Sunday, 14 May 2017

Fakta, Perzinaan Mengakibatkan PHP (Perawan Hampir Punah)





Mukadimah hadits :

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
"Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah: sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr, merebaknya perzinaan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jaman sekarang adalah jaman globalisasi dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berkembang sangat pesat namun apa daya semua itu malah menjadikan sebagian besar penduduk negri ini kena efek negatifnya terutama kaum remaja, terutama pergaulan bebas, pacaran dan juga perzinaan adalah salah satu efek negatif menyebarnya teknologi, tontonan video porno lewat internet, media social dan sebagainya secara tidak langsung juga sangat berpengaruh dengan pergaulan anak jaman sekarang.
Tersebarnya zina terdukung oleh faktor pemicunya yang tersebar bebas di masyarakat seperti majalah dan film parno, televisi dengan tayangan yang vulgar, sinetron umbar aurat, film layar lebar yang sering dengan bumbu aksi-aksi mesum, dan pertunjukan pornoaksi lewat internet atau juga bisa dalam bungkus hiburan musik, dan media-media lainnya. Banyak sekali survey tentang pergaulan bebas dan juga kasus-kasus perzinaan yang mengakibatkan hilangnya kehormatan bagi remaja perempuan dan juga lebih buruk sampai hamil hingga putus sekolah. punahnya kehormatan perempuan alias kesucian atau sering disebut hilangnya keperawanan. Padahal yang namanya kehormatan (keperawanan) itu adalah hak suaminya kelak  yang akan jadi pemimpin keluarga anda dan menafkahi anda jika anda merelakan begitu saja kepada pacar bahkan gratis maka harga diri anda jauh lebih buruk daripada pelacur karena pelacur saja berbayar !.

Survey Membuktikan Bahwa PHP itu Fakta

Sekarang saya akan membahas istilah gaul apa itu php atau perawan hampir punah ada benarnya dan nyata buktinya. Semua itu berawal dari perzinaan dan di awali dengan pacaran. Wahai remaja putri renungkanlah hal ini semua ini berasal dan berawal dari pacaran dan berduaan ditempat sepi dan terjadilah zina, anda bermesraan seakan dunia surge milik kalian berdua kemudian kalian melakukan perbuatan keji itu dan anda kehilangan masa depan dan hanya tinggal penyesalan. Bahkan yang paling mengejutkan adalah survey yang mengatakan Sebanyak 97% mahasiswi Yogyakarta sudah tidak perawan lagi saat masih kuliah. Ini artinya perawan hampir punah (php) istilah ini memang fakta dan ada benarnya. Naudzubillah 

Kemudian menurut Hasil survey yang dipublikasikan oleh Komisi Perlindungan Anak (KOMNAS-PA) di tahun 2012 lalu sungguh membuat mata kita semakin terbuka. Suatu indikasi yang menunjukkan bahwa pergaulan remaja dewasa ini sudah berada pada tingkat 'darurat’. Bagaimana tidak, berdasarkan hasil survey terungkap bahwa 62,7 % remaja SMP/SMA mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah, alias sudah tidak perawan. Yang lebih mencengangkan lagi adalah bahwa 21,2 % dari siswi-siswi tersebut mengaku pernah melakukan aborsi secara illegal. KOMNAS-PA menyatakan survey tersebut dilakukan di 17 kota besar di Indonesia. Dengan jumlah responden sekitar 4700 remaja yang berada pada jenjang pendidikan SMP hingga SMA.

wahai bapak dan ibu nikahkan saja putri anda setelah lulus smp atau sma, percuma anda menyekolahkan tinggi2 kalau hanya untuk merusak mental dan moral remaja putri anda. Memanglah punya anak perempuan itu adalah ujian berat bagi orang tua harus ketat pemeliharaanya terhadap pemikiran dan sikap mereka. Apalagi kuliah biasanya nge-kos jauh dari orang tua dan saudara tidak ada yang mengawasi maka mudah saja putra putri anda bergaul bebas dan melakukan perzinaan. Itu dianggap wajar dan lumrah oleh remaja jaman sekarang karena mereka dangkal ilmu agama dan hanya di cekoki ilmu duniawiyah yang tujuannya hanya mendapatkan harta kelak setelah lulus tapi tidak berguna ketika diahirat padahal ahirat itu kekal.

Sungguh miris memang melihat kenyataan ini, data diatas itu hanya setitik survey belum yang tidak kelihatan pasti lebih buruk angkanya. Entah nyata atau tidak dijaman sekarang ini laki-laki yang baik pasti akan sulit menemukan jodoh yang perawan karena faktanya dunia hampir kiamat dan perzinaan meraja lela, menemukan perempuan baik baik dan masih suci itu bagaikan mencari sebutir jarum dipadang pasir. Akan sangat banyak perceraian dini karena ketidak jujuran kepada calon suami karena calon istri tidak perawan. Beruntung kalau suami anda menerima tapi kebanyakan laki-laki secara naluriah tetap menginginkan punya istri yang perawan. Hal itu bukan masalah sepele, wahai remaja putri jika anda memberikan keperawanan anda kepada laki-laki atau pacar yang belum tentu jadi jodohnya maka anda benar benar orang bodoh dan sangat-sangat rugi apalagi jika anda diputus begitu saja setelah pacar anda maaf mencicipi barang paling berharga milik anda. Kelak ketika ada calon suami yang mau melamar anda dan anda berbohong anda bukan perawan lagi hal itu akan jadi masalah besar, tapi ketika jujur akan banyak pula laki-laki yang menolak anda tapi ada juga yang mau jika hati hati laki2 itu baik dan tulus. 

Harga diri wanita adalah pada kehormatannya, ketika anda sudah hilang kehormatannya maka seperti nilainya rendah dihadapan calon suami anda, memang jarang sekali laki-laki yang mau menerima calon istri yang tidak suci lagi itu maksud nilainya rendah. Ibarat barang dagangan kualitasnya sudah buruk tidak asli lagi atau barang oplosan. Siapa yang mau beli? kalau bukan orang yang kasihan melihat anda atau sangat baik hatinya mau menerima anda apa adanya? 

Bahkan tidak jarang sekarang ini banyak yang melakukan operasi selaput dara minimal 15 juta rupiah supaya terlihat perawan lagi demi membohongi supaya dia percaya kalau kamu masih perawan, sungguh miris biaya puluhan juta hanya untuk membuat kebohongan besar dalam hidup anda demi keutuhan keluarga anda. Bagi kita yang tak punya apa2 uang puluhan juta tentu tidak punya, kita hanya bisa pasrah dan menyesal bahwa kesucian anda itu ternyata mahal harganya dan anda sadar kenapa sangat bodohnya dimasa lalu memberikannya gratis kepada pacar !

Keperawanan dan kesucian anda adalah kado terindah buat suami anda jangan seenaknya memberikan kepada yang bukan haknya, sungguh hidup anda sangat rugi dan anda hanya bisa menyesal dan menangis kelak tapi semua itu tak ada gunanya. Sebelum terlambat mohon sebarkan tulisan ini sebagai perhatian dan peringatan bagi kita semua supaya tidak menimpa generasi sesudah kita. Anak2 dan cucu2 kita. Perzinaan adalah sebab utama dari punahnya perawan didunia ini. Atau kegadisan wanita.
Wahai kaum muslimin, lindungilah anda dan keluarga anda dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, zina bukan dosa biasa, zina adalah dosa kutukan dimana dampaknya akan buruk dikehidupan dunia terlebih lagi diahirat.

Wahai remaja putri, Kalian yang masih suci jagalah kesucian anda buat suami anda kelak, hati suami pasti berbunga-bunga ketika malam pertama ketika melihat anda masih suci dan itu juga menjadi salah satu faktor langgengnya hubungan rumah tangga anda. Kalian yang sudah tidak suci bertaubatlah semoga Allah memberi ampunan dan jodoh yang baik bagi anda. 

Wallahu ‘alam
Ditulis oleh : Muhammad Alie Marzen
Admin www.ashabul-muslimin.xyz





Saturday, 13 May 2017

Tafsir Al-Baqoroh Ayat 120, Orang Kafir Tidak Akan Pernah Senang Kepada Kita



SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 120

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.


Penjelasan Ayat

Berikut ini adalah makna kandungan surat al-Baqoroh ayat 120
1). Upaya sejak dini memisahkan risalah dan pembawa risalah-nya terungkap jelas melalui ayat ini. Yaitu dengan cara memalingkan Rasul dari risalah yang dibawanya. Agen utama mereka ialah orang-orang Yahudi dan Nashrani. Pertama-tama mereka datang membujuk Rasul, tetapi karena gagal, mereka kemudian melakukannya dengan menyebarkan intrik dan indoktrinasi. Pertama-tama mereka menyebarkan berita yang diakuinya sebagai ajaran yang bersumber dari Kitab Suci mereka. “Dan mereka (kaum Yahudi) berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.’ (2:80).

Tujuannya, menjustifikasi supremasi mereka terhadap Rasul dan pengikutnya tanpa harus meninggalkan kebiasan-kebiasaan lama mereka seperti ajaran baru Nabi Muhammad. Paling tidak, kalau umat Rasul sudah mau berpandangan bahwa “semua agam sama saja”, sudah cukuplah. Tidak perlu mereka pindah agama, cukup mengakui supremasi agama-agama lain. Lalu, mereka (yahudi dan Nashrani) sama-sama datang kepada Rasul dan berkata:“Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani.” (2:111). Harapannya, Rasul ‘memakan’ pancingan mereka. Dan dengan begitu mereka memalingkan Rasul ke pihak mereka, bersekutu dengan mereka, menjalankan agenda-agenda mereka, membiarkan mereka mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan negara dan bangsanya, menggelontorkan investasi dengan cara membeli aset-aset yang berada di bawah kontrol Madinah; kendati—secara de-facto—Rasulullah tetap sebagai ‘Kepala Pemerintahan’ yang sah dan dipanuti oleh umat, bangsa, dan negaranya. Itu sebabnya,  di sini, Allah tidak menggunakan kata الدِّينِ (ad-dĭyn, aturan hidup), tapi kata مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir). Artinya Rasul tidak perlu mengganti الدِّينِ (ad-dĭyn, aturan hidup), gelar kerasulan, dan baju keagamaannya.

Mereka (Yahudi dan Nashrani) juga tidak perlu muncul ke permukaan. Mereka cukup berada di balik layar saja. Yang kelihatan memimpin tetap Rasul. Tetapi yang Rasul musti lakukan ialah melaksanakan rencana-rencana kerja mereka. Apakah Rasul termakan oleh muslihat seperti itu? Tidak. Karena Beliau adalah Khalifah Ilahi yang sah, yang dikontrol langsung oleh Allah sebagai Mursil-nya, yang tak pernah lagi berfikir tentang kepentingan pribadi dan dunianya, maka perangkap politik seperti itu tidak mempan baginya. “Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu, yang (tekita) Kami membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka. Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (47:13-14)

2). Anak kalimat لَن تَرْضَى عَنكَ [lan tardhā ‘anka, sekali-sekali tidak akan pernah redha kepadamu (Muhammad)] menarik untuk diselami. Tiga kata yang ada di anak kalimat ini masing-masing memiliki maknanya yang dalam, kaitannya dengan masa depan Islam (terhitung sejak zaman Rasul hingga kini dan di masa-masa mendatang). Pertama, kata لَن (lan) adalah huruf nafĭ (negasi) yang termasuk jenis taukĭd (kata penguat atau penegas), untuk menegaskan bahwa negasi yang terjadi di situ sifatnya berkelanjutan, seterusnya, selama-lamanya, sama lamanya dengan usia keberlakuan al-Qur’an.

 Karena Kitab Suci samawi terakhir ini berlaku hingga Hari Kiamat, maka fungsi لَن (lan) sebagai negasi taukĭd  di ayat ini juga berlaku sampai Hari Kiamat. Kedua, kata تَرْضَى (tardhā) yang kata dasarnya رضى (ra-dhi-ya), oleh al-Mawrid al-Qareeb Dictionary diartikan dengan “to be satisfied (with), content (with); to content oneself (with), to be pleased (with); to accept (to), agree (to), approve (of)”. Sedangkan penulis Kamus Kontemporer Arab-Indonesia mengartikannya dengan “merestui, meridhai, senang”. Makanya penulis Kamus al-Munawwir menyebutnya sebagai lawan dari kata سَخِطَ (sa-khi-tha) yang berarti “marah, murka, benci”. Ketiga, kata عَنكَ (‘anka), yang aslinya berasal dari dua penggal kata: عَن (‘an) dan كَ (ka). Kata عَن (‘an) sebetulnya adalah bagian dari kata تَرْضَى (tardhā), sehingga lengkapnya harus berbunyi تَرْضَى عَن (tardhā ‘an). Sehingga yang paling penting di dalam kata عَنكَ (‘anka) ini ialah huruf كَ (ka)-nya yang merupakan dhamĭr mukhathab mufrad (kata ganti orang kedua tunggal) untuk Rasulullah. Disinilah menariknya, huruf كَ (ka)-nya untuk Rasulullah, sementara Rasulullah manusia biasa (secara bilogis) yang kematiannya juga pasti.

Padahal tadi dikatakan bahwa kata لَن (lan) menunjukkan negasi taukĭd yang sifatnya berkelanjutan, selama-lamanya. Kalau huruf كَ (ka)-nya hanya dibatasi pada Rasulullah saja, secara otomatis makna yang dikandung kata لَن (lan) menjadi terbatas, bahkan masa berlakunya sangat-sangat singkat dibanding usia keberlakuan al-Qur’an, keberlakuan risalah kenabian. Agar ayat لَن تَرْضَى عَنكَ (lan tardhā ‘anka) terus berlaku, seperti disifati oleh kata لَن (lan), sepanjang keberlakuan al-Qur’an dan risalah kenabian, maka yang bisa difahami di situ ialah bahwa ayat ini memberikan indikasi yang begitu jelas tentang mustinya selalu ada satu sosok ilahi di setiap masa yang mengganti posisi Rasul di huruf كَ (ka)-nya. Sosok-sosok inilah yang akan menerima keberlakuan ayat 120 ini pada dirinya. Kalau sekiranya yang dituju bukan satu sosok khusus, maka ayatnya akan seperti ini: “Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kalian ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kalian ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (9:96)

3). Menurut al-Wahidi, ayat ini turun berkenaan dengan permintaan cease-fire (gencatan senjata) orang-orang Yahudi dan Nashrani kepada Rasul dalam suatu peperangan. Mereka berharap bahwa dengan cease-fire (gencatan senjata) dan waktu tangguh yang diberikan kepada mereka itu, Rasul sekaligus ridha dan sepakat dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka. Sedangkan menurut as-Suyuthi, mengutip Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan pemindahan kiblat salat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, yang membuat orang Yahudi dan Nashrani kecewa dan berputus asa dalam mengusahakan agar Nabi ridha dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka.

 Baik salah satunya atau kedua-duanya benar, tetap tidak bertentangan dengan fakta bahwa melalui ayat ini Allah swt meyakinkan kita melalui Rasul bahwa إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى [inna ɦudallaɦ ɦuwal ɦudā, Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)], sehingga bagaimanapun canggih, rapih, indah, dan sistematisnya cara mereka menarik perhatian kita untuk ridha kepada مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka, kita tetap harus berkeyakinan bahwa Islam sebagai هُدَى اللّهِ (ɦudallaɦ,Petunjuk Allah)-lah yang benar. Dengan modal keyakinan seperti itu, kita boleh bergaul dengan siapapun dan dengan agama atau keyakinan apapun, dengan penuh percaya diri, dan dengan prinsip-prinsip yang tak mudah melorot. Penggunaan frase هُدَى اللّهِ (ɦudallaɦ,Petunjuk Allah) menjelaskan dua hal. Satu, risalah yang dibawa Nabi Muhammad bukanlah inisiatif dan kreasi pribadinya, bahkan bukan produk kejeniusan manusia atau makhluk manapun.

 Risalah Islam adalah Risalah Allah, yang merupakan bukti Kasih Sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya dari kalangan jin dan manusia. Allah tidak ingin membiarkan mereka tersesat. Allah tidak ingin membiarkan mereka menderita dunia-akhirat. Maka Dia mengutus Rasul-Nya untuk membimbing mereka menerapkan risalah tersebut, tanpa perhitungan untung-rugi. Maka kalau manusia menolaknya, manusia itu sendirilah yang merugi. Dua, selain dari yang dibawah oleh Nabi Muhammad, dipastikan bukan هُدَى اللّهِ (ɦudallaɦ), bukan Petunjuk Allah. Sehingga sampai kapan pun dan dengan formula intelektual apapun tetap tidak mampu membawa manusia keluar dari belitan problem hidupnya (individu dan masyarakat). “…Barangsiapa yang menjadikan syaitan (dari kalangan manusia) menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata” (4:119).

4). Bahkan bukan hanya merugi. Siapa yang mengikuti مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka, dengan meninggalkan risalah Islamnya, maka Allah memastikan akan menarik diri sebagai Pelindung dan Penolong mereka: وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ [wa lainit-taba’ta aɦwā-aɦum ba’dalladzĭy jā-aka minal-‘ilmi mā laka minallaɦi min waliyyin wa lā nashĭyr, dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu]. Ada dua jenis pernyataan yang dikandung ayat ini: pernyataan yuridis dan pernyataan logis. Pertama, pernyataan yuridis. Ialah bahwa apabila Nabi atau sosok ilahi pelaksana risalah mengikuti kehendak (hawa nafsu) mereka (Yahudi dan Nashrani), maka Nabi sekalipun, sosok ilahi sekalipun, tidak akan dapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.

Ini adalah hukum takwini (hukum alam) dan tasyri’i (hukum syariat) yang sangat jelas yang perlu difahami oleh kita semua, pengikut Rasulullah, yang mencita-citakan risalah Islam sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara. Kedua, pernyataan logis. Apabila kita menjadi mangsa bangsa-bangsa lain, menjadi pecundang, menjadi korban ipoleksosbudhan, menjadi bahan mainan, menjadi korban represi dan opresi, menunjukkan kita tidak mendapatkan pertolongan dan perlindungan-Nya. Dan tidak mendapatkan pertolongan dan perlindungan-Nya, logikanya, kita mengikuti kehendak (hawa nafasu) mereka, masuk dalam perangkap yang mereka pasang.

Pertanyaannya, apakah ayat ini menunjukkan bahwa Rasul sekalipun ‘nyaris’ masuk ke dalam perangkap mereka sehingga diingatkan oleh ayat ini? Tidak. Karena penggalan ayat ini dimulai dengan sebuah pengandaian: وَلَئِنِ (wa lain, dan jika seandainya). Pengandaian bukanlah kejadian. Ayat ini hanya bersifat tarbiyah (pendidikan) kepada kita agar tetap berpegang teguh dan patuh kepada sosok ilahi pelaksana risalah. Begitu lepas dari sosok ilahi ini, kita pun dengan serta-merta diterkam oleh pukat harimau mereka (bangsa Yahudi dan Nashrani). “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan (al-Qur’an) itu sebagai hukum (peraturan yang benar) dalam Bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (13:37)

 wallahu'alam

Semoga bermanfaat

sumber tafsir al-barru

Bahaya Ujub dan Penyebab / Sumber Sifat Ujub



DARI Iyadh bin Umar, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda,"Sesungguhnya Allah Taala telah menurunkan wahyu kepadaku supaya kalian saling tawadhu (merendahkan hati), sehingga tidak ada seorang pun yang menganiaya orang lain, dan tidak pula seseorang membanggakan diri kepada orang lain."(HR. Imam Muslim)

Saudaraku. Ujub dan takabur itu ada bedanya. Kalau takabur mendustakan kebenaran dan menganggap remeh orang lain, sehingga takabur selalu memerlukan orang lain untuk diremehkan. Sedangkan ujub mengagumi diri sendiri, dan lebih akan bermain di hati. Tetapi, biasanya ujub dan takabur ini lengket atau bertemanan.Nah, terdapat bermacam-macam penyebab ujub.

Sebagai manusia yang tercipta dari setetes air mani yang merupakan benda hina dan kita juga dilahirkan dari lubang hina maka pantas kita merenungi apa bahaya ujub atau kesombongan dari dalam diri kita. Sungguh hanya Allah yang Mahasuci. Selain-Nya, pasti berbintik noda, kotor, hitam, pekat, dan legam. Terjerumus pada dosa bahkan terjerembap pada jejaring maksiat halus, seperti merasa dirinya paling saleh, paling dermawan, paling benar jihadnya, paling taat, dan paling bersih.Tiada godaan terhebat dari seorang yang sukses rezekinya, jabatannya, popularitasnya, ilmunya, dan keturunannya kecuali bangga dan kagum pada dirinya sendiri. Merasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling suci. Dan sungguh, inilah penyakit hati orang sukses termasuk tentu "si penulis" ini. Begini-begitu kan kesannya saja. Padahal aib dan kekurangan seabrek-abrek. Untungnya saja, aib kita semua masih ditutupi Allah. Kalau dibuka, pasti sangat malu dan hina.

"Jangan kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri." (QS al-Qashash:76).

 "Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa." (QS an-Najm:32).

Rasulullah mengingatkan dengan mengulang sampai tiga kali, "Takutlah kalian pada al-Uzba", yaitu bangga dan kagum pada diri sendiri.Ketika Rasulullah SAW mengingatkan dengan sabdanya tersebut, di hadapan beliau adalah para sahabat yang mulia. Mereka saleh-saleh dan para penghapal Alquran. Karena itu, dosa ujub boleh jadi jebakan dan jerat halus, tapi mematikan bagi para pelakunya, yang kebanyakan dari kalangan orang-orang hebat. Dosa ujub ini lebih halus dari langkah semut.

Bisa jadi kesannya tawadhu, tetapi di hati ingin dipuji. Sangat marah jika dihina ternyata karena berharap dipuji. Inilah Dho'ful aqli wal-iimaani, tanda lemahnya akal dan iman. Padahal jelas sangat rugi, sudah capek-capek beramal, tapi hancur karena ujub.Karena itu sahabatku, seringlah duduk di majelis ilmu dan zikir. Saat  menengadah dan menatap wajah guru, rontoklah kebanggaan diri. Duduklah bersama fakir miskin, yatim piatu, orang-orang susah, ziarahilah kuburan, perkuat puasa sunah, tadaburkan Alquran, perhebat istighfar, dan selalu harus sempatkan diri secara khusus muhasabah diri selesai shalat malam, "Siapa aku, dari mana, di mana, dan mau ke mana akhirnya aku?"Sungguh tidak pantas bangga diri kecuali hanya Allah yang Mahasuci dan Terpuji.

 "Tiga hal yang membinasakan; kekikiran yang  diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri." (HR Thabrani).

Sifat ujub membawa akibat buruk dan menjerat kepada kehancuran, baik bagi pelakunya maupun bagi amal perbuatannya. Di antara dampak dari sifat ujub tersebut adalah membatalkan pahala. Seseorang yang merasa ujub dengan amal kebajikannya, pahalanya akan gugur dan amalannya menguap karena Allah tidak akan menerima amalan kebajikan sedikit pun, kecuali dengan ikhlas karena-Nya.Allahumma ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang Kau ridhai, minal mukhlishiin. Berilah kami rezeki teragung, yaitu sifat ikhlas dan bersihkan hati kami dari riya, sum'ah, ujub, dan semua penyakit hati.

Sumber Sumber Sifat Ujub

DARI Iyadh bin Umar, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda,"Sesungguhnya Allah Taala telah menurunkan wahyu kepadaku supaya kalian saling tawadhu (merendahkan hati), sehingga tidak ada seorang pun yang menganiaya orang lain, dan tidak pula seseorang membanggakan diri kepada orang lain."(HR. Imam Muslim)
Saudaraku. Ujub dan takabur itu ada bedanya. Kalau takabur mendustakan kebenaran dan menganggap remeh orang lain, sehingga takabur selalu memerlukan orang lain untuk diremehkan. Sedangkan ujub mengagumi diri sendiri, dan lebih akan bermain di hati. Tetapi, biasanya ujub dan takabur ini lengket atau bertemanan.
Nah, terdapat bermacam-macam penyebab ujub. Pertama, fisik atau lahiriah. Misalnya kita bisa ujub karena merasa badan kita yang paling indah, paling atletis, berotot, atau wajah kita paling cakep. Lalu saat melihat orang yang kurus, kita diam saja tapi dalam hati berkata, "Kasihan dia, cacingan!" Begitu ujub. Sedang kalau dikatakan, "Hei, cacing, mau kemana?" maka itu sudah takabur.
Padahal kita tidak ikut serta membangun otot badan kita sehelai pun. Seatletis dan sehalus apa pun kulit kita,tetap saja Allah yang menciptakan dan yang memiliki, dan mudah pula bagi-Nya untuk mengambil kembali. Jika Allah berkehendak, tinggal diberi kulit pisang, lalu kita terpeleset dengan kepala terbentur. Lalu hilang ingatan, "Saya siapa ya?"
Kedua, ibadah. Misalnya kita saum Senin-Kamis, sedang orang lain tidak. Kita memang tidak memberi tahu orang kalau kita sedang saum, tapi dalam hati, "Ya, Allah, Engkau tahu hanya saya sendiri yang saum, berikan hidayah kepada mereka, ya Allah."
Atau, misalkan kita saum Daud dan yang lain Senin-Kamis. Lalu dari dalam hati terucapkan, "Kamu tingkatkan saja, nanti kalau sudah terbiasa saum Daud bisa dirasakan bedanya." Atau, misalnya, "Dik, sudah berapa juz hafalannya?" "25 juz." "Alhamdulillah, kalau kamu berapa?" "27 juz." "Bagus, tingkatkan. Kalau saudara?" "30 juz." "Bagus, terus tingkatkan." Padahal juz 30 sudah penghabisan.
Ketiga, ilmu atau pendidikan. Contohnya, "Maaf, saudara kuliahnya S1, S2, atau S3?" "Saya hanya SMA, pak." "SMA, hmm..." sambil wajahnya mengerut gembira. "Eh, bukan SMA, pak, tapi SD." "Oh! SD, hmm" Wajahnya semakin bersungut-sungut tersenyum. Padahal, jangankan wajahnya yang begitu, hatinya yang ujub pun disaksikan Allah.
Saudaraku. Ingatlah bahwa ilmu itu tidak ada artinya kalau tidak berbuah takut kepada Allah. Lagipula, apakah syarat masuk surga itu harus punya gelar? Tidak! Yang hanya lulusan SD tapi hatinya takut kepada Allah, tidak menyakiti orang, tidak mengambil hak orang, salatnya tepat waktu, hingga dikala malam tenggelam dalam tangis zikir, sangat dan sangat jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah, daripada orang yang gelarnya berjejeran tapi salat pun tidak mengerti dan korupsi lagi! Naudzubillah.
Keempat, prestasi atau penghargaan. Ujub karena prestasi contohnya, "Nggakdisangka, padahal saya belum mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya." Tapi kalau misalnya, "Memang mereka nggak level dengan saya," ini berarti takabur. Termasuk dengki juga bisa karena prestasi.
Allah mengetahui semua itu, sebab Allah juga yang menciptakan dan yang memberi prestasi tersebut. Karenanya bila prestasi tanpa tauhid, maka penyakit hati yang akan berkembang di sana.
Kelima, terkenal. Terkenal ini sama beratnya dengan prestasi dalam mengotori hati. Misal di jalan ditilang polisi, "Bapak tidak tahu siapa saya?" Polisinya mulai bingung, "Siapa, ya?" "Saya ini terkenal, lho!" "Terkenal? Apa mungkin bapak ini Hitler?"
Sudahlah. Terkenal di dunia sama sekali tidak ada apa-apanya, sebab dunia ini amatlah kecil. Yang dahsyat itu terkenal di kalangan penduduk langit. Sebagaimana banyaknya sahabat Nabi saw yang tidak kita kenal, tetapi sangat boleh jadi di tengah penduduk langit, tentunya pula di sisi Allah, mereka amat dikenal.
Keenam, banyaknya jemaah maupun followermedsos. Yang ini pun mudah membuat kita merasa mulia, sehingga ada yang sampai membeli follower. Juga yang tiap hari sibuk mencari "like", atau pusing memikirkan apa yang akan dijadikan status agar banyak yang meng-like (menyukai). Untuk apa? Rasulullah saw tidak punya medsos,tapi followerbeliau tetap banyak.
Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah saw bersabda,"Allah Azza wa Jalla berfirman: Kemuliaan adalah sarung-Ku, dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, maka pastilah Aku akan menyiksanya."(HR. Imam Muslim)
Ketujuh, jabatan dan kekuasaan. Yang ini juga sudah jelas sebagai sumber penyakit hati. Misalkan ada yang ketika belum punya jabatan biasa-biasa saja. Lalu tiba-tiba kelihatan berwibawa, "Ya, saya sekarang sudah menjadi anggota dewan." Mendadak sikapnya berbeda, sedikit bicara, badan tegak seperti robot, dan berwibawa mukti. Mungkin akan normal lagi bila sudah tidak terpilih.
Seharusnya dengan menjadi anggota dewan makin tawadhu. Tidak banyak bicara karena memang tidak bermanfaat dan takut kepada Allah, dan tidak usah berubah jadi robot. Apalagi, seperti antara komandan dan wakil komandan, yang harus hormat lebih dulu itu wakil komandan. Jadi, wakil rakyat yang harusnya menghadap kepada rakyat (kita).
Kedelapan, kesederhanaan. Kebalikan dari yang sudah-sudah, kesederhanaan juga bisa membuat kita merasa suci. Misalnya, "Yah, kalian teruskan saja berebut kekayaan, jabatan, popularitas, pujian maupun pacaran, kalau saya sejak bayi bersih dari semua perbuatan-perbuatan yang dekat dengan dosa-dosa besar itu, dan saya nanti insya Allah khusnul khatimah." Padahal yang begini ada dalilnya:
"Yaitu mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa."(QS. An-Najm [53]: 32)
Dan, kesembilan, isi atau gaya bicara. Termasuk contohnya adalah kata-kata "ana" (saya) dan "antum" (Anda). Tidak salah mengucapkan "ana" dan "antum" kepada kawan bicara atau komunitas yang mengerti. Tetapi kalau kepada yang belum mengerti, kita baru berkata, "Anaminta tolong" "Kan nama saudara Asep, kapan diganti Ana?"
Bahkan, kepada kawan bicara atau komunitas yang paham pun harus tetap berhati-hati. Jangan sampai kita menjadi eksklusif dengan bahasa-bahasa yang tanpa memakai bahasa tersebut,sebetulnya juga tidak apa-apa.
Kalau misalnya saat mengobrol dengan teman, kita menampilkan perkataan supaya mencerminkan bahwa kita berasal dari komunitas yang ahli masjid, yang terjaga, dan sangat kental dengan dakwah, maka berarti kita bukan mengajak orang menjadi bagus. Tetapi kita sedang memperlihatkan saja bahwa diri kita berbeda, alias ujub.
Nah, saudaraku. Masih banyak penyebab ujub dan takabur yang lain. Karena itu, mari kita periksa hati masing-masing. Kalau di hati kita sudah mulai merasa berbeda, mulia, suci, ganteng, cantik, hebat, pintar, maupun merasa lebih lainnya, maka segeralah ingat kepada Pencipta lagi Penggenggam seluruh makhluk, Tuhan semesta alam.
- See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2321239/penyebab-ujub-dan-takabur#sthash.Es1pa6id.dpuf


Pertama, fisik atau lahiriah. Misalnya kita bisa ujub karena merasa badan kita yang paling indah, paling atletis, berotot, atau wajah kita paling cakep. Lalu saat melihat orang yang kurus, kita diam saja tapi dalam hati berkata, "Kasihan dia, cacingan!" Begitu ujub. Sedang kalau dikatakan, "Hei, cacing, mau kemana?" maka itu sudah takabur.Padahal kita tidak ikut serta membangun otot badan kita sehelai pun. Seatletis dan sehalus apa pun kulit kita,tetap saja Allah yang menciptakan dan yang memiliki, dan mudah pula bagi-Nya untuk mengambil kembali. Jika Allah berkehendak, tinggal diberi kulit pisang, lalu kita terpeleset dengan kepala terbentur. Lalu hilang ingatan, "Saya siapa ya?"

Kedua, ibadah. Misalnya kita saum Senin-Kamis, sedang orang lain tidak. Kita memang tidak memberi tahu orang kalau kita sedang saum, tapi dalam hati, "Ya, Allah, Engkau tahu hanya saya sendiri yang saum, berikan hidayah kepada mereka, ya Allah."Atau, misalkan kita saum Daud dan yang lain Senin-Kamis. Lalu dari dalam hati terucapkan, "Kamu tingkatkan saja, nanti kalau sudah terbiasa saum Daud bisa dirasakan bedanya." Atau, misalnya, "Dik, sudah berapa juz hafalannya?" "25 juz." "Alhamdulillah, kalau kamu berapa?" "27 juz." "Bagus, tingkatkan. Kalau saudara?" "30 juz." "Bagus, terus tingkatkan." Padahal juz 30 sudah penghabisan.

Ketiga, ilmu atau pendidikan. Contohnya, "Maaf, saudara kuliahnya S1, S2, atau S3?" "Saya hanya SMA, pak." "SMA, hmm..." sambil wajahnya mengerut gembira. "Eh, bukan SMA, pak, tapi SD." "Oh! SD, hmm" Wajahnya semakin bersungut-sungut tersenyum. Padahal, jangankan wajahnya yang begitu, hatinya yang ujub pun disaksikan Allah.Saudaraku. Ingatlah bahwa ilmu itu tidak ada artinya kalau tidak berbuah takut kepada Allah. Lagipula, apakah syarat masuk surga itu harus punya gelar? Tidak! Yang hanya lulusan SD tapi hatinya takut kepada Allah, tidak menyakiti orang, tidak mengambil hak orang, salatnya tepat waktu, hingga dikala malam tenggelam dalam tangis zikir, sangat dan sangat jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah, daripada orang yang gelarnya berjejeran tapi salat pun tidak mengerti dan korupsi lagi! Naudzubillah.

Keempat, prestasi atau penghargaan. Ujub karena prestasi contohnya, "Nggakdisangka, padahal saya belum mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya." Tapi kalau misalnya, "Memang mereka nggak level dengan saya," ini berarti takabur. Termasuk dengki juga bisa karena prestasi.Allah mengetahui semua itu, sebab Allah juga yang menciptakan dan yang memberi prestasi tersebut. Karenanya bila prestasi tanpa tauhid, maka penyakit hati yang akan berkembang di sana.

Kelima, terkenal. Terkenal ini sama beratnya dengan prestasi dalam mengotori hati. Misal di jalan ditilang polisi, "Bapak tidak tahu siapa saya?" Polisinya mulai bingung, "Siapa, ya?" "Saya ini terkenal, lho!" "Terkenal? Apa mungkin bapak ini Hitler?"

Sudahlah. Terkenal di dunia sama sekali tidak ada apa-apanya, sebab dunia ini amatlah kecil. Yang dahsyat itu terkenal di kalangan penduduk langit. Sebagaimana banyaknya sahabat Nabi saw yang tidak kita kenal, tetapi sangat boleh jadi di tengah penduduk langit, tentunya pula di sisi Allah, mereka amat dikenal.

Keenam, banyaknya jemaah maupun followermedsos. Yang ini pun mudah membuat kita merasa mulia, sehingga ada yang sampai membeli follower. Juga yang tiap hari sibuk mencari "like", atau pusing memikirkan apa yang akan dijadikan status agar banyak yang meng-like (menyukai). Untuk apa? Rasulullah saw tidak punya medsos,tapi followerbeliau tetap banyak.

Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah saw bersabda,"Allah Azza wa Jalla berfirman: Kemuliaan adalah sarung-Ku, dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, maka pastilah Aku akan menyiksanya."
(HR. Imam Muslim)

Ketujuh, jabatan dan kekuasaan. Yang ini juga sudah jelas sebagai sumber penyakit hati. Misalkan ada yang ketika belum punya jabatan biasa-biasa saja. Lalu tiba-tiba kelihatan berwibawa, "Ya, saya sekarang sudah menjadi anggota dewan." Mendadak sikapnya berbeda, sedikit bicara, badan tegak seperti robot, dan berwibawa mukti. Mungkin akan normal lagi bila sudah tidak terpilih.

Seharusnya dengan menjadi anggota dewan makin tawadhu. Tidak banyak bicara karena memang tidak bermanfaat dan takut kepada Allah, dan tidak usah berubah jadi robot. Apalagi, seperti antara komandan dan wakil komandan, yang harus hormat lebih dulu itu wakil komandan. Jadi, wakil rakyat yang harusnya menghadap kepada rakyat (kita).

Kedelapan, kesederhanaan. Kebalikan dari yang sudah-sudah, kesederhanaan juga bisa membuat kita merasa suci. Misalnya, "Yah, kalian teruskan saja berebut kekayaan, jabatan, popularitas, pujian maupun pacaran, kalau saya sejak bayi bersih dari semua perbuatan-perbuatan yang dekat dengan dosa-dosa besar itu, dan saya nanti insya Allah khusnul khatimah." Padahal yang begini ada dalilnya:

"Yaitu mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa."(QS. An-Najm [53]: 32)

 kesembilan, isi atau gaya bicara. Termasuk contohnya adalah kata-kata "ana" (saya) dan "antum" (Anda). Tidak salah mengucapkan "ana" dan "antum" kepada kawan bicara atau komunitas yang mengerti. Tetapi kalau kepada yang belum mengerti, kita baru berkata, "Ana minta tolong" "Kan nama saudara Asep, kapan diganti Ana?"Bahkan, kepada kawan bicara atau komunitas yang paham pun harus tetap berhati-hati. Jangan sampai kita menjadi eksklusif dengan bahasa-bahasa yang tanpa memakai bahasa tersebut,sebetulnya juga tidak apa-apa.Kalau misalnya saat mengobrol dengan teman, kita menampilkan perkataan supaya mencerminkan bahwa kita berasal dari komunitas yang ahli masjid, yang terjaga, dan sangat kental dengan dakwah, maka berarti kita bukan mengajak orang menjadi bagus. Kalau di hati kita sudah mulai merasa berbeda, mulia, suci, ganteng, cantik, hebat, pintar, maupun merasa lebih lainnya, maka segeralah ingat kepada Pencipta lagi Penggenggam seluruh makhluk, Tuhan semesta alam.

Wallahu'alam

Sumber : Republika, vivanews






Friday, 5 May 2017

Kisah Mualaf : Penyanyi yang memeluk Islam Karena Suara Azan Maghrib

Hidayah adalah sebuah petunjuk dari Allah kepada seorang hamba dengan proses yang bertahap. Mualaf adalah orang yang baru masuk islam, kali ini kita mendapat kisah dari seorang artis penyanyi indonesia yang memutuskan dijalan yang benar karena hidayahNya berawal dari mendengar suara azan. sebagaimana diberitakan dari tribunnews,  aktor pendatang baru asal Sorong, Irian Jaya ini.Merasa hatinya terketuk karena sering mendengarkan Adzan, pria kelahiran 11 April 1995 silam ini memutuskan untuk berpindah keyakinan.Ia adalah Esal Revano.Esal mengawali kariernya sebagai Penyanyi dan baru mengeluarkan Single berjudul Kau Bukan Dirimu Lagi karya Amin Ivo.Keputusan dirinya untuk memuluk islam itu tidaklah datang secara tiba-tiba.Dilansir dari berbagai sumber, Esal kemudian menceritakan perjalanan spiritualnya.

"Kadang waktu Maghrib datang, kan dengar azan jadi senang, adem, teduh hatinya. Apalagi kalau lihat orang lalu-lalang. ke masjid, saya pengin ikut. Tapi karena saya bukan muslim, saya enggak bisa ikut salat," ujar Esal Revano ditemui awakmedia usai membacakan dua kalimat syahadat pada Kamis (20/4/2017) di Masjid Sunda Kelapa.Tak hanya merasakan teduh, Esal juga merasa terpanggil untuk beribadah saat mendengar adzan."Kalau dengar azan, rasanya tuh senang banget dan aku ingin ada dalam suasana itu. Akhirnya aku putuskan untuk menjadi seorang muslim," tuturnya lebih lanjut.Esal rupanya memiliki niatan untuk berpindah keyakinan sejak lama.Ia juga mendapat banyak dukungan dari teman-temannya.

"Banyak sih yang bilang aku masuk Islam saja. Teman-teman juga banyak yang ngajak, tapi rasanya kok belum terpanggil.Aku takut pindahnya keyakinan aku ini bukan dari hati tapi karena paksaan orang atau teman. Tapi kali ini benar-benaraku terpanggil," tambah cowok yang dikabarkan sempat dekat dengan Tiara Dewi ini.Resmi menjadi mualaf, Esal pun mengunggah video dirinya saat mengucapakan kalimat syahadat.Postingan Esal itupun banjir dukungan dan doa dari saudara muslim."Alhamdulillah.. Keep istoqomah dijalan Allah SWT, jangan lelah belajar agama dan memgamalkan ilmunya, jemput terus hidayah-Nya, krn satu2nya agama yg di ridhoi adalah ISLAM, Allahu Akbar..!! Barakallahu fiik @esalrevano,"

"masyaAllah.... semoga di berikan keistiqomahan dalam agama yang paling benar paling logis dan satu satunya yang diridhoi oleh Allah yang mha esa...""Alhamdulillah..barakallahufik..smoga istiqomah dan menjalani hidup berdasarkan alquran dan sunnah.."

semoga menjadi inspirasi dan hikmah bagi kita amin

sumber koran tribunnews

Wednesday, 3 May 2017

Apa Hukumnya Menikahi Calon Istri Yang Pernah Berzina ?

Mukadimah :




 Sebelum kita bahas lebih panjang mari renungkan firman Allah SWT, 

"Laki-laki pezina tidak akan menikah kecuali dengan seorang wanita pezina. Dan wanita pezina tidak akan menikah kecuali dengan lelaki penzina. Dan mereka diharamkan bagi orang-orang beriman." (QS An-Nuur [24]: 3)




Penjelasan Singkat

Dunia telah mendekati akhir salah satu tanda kiamat adalah merebaknya perzinaan. Padahal perzinaan adalah dosa terbesar setelah syirik dan durhaka kepada orang tua. perzinaan dewasa ini mayoritas dilakukan para pelajar dan abg karena mereka belum menikah tapi bergaul bebas kemudian Salah satu dampak pergaulan bebas menjadikan generasi muda jatuh pada perzinahan. Mereka yang telah berzina, apalagi sudah masuk pada kategori melacurkan diri sering diklaim tidak punya masa depan menikah dengan orang beriman.Ibarat gelas yang retak atau pecah, Ia tak akan kembali ke bentuk semula. Wanita yang telah berzina ibarat gelas yang retak tersebut. Ada anggapan mereka tak lagi diterima untuk disandingkan dengan laki-laki beriman dalam wadah pernikahan.Permasalahan ini menuai pendapat beragam dari para ulama. 

Pendapat - Pendapat Ulama

Pertama, Pendapat terkuat dikemukakan oleh jumhur (mayoritas) ulama yang membolehkan menikahi wanita tersebut dengan beberapa persyaratan.Persyaratannya, diharuskan bagi wanita yang telah berzina untuk menunggu masa istibro' (membersihkan rahim) sebelum digaluli oleh laki laki .Pendapat ini dikemukakan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani. Ia mengharuskan suami-istri menunggu masa istibro' atau masa iddah selama tiga kali haid.Asy-Syaibani mengatakan, paling tidak sampai jelas apakah si wanita meyakini ada janin di dalam rahimnya atau tidak. Pendapat ini juga didukung oleh Zufar (ulama Hanafiyah) yang tegas mengatakan, akad nikahnya tidak sah sampai si wanita melewati tiga kali masa haid.Pendapat ini juga dipegang Mazhab Hanabilah yang tidak memperbolehkan menikahi wanita yang pernah berzina kecuali sudah benar-benar diketahui tidak adanya janin dalam rahimnya.

Kedua pendapat Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menuliskan, apabila seorang wanita berzina, maka bagi siapa yang mengetahui perbuatannya itu, tidak diperbolehkan untuk menikahinya.Jika tetap ingin menikahinya, Ibnu Qudamah memberikan dua syarat untuk pembolehannya. 

Pertama, harus benar-benar bertaubat nashuha. 

Kedua, harus selesai masa iddah-nya, yakni tiga kali suci. Namun jika ternyata wanita tersebut hamil, maka iddahnya sampai wanita tersebut melahirkan.

Ketiga , Pendapat Ibnu Taimiyah menegaskan, haram hukumnya bagi wanita pezina untuk dinikahi sampai ia benar-benar bertaubat. Keharaman ini berlaku bagi laki-laki yang menzinainya, maupun bagi laki-laki lain. Pendapat yang paling toleran dalam persoalan ini adalah Mazhab Hanafiyah. Mazhab Hanafiyah meyakini, menikahi wanita yang pernah berzina diperbolehkan jika ia sudah benar-benar bertaubat dari dosanya. Si laki-laki bahkan tak perlu menunggu masa istibro' untuk menggauli istrinya.Ulama Hanafiyah, Ibnul Humam dalam Fathul Qadir mengatakan, tak ada halangan bagi suami untuk langsung menggauli istrinya tanpa perlu menunggu masa istibro'. Bahkan, jika seorang laki-laki melihat seorang wanita yang sedang berzina, kemudian setelah itu menikahinya.

Si laki-laki tadi tak perlu menunggu masa istibro' untuk langsung menggauli istrinya. Hal yang sama juga dikemukakan Az-Zaila’i, dari kalangan Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq.Sedangkan Mazhab Maliki mengatakan, makruh hukumnya menikahi wanita yang pernah berzina. Sebagaimana diterangkan Al-Qarafi, salah seorang ulama Malikiyah, pendapat ini merujuk pada sikap Imam Malik sendiri. Menurut Imam Malik, hukum menikahi seorang pezina adalah makruh namun beliau tidak mengharamkannya.

Keempat, Mazhab Syafi’iyah berpendapat sama dengan Mazhab Maliki. Mereka memandang sah hukumnya menikahi wanita yang pernah berzina, walau perbuatan ini dibenci kalangan ulama mazhab ini.Imam Nawawi dalam Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab menerangkan, Imam Syafi'i secara tegas mengatakan bahwa ia membenci laki-laki yang menikahi wanita yang dizinainya."Aku membencinya, tapi jika dia sudah terlanjur menikahinya maka tidak akan saya fasakh," tegas Imam Syafi'i dalam Raudhatut Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin (12/219). Ringkasnya, Mazhab Syafi'i tetap memandang sah pernikahan tersebut walau dihukum makruh. Sebagaimana pendapat Al-Juwaini dalam Nihayatul Mathalib fi Diroyatul Madzahib, menikahi perempuan pezina adalah sah walaupun hukumnya makruh.

Kelima, Pendapat yang paling keras dalam hal ini adalah Mazhab Zhahiriyah. Menurut ulama Zhahiri, terlarang hukumnya menikahi wanita pezina atau yang sudah berzina kecuali sudah benar-benar bertaubat dari perbuatannya.Ibnu Hazm, ulama Zhahiriyah mengatakan, tidak dibolehkan bagi seorang wanita yang pernah berzina untuk menikahi dengan siapapun. Tidak dengan seorang lelaki pezina maupun lelaki lainnya sampai ia bertobat. Jika ia sudah bertobat, maka dibolehkan baginya untuk menikah dengan lelaki afif (yang belum menyentuhnya).

Sebenarnya, jumhur ulama lebih dekat dengan pendapat Zahiriyah ini. Seorang pezina yang sudah bertaubat dari dosa-dosanya tetap diterima dan bisa menikah dengan orang beriman. Mereka tetap bisa menata masa depannya dengan keshalehan dan keimanan setelah mereka benar-benar bertaubat nasuha dari dosanya. Taubat diperlukan demi kelangsungan rumah tangga yang sakinah.Adapun pendapat ulama yang mensyaratkan istibro' semata-mata untuk kemaslahatan rumah tangga. Dengan tidak bercampurnya sperma laki-laki dalam satu rahim wanita tentu menjelaskan garis keturunannya.Disamping itu, istibro' juga karena alasan psikologis dan kesehatan reproduksi. Dengan istibro', wanita akan terhindar dari penyakit berbahaya. 


demikian semoga bermanfaat
Wallahu'alam.

Sumber : republika news

Tuesday, 2 May 2017

Makna Lagu Lagu Peterpan Langit Tak Mendengar (2005)


​

Langit tak mendengar adalah salah lagu karya band legendaris peterpan tahun 2005 dalam album ost alexandria, saya bahkan sudah 12 tahun tak bosan memutar lagu ini, kenapa? karena saya suka makna lagu ini


Jadi hidup telah memilih
Menurunkan aku ke bumi
Hari berganti dan berganti
Aku diam tak memahami

Mengapa hidup begitu sepi
Apakah hidup seperti ini
Mengapa kuslalu sendiri
Apakah hidupku tak berarti
Coba bertanya pada manusia
Tak ada jawabnya
Aku bertanya pada langit tua
Langit tak mendengar

Coba bertanya pada manusia
Tak ada jawabnya
Aku bertanya pada langit tua
Langit tak mendengar
Coba bertanya pada manusia
Tak ada jawabnya
Aku bertanya pada langit tua
Langit tak mendengar



Jadi Hidup telah memilih, menurunkan aku kebumi

Artinya takdir Tuhan telah menentukan kita terlahir sebagai manusia anak cucu keturunan Nabi adam as

Hari berganti dan berganti, aku diam tak memahami
artinya waktu terus bergulir tak pernah berhenti meninggalkan semua cerita dan kenangan kisah manusia, tapi tak ku pahami arti dari kehidupan ini yang sebenarnya apakah hanya untuk menjalani hidup layaknya hewan makan minum tidur kerja atau membuat peradaban baru yang memakmurkan bumi atau yang lainnya tujuan kita hidup adalah pilihan masing masing

mengapa hidup begitu sepi apakah hidup seperti ini

artinya hidup ini memang sepi dari nurani secara kenyataan hidup ini sangat ramai bahkan jumlah manusia sudah 7 miliar ini tak pantas lagi dibilang sepi, yang dimaksud sepi disini adalah sepi dari keadilan dan sepi dari manusia manusia yang mengikuti jalan Tuhan

mengapa ku selalu sendiri, apakah hidupku tak berarti
artinya kenapa aku selalu dikucilkan orang lain dalam menjalankan prinsip yang benar prinsip yang jarang orang suka dijaman akhir ini prinsip kebenaran dalam jalan aturan Tuhan, memang jaman akhir manusia menganggap yang benar kadang salah yang salah kadang dibenarkan dan banyak orang yang mengikutinya, jalan sesat memang ramai dari manusia


Coba bertanya pada manusia tak ada jawabnya,
Artinya kita mencoba bertanya pada manusia sekitar tentang fenomena ahir zaman ini kebenaran selalu dikucilkan kemungkaran selalu di benarkan, mereka hanya bisa menjawab tidak tahu mungkin sudah waktunya dunia hampir berakhir atau bahkan mereka ada yang menjawab saya cuma ikut ikutan saya tidak tahu apa apa, benar benar banyak manusia yang kehilangan arah dijaman sekarang ini terjerumus dalam lembah kegelapan

Aku bertanya pada langit tua, langit tak mendengar
Artinya ketika kita bersedih nurani selalu tertindas dan sambil termenung kita menatap langit, bertanya kepada Tuhan ya Tuhan kenapa cobaan hidup didunia ini begitu berat kenapa saya harus menghadapi semua kenyataan ini. Kenapa dalam menjalan amanah Tuhan kita selalu dibenci banyak orang.

Begitulah makna lagu ini menggambarkan keadaan akhir zaman dimana yang benar dikucilkan yang salah dimanjakan, semoga bermanfaat


Penulis dan editor : Admin

www.ashabul-muslimin.xyz
www.bikerzone11.xyz