiar-syiar Allah :[63]

"Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati". (QS. 22:32)


Apakah Keyakinan Orang Rafidhah Tentang Bai'at

Orang Rafidhah menganggap setiap pemerintahan selain pemerintahan Itsna 'Asyara (syi'ah Itsna "asyarah/ Imammiyah/ Rafidhah) adalah pemerintahan yang batil (tidak sah). Diriwayatkan di dalam kitab "Al Kaafii" dengan syarahan (uraian) Al Mazandaraani dan di dalam kitab Al Ghaibah oleh An Nu'mani, dari Abi Ja'far, ia berkata : "Setiap bendera yang diangkat (dikibarkan) sebelum bendera Al Qaaim -Mahdinya orang Rafidhah- maka pemiliknya adalah thoghut".[64]
Dan tidak boleh menta'ati seorang hakim yang bukan dari Allah, kecuali dengan cara Taqiyah (kemunafikan), penguasa yang absolut dan zholim tidaklah pantas untuk menjadi pemimpin, dan setiap pemimpin yang bersifat yang serupa dengan itu. Seluruhnya gelar itu mereka memberikan nama itu kepada penguasa kaum muslimin yang bukan dari imam-imam mereka, orang paling utama dari mereka itu adalah khulafaurasyidin -semoga Allah meridhoi mereka- yaitu : Abu Bakr, Umar dan Utsman.
Tokoh Rafidhah Al Majlisi, dimana ia merupakan salah seorang dari orang-orang yang sesat dari mereka, pengarang kitab "Bihaarul Anwar", berkata tentang tiga orang khalifah rasyidin : "Sesungguhnya mereka tiada lain kecuali perampas yang zholim, murtad dari agama, semoga laknat Allah atas mereka dan terhadap orang-orang yang mengikuti mereka di dalam menzholimi ahlu bait dari pertama sampai terakhir".[65]
Inilah yang dikatakan oleh imam mereka Al Majlisi yang kitabnya dikatagorikan ke dalam reffrensi mereka (rujukan) yang pokok dan terpenting dalam hadits mengenai umat yang paling mulia setelah para rasul dan nabi.
Berdasarkan kepada keyakinan mereka terhadap khilifah kaum muslimin, maka mereka menganggap setiap orang yang bekerjasama dengan mereka adalah thoghut dan zholim. Al Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Hanzholah, ia berkata : "Saya telah bertanya kepada Abu Abdillah tentang dua orang dari golongan kita, di antara mereka berdua terjadi perselisihan dalam masalah agama atau harta warisan, lalu mereka berdua berhukum (minta diselesaikan secara hukum) kepada penguasa dan kepada hakim, apakah hal itu halal? Ia berkata : barangsiapa berhukum (meminta diselesaikan secara hukum) kepada mereka, dengan kebenaran atau kebatilan, maka sesungguhnya mereka berhukum kepada thoghut, dan apa yang telah diputuskan untuknya sesungguhnya yang ia ambil adalah harta haram, walaupun sebenarnya itu haknya, karena ia telah mengambilnya dengan hukum thoghut".[66]
Berkata Khumaini yang celaka -semoga Allah menghukumnya dengan hukum sepantas dan setimpal- dalam mengomentari pembicaraan mereka ini : "Imam itu sendiri dilarang untuk merujuk kepada penguasa-penguasa dan hakim-hakim mereka, dan merujuk kepada mereka dikatagorikan merujuk kepada thoghut."[67]



Apakah Hukum Usaha Mendekatkan Antara Ahli Sunnah Yang Bertauhid Dengan Rafidhah Yang Musyrik?

Saudaraku pembaca yang budiman, saya cukupkan saja dalam masalah ini, dengan mencantumkan tulisan dari tulisan-tulisan DR. Nashir AL Qafari di dalam kitabnya : "Masalah At Taqriib", yaitu tulisan yang ke tujuh, dimana beliau berkata -semoga Allah menjaganya :
"Bagaimana mungkin mendekatkan antara orang yang mencaci kitab Allah dan menafsirkannya tidak sesuai dengan tafsirannya, dan mendakwakan turunnya kitab-kitab ilahi (wahyu) kepada imam-imamnya setelah Al Quranul Karim?, dan ia memandang keimaman itu adalah kenabian, para imam baginya seperti para nabi dan bahkan lebih mulia, dan ia menafsirkan mengibadati Allah semata yang mana itu adalah inti dari misi (ajaran) para rasul seluruhnya tidak sesuai dengan maknanya yang hakiki, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya ibadah itu adalah ta'at kepada para imam. dan sesungguhnya syirik kepada Allah adalah mentaati selain mereka (para imam) bersama mereka, ia mengkafirkan orang-orang yang terbaik dari para sahabat rasulullah, dan mengkliem seluruh para sahabat dengan murtad, kecuali tiga atau empat atau tujuh sesaui dengan perbedaan riwayat mereka. Dan orang ini (orang Syiah) tampil berbeda dengan keganjilan dari jamaah kaum muslimin dengan masalah-masalah akidah dan keyakinan di dalam keimaman, kemaksuman (terjaga dari dosa), Taqiyah (kemunafikan), dan mengatakan Raj’ah (imam kembali ke dunia), Al qhaibah (menghilangnya As Kaari) dan Al Bada'[68]."[69]


Apakah Perkataan Para Imam Terdahulu Dan Belakang Tentang Rafidhah (Syi'ah)?

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata: "Dan sungguh telah sepakat ahli ilmu dalam bidang naql, riwayat dan sanad, bahwasanya Rafidhah adalah yang paling pendusta dari kalangan kelompok-kelompok (yang sesat), berbohong terdapat dalam diri mereka sudah sejak lama, oleh karena inilah para imam-imam Islam menggelarkan keistimewaan mereka dengan sering (banyak) berdusta.
Asyhab bin Abdul Aziz telah berkata : Imam Malik telah ditanya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab : Janganlah kamu berbicara dengan mereka, dan janganlah mengambil riwayat dari mereka, sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (pembohong).
Dan berkata Imam Malik : orang yang mecaci maki para sahabat Rasulullah, maka ia tidak berhak mendapatkan nama, atau tempat di dalam Islam.
Berkata Ibnu Katsir di dalam firman Allah :

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min)". (Al Fath : 29).
"Dari ayat ini, maka Imam Malik menyimpulkan di dalam satu riwayat darinya, dengan mengkafirkan orang-orang rafidhah dimana mereka membenci para sahabat, beliau berkata : "Karena para sahabat menjengkelkan hati mereka (orang-orang rafidhah), barangsiapa yang dijengkeli oleh para sahabat maka ia adalah kafir oleh ayat ini".
Al Qarthubi telah berkata : "Sungguh Imam Malik telah berbuat baik dalam ucapannya dan ia telah benar dalam menafsirkannya, maka barangsiapa mencela seorang saja dari mereka atau mencela riwayatnya maka ia sungguh telah membantah Allah Rabb semesta alam, dan telah menggugurkan syari'at-syari'at kaum muslimin."[70]
Abu Hatim telah berkata : " Telah menceritakan kepada kami Harmalah, ia berkata : Saya telah mendengar Imam Syafi'i berkata : "Saya belum pernah melihat seseorang yang lebih mudah bersaksi dengan kepalsuan daripada Rafidhah".
Muammil bin Ahab telah berkata : "Saya telah mendengar Yazid bin Harun berkata : "Ditulis (riwayat hadits) dari setiap pelaku bid'ah bila tidak mengajak ke bid'ahnya, kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka itu pendusta."
Dan Muhammad bin Sa'ad Al Ashbahaani telah berkata : "Saya telah mendengar syeikh Syuraik berkata : "Ambillah ilmu itu dari setiap orang yang kamu jumpai kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka membuat-buat (memalsukan) hadits, dan mereka menjadikan hal itu sebagai agama". Syuraik ini adalah Syuraik bin Abdullah Qodhi (hakim) kota Kufah.
Mu'awiyah telah berkata : "Saya telah mendengan Al 'Amasy berkata : Saya menjumpai sekelompok manusia, dan mereka tidaklah menyebutkan tentang mereka (rafidhah) kecuali (digolongkan kepada) orang-orang sangat pembohong", maksudnya (mereka pembohong itu) adalah pengikut AL Mughirah bin Sa'id yang bermadzhab rafidhah lagi pendusta, seperti yang disifati oleh imam Adz Dzahabi.[71]
Syeikhul Islam telah berkata dalam mengomentari apa yang dikatakan oleh para imam salaf : "Dan adapun Rafidhah asal usul bid'ah mereka diambil dari Zindiq dan kufur serta unsur kesengajaan, kebohongan banyak sekali di tengah-tengah mereka, dan mereka mengakui hal itu, dengan mengatakan : Agama kita adalah Taqiyah, yaitu salah seorang dari mereka mengucapkan dengan lidahnya berbeda dengan apa yang ada di hatinya. Dan inilah hakikat kebohongan dan kemunafikan, maka mereka dalam hal itu sebagaimana pepadah : "Ia telah melemparku dengan penyakitnya lalu ia lari".[72]
Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal : Saya telah bertanya kepada bapakku tentang Rafidhah, maka ia mengatakan : "Yaitu orang-orang yang mencaci maki atau mencela Abu Bakr dan Umar". Dan Imam Ahmad ditanya tentang Abu Bakr dan Umar, maka ia menjawab : Doa'kanlah mereka berdua agar diberi rahmat, dan berlepas dirilah dari orang yang membenci mereka berdua".[73]
Al Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr Al Marwazi, ia berkata : Saya telah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr dan Umar serta 'Aisyah, maka ia berkata : "Saya tidak memandangnya di dalam Islam (artinya orang yang mencaci itu telah keluar dari Islam-pent).[74]
Al Khallal meriwayatkan, ia berkata : Saya telah diberi tahu oleh Harb bin Ismail Al Karmaani, ia berkata : Telah bercerita kapada kami Musa bin Harun bin Ziad, ia berkata : saya telah mendengar Al Firyaabi sedangkan seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr, ia berkata : Kafir. Lalu ia berkata lagi, apakah disolatkan? Ia berkata: Tidak."
Ibnu Hazam telah berkata : tentang Rafidhah tatkala ia berdebat dengan orang Kristen, dan orang-orang memberikan kepadanya kitab-kitab Rafidhah untuk bantahan terhadapnya (Ibnu Hazam dan berkata) : sesungguhnya Rafidhah bukanlah kaum muslimin, dan perkataan mereka bukanlah argumen terhadap agama, akan tetapi Rafidhah itu hanyalah suatu golongan, mula terjadinya kira-kira duapuluh lima tahun setelah Nabi Wafat, dan permulaannya adalah merespon pangilan orang yang hampir masuk islam dari orang-orang yang dihina Allah. Rafidhah itu adalah kelompok yang berjalan atas jalan ajaran Yahudi dan Nasrani dalam kebohongan dan kekufuran."[75]
Abu Zur'ah Ar Raazi berkata : "Bila kamu melihat seseorang yang mencaci salah seorang dari para sahabat Rasulullah, maka ketahuilah sesungguhnya dia itu Zindiq."
Lajnah Daimah Lil Iftak (Lembaga Tetap untuk Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya dengan satu pertanyaan, dalam pertanyaan itu penanya mengatakan bahwa ia dan sekelompok teman bersamanya berada di perbatasan utara berdekatan dengan cek point negara Iraq. Di sana ada sekelompok penduduk yang bermadzhab Al Ja'fariyah, dan diantara mereka (kelompok penanya) ada orang yang enggan untuk memakan sembelihan penduduk itu, dan diantara mereka ada yang makan, maka kami bertanya: Apakah halal bagi kami untuk memakan sembelihan mereka, ketahuilah sesungguhnya mereka berdoa minta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta seluruh pemimpin-pemimpin mereka di dalam keadaan sulit dan keadaan lapang ? Lalu Lajnah (lembaga) yang diketuai oleh Syeikh Abdul 'Aziz bin Abdullah bin Baz dan (anggota-anggotanya); Syeikh Abdul Razaq 'Afifi, Syeikh Abdullah bin Ghudayan, dan Syeikh Abdullah bin Qu'uud, semoga Allah memberi pahala kepada mereka semua.
Jawabannya : Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga dianugerahkan kepada rasul-Nya dan keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya, dan adapun selanjutnya:
Jika permasalahannya seperti yang disebutkan oleh penanya, bahwa sesungguhnya jamaah (kelompok) yang memiliki ajaran Ja'fariyah, mereka berdo'a dan meminta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta pemimpin-pemimpin mereka, maka mereka itu adalah orang-orang musyrik murtad, kelaur dari agama Islam, semoga Allah melindungi kita dari itu, tidaklah halal memakan sembelihan mereka, karena sembelihan itu adalah bangkai, walaupun mereka menyebut nama Allah saat menyembelihnya."[76]
Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin ditanya, soal itu berbunyi : wahai syeikh yang mulia, di negeri kami terdapat seorang rafidhah (bermadzhab syi'ah rafidhah) bekerja sebagai tukang sembelih, maka ahlusunnah datang kepadanya untuk menyembelih sembelihan mereka, dan begitu juga sebagian rumah makan, bekerja sama dengan orang rafidhah ini, dan dengan rafidhah lainnya yang berprofesi sama, apakah hukumnya bertransaksi atau berkoneksi dengan orang rafidhah ini dan semisalnya? Apakah hukum sembelihannya, apakah sembelihannya halal atau haram, berikanlah kepada kami fatwa, semoga syeikh diberi pahala oleh Allah.
(Beliau menjawab) Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh wa ba'du: Tidaklah halal sembelihan orang rafidhah, dan juga memakan sembelihannya, sesungguhnya orang rafidhah pada umumnya adalah orang-orang musyrik, dimana mereka selalu menyeru Ali bin Abi Thalib di waktu sempit dan lapang, sampai di Arafah dan saat tawaf dan sa'i, mereka juga menyeru anak-anak beliau dan imam-imam mereka seperti yang sering kita dengar dari mereka, perbuatan ini adalah syirik akbar dan keluar dari agama Islam yang berhak dihukum mati atasnya.
Sebagaimana mereka sangat berlebih-lebihan dalam menyifati Ali, mereka menyifati beliau dengan sifat-sifat yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah, sebagaimana kita mendengarnya dari mereka di Arafah, dan mereka disebabkan perbuatan itu telah murtad, yang mana mereka telah menjadikannya sebagai Rabb, Sang Pencipta, dan Yang mengatur Alam, Yang mengetahui ghaib, yang menguasai kemudaratan dan manfaat, dan semisal itu.
Dan sebagaimana mereka mencela Al Quran, mereka mendakwakan bawah para sahabat telah merubah, menghilangkan dari Al Quran ayat-ayat yang banyak berhubungan dengan Ahlu Bait dan musuh-musuh mereka, lalu mereka tidak berpedoman kepada Al Quran dan mereka tidak memandangnnya sebagai dalil dan argumen.
Sebagaimana mereka mencela pemuka-pemuka sahabat, seperti tiga orang khalifah rasyidin, dan selain mereka dari orang yang diberi kabar gembira jaminan masuk surga, para umul mukminin (istri-istri rasulullah), para sahabat yang terkenal, seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan semisalnya, maka mereka tidak menerima hadits-hadits para sahabat tersebut, karena mereka itu orang kafir menurut dakwaan mereka, mereka tidak mengamalkan hadits-hadits di Bukhari Muslim kecuali yang berasal dari Ahlu Bait. Mereka bergantung dengan hadits-hadits palsu atau hadits-hadits yang di dalamnya tidak ada bukti atas apa yang mereka katakan. Akan tetapi walaupun demikian, mereka itu adalah bersikap munafik, maka mereka mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada pada hati mereka (yang tidak mereka yakini), mereka menyembunyikan di diri mereka apa yang tidak mereka tampakkan kepadamu, mereka berkata : barangsiapa tidak bersikap Taqiyah (nifaq) maka tidak ada agama baginya. Maka dakwaan mereka itu tidak bisa diterima dalam ukhwah persaudaraan, dan dakwaan mereka akan cinta syari'at... dan seterusnya. Sikap nifaq adalah merupakan akidah bagi mereka. Semoga Allah menjaga (kita) dari kejelekan mereka, semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam keada Muhammad, dan keluarga beliau serta para sahabatnya.[77]




[1] Lihat "Al Maqaalaat wal Firaq" oleh Al Qummi, hal : 10-21
[2] Keyakinan bahwa Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiyamat
[3] Lihat "Firaqus Syi'ah" oleh An Nubakhti, hal : 19-20
[4] Lihat : apa yang dicantumkan oleh Al Kissyi dalam beberapa riwayat dari Ibnu Saba dan akidah-akidahnya, lihat no : 170, 171, 172, 173, 174, dari hal : 106-108
[5] Keyakinan menghilangnya imam Askari yang mereka tunggu-tunggu
[6] Ushul 'Itiqad Ahli Sunnah Wal Jama'ah, Al Lalikaai, 1/22-23
[7] Lihat buku : Al Bihaar, oleh Al Majlisi, hal : 68-96-97. (Dia ini merupakan salah seorang tempat bertanya orang-orang rafidhah (syi'ah) untuk zaman-zaman terakhir).
[8] At Ta'liiqaatu 'Ala Matni Lum'atil 'Itiqaad, oleh : Syeikh Alaamah Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, -semoga Allah menjaganya-, hal : 108.
[9] Lihat : catatan kaki buku Maqaalaat Al Islamiyiin, oleh Muhyiddin Abdul Hamid, (1/89).
[10] Lihat : di buku Maqaalaat Al Islamiyiin, (1/89).
[11] Daairatul Ma'arif, (4/67).
[12] Dia adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Al Asadi, termasuk tokoh besar syi'ah
[13] Dia adalah Al Maqrizi du Al Khuthath, ((2/351).
[14] Al Milal wan Nihal, oleh As Syahrastani, hal :147
[15] Al Farqu Bainal Firaq, oleh Al Baghdadi, hal : 41
[16] Ushulul Kafi, hal :40
[17] Ushulul Kafi, oleh Al Kulaini di kitab tauhid : 1/133
[18] Minhaaj sunnah (1/20) oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah
[19] 'Itiqadaat Firaqul Muslimin Wal Musyrikin, hal : 97
[20] At Tauhid, oleh Abu Babawaih, hal : 57
[21] Bukhari no : 544, dan Muslim no : 633
[22] Lihat karangan-karangan Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam menetapkan ru'yah, seperti kitab Ar Ru'yah oleh Daruqutni, dan kitab imam Al Lalikai dan lainnya
[23] Fashlul Khithab, oleh Hasan bin Muhammad Taqiyun Nuri Al Tibrisi, hal : 32
[24] Lihatlah saudara seiman, alangkah kejinya kisah yang dibuat-buat oleh kaum syiah terhadap para sahabat
[25] Al Ihtijaaj oleh Al Tibrisi hal :225, kitab Fashlul Khithab, hal : 7
[26] Furuu' Al Kafi, oleh Al Kulaini, hal : 115
[27] Haqqul Yakiin, oleh Al Majlisi, hal : 522. Di sini perlu di isyaratkan bahwa sesungguhnya Ali bin Hasein dan Ahlu Bait semuanya berlepas diri dari semua ini yaitu kedustaan yang diada-adakan oleh kaum Rafidah atas diri mereka, semoga Allah memerangi kaum rafidhah, alangkah jeleknya kedustaan yang mereka buat. (Insya Allah penterjemah akan membuat satu edisi yang berisikan sikap Ahlul Bait terhadap para sahabat, yang akan diambil dari buku-buku pegangan mereka sendiri, agar pembaca mengetahui sebenarnya mereka telah menyelisihi ahlul Bait sendiri dalam bersikap terhadap para sahabat Rasul.)
[28] Tafsir Al Qummi, hal : 218
[29] Ketahuilah pembaca budiman : Mereka sendiri telah menjadikan kuburan Kumaini sebagai tempat yang suci, dan mendirikan di atasnya bangunan seperti Ka'bah sebagai tandingan Ka'bah kita yang mulia
[30] Miftahul Jinaan, hal : 114. Lihat doa dua berhala Quraisy, insya Allah di edisi ke 15
[31] Tabdiidul Zhilaam wa tanbiihun Niyam, oleh Ibrahim Al Jabhaan, hal : 27
[32] Abbas Al Qummi, (Alkuna wal Alqaab) 2/55
[33] Hadits diriwayatkan oleh : Imam Ahmad : 4/147. 5/417, 422, Abu Daud, no : 418, dan Abnu Majah, no : 689, di dalam jawaid dikatakan : sanadnya hasan (baik).
[34] Ada juga suatu kelompok yang mengatakan yang aneh-aneh, mereka mengatakan : sesungguhnya Jibril telah berkhianat, dimana ia menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad, sedangkan yang lebih utama dan lebih berhak terhadap risalah adalah Ali bin Abi Thalib, oleh karena inilah mereka mengatakan : telah berkhianat Amiin (malaikan jibril) dan ia telah menghalang risalah sampai ke Haidari (Ali).
Wahai saudaraku muslim, bagaimana mungkin mereka menuduh Jibril Alaihi salam telah berkhianat, sedangkan Allah telah menyifatinya dengan amanah (terpercaya), sebagaimana Allah telah berfirman : Telah dibawa oleh Ruhul Amiin (malaikat Jibril), dan firman-Nya : selalu taat kemudian terpercaya". Apakah yang akan anda katakan wahai muslin terhadap keyakinan yang diimani oleh orang-orang rafidhah ini?
[35] Minhaajus Sunnah, oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : 1/24
[36] Usulul_Kafi, hal : 165. (marikita simak apa firman Allah yang menerangkan tentang sifat nabi Muhammad, Allahberfirman dalam surat Al An'am ayat 50 : (artinya) : "Katakanlah : "Aku tidakmengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) akumengatakan yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorangmalaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.."(pent)
[37] Usulul Kafi, di dalam kitabulHujjah : (1/258). (mengetahui mati dan di mana akan mati itu adalah rahasia yangtidak diketahui kecuali hanya Allah semata, Allah berfirman  dalam surat Lukmanayat 34,  (artinya) : "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalahpengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan danmengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yagn dapat mengetahui(denga pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapatmengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahi lagiMaha Mengenal." (pent)
[38] Hukumatul Islamiyah, Khumaini,(berarti para imam mereka lebih mulia dari Rasulullah sendiri, apakah perkataanseperti ini boleh keluar dari mulut seorang muslim yang memeluk agama Islam???? pent)
[39] Minhajus Sunnah, oleh SyeikhulIslam Ibnu Taimiyah  (1/482).
[40] Penterjemah melihat sendiribagaimana cara mereka membaca syair-syair di kuburan baqi' (madinah), dibacakandan dinyanyi-nyanyikan oleh kepala regunya,  yang lain menangis dan merapatseperti orang Yahudi meratap di depan dinding mesjid Aqsha
[41] Awaailul Maqaalaat, oleh Al Mufiid, Hal : 51
[42] Al Khuthuthul 'Ariidhah, oleh Muhibbudin Al Khatiib, hal : 80
[43] Awaailul Maqaalaat, oleh syeikh mereka yang bergelar Al Mufiid, Hal : 95.
[44] Haqul Yakiin, oleh Muhammad Al Baqir Al Majlisi, hal : 347.
[45] Inilah hakikat kemunafikan, yaitu menampakkan sesuatu yang  tidak sesuai dengan apa yang dibatin, atau menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Dengan kata lain, takiyah / nifak itu adalah lain di mulut lain di hati. Itulah akidah orang syiah, maka hati-hatilah dari tipu muslihat mereka, (pent).
[46] As Syi'ah fil Mizaan, oleh Muhammad Jawaad Mughniyah, hal : 48
[47] Furuu'ul Kafii, kitab AL Janaaiz, hal : 188
[48] Usuulul Kafii, hal : 482-483
[49] Kitab Al Mazaar, oleh syeikh mereka yang bergelar “Syeikh Al Mufid” hal : 125
[50] ‘Ilal-As Syaraai’ hal : 490-491, Bihar Al Anwar : 5/247-248
[51] Al Mahasin An Nafsaaniyah, Hal : 166.
[52] Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Sesungguhnya orang Rafidhah berkerjasama dengan orang-orang Tatar tatkala orang Tatar menyerang negeri kaum Muslimin. (Fatawa : 35/151). Lihatlah kitab :Kaifa Dakhalat Tatar Bilaadal Muslimin (Bagaimana orang Tatar (bisa) masuk ke negeri kaum muslimin) oleh Dr. Sulaiman bin Hamd Al Audah
[53] Wasaail As Syi’ah, oleh Al Hur Al ‘Amili (7/431), At Tahdzib (7/303)
[54] At Ta’liiqaat ‘Ala Matan Lum’atil ‘Itiqaad, oleh Syeikh kita Al Allamah Abdullah bin Jibrin –semoga Allah menjaganya-, hal : 91
[55] Manhaj As Shodiqiin, karangan Mulla Fathullah al Kasyaani, hal : 356
[56] “Man Laa Yahduruhu Al Faqiih”, hal : 330.
[57] Al Furuu’ min Al Kafii, (2/43), dan kitab “ At Tahdziib” (2/188).
[58] Dari perkataan Syeikh Ibnu Jibrin semoga Allah mengangkat darajatnya, adapun dalil dari Sunnah dalam mengharamkan nikah mut’ah adalah hadits Ar Rafi’ bin Sirah Al Juhani, sesungguhnya bapaknya menceritakan kepadanya bahwa sesungguhnya ia (bapaknya) bersama rasulullah, maka beliau bersabda : wahai Manusia sesungguhnya saya pernah mengizinkan untuk kalian bersenang-senang dengan perempuan (nikah mut’ah), dan sesungguhnya Allah sungguh telah mengharamkan hal itu (nikah mut’ah) sampai hari Kiamat, barangsiapa yagn memiliki seseorang wanita darinya maka hendaklah ia melepaskannya, dan janganlah kalian mengambil sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan kepadanya.” (H.R. Muslim no : 1406).
[59] Al Istibshoor, (3/243).
[60] Kitab Al Bihaar : (10/107)
[61] Kitab Al Mazaar, karangan Muhammad An Nu’man yang diberi gelar dengan syeikh Mufid, hal : 99.
[62] Mukaddimah kitab As- Syi'ah wal Mut'ah, oleh Nizhomuddin Muhammad Al 'Azhomi, Hal : 6.
[63] Perbuatan yang bodoh dan lucu ini dilakukan mereka setiap tahun. Dan ketahuilah sesungguhnya Nabi telah melarang di dalam hadits yang shahih yang dikeluarkan oleh Muslim dengan no : 103, melarang menampar wajah (pipi) dan merobek baju..., akan tetapi orang Rafidhah -semoga Allah mempermalukan mereka- membuang hadits ini jauh-jauh, karena mereka ini adalah firqah (golongan) yang paling pendusta terhadap Rasulullah.
[64] Kitab "Al Kaafii" dengan syarahan (uraian) Al Mazandaraani, dan lihat kitab Al Bihaar (25/113).
[65] Kitab Al Bihaar oleh Al Majlisi (4/385).
[66] Kitab "Al Kaafii" oleh Al Kulaini (1/67), kitab At Tahdziib (6/301) dan kitab Man Laa Yahsuruhu Al Faqiih : (3/5).
[67] Al Hukumaatul Islamiyah, hal : 74.
[68] Defenisi ini lihat kembali edisi-edisi yang telah berlalu, diantaranya edisi : 2, 6 dan 7.
[69] "Masalah At Taqriib" DR. Nashir AL Qafari (2/302).
[70] Ushul Madzhab As Syi'ah Al Imamiyah Al Itsna Asyara, oleh Dr. Nashir AL Qafaari, (3/1250).
[71] Minhaajus Sunnah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Timiyah, (1/59-60).
[72] Minhaajus Sunnah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Timiyah, (1/68).
[73] Al Masail dan Al Rasail Al Mawiyah 'An Imam Ahmad bin Hambal, oleh Abdul Ilah bin Sulaiman Al Ahmadi, (2/357).
[74] As Sunnah oleh Khalal (3/493). Ini merupakan pernyataan yang jelas dari imam Ahmad dalam menghukum kafir orang Rafidhah.
[75] Al Fashlu Fi Al Milal wa An Nihal, oleh Ibnu Hazam (2/78).
[76] Fatwa Lajnah Daimah Lil Iftak, (2/264).
[77] Fatwa ini keluar dari syeikh setelah dilontarkan kepada beliau suatu soal yang berhubungan dengan sikap bergaul sama orang rafidhah pada tahun 1414 H, dan penyusun ingin menerangkan sekitar apa yang terdengar bahwa syeikh Abdullah AL Jibrin -semoga Allah melindunginya- beliau seorang yang mengkafirkan orang-orang Rafidhah, yang benarnya adalah bawah para imam dari terdahulu sampai belakangan ini mengkafirkan kelompok ini, hal itu disebabkan karena hujjah telah ditegakkan kepada mereka, dan hilangnya uzur kebodohan dari mereka. (Insya Allah penerjemah akan membuat edisi khusus tentang perkataan ulama salaf terhadap rafidhah).

DOWNLOAD EBOOK DAJJAL MUNCUL DARI SEGITIGA BERMUDA



EBOOK ini menceritakan tentang seluk beluk dajjal dari ia lahir sampai, keluarnya yang menimbulkan banyak kekacauan dan kesesatan manusia.

untuk mendownload ebook kami silahkan klik dibawah ini :


DOWNLOAD EBOOK BIOGRAFI SETAN

Setan atau syetan (bahasa Ibrani: הַשָׂטָן ha-Satan, "sang penentang bahasa Arab: الشيطان asy-Syaiṭon, "sesat atau jauh", - keduanya dari akar kata bahasa Semit: Ś-Ṭ-N), adalah perwujudan dari antagonisme yang bersumber dari agama-agama Samawi, yang biasanya merujuk pada Lucifer di dalam kepercayaan Yahudi dan Kristen, kemudian Iblis pada kepercayaan Islam.

Untuk mendownload ebook ini klik dibawah ini "


Monday, 18 July 2016

Tanda Kiamat "Munculnya Ulama Artis Yang pasang Tarif"


Mukadimah

Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Akan keluar di akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka berpakaian di hadapan orang lain dengan pakaian yang dibuat dari kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang banyak, dan perkataan mereka lebih manis dari gula. Padahal hati mereka adalah hati serigala (mempunyai tujuan-tujuan yang buruk). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada mereka, "Apakah kamu tertipu dengan kelembutan-Ku ? Ataukah kamu terlalu berani berbohong kepada-Ku? Demi kebesaran-Ku, Aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim (cendekiawan) pun akan menjadi bingung (dengan sebab fitnah itu)." (HR.Tirmizi)

LATAR BELAKANG

Banyaknya ustaz yang sering muncul di media baik televisi, cetak dan elektronik membentuk asumsi bahwa mereka adalah ustaz selebritis. Ustaz merupakan seorang guru yang mengajarkan ajaran agama untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat. Memang tidak selamanya seorang ustaz harus menyampaikan dakwahnya di dalam masjid, mereka (ustaz) bisa menyebarkan ajaran-ajaran agama melalui media, seperti televisi dan media elektronik. Dengan meningkatnya popularitas mereka, maka masyarakat akan lebih gampang menerima transferan ilmu dari sang ustaz

Namun walaupun ketika ustaz telah terkenal dan disebut-sebut sebagai ustaz selebritis, dia tetap harus menjalankan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru. Ustaz selebritis itu hanya penamaan saja, hanya label saja. Ustaz itu memiliki tugas dan fungsi sebagai pencerah dan penyadar masyarakat agar para muslim selalu dalam ajaran-ajaran agama Islam. Mereka mencerdaskan masyarakat untuk menjadikan masyarakat yang hebat. Selama mereka menjalankan fungsinya sebagai ustaz, sah-sah saja disebut ustaz selebritis, walaupun cara penyampaiannya agak berbeda

Para ustaz selebritis tersebut kadang-kadang menampilkan keglamouran dan materi yang berlimpah kepada publik melalui sorotan media. Namun mereka tetap memberikan nilai-nilai religius di dalam kehidupan mereka. Perjuangan mereka untuk menyebarkan agama memang tidak mengenal ruang dan waktu. Bahkan ujian yang dihadapi para ustaz selebritis ini lebih berat. Banyak cibiran-cibiran di kalangan masyarakat apabila mereka memasang tarif dalam berdakwah ataupun memperlihatkan materi mereka kepada khalayak umum.

Derry Sulaiman mantan gitaris band thrash metal, Betryer. Dia mengatakan bahwa ustaz yang memasang tarif sebelum berdakwah hukumnya adalah haram. Dakwah pasang harga buat saya haram. Biasanya artis yang minta upah bukan ustaz. Kalau ustaz terkenal ada manajemen, harus diluruskan lagi. Ustaz apa artis?," ujarnya  Dia mengaku tersinggung ketika ada seseorang yang ingin mengundangnya untuk berdakwah, namun menanyakan berapa tarif yang harus dibayarkan kepada Derry. Dia pun berkata akan lain persoalannya jika mengundangnya untuk bernyanyi. Jadi kalau ngundang saya dakwah, kasih tahu saja alamatnya, biar nanti saya datang sendiri. Kalau kebutuhan keluarga saya tercukupi, buat anak jajan, saya akan datangi dengan biaya sendiri. Kalau cukup, kita datang bersama rombongan," pungkasnya.

Komentar penulis :

Memang beginilah tanda akhir zaman makin marak ustadz ustadz gaul yang marak ditelevisi yang berceramah kadang yang banyak bercandanya hanya demi menarik perhatian pemirsa, kalau laris kan otomatis dia diundang terus ditelevisi dengan begitu bayaran dia terus bertambah. Dia tidak menyadari telah menukar agama dengan harga yang sangat rendah, agama bukanlah barang dagangan karena meski emas sebesar bumi tak mampu menebus harga agama diahirat nanti.

Seperti sabda nabi saw :

Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat terhadap iman) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman di waktu pagi, kemudian di waktu sore dia sudah menjadi kafir, atau   seseorang yang masih beriman di waktu sore, kemudian pada keesokan harinya dia sudah menjadi kafir. Dia telah menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia ", (HR. Muslim).


Wallahu Alam

 

 

Sunday, 17 July 2016

Download Ebook Sungguhkah Anda Ingin Masuk Surga?



sungguhkah anda ingin masuk surga, akan tetapi kita belum bersungguh sungguh dalam menempuh menuju jalannya, inginkah anda bersungguh sungguh?jangan lewatkan ebook ini. download dibawah ini :


Friday, 15 July 2016

DOWNLOAD EBOOK BAI'AT SUNAH VS BIDAH



Inilah tulisan singkat yang dilengkapi dengan dalil-dalil ilmiah baik dalil naqli maupun aqli, tentang masalah ba'iat yang syar'i bai'at itu hanya boleh untuk khalifah saja atau untuk semua manusia ? Disertai penjelasan pendapat yang benar tentang bai'at agar menjadi terang dan gamblang bagi pencari kebenaran
(al-haq).

Untuk mendownload Ebook ini klik dibawah ini




Thursday, 14 July 2016

Download Ebook Perayaan Natal 25 Desember Antara Dogma dan Toleransi


Buku ini membahas tentang bahaya-bahaya kesyirikan dan kekufuran yang ditimbulkan akibat perayaan natal, kadang orang mengatas namakan toleransi untuk bisa merayakan hari besar agama lain padahal itu toleransi  yang salah kaprah dan tidak bertanggung jawab serta merusak akidah.

untuk lebih jelasnya anda dapat mendownload ebook kami dibawah ini :






Wednesday, 13 July 2016

DOWNLOAD EBOOK BACAAN ALQURAN BUKAN UNTUK ORANG MATI

Adalah kebiasaan di beberapa daerah, orang membaca kitab suci al-Qur’ân –atau membaca surat Yâsin- kemudian pahalanya dihadiahkan untuk orang yang telah mati. Bahkan sebagian orang, ada menyewa atau membayar seseorang atau sekelompok orang untuk membaca al-Qur’ân dan menghadiahkan pahalanya kepada keluarganya yang telah meninggal dunia. Pembacaan al-Qur’ân ini terkadang dilakukan di rumah duka, di kuburan atau lainnya. Benarkah perbuatan mereka itu menurut syari’at Islam

untuk lebih jelasnya anda dapat mendownload ebook dibawah ini :


Monday, 11 July 2016

Download Ebook Al-Asas (Tafsir Al-Fatihah)

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

alhamdulillahirobbil alamin, wassholawatuassalamu ala muhammadin.
Al-Fatihah merupakan satu-satunya surah yang dipandang penting dalam salat. Salat dianggap tidak sah apabila pembacanya tidak membaca surah ini. Dalam hadits dinyatakan bahwa salat yang tidak disertai al-Fatihah adalah salat yang "buntung" dan "tidak sempurna". Walau begitu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak hafal Al-Fatihah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca:
"Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah."
Dalam pelaksanaan salat, Al-Fatihah dibaca setelah pembacaan Doa Iftitah dan dilanjutkan dengan "Aamiin" dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur'an (pada rakaa'at tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam salat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur'an. Sedangkan pada rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.

Untuk lebih mendalami isi kandungan al-fatihah anda dapat mendownload ebook jadul kami karya said hawa, meski jadul tapi ilmu itu takkkan pernah ketinggalan jaman :



Saturday, 9 July 2016

Mutiara Islam : Waspadalah dengan sekecil apapun kesombongan

Sesungguhnya iblis mampu memanfaatkan sekecil apapun kesombongan dalam hati seorang manusia baik itu alim dan ahli ibadah kemudian membinasakan mereka dengan kesombongan itu. tidak jarang alim dan abid yang mati kufur karena kesombongannya sendiri. kenapa iblis itu cerdik dan sangat pengalaman. jangankan kita orang awam. ahli ibadah saja mati kafir akibat digoda iblis. setahu kami iblis itu dulu adalah mantan pemimpin malaikat yang juga hancur akibat kesombongannya sendiri. bahkan dia pernah sujud 70000 tahun sampai tak tersisa sejengkal tanah pun dibumi dari bekas jidat iblis laknatullah. jadi kita manusia memang belum ada apa apanya dibandingkan kekusyukan ibadah iblis dimasa lalu. tapi sayang hancur akibat kesombongannya sendiri. hal itu terbukti ketika adam diciptakan dan seluruh mahluk diperintahkan sujud tapi hanya iblis yang tak mau sujud karena merasa mulia dari adam yang diciptakan dari tanah.

kembali kepada hadits nabi saw. tak ada kesombongan sebesar biji sawipun didalam hatinya melainkan ia masuk neraka.

(ashabul muslimin)

Tuesday, 5 July 2016

Selamat idul fitri 1437 hijriyah

Kami ashabul muslimin mengucapkan selamat idul fitri mohon maaf lahir dan batin. semoga amalan kita diterima Allah swt amin

Monday, 4 July 2016

Mutiara islam : Nasehat untuk remaja aktivis dakwah

 wahai para pemuda pemudi harapan bangsa dan agama. luruskan niat kalian kepada Allah ketika belajar agama dan ilmu dunia supaya barokah ilmunya dan berpahala. janganlah kalian menjadi ihwan ahwat genit yang mengaku aktivis masjid namun kalian ketika ada acara kegiatan masjid hanya untuk lirik sana lirik sini mengumbar pandangan kepada lawan jenis. tebar pesona ahirnya kalian bukannya dapat ilmu dan pahala malah dosa karena melakukan perbuatan yg mendekati zina. apalagi masjid adalah tempat yang suci. janganlah kalian berbuat seenaknya dirumah Allah Swt. sesungguhnya tak ada yg mampu lepas dari godaan setan tidak terkecuali alim dan abid kecuali semua yang ihlas karena Allah. kegiatan yg baik amalan yg baik tidak berguna jika tidak ada niat yang baik dan cara yang baik pula. 

Ashabul Muslimin

Friday, 24 June 2016

SYAIR ISLAM : HIDUP ITU MURAH, YANG MAHAL GENGSINYA



hidup ini murah, yang mahal gengsinya
anda makan direstoran mahal
orang lain makan di warung pinggir jalan
rasanya sama, makanannya pun sama
nasi yang ada lauk pauknya
keluarnya juga sama
jadi kotoran yang tidak enak baunya
jadi kenapa anda merasa lebih nyaman direstoran
yang mahal harganya
yang kaya raya pemiliknya
apakah semua itu timbul dari rasa gengsi diri
yang tidak peka kehidupan sosialisasi
andai anda membeli makan diwarung pinggir jalan
itu sama saja anda bersedekah kepada orang kecil
yang belum tentu kehidupannya seenak anda
yang hidupnya pas-pasan
yang berjuang untuk keluarga demi sesuap nasi
untuk biaya pendidikan anaknya
demi masa depan nanti

anda beli baju di mall
orang lain beli baju dipinggir jalan
bahannya sama kain, dipakai rasanya juga sama
merknya kadang juga sama
tapi berbeda soal harga
anda mungkin lebih baik menyumbang untuk klongo merat
daripada membeli dagangan orang melarat
yang nasib hidupnya hampir sekarat
berjuang demi keluarga
berjuang mencari harta
agar bisa hidup normal
seperti manusia lainnya

anda tamasya keluar negri
dan berhaji berkali-kali
supaya terkesan mewah bergensi
tapi anda tak pernah berpikir
banyak anak jalanan yang berjuang
antara hidup dan mati
demi sesuap nasi
demi mempertahankan hidup
yang sementara ini

banyak pula anak yatim piatu
yang sudah tak punya orang tua
untuk menanggung hidup mereka
terkadang banyak pula diantaranya,
jadi pengemis dan gelandangan

mampukah anda orang kaya melihat sekitarnya
dapatkah anda orang kaya menyadari
hidup anda selalu diatas mereka
dan bisakah anda orang  kaya
mensyukuri keadaan anda
dengan mendermakan sebagian rezeki
demi senyuman kecil diwajah mereka

lebih baik punya satu kendaraan tapi bermanfaat
untuk menemani aktivitas sehari-hari
daripada punya banyak mobil ferrari
harga miliaran tak terhitung lagi
tapi hanya terparkir digarasi
apakah orang seperti ini
cuman sekedar menuruti gengsi
atau cuman jadi budak nafsu duniawi

apakah ia tidak pernah berfikir
segala yang ia punya bakal binasa
kenapa tidak pernah berfikir
kelebihan harta untuk investasi ahirat saja
ia gunakan untuk menyantuni anak yatim
dan membantu fakir miskin
itu justru akan membuat ia lebih bahagia
didunia dan ahiratnya
sementara keadaan ia sebaliknya
semakin kaya semakin dibudak dunia
semakin kaya ia hamburkan hartanya
tapi kenapa ia merasa
hidup ia tak pernah bahagia
merasa sendiri dan selalu merana
seakan akan dikejar kejar musuh
itulah dunia semakin dituruti
semakin menuntut orangnya
sehingga ia stress lupa diri
tidak jarang orang kaya
ahir kematiannya bunuh diri
sungguh kita berlindung kepada Allah
kepada yang demikian
supaya selamat diahirat nanti


BY : M.A Samaaun
(pembina dan admin Ashabul Muslimin)

TELADAN ZUHUD DARI RASULULLAH SAW UNTUK PARA PEMUDA


SEBUAH KETELADANAN ZUHUD DARI RASULULLAH SAW



Oleh : M.A. Samaaun

Ternyata problem rumah tangga tidak hanya dihadapi orang awam pada umumnya saja, karena Rasulullah saw juga merasakan yang sama dengan kita yang kadang berselisih dengan istri kita.  Suatu ketika karena ada suatu permasalahan, Nabi Muhammad SAW telah bersumpah akan berpisah dengan istri-istrinya selama satu bulan sebagai peringatan bagi mereka. Selama sebulan beliau tinggal seorang diri dalam sebuah kamar sederhana yang letaknya agak tinggi.

Hal ini kemudian tersebar kepada kalangan sahabat nabi saw dan muncul desas desus Nabi saw telah menceraikan semua istrinya padahal hanya ingin menjauhi mereka selama sebulan saja. Ketika Umar bin Khathab mendengar kabar ini, segera ia berlari ke masjid. Setiba di sana, dia melihat para sahabat sedang duduk termenung, mereka juga bersedih dan menangis. Kaum wanita juga menangis di rumah-rumah mereka. Kemudian, Umar pergi menemui putrinya, Hafsah yang telah dinikahi Nabi. Umar mendapati Hafsah sedang menangis di kamarnya.

Ia bertanya kepada anaknya yang bernama Hafsah, salah satu istri Rasulullah saw “Mengapa engkau menangis? Bukankah selama ini saya telah melarangmu agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan Nabi?” Hafsah tak menjawab apa-apa, ia terus menangis. Umar kembali ke masjid. Terlihat olehnya beberapa orang sahabat sedang menangis di mimbar. Kemudian, ia duduk bersama para sahabat, lalu ia berjalan ke arah kamar Nabi Muhammad yang terletak di tingkat atas masjid.

Umar kemudian bertemu Rabah dan dia minta izin untuk menemui Nabi. Rabah menghampiri Nabi dan memberitahukan bahwa dia telah menyampaikan pesan Umar apakah bisa menemuia beliau. Tapi, Nabi hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Permintaan untuk menjumpai Nabi diulang. Baru setelah permintaan yang ketiga kalinya, Nabi Muhammad mengizinkan Umar naik ke atas. Ketika Umar masuk, dia menjumpai Nabi sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma. Terlihat jelas bekas daun kurma pada badan Nabi yang putih bersih. Di tempat kepala beliau ada sebuah bantal yang terbuat dari kulit binatang yang dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma.

Selepas mengucapkan salam kepada beliau, Umar bertanya, “Apakah engkau telah menceraikan istri-istri engkau, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak.” Umar sedikit lega, sambil bercanda untuk menghibur Nabi saw  ia mengatakan, “Ya Rasulullah, kita adalah kaum Quraisy yang selamanya telah membuat patuh wanita-wanita kita. Tetapi, setelah hijrah ke Madinah, keadaannya sungguh berbeda dengan orang Anshar. Mereka telah justru dikuasai kehendaknya oleh  wanita-wanita mereka, sehingga wanita-wanita kita terpengaruh dengan kebiasaan mereka.”

Nabi SAW tersenyum mendengar perkataan Umar. Umar lalu memperhatikan keadaan kamar Nabi. Terlihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu, selain itu tidak terdapat apa pun. Umar menangis sampai senggukan melihat keadaan Nabi yang seperti itu. Tiba-tiba Rasulullah bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana saya tidak menangis, ya Rasululah. Saya sedih melihat bekas tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia dan saya prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah mengkaruniakan kepada engkau  bekal yang lebih banyak,” jawab Umar. Ia mengatakan, orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang di tengahnya mengalir sungai, sedangkan Rasul, hidup dalam keadaan sangat miskin.

Mendengar jawaban Umar, Rasulullah berkata, “Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat tentu akan lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini.”

Beliau menambahkan, jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, umat Islam pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana, kita akan mendapatkan segala-galanya. Mendengar sabda Nabi, Umar menyesal. Lalu, ia berkata, “Ya Rasulullah, memohonlah ampun kepada Allah SWT untuk saya. Saya telah bersalah dalam hal ini.”


Amanat / Hikmah dari kisah Rasulullah saw


- Zuhud adalah salah satu akhlaq terpuji yang patut kita contoh dalam kehidupan kita karena dengan sifat zuhud kita mampu membersihkan diri kita dari kotoran duniawi yang melenakan hati dari mengingat datangnya mati.


- Begitulah wujud kecintaan para sahabat Nabi saw, ketika nabi saw mengalami suatu masalah mereka pun ikut bersedih, seakan-akan merasakan apa yang Rasulullah saw rasakan, dalam suatu hadits pernah disebutkan, kecintaan kepada Allah dan RasulNya bisa memasukkan kedalam surga walau amal tak seberapa, karena sabda nabi saw sesungguhnya seseorang bersama orang yang dicintainya diahirat nanti?.


- Dan sekedar amanat dan nasehat untuk kita tentang zuhud kepada dunia sangat penting, bayangkan kita semua pasti ingin bergelimang harta bukan? dan hidup mewah dan enak didunia tanpa merasa menderita dan ahiratpun ingin masuk surga? siapa pun pasti juga mau yang seperti ini tapi apakah kita tidak berfikir? Rasulullah saw saja yang PASTI masuk surga kehidupannya sedemikian sederhana apa adanya, tidak pernah membanggakan harta, semua hartanya kadang ia sedekahkan. Lihatlah tempat alas tidur rasul saw dari pelepah daun kurma dan dedaunan kering? sementara kita beralas tidur mewah spring bed, tidur sampai ngiler lupa waktu sholat. memanglah kenikmatan dunia selalu membuat orang lupa


- kita patut menangisi kenaifan diri kita yang terlalu berharap masuk surga sementara kita sendiri masih mencintai dunia, padahal semakin manusia cinta dunia semakin ia lupa ahirat, hidup manusia kalau sudah cinta dunia ia hanya ingin hidup serba mewah bak raja segala kehidupannya terpenuhi apa yang ia inginkan tercapai tapi manusia akan tertutup mata hatinya ia akan menjadi sombong, angkuh dan semakin kaya semakin pelit, itulah rumus kehidupan dunia "semakin manusia kaya, semakin tumbuh sifat pelit dalam dirinya, karena semakin ia banyak harta semakin manusia mencintainya tak ingin sedikitpun kehilangan hartanya,"


- Hidup Manusia yang bergelimang harta, segala kehidupannya terpenuhi lahir dari keluarga terpandang, dikaruniai fisik yang sempurna terkadang membuat ia lupa diri, bangga diri dan tidak peka terhadap orang lain yang kehidupannya jauh lebih buruk daripada dia, yang hidupnya terlunta-lunta, terkadang untuk makan sehari-hari pun belum tentu ada. sehingga manusia macam ini jika tidak mempunyai ilmu agama yang cukup adalah semakin kaya semakin tidak bersyukur, semakin tidak peduli keadaan sosial, semakin angkuh, bangga diri lupa mati, tidak mau sedekah apalagi berzakat, akibatnya semua hartanya hanya akan jadi timah panas yang membakarnya dineraka.


- mungkin sebagai gambaran contoh kecil saja adalah kehidupan artis sinetron yang mengajarkan kehidupan glamour, berumah mewah bermobil mewah, punya istri cantik, kerjanya enak ngantor duduk pakai dasi, gaji gede, itulah yang diajarkan panutan sesat televisi jaman sekarang mengilusi penontonnya sehingga jadi pendamba dunia, dikibuli oleh angan-angan kosong, sehingga lupa bahwa hidup ini sementara, padahal kita harus memperjuangkan hidup ini mati-matian dengan cara yang halal dan pasti penuh rintangan onad duri ujian dan cobaan, jika ingin sukses dunia dan ahirat.


- Kemudian ada yang bertanya dan beranggapan salah, apakah kalau begitu umat islam itu tidak boleh kaya? tentu saja sangat boleh, karena sahabat Nabi saw yang bernama abdurrohman bin auf adalah salah satu contohnya, kaya tapi beriman ia gunakan sebagian besar kekayaannya untuk berjuang dijalan Allah SWT, bukan untuk bermegah-megahan didunia sambil membanggakan diri menghina orang miskin, gemar mencari pujian dan penghormatan dan sebagainya.


- Seperti kata ulama terkenal "Zuhud bukan berarti kita tidak memiliki apa-apa, tapi zuhud adalah kita tidak dikuasai oleh apa yang kita punya". maksudnya adalah kita boleh memiliki banyak harta tetapi jangan sampai kita dibuat lupa olehnya sehingga lalai akan aturan agama, hidup didunia ini sementara, seperti orang berteduh di perjalanan jauh, cuman singgah saja, kalaupun mati semua yang kita punya, Istri, anak, harta kekayaan, pangkat jabatan semuanya tak ada yang menemani perjalanan kita menuju alam barzah yang sangat gelap dan dingin, yang menemani adalah amal perbuatan kita selama hidup didunia.


 Kebanyakan orang sukses adalah yang masa mudanya prihatin, orang lain sibuk hura-hura ia sibuk belajar, orang lain sibuk menikmati masa muda masa yaitu masa paling indah untuk pacaran, nongkrong, dan perbuatan mudorot lainnya ia gunakan untuk belajar agama , orang lain sibuk dengan mainan mereka chatingan lewat hape android pake bbm dan sebagainya ia sibukkkan diri membantu pekerjaan orang tua. wahai saudaraku para remaja, sukses itu tidak hanya berarti kita bergelimang harta, tapi sukses itu bisa diartikan juga kita menjadi pribadi yang dewasa dan punya sifat kemandirian yang dewasa, mampu menyikapi segala hal dengan akal yang berwawasan luas. sehingga segala sesuatu akan ia serahkan kepada Allah sang pemiliki solusi dan masalah. berbeda dengan orang yang belum pernah belajar zuhud sejak masa muda ketika masalah rumah tangga melanda ia melarikan diri kepada miras, main perempuan, berjudi, hura-hura,narkoba dan sebagainya yang semua itu akan membinasakan dia diahir kehidupannya.


Terahir nasihat kepada para pemuda supaya berlatih zuhud sedari sekarang supaya masa tua nanti kita jadi orang yang punya bekal untuk menamengi diri dari godaan dunia, belajarlah dengan tekun, jangan ikutan gengsi teman-temanmu yang bersekolah harus naik motor atau diantar pakai mobil lebih baik jalan kaki dan bersepeda selain sehat juga melatih mental kita menumbuhkan rasa prihatin sejak dini. berlatih menabung, hemat tidak boros-borosan dalam membelanjakan uang saku juga termasuk perilaku menumbuhkan sifat zuhud. seorang pelajar yang tidak punya rasa zuhud sedikitpun dalam hatinya ia tidak akan mampu mensyukuri apa yang ia beri dari orang tua, semisal minta tambahan uang saku, menuntut beli ini beli itu dan sebagainya. kasihan orang tua kita apalagi jika orang tua kita termasuk keluarga tidak mampu apakah itu tidak sama saja dengan mencekik leher orang tuamu? bayangkanlah ketika kamu nanti jadi orang tua dan anakmu bukan anak yang pandai bersyukur dan suka menuntut apakah itu tidak menyakiti hati orang tuamu?

Refrensi : Koran Republika

Friday, 10 June 2016

DOWNLOAD EBOOK AKIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMAAH



‘Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.
Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ para sahabat nabi saw dan orang sholeh terdahulu.

Untuk lebih jelasnya prinsip akidah ahlussunah wal jamaah anda dapat mendownload ebook ini :




 Mirror 



Download Ebook Islam : 20 Sifat Fitrah Orang Tua

Alhamdulillahirobbilalamin, wassolawatuassalamu ala rosulillahi ajmain


sebenarnya ebook kami ini sudah lebih dari 3 tahun selesai dari scan dan sudah diupload ke server tetapi karena keterbatasan waktu kami baru bisa menguploadnya di bulan ramadhan 1437 H ini. ebook ini menjelaskan tentang fitrah-fitrah atau perilaku dasar orang tua kepada anaknya, sehingga diharapkan setelah membaca ebook ini orang tua diharapkan bertambah pengetahuannnya tentang cara mendidik anak mereka, akan tetapi kami mohon maaf karena buku jadul ini sudah tidak utuh lagi halamannya karena rusak dan hilang entah kemana. untuk menyelamatkan buku buku dari kepunahan kami sengaja menscan dan menjadikan ebook untuk kaum muslimin dimana saja

untuk mendownload ebook ini silahkan anda klik tautan dibawah ini :

DOWNLOAD EBOOK PERCAKAPAN SEHARI-HARI BAHASA ARAB

yang pernah sekolah di SDIT atau SMPIT atau pondok pesantren pasti diajari bahasa arab dasar, nah ebook ini untuk kaum muslimin yang ingin menambah pengetahuan bahasa arab dasar tentang percakapan sehari hari : Untuk mendonload ebook ini



DOWNLOAD EBOOK TAFSIR SURAT AL IKHLAS




Surat Al-Ikhlas


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤


ARTINYA :

1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Untuk lebih jelasnya makna kandungan surat al-Ikhlas anda dapat mendownload ebook ini klik dibawah

Nasehat Islam : Hikmah diciptakan sakit


Sakit itu zikrullah. Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

Sakit itu istighfar. Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun. Sakit itu tauhid. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?

Sakit itu muhasabah. Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Sakit itu jihad. Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.

sakit itu ilmu. Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.

Sakit itu nasihat. Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya.

Sakit itu silaturrahim. Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.

Sakit itu gugur dosa. Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya. Sakit itu mustajab doa. Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoaka oleh mereka.

Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan; diajak maksiat tak mampu-tak mau; dosa lalu malah disesali kemudian diampuni.

Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis; satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

Sakit meningkatkan kualitas ibadah; rukuk-sujud lebh khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.

Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan. Karena itu mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit.

(Ashabul Muslimin)

Tuesday, 7 June 2016

Nasehat Islam "Air Toba dibalas Air Neraka"


"air susu dibalas air toba, Tuhanmu akan membalasnya dengan air mendidih neraka diahirat, janganlah menyepelekan kebaikan

setitikpun dari orang yang tulus menyayangi kamu dengan menyakiti hati mereka, orang tua yang ihlas melahirkan, mendidik,

merawat hingga kita dewasa, kakak yang selalu memberikan yang dia punya dan melindungi kita dari bahaya, teman-teman yang

setia menghibur kita, semua akan mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT, dan kita yang menghianati kasih sayang mereka

juga dan mendurhakai mereka juga akan mendapat balasan azab dari Allah SWT, belajar mengerti arti dari sebuah pengorbanan

dari orang-orang yang ihlas menyayangimu sebelum mereka pergi dari hidupmu dan kamu menyesal atas perbuatan burukmu kepada

mereka, Sesungguhnya tiada kebaikan atau kejelekan setitikpun melainkan Allah akan membalasnya, berusahalah menjadi manusia

yang bersyukur agar tahu rasa balas budi, karena sesungguhnya Allah menjanjikan surga bagi hamba-NYa yang bersyukur"