Friday, 21 July 2017

Mengenal Pokok Akidah Islam Ahlussunah Wal Jamaah


Bisyr bin Musa menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Humaidy menceritakan kepada kami, beliau berkata:As-Sunnah menurut kami adalah:

Seseorang beriman kepada al-qadr ‘takdir’ yang baik atau yang buruk, yang manis atau yang pahit. Sepatutnya ia mengetahui bahwa musibah yang menimpa dirinya tidak akan meleset darinya, dan segala yang meleset darinya tidak akan menimpanya. Semua hal itu adalah al-qadhâ` ‘ketentuan’ dari Allah .

Bahwa, sesungguhnya iman mencakup ucapan dan perbuatan, (yang bisa) bertambah dan berkurang; suatu ucapan tidak akan bermanfaat, kecuali dengan amal, tidak pula amal dan ucapan (bermanfaat), kecuali dengan niat, juga tidak pula amal, ucapan, dan niat (bermanfaat), kecuali dengan sunnah.

 At-tarahhum ‘mengucapkan dan mendoakan rahmat’ bagi segenap para sahabat Rasulullah SAW   karena Allah   berfirman,

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan.’.” [Al-Hasyr: 10]

Tidaklah kami diperintah, kecuali untuk memintakan istighfar bagi mereka. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela mereka, atau membenci mereka atau salah seorang di antara mereka, tidaklah ia berada di atas Sunnah dan tidak ada hak baginya berupa fai`.

Lebih dari seorang mengabarkan kepada kami dari Malik bin Anas bahwa beliau berkata,

“Allah SWT telah memberi bagian rampasan perang. Allah Ta’âlâ berfirman,

 Dan orang-orang faqir dari kaum Muhajirin yang telah dikeluarkan dari kampung-kampung mereka.” [Al-Hasyr: 8]

 Allah Ta’âlâ berfirman,

 “Dan orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan.’.” [Al-Hasyr: 10]

 Barangsiapa yang tidak mengucapkan hal ini, ia bukanlah orang yang berhak diberi bagian berupa fai`.”

 Al-Qur`an adalah Kalamullah. Saya telah mendengar Sufyân berkata, “Dan Al-Qur`an adalah Kalamullah. Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah makhluk, ia merupakan seorang mubtadi’ ‘ahli bid’ah’. Tidak pernah kami mendengar seorang pun mengatakan hal ini.”

 Saya mendengar Sufyân berkata, “Dan iman adalah ucapan dan amal, (bisa) bertambah dan berkurang,” maka saudara beliau, Ibrahim bin ‘Uyainah, berkata, “Wahai Abu Muhammad, janganlah engkau mengatakan, ‘iman itu berkurang’.” Sufyân pun marah kemudian berkata, “Diamlah engkau, wahai anak kecil! Demikianlah bahwa iman itu berkurang hingga tidak bersisa sedikitpun.”

Pembenaran adanya ar-ru’yah, yakni melihat wajah Allah setelah meninggal.

Segala yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits semisal firman Allah Ta’âlâ,

 “Dan kaum Yahudi berkata bahwa tangan Allah terbelenggu, padahal sesungguhnya tangan merekalah yang terbelenggu ….”
[Al-Mâ`idah:

Sebagaimana di dalam firman Allah,

“Dan tujuh langit digenggam dalam tangan kanan-Nya ….” [Az-Zumar: 67]


Ayat-ayat semisal ini, yang banyak terdapat di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, tidaklah kita tambah, tidak (pula) kita tafsirkan. Kita berhenti pada apa-apa yang Al-Qur`an dan Sunnah berhenti di atasnya.

 Kita menegaskan (firman Allah Ta’âlâ),

“Ar- Rahmân (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.” [Thâhâ: 5]

Barangsiapa yang menyangka selain ini, ia adalah seorang ahlut ta’thîl lagi pengikut sekte Jahmiyah.
Kami tidak berpendapat sebagaimana pendapat kalangan sekte Khawârij bahwa barangsiapa yang tergelincir ke dalam dosa besar, ia telah kafir.

Tidaklah kita mengafirkan seseorang karena salah satu di antara perbuatan dosa.
Namun, kekafiran hanyalah bagi seseorang yang meninggalkan lima sendi utama, yang Rasulullah  SAW bersabda,

“Islam didirikan diatas lima sendi: syahadat (persaksian) bahwa Tiada Ilah (sembahan yang benar) selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji.”

 Adapun tiga sendi pertama, orang yang meninggalkannya tidaklah diajak berdebat, yaitu yang tidak mengucapkan syahadat, tidak mendirikan shalat, dan tidak berpuasa, karena hal ini tidaklah dapat diakhirkan dari waktunya. Ia tidak dibenarkan mengqadha hal tersebut setelah meninggalkan hal itu dengan sengaja karena sikap ia yang melampaui batas terhadap amalan ini dari waktunya yang telah ditentukan.

Adapun mengeluarkan zakat, tatkala telah mengeluarkan (zakat), hal itu telah cukup baginya, tetapi ia akan berdosa jika menolak mengeluarkan zakat.

Adapun haji, barangsiapa yang telah wajib (menunaikan haji) dan mendapat kemudahan untuk melaksanakan (ibadah) itu, dia wajib menunaikan (ibadah) tersebut. Tidaklah haji ini diwajibkan secara keseluruhan, kecuali setelah menjadi wajib untuknya. Apabila telah menunaikan (ibadah haji), ia telah melakukan kewajiban itu. Tidaklah ia berdosa karena mengakhirkan (pelaksanaan haji) itu jika telah ia tunaikan sebagaimana ia akan berdosa jika melakukan hal tersebut pada zakat karena zakat adalah kewajiban yang (hasilnya) diperuntukkan kepada kaum muslimin yang miskin yang ia tahan untuk mereka maka ia berdosa hingga kewajiban itu telah sampai kepada mereka.

Adapun haji, (ibadah) itu adalah kewajiban antara ia dan Rabb-nya. Jika telah menunaikan (ibadah haji), berarti ia telah melaksanakan kewajibannya.

Sekiranya ia meninggal dalam keadaan mendapatkan kemudahan dan sanggup, tetapi ia tidak melaksanakan ibadah haji itu, ia akan memohon agar dikembalikan ke dunia guna menunaikan ibadah haji yang telah ia lalaikan. Keluarganya wajib menghajikannya, yang semoga hal itu dapat menutupi ibadah haji yang seharusnya ia tunaikan sebagaimana halnya jika ia berutang lalu (utang tersebut) dibayarkan oleh keluarganya setelah ia meninggal.

sumber zdulqarnain.net

Tafsir Surat Al-Kautsar 1 -3, Penjelasan Sungai di Surga





AL-KAUTSAR, SUNGAI DI DALAM SURGA

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin
 
Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, ketika Ka’ab bin Asyraf tiba di kota Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, Apakah engkau pemuka mereka? Tidakkah engkau melihat orang ini, yang mengaku lebih baik daripada kami?Padahal kami adalah ahli haji, pengabdi Ka’bah, dan pemberi (penyaji) minuman.’ Ka’ab berkata, ‘Kalian lebih baik darinya.’ Turunlah ayat, ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak’.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al- Bazzar rahimahullah dan sanadnya sahih.

Mufradat Ayat
الْكَوْثَرَ
“Kenikmatan yang banyak.”

Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna “al-Kautsar”:

a. Maknanya adalah sungai di dalam jannah (surga) yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan riwayat dari beberapa sahabat, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, ‘Aisyah , serta tabi’in seperti Mujahid dan Abul ‘Aliyah rahimahumallah.

b. Maknanya adalah kebaikan(nikmat) yang banyak. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, dan Mujahid rahimahumullah. Pada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari rahimahullah dan yang lain, dari Abu Bisyr rahimahullah, dia pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair rahimahullah tentang pendapat yang mengatakan bahwa al- Kautsar adalah sungai di jannah. Beliau menjawab, sungai di jannah termasuk bagian dari kebaikan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Ikrimah rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, kenabian, Islam, al-Qur’an, dan hikmah.

c. Maknanya adalah telaga di jannah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Atha’ rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah telaga di jannah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari sekian pendapat di atas, yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa al-Kautsar merupakan sungai di jannah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya dengan al-Kautsar (kebaikan atau kenikmatan yang banyak) karena keagungan nilainya.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Terdapat beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang ayat di atas.

a. Maknanya adalah meletakkan tangan kanan pada tangan (lengan) kiri di atas dada ketika shalat. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pendapat yang semakna diriwayatkan pula dari asy-Sya’bi.

b. Maknanya adalah shalat fardhu dan mengangkat kedua tangan sejajar nahr (pangkal leher) saat membuka shalat (takbiratul ihram).

c. Maknanya adalah shalat fardhu atau shalat fajar dan menyembelih unta di Mina atau pada hari Idul Adha.

d. Maknanya adalah shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, orang-orang (musyrik) pada waktu itu melaksanakan shalat dan menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau, Jadikanlah shalat dan sembelihanmu karena Allah Subhanahu wata’ala. Sebagian ulama berpendapat, ayat ini turun saat terjadi Perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dikepung dan dihalangi dari Ka’bah.
Lalu Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar beliau melaksanakan shalat, menyembelih unta, dan kemudian berpaling. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari semua pendapat di atas, yang paling utama dan yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah Jadikanlah shalatmu seluruhnya karena Rabbmu, dengan mengikhlaskannya hanya untuk-Nya, bukan untuk selain- Nya. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala. 

Bersyukurlah kepada-Nya atas kemuliaan dan kebaikan yang tidak ada tandingannya yang hanya diberikan kepadamu. Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini karena Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pemberian, kemuliaan, dan kenikmatan (al-Kautsar) yang dengannya Dia Subhanahu wata’ala memuliakan beliau. Tafsirnya, sesungguhnya Aku telah memberimu—wahai Muhammad—al- Kautsar, sebagai bentuk pemberian nikmat dan pemuliaan untukmu dari Kami. Maka dari itu, ikhlaskanlah ibadah hanya untuk Rabbmu. Tunaikanlah shalat dan kurban hanya untuk-Nya.
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”

Maknanya, orang yang membenci dan memusuhimu, dialah yang terputus, rendah, hina, dan binasa. Tentang siapa yang dimaksud oleh ayat ini, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan, yang dimaksud adalah al-‘Ash bin Wa’il. Ada pula yang menyatakan, dia adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Yang lain mengatakan, mereka adalah beberapa orang dari suku Quraisy. Yang benar, menurut ath-Thabari t menurutnya, Allah l mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang rendah, hina, dan terputus. Hal itu menjadi ciri setiap manusia yang membenci beliau, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan orang tertentu. (Tafsir ath-Thabari, 24/679—697)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Tafsir Juz ‘Amma, sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah, sedangkan yang lain berpendapat Madaniyah. Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, baik turun di Makkah maupun di Madinah, atau di waktu safar. Jadi, surat Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah hijrah. Inilah pendapat yang kuat dari sekian pendapat ulama. Adapun kata al-Kautsar, dalam bahasa Arab artinya adalah kebaikan (kenikmatan) yang banyak.

Demikianlah, Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kebaikan yang banyak, di dunia dan di akhirat. Di antara kebaikan itu adalah sungai besar yang berada di jannah, yang mengalir menuju telaga Nabi. Warna airnya lebih putih daripada air susu, lebih manis daripada madu, dan lebih harum daripada minyak wangi. Telaga itu berada di tempat yang terbuka di hari kiamat. Orang-orang mukmin dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendatangi tempat itu. Jumlah cangkir dan keelokannya sebanyak gugusan dan keindahan bintang yang berada di langit. Barang siapa hidup di dunia menjalani agama Islam di atas syariat beliau (sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), di akhirat ia akan diizinkan mendatangi telaga tersebut. Sebaliknya, barang siapa menjalani agama Islam tidak di atas syariat beliau, di akhirat ia akandihalangi sehingga tidak bisa mendatangi telaga itu. Di antara sekian banyak kebaikan yang telah diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia adalah apa yang terdapat dalam hadits berikut.
أُعْطِيْتُ خَمْسًا، لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةُ وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: (1) Diberikan kemenangan kepadaku dengan sebab gentarnya musuh dari jarak perjalanan satu bulan; (2) dijadikan bumi sebagai tempat shalat dan bersuci untukku, maka siapa pun laki-laki yang sampai kepadanya waktu shalat, hendaklah ia shalat; (3) diberikan kepadaku syafaat; (4) dihalalkan untukku ghanimah; dan (5) dahulu para nabi diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Semua ini adalah kebaikan (nikmat) yang banyak. Karena beliau diutus kepada seluruh manusia, konsekuensinya, beliaulah nabi yang paling banyak pengikutnya. Dimaklumi bersama bahwa seseorang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala seperti halnya pelakunya. Orang yang telah menuntun umat kepada kebaikan dengan jumlah yang luar biasa adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendapatkan bagian pahala dari setiap individu di antara umatnya. Tidak ada yang mampu menghitung jumlah umat beliau selain Allah Subhanahu wata’ala. Di antara kebaikan yang diberikan kepada beliau di akhirat adalah almaqam al-mahmud, seperti syafaat al-uzhma (syafaat yang agung).

Sebab, pada hari kiamat manusia mengalami bencana, kesulitan, dan kesusahan yang tak kuasa mereka menahannya. Akhirnya, mereka meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Nabi Adam, lalu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa ‘Alaihissalam, hingga berakhir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun berdiri dan memberi syafaat. Allah Subhanahu wata’ala  pun memutuskan di antara hamba-Nya dengan syafaat beliau. Ini adalah kedudukan yang akan senantiasa dipuji oleh orang-orang yang mterdahulu hingga akhir zaman. Kedudukan ini termasuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,
ڍ
عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Mudah-mudahan Rabbmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’: 79)
Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Di antaranya adalah sungai yang berada di jannah, yang juga disebut al- Kautsar. Akan tetapi, al-Kautsar tidak terbatas pada hal itu saja. Setelah menyebutkan karunia- Nya yang begitu banyak, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Maknanya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang sangat agung ini, dirikanlah shalat dan berkurbanlah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Yang dimaksud shalat di sini adalah seluruh jenis shalat. Pertama kali yang dimaksud oleh ayat ini adalah shalat yang disertai oleh berkurban, yaitu shalat Idul Adha. Meski demikian, ayat ini mencakup keseluruhan shalat. Jadi, “dirikanlah shalat karena Rabbmu,” baik yang fardhu maupun yang sunnah, demikian pula shalat ied dan shalat jumat. Makna “berkurbanlah” adalah dekatkanlah dirimu kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan cara berkurban. Kata “nahr” maknanya adalah cara penyembelihan unta (dengan menusuk/memotong aliran darah di bagian atas dada, dalam posisi hewan berdiri). Adabun “dzabh”, adalah istilah penyembelihan hewan sapi ataupun kambing (dengan memotong empat saluran pada bagian leher, dalam posisi hewan direbahkan).

Ayat ini hanya menyebutkan “nahr” karena daging unta lebih bermanfaat daripada yang lain ketika dibagikan kepada orang-orang miskin. Karena itu, pada Haji Wada’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memotong 100 ekor unta, 63 ekor beliau potong sendiri dan sisanya beliau wakilkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya beliau sedekahkan kecuali sedikit dari setiap unta, yang beliau ambil untuk dimasak lalu dimakan dagingnya dan diminum kuahnya. Perintah dalam ayat ini berlaku untuk beliau dan umatnya. Maka dari itu, kita wajib mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.”
Makna syaniaka adalah orang yang membencimu, karena syanaan artinya kebencian. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ
“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).” (al Maidah: 2)
Artinya, janganlah kebencian (kalian) kepada mereka membawa kalian berbuat melampaui batas. Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Artinya, janganlah kebencian kepada mereka membawamu untuk meninggalkan keadilan (sikap adil). Al-abtar adalah isim tafdhil. Arti kata ini adalah terputus, yaitu terputus dari semua kebaikan. Hal ini terjadi karena orangorang kafir Quraisy mengatakan bahwa Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah abtar, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya, serta dalam mengikuti ajarannya. Kata ini mereka munculkan ketika Qasim, putra beliau, meninggal. Mereka lalu mengatakan bahwa Muhammad abtar, yaitu tidak ada keturunan. Kalaupun ada, maka akan terputus keturunannya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa al-abtar adalah yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dialah yang akan terputus dari semua kebaikan. Tidak ada berkah pada dirinya. Hidupnya hanya berisi penyesalan. Jika hal ini berlaku atas orang yang membenci beliau, begitu pula bagi yang membenci syariat (ajaran)nya. Oleh sebab itu, barang siapa membenci syariat Rasulullah n, atau salah satu syiar Islam, atau membenci ibadah apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk melaksanakan agama Islam, dia telah kafir, keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Hal itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9)

Tidak ada yang menghapus amalan selain kekufuran. Barang siapa membenci kewajiban shalat, dia telah kafir, walaupun ia menjalankan shalat. Barang siapa membenci kewajiban zakat, dia telah kafir walaupun menunaikannya. Adapun yang merasa berat menjalaninya, namun tidak membencinya, dikhawatirkan pada dirinya ada salah satu perangai kemunafikan, meski tidak dikafirkan. Jadi, terdapat perbedaan antara orang yang merasa berat (tanpa membenci) dengan orang yang membenci. Dengan demikian, surat ini mengandung penjelasan tentang nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu kebaikan yang banyak. Selain itu, surat ini memuat perintah untuk mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Perintah ini berlaku dalam seluruh bentuk ibadah. Surat ini juga menjelaskan, siapa yang membenci Rasul n atau sebagian syariat beliau, dialah yang terputus, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya. Wallahu a’lam.

Thursday, 20 July 2017

Download Ebook Tamasya Ke Surga, Gambaran Keindahan Surga Ibnul Qoyyim Jauziyah PDF



Kita simak salah satu karya ulama fenomenal. Buku “Tamasya Ke Surga” ini atau dengan judul asli “Hadil Arwaah ila Biladil Afraah” merupakan buku yang menggambarkan bagaimana luasnya rahmat Allah kepada para hamba-Nya. Seorang hamba yang hanya memiliki iman sekecil atom atau memiliki ternoda akan dosa bisa Ia masukkan kedalam surga dengan rahmat-Nya. Sebaliknya hamba yang memiliki pahala yang sangat besar tidaklah cukup memasuki surga bila hanya mengandalkan amalnya saja dan bahkan ia mencampakkan rahmat Allah disana. Sungguh kenikmatan surga sangatlah besar dan indah, bahkan kenikmatannya ini tidak pernah terbetik dihati kita.


Bagaimana kita bisa membayangkan, rumah para penghuni surga di akhirat Allah sendirilah yang membuatnya, yang rumah-rumah ini bagaikan istana yang sangat megah dan indah tiada tara. Istana-istana tersebut dibangun dengan batu bata dari emas dan perak, pepohonannya terbuat dari emas dan perak yang bening bagaikan kaca, yang buah-buanya sangatlah nikmat dan lebih manis dari madu, yang sungai-sungainya mengalir madu, susu dan juga khamer yang tidak akan memabukkan orang yang meminumnya, mereka dikelilingi oleh bidadari cantik nan jelita lagi disucikan, dan puncaknya adalah melihat wajah Allah yang Maha Mulia, yang itu merupakan sebaik-baiknya nikmat disana.Itulah diantara yang dibahas oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pada buku ini, yang semuanya itu akan membuat iman anda bertambah, dan membuat anda seolah-oleh melihat surga dengan mata dan kepala sendiri. Semoga kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat. Amiin.



Wednesday, 19 July 2017

Download Ebook Tafsir Al-Quran Ibnul Qoyyim Ayat Ayat Pilihan


Penyusun: Syaikh Muhammad Uwais An-Nadwiy
Penerbit: darul Falah

Ukuran:  17 x 24 cm
Halaman: 778 Halaman, HARD COVER

Resensi:

Kalau boleh dimisalkan Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam, ibarat sebuah taman asri nan indah menawan, yang setiap sudut dan bagiannya mengundang pesona bagi orang yang memang mengamatinya. Apalagi jika penjaga dan pemandunya adalah orang yang benar-benar handal dan relatif lebih tahu seluk-beluknya. Sehingga siapapun yang sudah masuk kesana, seakan tak ingin keluar lagi, karena disamping terpesona oleh keindahannya, dia juga mendapat penjelasan dari sang pemandu yang mahir.

Kita adalah para pengunjung taman Al-Qur'an yang hendak masuk ke dalamnya untuk menikmati lekuk-liku pesona dan keindahannya dari pintu gerbang Al-Fatihah hingga ke ujung An-Nas. Di sana kita mendapat uraian dari pemandu yang bobot keilmuan dan profesionalitasnya tak perlu disangsikan lagi, dialah Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Diawali uraian tentang Al-Fatihah, kita diajak menelusuri berbagai hakikat mengenai Asma' Allah, kehidupan dunia dan akhirat, ubudiyah, kebenaran dan kebatilan, tauhid, hidayah dan segala aspek kehidupan orang Mukmin maupun kafir. Bahkan tidak jarang disertai pula uraian tentang detail-detailnya dari sisi linguistik.

Yang pasti, di sini pembaca dibawa Imam Ibnu Qayyim untuk menapaki jalan yang terus menanjak, hingga sampai ke titik kulminasi, yang tercermin dalam uraian surat al-Falaq dan An-Nas. Di bagian inilah pembaca dapat merasakan sebuah keteduhan, kenikmatan dan kesenangan yang sulit dilukiskan, sehingga segala kepenatan menjadi sirna, terobati oleh kepuasan hati bersifat internal dan rahmat serta asy-syifaa' yang bersifat eksternal yang datangnya dari Allah.

Karena itu, Anda belum terpuasi jika tidak membaca buku ini hingga ke huruf terakhir yang terkandung di dalamnya.




 (Drobbox)

Manfaat Belajar Sejarah Nabi Muhammad SAW



Jika kamu tengok sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw. bersama kaumnya, dan kau renungkan kesabaran beliau atas penderitaan dari kaumnya yang belum pernah dirasakan seorang nabi pun sebelum beliau, berbagai situasi yang beliau hadapi mulai dari perang, damai, kaya, miskin, aman, cemas, tinggal di negerinya dan meninggalkannya untuk menyebarkan agama-Nya, pembunuhan orang-orang terdekatnya di depan matanya, serta gangguan orang-orang kafir terhadapnya dengan bermacam cara: perkataan, perbuatan, sihir, gosip. Meski demikian, beliau sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT. Beliau teguh menyeru manusia ke jalan-Nya. Tidak ada nabi yang merasakan penderitaan seperti yang beliau alami. Dan, tidak ada nabi yang diberi karunia Allah SWT seperti yang diberikan kepada beliau.


Allah SWT mengangkat namanya, menyandingkan nama beliau dengan nama-Nya, menjadikan beliau sebagai tuan seluruh manusia, menjadikannya sebagai orang yang paling dekat wasilahnya kepada Tuhan, paling mulia kedudukannya, dan paling didengar (mudah diterima) syafaatnya. Cobaan-cobaan itu justru merupakan bagian dari kemuliaan beliau. Ujian-ujian itu adalah salah satu sebab yang membuat Allah SWT menambah kemuliaan dan keutamaan beliau dan mengantarkan beliau mencapai kedudukan tertinggi.


Demikian pula keadaan ahli waris beliau (para ulama). Setiap mereka punya bagian dari ujian dan cobaan tertentu sesuai dengan derajat keteguhannya dalam mengikuti beliau. Orang yang tidak mendapat bagian ujian dan cobaan seperti beliau, berarti dia adalah orang yang diciptakati untuk dunia dan dunia diciptakan untuknya. Jatah orang-orang seperti ini diberikan kepada mereka di dunia. Dia makan dan bersenang-senang di sana sampai tiba ajalnya yang telah tertulis. Ketika para wali Allah SWT mendapat cobaan, orang-orang ini dalam keadaan tenteram dan makmur. Ketika para wali Allah berada dalam ketakutan, mereka aman. Ketika para wali Allah sedih, dia gembira di tengah keluarganya.


Orang-orang yang mendapat bagian dunia punya nilai yang berbeda dengan para wali Tuhan. Yang dipikirkan adalah apa yang dapat mengokohkan kedudukannya, menyelamatkan hartanya, dan membuat kata-katanya didengar dan dipatuhi orang. Dan, dari sana dia melakukan, mencintai, dan membenci sejalan dengan yang diinginkannya itu. Sedang, mereka (para wali Allah SWT yang mendapat cobaan-cobaan) yang jadi keinginan mereka adalah menegakkan agama Allah SWT, meninggikan kalimat-Nya, memuliakan para pembela agama-Nya, dan memperjuangkan agar hanya Allahlah yang disembah dan hanya Rasul-Nya yang ditaati.


Jadi, ada hikmahnya Allah SWT di balik ujian dan cobaan yang ditimpakan kepada para nabi, rasul, dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Hanya saja hikmah itu tidak Misalnya dalam kalimah syahadat, orang yang mengakui keesaan Allah SWT harus juga mengakui kerasulan Muhammad saw.





terjangkau oleh akal manusia. Bukankah orang-orang yang mencapai kedudukan (maqam) tinggi dan cita-cita yang mulia hanya mencapai itu semua melalui jembatan ujian dan cobaan?


"Demikianlah ketinggian itu. Jika kamu ingin mendapatkannya, maka menyeberanglah ke sana melalui jembatan kesusahan."
Akhirnya, segala puji hanya bagi Allah SWT. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para sahabat beliau sampai kiamat. Juga semoga Allah SWT meridhai para sahabat Rasulullah saw. semua.

* * *

Tuesday, 18 July 2017

Kenikmatan Paling Besar di Surga Bukan Pesta Seks, Tapi MELIHAT ALLAH SWT

Ustad muda syamsudin dengan gitarnya
 Mukadimah Hadits

 ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin (panutan), lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.’”(HR BUKHARI)


Latar Belakang
 
Sosok ustadz seleb satu ini mendadak heboh akibat apa yang dikatakannya jadi kontrovesi di media sosial, Sebagaimana diberitakan dari Tribunnews.com, Dalam tayangan program Islam Itu Indah, ustaz Syamsuddin Nur Makkah ungkapkan sesuatu.Ustaz muda itu ungkapkan kalau salah satu kenikmatan di surga itu adalah pesta seks.Bahkan dengan lantang dan tanpa ragu, dihadapan jamaah yang isinya kebanyakan ibu-ibu ustaz itu bilang seperti ini.

"Minta maaf, karena inilah yang kita tahan-tahan selama di dunia. Inilah yang kita tahan-tahan di dunia dan kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT di surga adalah pesta seks."

Siapa sih sebenarnya ustaz muda yang bilang soal adanya pesta seks di surga.Dari berbagai sumber terungkap kalau Syamzuddin Nur Makkah merupakan ustaz muda kelahiran Maros, Sulawesi Selatan.Tepatnya pada 15 september 1992.Jadi kalau dihitung-hitung, ustaz bertubuh langsing ini umurnya masih 25 tahun.Informasi yang didapat, sebelum jadi ustaz dirinya sebagai penulis ceramah.Naskah ceramah dari Ustaz Maulana yang dituliskan oleh ustaz Syam.

Dari sebagai penulis ceramah, karirnya kemudian naik jadi penceramah.Ketika ustaz Maulana menjalankan umroh dan ustadzah Oky yang menggantikannya, meminta ustaz Syam membantu memberikan ceramah.Setiap tausiahnya, ustaz Syam ini selalu menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dimengerti.
ustadz syam dengan gaya busana  di televisi

KOREKSI SAYA SEBAGAI BLOGGER MUSLIM

 Saya sebagai owner blog  ini juga sedikit pernah belajar agama tanpa bermaksud mengungguli ilmu beliau ustadz seleb. Bermaksud memberikan kritik dan masukan. Sesungguhnya jika memang benar di surga kenikmatan terbesar adalah pesta seks maka sia-sia kita sebagai manusia diciptakan Allah SWT untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi ini, apakah tujuan manusia diciptakan Allah SWT adalah untuk pesta seks disurga?? sungguh terlalu dangkal pemikiran seperti ini tak ada ubahnya seperti pemikiran abg labil yang baru menginjak usia pubertas. Yang mana mereka baru senang senangnya didunia asmara dan godaan nafsu. Karena jika memang seperti itu kita juga tak ubahnya seperti hewan yang pekerjaannya memuaskan dan diperbudak hawa nafsu.

sesungguhnya kesibukan manusia disurga adalah senantiasa bertasbih kepada Allah, memuji syukur kepadaNya karena telah diselamatkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga yang penuh kenikmatan abadi. Seks memang tabu untuk dibicarakan, memang salah satu bonus bagi penduduk surga adalah istri berupa bidadari, layaknya istri didunia bidadari surga juga boleh disetubuhi layaknya istri didunia, tapi itu bukanlah kenikmatan yang paling besar di surga itu hanya kenikmatan kecil dari sebagian kenikmatan lain disurga. sesungguhnya kenikmatan terbesar penghuni surga adalah MELIHAT ALLAH SWT.

dalam sebuah ayat disebutkan

“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS Qaaf:35).



Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah ta’ala berfirman: “Apakah kalian mau tambahan nikmat (dari kenikmatan surga yang telah kalian peroleh)? Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Dan Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Kemudian Allah singkap hijab (penutup wajahNya yang mulia), dan mereka mengatakan,
Tidak ada satupun kenikmatan yang lebih kami cintai dari memandang wajah Allah Ta’ala.” (HR. Muslim no)

  Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah.
(HR. BUKHARI)

ayat diatas juga ditafsirkan oleh Imam Ibnu Katsir berkata,(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi (yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah yang maha mulia, karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah”

 SARAN KEPADA USTADZ SELEB YANG BICARA AGAMA TANPA DASAR ILMU

Wahai ustadz dai dan kyai tergelincirnya ulama adalah tergelincirnya umat islam waspadalah kalian dalam menyampaikan nasehat nasehat, jika petunjuk itu membawa kesesatan maka dialah orang yang paling besar dosanya karena menyesatkan banyak manusia. Wahai ustadz seleb, Jangan hanya karena faktor uang atau bayaran yang banyak kemudian anda menyelewengkan amanah ajaran agama, sesuai selera anda, supaya banyak pemirsa mau dengar ceramah anda .Jangan menyampaikan agama atas dasar nafsu dan tanpa dasar ilmu. Karena ancamannya adalah neraka ! bahkan jika lebih berbahaya daripada dosa syirik. Karena sesat dan menyesatkan orang lain.

Dalam Al-Quran Allah SWT menegur orang seperti itu

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu) (Al-A’raf:33)

Tafsir ayat ini menurut  Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh berkata: “Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah, bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Alloh mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Juga menurut Ibnul Qayyim -rahimahullah- ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.
Bicara agama dengan pendapat sendiri tanpa merujuk al Quran dan hadits sebagai landasannya sama saja bicara agama dengan akalnya sendiri, ancamannya adalah neraka. Nabi saw juga bersabda :
“Siapa saja yang menafsirkan Al Qur'an dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka" 
(HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Abi Syaibah).

Manusia memang tempat salah dan dosa semoga Allah memberikan ampunan kepada beliau yang bersangkutan supaya minta maaf dan bertaubat kepadaNya.

Wallahu alam

Monday, 17 July 2017

Download Ebook Tuntunan Ibadah Puasa Di Bulan Ramadhan



 Ebook Ini Menjelaskan kepada anda tentang panduan puasa di bulan ramadhan, berikut ini

Daftar Isi :

•  Keutamaan Bulan Ramadhan 
•  Keutamaan Puasa 
•  Kekhususan dan Keistimewaan Bulan Ramadhan 
•  Hukum-Hukum yang berkaitan dengan Puasa Ramadhan 
•  Sunnah-Sunnah Puasa 
•  Hukum Orang Yang Tidak Berpuasa 
•  Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa 
•  Pesan dan Nasehat 
•  Qiyam Ramadhan 
•  Membaca Al-Qur'an di Bulan Ramadhan dan Lainnya 
•  Kadar Bacaan Yang Disunnahkan 
•  Al-Qur'anul Karim Syari'at Sempurna 
•  Hukum Melagukan Al-Qur'an 
•  Sedekah di Bulan Ramadhan 
•  Tafsiran Ayat-ayat Tentang Puasa 
•  Pelajaran dari Ayat-ayat Tentang Puasa 
•  Manfaat Puasa 
•  Berpuasa Tapi Meninggalkan Shalat 
•  Catatan Penting 
•  Puasa Yang Sempurna 
•  Tujuan Puasa 
•  Petunjuk Nabi dalam Berpuasa 
•  Puasa Yang Disyari'atkan 
•  Sebab-sebab Ampunan di Bulan Ramadhan 
•  Adab Puasa 
•  Tentang Sepuluh hari Akhir di Bulan Ramadhan 
•  'Umrah di Bulan Ramadhan 
•  Lailatul Qadar 
•  Taubat dan Istighfar 
•  Syarat-syarat Taubat 
•  Berpisah dengan Ramadhan 
•  Peringatan 
•  Catatan Penting 
•  Fatwa-Fatwa Penting 
•  Zakat Fitrah 
•  Hikmah Disyari'atkan Zakat Fithrah 
•  Hari Raya 
•  Petunjuk Nabi di Hari Raya 
•  Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal 
•  Rahasia Puasa 







Download Ebook Pembelaan Salafiyah Terhadap Ulama Ahlussunah



Ebook ini terdiri dari 4 Risalah, yaitu :

1.                      Syaikhul Islâm Muĥammad bin ‘Abdil Wahhâb Di Mata Penyesat Ummat

2.                      Membongkar Kedok Kedustaan dan Fitnah Ĥasan ‘Alî as-Saqqâf terhadap Al-Muĥaddits Al-Albânî

3.                      Perisai Penangkis Di Dalam Membela al-Imâm al-Albânî Dari Kejahatan al-Mudzabdzab at-Tahrîrî

4.         Pembelaan Terhadap Imâm Ibnu Baz dari Tuduhan Keji

 Bagi yang memberikan masukan, saran, kritik dan usulan, silakan







Download Ebook Hadits Tentang Shalat Tasbih

Berikut ini adalah tahrij hadits mengenai pahala shalat tasbih klik dibawah ini untuk download ebook kami



Download Ebook Tentara Bayaran AS dan Proyek di Dunia Islam


Marine Basecamp yang terletak di Timur Fallujah, Irak, pagi itu tampak tidak ada kesibukan yang berarti. Tanggalan di kalender menunjuk angka 31 Maret 2004. Wesley Batalona, mantan pasukan elit Army Ranger AS berpangkat sersan yang kini bekerja pada Blackwater Security Consulting, sebuah perusahaan penyedia perangkat militer dan juga tentara bayaran, tengah mempersiapkan diri melakukan misi pengawalan. Bersama tiga rekannya—Scott Helvenston, Jerry Zovko, dan Michael Teague—mereka mendapat tugas untuk mendampingi konvoi truk yang akan mengambil peralatan dapur di Markas Komando 82nd Airborne di Falujjah. ......SELENGKAPNYA DOWNLOAD






Download Ebook Komunisme Musuh Islam Sepanjang Sejarah

Berdasarkan fakta yang ada, dewasa ini telah bangkit kembali gerakan Komunisme
(Marxisme-Leninisme) di tanah air, semenjak 35 tahun yang lalu dinyatakan terlarang.
Kader-kader muda revolusioner binaan sisa-sisa G30S/PKI dan kader-kader muda
intelektual Katholik-Jesuit, yang tersebar di berbagai aparat sipil dan militer, ormas dan
orpol, berbagai LSM, karena adanya persamaan ideologi yakni Marxis-Leninisme bekerja sama menyusun kekuatan untuk melahirkan "revolusi sosial" dalam
mewujudkan negara  Komunis.

Kaum intelektual muda Muslim dan ulama-ulama Islam dewasa ini, karena keterbatasan
ilmunya tentang Marxisme-Leninisme/Komunsme, banyak yang tergelincir sehingga
menjadi pejuang ajaran Marxisme-Leninisme/Komunisme tanpa sadar. Oleh karena itu,
untuk mencegah terjadinya hal-hal yang demikian, maka kami sengaja menyusun
tulisan ini secara ilmiah, filosofis, syar'i dan historis bahwa Komunisme (Marxisme-
Leninisme) dalam segala dimensinya bertentangan dengan Islam dan senantiasa
memusuhi umat Islam sepanjang sejarah.

Segala koreksi dan sanggahan terhadap tulisan ini senantiasa kami terima dengan tangan
terbuka. Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi umat Islam, dan menjadi amal shaleh
bagi kami sehingga ganjaran pahala senantiasa kami harapkan dari sisi Allah SWT.




Download Ebook 10 Jurus Penangkal Sihir, Dengki & Ain



Al Imam Al Hafizh Ibnul Qayyim berkata selepas menjelaskan tentang hasad, sihir, ‘ain dan sihir:

“Kejahatan orang yang hasad terhadap yang dihasadi dapat ditolak dengan 10 cara, diantaranya:

Berlindung Kepada Allah Dari Kejahatannya

Bertakwa Kepada Allah

Bersabar Atas Musuhnya

Bertawakkal Kepada Allah

Mengosongkan Hati Dengan Tidak Memikirkannya

Bertaqarrub Dan Mengikhlaskan Diri Untuk Allah

Memurnikan Taubat Untuk Allah

Bersedekah Dan Berbuat Kebajikan Semampunya

Memadamkan Kedengkian Permusuhan Dan Gangguan Orang Dengan Berbuat Baik Kepadanya

Memurnikan Tauhid Untuk Allah




Download Ebook Penjelasan Islamisasi Ilmu

Islamisasi ilmu yang digagas oleh Al Faruki dkk. meliputi beberapa rencana kerja, 
yaitu sebagai berikut: 
1. Penguasaan disiplin ilmu modern. 
2. Penguasaan warisan Islam.
3. Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern.
4. Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan dan
pengetahuan modern. 
5. Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju  pemenuhan
pola ilmiah dari Allah.

Kelima langkah tersebut kemudian dijabarkan menjadi 12 langkah strategis seperti
diringkaskan dalam skema berikut.



Download Ebook 31 Tuntunan Hidup Berkah & Panjang Umur Ala Nabi SAW



Rasulullah bersabda:”Ambillah keuntungan pada lima perkara sebelum datang lima perkara, 1. Muda sebelum tuamu, 2. Sehat sebelum sakitmu, 3. Kaya sebelum miskinmu, 4. Waktu luang sebelum sibukmu, 5. Hidup sebelum matimu.

Bagaimana cara mengotimalkan pemanfaatan waktu yang sesuai dengan bimbingan Nabi? Jika pertanyaan seputar itu terus berkecamuk di benak Anda, maka untuk mendapatkan jawabannya, silahkan menelaah Buku Saku “31 Tuntunan Hidup Berkah dan Panjang Umur ala Nabi” ini.