Showing posts with label Pemikiran Al-Islam. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran Al-Islam. Show all posts

Friday, 1 September 2017

Akhlaq Mulia Adalah Faktor Utama Dalam Berdakwah


Oleh: Mohammad Natsir (Mantan Ketua Umum Masyumi)

"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlaq" (HR Malik)

"Wahai Tuhan Kami. Dan bangkitlah diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang menyampaikan kepada mereka kitab itu, dan hikmah, dan membersihkan mereka, karena sesungguhnya Engkaulah yang Gagah, Maha Bijaksana." (Al Baqarah 129).

Sudah kita jelajahi bagaimana daya tarik lisanul hal dan uswah hasanah di bidang da'wah. Tarikan bahasanya ibarat tarikan magnet (besi berani) terhadap apa saja yang bersifat logam, yang bermutu tinggi atau yang tidak. Sumber tenaga bagi daya tarik itu tidak lagi terletak pada ilmu, dan tidak pula pada hikmah. Ilmu dan hikmah hanya pembuka jalan. Sumber tenaganya sendiri terletak pada akhlaq pribadi dari pembawa da'wah sendiri.

Akhlaq dengan mempergunakan ta'rif yang lazim, ialah: yakni, sifat yang berurat berakar pada diri seseorang, yang terbit daripadanya amal perbuatan dengan mudah, tanpa dipikir-pikir dan ditimbang-timbang lagi, secara spontan kata orang sekarang. Baik atau buruknya amal perbuatan yang terbit secara spontan itu tergantung pada baik atau buruknya akhlaq pribadi yang bersangkutan. Lisanul hal yang baik dan uswah hasanah yang menarik hanya bisa terbit dari akhlaq yang baik dan mulia, kahlaqul karimah. Begitu pula sebaliknya.

Adapun yang dibawakan seorang mubaligh adalah wahyu Ilahi dan Sunnah Rasul. Yakni barang yang hak dan murni, yang sebenarnya sudah mengandung daya dan kekuatan sendiri, ibarat singa yang bisa dilepaskan, sanggup mencari dan menaklukkan mangsanya sendiri. Akan tetapi sebelum dia dapat dilepaskan, yakni sebelum isi dari da'wah itu dapat dihidangkan dan diperkenalkan secara mendalam, mata orang, pada taraf pertama lebih banyak tertuju kepada apa yang dapat dilihat dan didengar  dari hal ihwal dan sifat pribadi yang membawanya.

Penilaian orang terhadap akhlaq pribadi pembawa da'wah itu, sebagian besar mempengaruhi, malah bisa menentukan, apa akan terbukakah pintu bagi isi da'wah yang disampaikannya atau tidak. Umpamanya bagi seorang kaisar Romawi, Heraclius, sesudah dia mendengar dari Abu Sufyan, yang dikala itu belum masuk Islam, malah diantara para pemimpin Quraisy yang paling gigih memusuhi Rasulullah saw bagaimana sifat-sifat Muhammad saw beserta pengikut-pengikutnya, sudah merasa cukup untuk mengambil kesimpulan:

"…Bila semua yang engkau terangkan itu benar, niscaya ia (Muhammad saw) akan menguasai bumi yang ada di bawah telapak kakiku ini. Aku sudah tahu bahwa seorang Nabi akan datang, tapi aku tidak sangka, bahwa dia akan dibangkitkan dari kalanganmu (bangsa Arab). Sekiranya aku sampai ke tempatnya, pasti akan kuperlukan menemuinya. Dan bila aku berhadapan dengan dia, akan kubasuh kedua telapak kakinya."[1]

Yang diterangkan oleh Abu Sufyan kepada Heraclius, dalam menjawab satu rentetan pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan secara kategoris oleh Raja Romawi itu kepadanya, antara lain ialah bahwa:Muhammad saw tampil sebagai Rasul dari kalangan kaumnya sendiri, tidak ada diantara nenek moyangnya yang menjadi raja, tidak ada sebelumnya diantara kaumnya yang menyampaikan ajaran-ajaran seperti yang dibawakan oleh Muhammad saw

Pengikut-pengikutnya pada umumnya terdiri dari orang-orang awam yang miskin. Tidak seorangpun dari pengikutnya yang murtad lantaran tumbuh benci kepada agama itu sesudah dimasukinya, Pengikutnya tidak berkurang, malah kian hari kian besar jumlahnya tidak pernah Muhammad saw kedapatan berdusta dan Tidak pernah ia mengkhianati janji.

Yang diajarkannya ialah supaya menyembah Allah semata-mata, dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, melarang menyembah berhala, menyuruh menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan hidup bersih lahir dan batin. Bagi seorang Heraclius yang berfikir secara kritis, pengetahuan tentang akhlaq pribadi Muhammad saw (serta hal ihwal para pengikutnya) yang diperoleh dari fihak lawannya sendiri, yang demikian itu baginya sudah cukup untuk sampai kepada kesimpulan seperti yang diucapkannya itu.

Dengan demikian pintu sudah terbuka, dan kebenaran sudah sampai, yakni diterima. Adapun apakah pengakuan kepada kebenaran itu oleh seseorang, selanjutnya juga akan  menjelma menjadi hidayah bagi dirinya, yang menuntun amal perbuatan dan tindak tanduknya, seterusnya, ini tidak lagi terletak dalam kekuasaan pembawa da'wah. Ini terletak di luar "wilayah da'wah" seperti yang pernah kita kemukakan terdahulu.[2]

Hutang pembawa da'wah, sebagaimana juga pembawa risalah adalah menyampaikan sehingga sampai, dalam arti yang demikian itu. Dan hutangnya juga, sekurang-kurangnya menjauhkan diri dari sisi pribadinya sendiri segala sifat-sifat dan tingkah laku yang dapat merintangi sampainya kebenaran yang dibawakanya. Soalnya bagi seorang mubaligh ialah bahwa satu kali dia melangkahkan kaki ke dalam gelanggang da'wah, maka semua mata dan telinga di sekitarnya tertuju kepada pribadinya, kepada tingkah lakunya, kepada sifat dan tabiatnya, ringkasnya kepada apa yang disebut "hidup pribadinya".

Boleh dikatakan bahwa semenjak itu, dia sebenarnya tidak lagi mempunyai hidup pribadi dalam arti yang lazim dipakai untuk orang lain. Semenjak itu dia menjadi "milik masyarakat", seorang "public person" dalam arti yang luas. Dia tidak bisa bersikap, turut saja perkataanku, jangan pedulikan bagaimana aku dan apa yang aku lakukan si samping itu! Tidak! Andaikata ada sesuatu fungsi lain dimana yang bersangkutan bisa bersikap begitu, kedudukan sebagai seorang pendukung da'wah tidak mengizinkan berpendirian demikian.

Mau tak mau gerak gerik dalam hidup pribadinya bukan saja diperhatikan, tetapi juga langsung dijadikan orang bahan perbandingan dengan apa yang dianjurkannya dan yang dilarangnya sebagai mubaligh. Apa yang dilihat dan didengar orang dari hidup pribadinya itu bisa menambah kekuatan daya panggilnya sebagai pembawa da'wah tapi bisa pula melumpuhkan daya panggilnya, yakni bila lain yang tampak dari yang terdengar.

Begitu pembawaan dari tugasnya.

Da'wah dan akhlaqul karimah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain, kalau da'wah hendak berhasil. Banyak hal-hal yang sulit yang tak dapat diatasi dengan semata-mata ilmu yang kering, dapat diatasi dengan akhlaq. Sebaliknya banyak kesulitan baru yang bisa timbul bila da'wah tidak didukung oleh akhlaq.

Salah satu contoh:

Suatu hal yang karakteristik (bersifat khusus) dari pekerjaan seorang mubaligh ialah bahwa ia melakukan tugasnya dalam rangka dan suasana kemerdekaan berfikir, yang diakui dan ditegaskan oleh Risalah sendiri, sebagaimana telah dikemukakan dalam bab Fiqhud Da'wah yang terdahulu. Seorang mubaligh yang menerima kemerdekaan berfikir dan mengatakan pendapat sebagai salah satu hak asasi, dan salah satu qaidah agama, tidak usah merasa kecil hati atau hilang kesabaran, apabila dalam melakukan tugasnya ia melihat ada berbagai perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sendiri tentang masalah agama. Yakni berupa perbedaan –perbedaan pendapat yang disebut ikhtilaf. Baik di bidang hukum fiqh ataupun dalam soal-soal yang sudah menyinggung bidang aqidah, ada yang ringan dan ada yang berat.

Sudah tentu sebagai seorang mubaligh, ia tidak bisa menghindarkan diri daripada menentukan posisinya di tengah-tengah persimpangsiuran faham dan pendapat itu. Ia seorang tempat bertanya. Dia dilarang kitman, menyembunyikan kebenaran yang dia sudah ketahui.

"Dan janganlah kamu samarkan yang benar dengan yang salah, dan (Janganlah) kamu sembunyikan kebenaran padahal engkau ketahui." (Al Baqarah 42).

Tidak ada gunanya dia bersikap pura-pura tak tahu, dia meniru-niru siasat burung unta yang terkenal itu: yakni menyurukkan kepalanya dalam pasir, supaya jangan kelihatan bahaya datang. Tidaklah selaras pula dengan tugasnya, bila ia mencoba-coba menutup rapat semua jalan bagi perbedaan faham itu sama sekali dengan alasan supaya semuanya hidup rukun, damai dan tenang.

Air yang dibiarkan tergenang dalam tebat atau balong terus menerus, tidak dialirkan, tidak ditambah, tidak dikurangi, tentu saja tenang. Tenang tapi tidak ada yang bisa hidup di dalamnya, kecuali benih dari segala macam penyakit. Bukan "ketenangan" yang semacam itu yang dikehendaki Risalah Muhammad saw. Risalah menghendaki pembersihan, menghendaki perkembangan…

Untuk ini, Risalah mewajibkan tafakkur, tadabbur, tafaqquh fid din, tafaqquh fiddunya al mutathawwirah, membukakan pintu ijtihad atas garis-garis yang tertentu, dan dengan perlengkapan alat-alat yang diperlukan untuk itu. Terkenal antara lain dalam rangka ini percakapan Rasulullah saw dengan Muadz bin Jabal, di waktu Muadz akan berangkat untuk memimpin pemerintahan daerah Yaman :…*  (Dikutip dari buku Mohammad Natsir, Fiqhud Da'wah, Yayasan Capita Selecta dan Media Da'wah, 2008).n.
Oleh: Mohammad Natsir

Bertanya Rasulullah saw kepada Muadz:

"Dengan apa engkau menentukan hukum?"

Menjawab Muadz: "Dengan Kitabullah."

Rasulullah saw: "Jika engkau tidak dapati (di sana)?"

Muadz: "Dengan Sunnah Rasulullah saw"

Rasulullah saw: "Jika engkau tidak dapati ( di sana)?"

Muadz: "Aku akan berijtihad dengan pendapatku."

Rasulullah saw: "Segala puji bagi Allah yang telah menyesuaikan (pendirian) utusan Rasulullah dengan apa yang diridhai oleh Rasulullah." (HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

Rasulullah saw menggemarkan umatnya melakukan ijtihad dalam menghadapi "perkembangan zaman yang terus beredar" ini dengan sabda:

"Barangsiapa berijtihad dan hasilnya betul, maka dia mendapat dua ganjaran dan barangsiapa berijtihad sedangkan hasilnya salah, maka dia mendapat satu ganjaran." (HR Bukhari)

Tafaqquh fiddin dan ijtihad, tidak mustahil, malah lazim menghasilkan pendapat yang berbeda-beda: Ikhtilaf.

Maka tidaklah ada hikmah dalam suatu usaha untuk membekukan amar makruf nahi mungkar, lantaran hendak mengelakkan ikhtilaf, lantaran ingin menjaga agar ketenangan jangan terganggu dengan akibat: segala sesuatu jadi tergenang, terapung tak hanyut.

Hikmah dengan membungkamkan da'wah, bukan hikmah, tapi suatu kelumpuhan; kelumpuhan yang mengakibatkan umat menjadi jumud, beku dan kesesatan terus merajalela.

Al Qur'an melukiskan sikap jumud dengan jawaban golongan yang membeku itu terhadap panggilan da'wah antara lain:

قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

"…Mereka berkata: Cukuplah bagi kami apa-apa yang kami dapati nenek moyang kami atasnya…" (Al Maidah 104)

قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا

"…Mereka berkata: Hanya kami hendak menurut (cara-cara) yang dilakukan oleh nenek moyang kami…"(Al Baqarah 170)

قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا

"…Mereka berkata: Hanya kami menurut apa-apa yang dianut oleh nenek moyang kami…" (Luqman 21)

Tidak ada larangan agama terhadap ikhtilaf yang dihasilkan oleh tafaqquh fiddin dan ijtihad. Yang merusak keutuhan umat dan lantaran itu terlarang, ialah jumud dan tafarruq, beku dan berpecah belah.

Kita sama sekali tidak harus memilih hanya salah satu dari alternatif: beku atau pecah belah. Tak ada yang harus dipilih antara jumud dan tafarruq. Kedua-duanya harus ditolak, kedua-duanya harus disingkirkan.

Semata-mata ikhtilaf tidak otomatis mengakibatkan tafarruq.

Di kalangan para shahabat pun juga terdapat ikhtilaf, perbedaan faham tentang masalah-masalah fiqh, tetapi mereka tidak pecah belah lantarannya. Mereka berpegang kepada petunjuk Risalah sendiri, bagaimana cara menghadapi sesuatu perbedaan pendapat.

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

"…Maka apabila kamu berbantahan tentang sesuatu, maka pulangkanlah kepada Allah dan Rasul." (An Nisa 59).

Dengan demikian mereka terhindar dari tafarruq.

Diantara para imam mujtahidin yang besar-besar pun ada ikhtilaf. Terdapat ikhtilaf diantara beberapa pendapat Imam Syafii dan pendapat-pendapat guru beliau, Imam Malik; antara beberapa pendapat-pendapat Imam Ibnu Hambal dengan pendapat-pendapat guru beliau, Imam Syafii; antara beberapa pendapat Imam Abu Hanifah dengan pendapat-pendapat para Imam mujtahidin yang bertiga itu (rahimahumullah).

Mereka berpegang teguh kepada pedoman yang telah dipakai oleh para shahabat. Dengan rumusan kata-kata yang terang dan dengan gaya masing-masing, mereka tegaskan kepada para murid dan pengikut-pengikut mereka, supaya jangan sekali-kali menganggap fatwa mereka sebagai suatu kata keputusan yang tidak bisa dibanding lagi, supaya bila bertemu dengan nash Al Qur'an atau Sunnah Rasul yang berlawanan dengan fatwa mereka, yang dipegang ialah Al Qur'an atau Sunnah Rasul dan fatwa merekalah yang gugur.

Kepada setiap orang yang menelaah fatwa beliau, Imam Syafii mengamanatkan pula:

"Apabila kamu menemui dalam kitabku sesuatu yang bersalah dengan Sunnah Rasulullah saw, maka berpeganglah kepada Sunnah Rasulullah saw dan tolaklah apa yang kufatwakan." (Al Baihaqi, Al Manar, jilid IV, 693).

Berkata Imam Malik bin Anas,

"Aku hanya seorang manusia, bisa salah, bisa betul; maka perhatikanlah pendapat-pendapatku; semua yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, perpegangilah, dan semua yang tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah, tinggalkanlah." (Ibn Abdil Barr, Al Manar, Jilid IV, 572).

Di waktu seorang bertanya kepada Imam Abu Hanifah bagaimanakah bila ternyata bahwa suatu fatwa beliau bersalahan dengan Kitabullah, dan bagaimana bila ternyata bersalahan dengan Sunnah Rasul. Beliau menjawab:

"Tinggalkan fatwaku lantaran (ketentuan) Kitabullah." Dan :

"Tinggalkan fatwaku lentaran (ketentuan) Sunnah Rasul saw. (Asy Syaukani, Al Qaulul Mufid 23).

Semakin tinggi mujtahid, semakin tinggi pula penghargaan mereka terhadap hak dan kesempatan untuk berijtihad bagi orang lain, baik yang sezaman dengan mereka ataupun yang datang sesudah mereka. Mereka berijtihad dengan sepenuh tenaga, dan penuh rasa tanggungjawab kepada Allah. Sebagaimana diketahui Imam Syafii tidak segan-segan mengoreksi fatwanya sendiri, bila beliau mengetahui, bahwa perlu dikoreksi. Dengan demikian ada Qaulul Qadim (fatwa yang terdahulu sewaktu di Irak) dan ada Qaulul Jadid (fatwa yang baru sewaktu di Mesir), dari Imam Syafii.

Berkata beliau,

"Tiap-tiap masalah yang sah atasnya dari Hadits Rasulullah saw dan menyalahi fatwaku, maka aku rujuk daripadanya (dari fatwaku), di waktu aku (masih) hidup dan sesudah aku mati." (Asy Syaukani al Qaulul Mufid 24).

 Ruju' kembali kepada kebenaran, bila ternyata keliru, mereka anggap suatu kewajiban, satu tindakan yang mulia, bukan satu keaiban.

Perhatikan pula, bagaimana "kolegialnya" segar dan ikhlasnya hubungan pribadi diantara mereka, sekalipun terdapat perbedaan diantara fatwa-fatwa mereka dalam beberapa hal. Meriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal,

"Telah berkata Syafii kepadaku: Bila kau mengetahui suatu hadits yang shahih, sampaikanlah kepadaku, supaya kujadikan dasar bagi fatwaku." (Al Manar IV, 694).

Sikap jiwa mereka yang bersih dalam semua hal, memang terbayang pula dalam kelaziman mereka menutup tiap-tiap fatwa mereka dengan kata-kata Wallaahu a'lam. Yakni: Inilah pendapatku, sebagai hasil dari ijtihadku, dengan sekuat daya ilmuku. Dalam pada itu Allah jua yang lebih mengetahui akan kebenaran.[i]

Sebaliknya berpantang pula mereka menggunakan kekuasaan duniawi untuk memonopoli fikiran orang banyak. Diriwayatkan bahwa pernah Khalifah Harun ar Rasyid bermaksud hendak mendekritkan fatwa Imam Malik sebagai "mazhab resmi" untuk dianut oleh seluruh warga negaranya. Tetapi Imam Malik sendiri yang tidak setuju dan melarang Khalifah berbuat begitu. (Asy Syaukani: Al Qaulul Mufid 28).

Demikianlah para imam mujtahidin menunjukkan dengan kata-kata yang terang, dan dengan contoh teladan yang amat indahnya dalam sejarah para ahli fikir dan perkembangan fikiran manusia, bagaimana yang disebut berijtihad, memeras otak mencari kebenaran, serta bertahkim kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul bila terdapat perselisihan faham: dan apa artinya mempertahankan keyakinan sendiri serta menghormati hak orang lain untuk berbeda pendapat. Sehingga terpelihara ikhtilaf tidak mengakibatkan tafarruq, keutuhan umat terpelihara, tanpa pembekuan dan keteguhan pendirian terjelma, tanpa taasub.

Demikianlah baik para sahabat ataupun para Imam Mujtahidin sama sekali tidak mengusahakan adanya pembekuan, sedangkan ikhtilaf diantara mereka tidak mengakibatkan tafarruq.

Maka tidak ada alasan sama sekali untuk terombang ambing dua hal yang tidak harus dipilih salah satunya itu, jumud atau tafarruq. Juga para alim ulama dan muballighin kita niscaya dapat menyingkirkan kedua-duanya. Petunjuk Al Qur'an tentang bagaimana menghadapi perbedaan pendapat itu, bukan dikhususkan untuk para Sahabat dan para imam mujtahidin zaman yang silam itu saja. Al Qur'an keseluruhannya berlaku buat mereka, buat kita sekarang ini, dan buat keturunan di belakang kita. Kebekuan dan perpecahan, kedua-duanya bisa disingkirkan dengan da'wah bil hikmah dengan mauidzah hasanah, dengan mujahadah billati hiya ahsan, dan dengan sama-sama bertahkim kepada Allah dan Rasul, dengan ridha! Dan dimana perlu dengan kesanggupan untuk keluar dari sesuatu pertukaran fikiran yang belum kunjung putus, dalam suasana "Allah lebih mengetahui" dan:

"Tuhan kita akan menghimpun kita, dan akan memberi keputusan antara kita dengan benar, dan Dialah Pemberi keputusan Yang Maha Mengetahui." (As Saba' 26).

Walaupun bagaimana , tidak dengan menyambung munadzarah yang belum selesai dalam kalangan para ahli, dengan pertengkaran mulut yang tak menentu di kalangan awam.

Pernah Imam al Ghazali menasehatkan kepada mereka yang hendak memasuki pembahasan-pembahasan "khilafiyah", supaya terlebih dahulu memenuhi ketentuan-ketentuan yang sudah "mutafaq alaih", yakni yang sudah tidak syak lagi, semua Umat Islam bersatu pendapat tentangnya.

Berkata beliau: "Semua ahli agama sudah sepakat, bahwa perbekalan untuk hidup akhirat adalah taqwa, dan wara' (kebersihan rohani dan kebersihan dari segala tingkah laku yang mungkar), bahwa mencari nafkah dengan jalan yang haram, memiliki harta haram, menceritakan keburukan orang lain (namimah), mencuri, berkhianat dan lain-lain hal yang terlarang oleh agama, hukumnya haram dan bahwa semua yang diperintahkan oleh agama, hukumnya wajib.

Maka apabila engkau sudah penuhi ini semua, aku akan ajarkan bagaimana jalan keluar dari kemusykilan masalah-masalah khilafiyah itu.

Tapi bila seseorang yang tidak memperdulikan kewajiban-kewajibannya yang "muttafaq alaih" ini semua, lalu bertanya-tanya kepadaku perkara soal-soal khilafiyah, dia itu bukan seorang awam (yang memang menghajatkan keterangan hukum untuk diamalkannya) tetapi seorang "jadaly", (yang suka debat berdebat) saja.

Adakah engkau melihat teman-temanmu yang sudah memenuhi (ketentuan-ketentuan) ini semua, lalu kena cekik oleh kemusykilan-kemusykilan masalah khilafiyah?", tanya Imam al Ghazali.[1]

"Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu sekalian ke dalam keselamatan dan jangan kamu turut langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya ia itu musuhmu yang nyata." (Al Baqarah 208).

Dalam hubungan dengan ayat-ayat surat al An'am 153 dan 159, Syekh Muhammad Abduh berkata antara lain:

"…Ayat-ayat ini adalah hujjah bagi ulama-ulama usul yang berkata bahwa hak itu adalah satu, tidak berbilang. Alangkah baiknya apabila mereka yang berpegang kepada usul ini, mewajibkan atas diri mereka, untuk berkumpul pada setiap kali mereka berjumpa dengan perbedaan faham, lalu membahasnya, untuk mencari kebenaran tanpa taasub dan tanpa nifaq, sehingga bila mereka dapat melihat kebenaran itu, mereka berijma' atasnya. Tetapi apabila sebagian dari mereka belum dapat melihat, maka mereka harus bertekun mencarinya dengan ikhlas, dan dan tidak ada seseorang diantara mereka memusuhi yang lain lantaran (masalah) itu, dan tidak pula menjadikannya suatu alat untuk perpecahan. Jalan hak adalah persatuan dan berserah diri (kepada Allah SWT) dan jalan-jalan syaithan adalah mengorbankan perpecahan dan permusuhan…Ini cukup diketahui di kalangan umat manusia. Hanya syaithan (senantiasa) memikat manusia kepada jalan-jalan yang ditempuhnya dan menggambarkan kepada mereka seolah-olah ada keuntungan-keuntungan dan kebaikan dalam perpecahan dan permusuhan…" Demikian Syekh Muhammad Abduh.

Maka tidaklah begitu sulit untuk mencarikan jawab bagi pertanyaan: darimana tafarruq.

Kalau kita mau mencari sumbernya secara jujur, nyatalah bahwa timbulnya tafarruq bukan saja lantaran tidak adanya hikmah dalam da'wah, tetapi terutama lantaran luputnya ikhlash, lantaran datangnya ananiyah yang menggantikan ikhlas, maka pulang kepada "tazkiyatun nafs" yang telah kita kemukakan dalam bab "Fqihud Da'wah" yang terdahulu.

Apabila sudah datang ananiyah mencampuri usaha da'wah, maka hinggaplah ria pada diri pembawa da'wah, dan taasub pada lingkungan pengikutnya. Penyakit riya disatu fihak, dan taasub di lain fihak, kedua-duanya menghalang-halangi seorang mubaligh untuk ruju' dari kekeliruan bila ada, kedua-duanya mendorongnya supaya mempertahankan tuahdan prestise diri dan golongannya, mendorongnya supaya terus pula mempertahankan tuah itu sampai jadi lebih besar lagi kalau masih bisa; kedua-duanya menutup matanya dari tempat bertahkim, yang ditunjukkan oleh Risalah, yang diperpegangi oleh para Sahabat dan para imam mujtahidin yang mukhlisin itu.

Ia lebih suka bertahkim kepada khalayak ramai yang turut menonton debat, kepada jumlah murid dan pengikut masing-masing: mana yang lebih banyak!

Para murid dan pengikutpun dibiarkan beradu antara satu sama lain, dimana saja asal bertemu, di tempat walimah, di tempat orang kematian, di pasar-pasar dan warung-warung kopi, lebih banyak bersifat perang ejekan dan cemooh, sambil membagi-bagi api neraka bagi masing-masing lawan daripada bertukar hujjah dan keterangan secara sungguh-sungguh. Segala sesuatunya demi untuk menegakkan tuah Tuan Guru masing-masing.

  Adapun din, adapun agama itu sendiri sudah lama tercecer di tengah jalan. Tidak lagi dirasakan sebagai kepunyaan Allah, akan tetapi sudah seolah-olah dijadikan milik monopoli masing-masing golongan untuk melayani kepentingan golongan masing-masing.

Ini sudah bukan ikhtilaf lagi dan bukan da'wah lagi. Yang macam ini tidak ada sangkut pautnya dengan da'wah lilLah, sebagai kelanjutan Risalah Muhammad saw.

"Sesungguhnya orang-orang yang membagi agama mereka, sehingga menjadi beberapa golongan yang berpisah-pisah, bukanlah engkau (Muhammad) dari (golongan) mereka tentang sesuatu apapun." (Al An'am 159).

Ini tafarruq dan sebab-sebab tafarruq.

Bukan lantaran adanya ikhtilaf, bukan lantaran adanya da'wah. Tetapi akibat dari turut campurnya hawa nafsu dalam da'wah. Akibat menyelinapnya sifat ananiyah, dengan rentetan anak cucunya ke dalam pribadi pembawa da'wah. Ringkasnya akibat pembawa da'wah ketinggalan akhlaq.

Dalam keadaan yang semacam itu, bagaimana pula dia akan mampu menebarkan benih akhlaq di kalangan umat sekitarnya? Dan kalau para penuntun beserta para pengikut sudah sama-sama ketinggalan yang satu itu, sedangkan hawa nafsu sudah memegang kendali, tafarruq apakah yang takkan bisa terjadi sesudah itu?

Segala macam akan bisa terjadi, dalam keadaan itu, walaupun ilmu masing-masing sudah menerawang langit:

"Maka sudahkah engkau perhatikan (keadaan) orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah biarkan dia sesat, padahal ia tahu (bagaimana yang semestinya)" (Al Jatsiah 23).

Segala macam akan bisa tersua, kecuali kalimatullah hiyal ulya, dan pembinaan umat atas dasar kalimah itu. Oleh karena itu akhlaq adalah soko guru bagi pembangunan umat. Rasulullah saw sendiri pernah menyimpulkan tujuan seluruh Risalahnya dengan:

"Sesungguhnya aku tidak diutus, melainkan untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia."

Risalah keseluruhannya ditujukan kepada penyempurnaan akhlaq yang mulia. Bagaimana akan melanjutkan Risalah itu dengan da'wah tanpa akhlaq pada sisi orang yang membawakan da'wah itu!

Tanpa akhlaqul karimah tak aka nada uswah yang baik, tak aka nada lisanul hal yang menarik, tak aka nada hajrun jamil, cara perpisahan yang indah, tak akan ada qaulan sadid, kata yang lurus dan tepat, keluar dari hati yang murni, tak aka nada mawaddah fil qurba, hubungan rasa ikhlas mesra dan dengan demikian, tak aka nada hikmah.

Yang akan mungkin ada hanyalah kecerdikan mempesona orang banyak, hampa dari jiwa iman dan taqwa. Dan dengan demikian yang akan mungkin ada pula, ialah semacam hiburan untuk umum, selama yang berpidato berdiri di atas mimbar, sebagaimana hiburan yang dapat dihidangkan oleh sandiwara komisi stambul, selama para pelakon bermain di atas panggung, sebelum layar diturunkan.

Tetapi bukan da'wah bilhikmah, bukan da'wah lilLah.

Akhlaqul karimah adalah tiang tengahnya da'wah.

Tidaklah pula suatu masyarakat itu menuntut supaya mubalighnya harus seperti malaikat. Mereka pun maklum bahwa mubaligh mereka bukan seorang Nabi yang ma'shum.

Yang diharapkan mereka ialah, supaya penuntun mereka itu memeloporimereka dalam perbuatan, untuk menegakkan amar makruf, yang dianjurkannya: mendahului mereka dalam menjauhkan diri dari kemungkaran yang disuruh jauhinya, mendahului mereka dalam menegakkan akhlaq dan moral yang tinggi.

Menegur Allah SWT dalam Al Qur'anul Karim:

"Adakah (patut) kamu menyuruh manusia berbuat kebaikan, padahal kamu lupakan diri kamu (sendiri), sedangkan kamu membawa kitab (agama kamu)? Kalau begitu apakah kamu tidak mau mengerti?" (Al Baqarah 44).

Yakni apakah kamu tidak mengerti, bagaimana seharusnya menjalankan tugasmu?

Diperingatkan pula selanjutnya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Kenapakah kamu berkata apa-apa yang tidak kamu kerjakan? Besar kemurkaan di sisi Allah, lantaran kamu berkata apa yang kamu tidak kerjakan." (as Shaff 2-3).

Yakni bila kamu tidak kerjakan bermacam kebaikan yang kamu sebut-sebut (anjur-anjurkan).

Nyatalah bahwa belumlah cukup, bila seorang pembawa da'wah baru hanya membawakan ilmu, dan membawakan hikmah dalam arti cara-cara mempergunakan ilmu itu.

Berdoa Nabi Allah Ibrahim as:

 "Wahai Tuhan Kami! Dan bangkitkan diantara mereka itu seorang Rasul dari (kaum) mereka, yang membacakan kepada mereka firmanMu dan mengajarkan kepada mereka Kitab itu, dan hikmah, dan membersihkan mereka, karena sesungguhnya Engkaulah Yang Gagah, Maha Bijaksana." (al Baqarah 129).

Doa Nabi Allah Ibrahim as telah terkabul dengan diutusnya Rasulullah, Muhammad saw yang membawakan kepada umatnya: ilmu (kitab), hikmah dan tazkiyah, pembersih rohani yang memancarkan akhlaqul karimah.

Maka kita berdoa kepada Allah Yang Maha Karim, semoga umat kita ini, senantiasa dikaruniai Ilahi, para pembawa da'wah yang selaku ahli waris Nabi-Nabi, memiliki ketiga-tiga unsur Risalah itu pada diri mereka: ilmu, hikmah, tazkiyatun nafs, dalam kadar setinggi mungkin yang dapat mereka miliki sebagai manusia mu'min yang mukhlish sehingga mereka sanggup menebarkan benih-benih tersebut, sebagai penawar hidup, ke dalam tubuh Umat Islam, dari masa ke masa! Amin! * (Dikutip dari buku Mohammad Natsir, Fiqhud Da'wah, Yayasan Capita Selecta dan Media Da'wah, 2008).n.

 

 

[1] Qisthasul Mustaqim, Tafsir Muhammad Abduh, jilid 3, 15.

[i] Imam Malik bin Anas, rela dihukum pukul, daripada melepaskan pendirian yang diyakininya. Imam Ahmad bin Hambal, dirantai oleh penguasa negara, Khalifah Ma'mun, lantaran tidak mau menurut perintah untuk merngubah pendiriannya mengenai suatu masalah aqidah (tentang hadits atau qadimnya Qur'an). Imam Abu Hanifah dipenjarakan oleh Khalifah al Mansur, lantaran tidak mau diangkat menjadi Qadhi. Beliau wafat dalam penjara.

[1] Shuwarun min Hayatir Rasul, Amien Dwaidar. Andaikata Heraclius sampai bertemu dengan Rasulullah saw, tentulah dia tidak akan dibiarkan memberi penghormatan semacam itu, satu perhormatan antara sesama manusia, yang walau bagaimanapun tidak dibenarkan oleh Islam.

[2] Sebagaimana diketahui, di waktu melihat bahwa para pembesar Romawi di kalangan istana menentang sikapnya itu, Heraclius khawatir akan kehilangan kekuasaannya lalu dia mundur. Tapi surat Rasulullah saw disimpannya baik-baik, tidak dirobeknya, sebagaimana dituntut oleh pembesar-pembesar istananya. Haus kepada kekuasaan duniawi juga menabirnya dari kebenaran yang sudah tampak olehnya, sebagaimana juga ketakutan dan ejekan dan cemooh orang telah menghambat Abu Thalib paman Rasulullah, untuk menerima seruan Muhammad saw. Meskipun demikian kekuasaan Heraclius tidak urung berkurang jua justru lantaran sikap yang maju mundur itu. Kaisar Najasyi yang sudah masuk Islam dengan yakin melepaskan diri dari kekuasannya, dan menghentikan pembayaran upeti kepada kerajaan Romawi. Tatkala Heraclius ditanya kenapa dia tidak bertindak terhadap Kaisar Najasyi, dia menjawab: "Seseorang menghajatkan agama, lalu dia pilih mana yang cocok. Demi Allah kalaulah tidak hendak tetap memegang kerajaanku, pasti aku akan berbuat seperti yang dilakukan oleh Najasyi." (Zaadul Maad III). Dalam pada itu apa yang diamalkan oleh Heraclius menjadi kenyataan juga. Islam berkembang juga sampai ke bumi yang pernah berada di bawah telapak kakinya itu (Syam), dan lebih luas lagi dari itu.

Kehidupan Dunia Ibarat Panggung Audisi, Seleksi Yang Terbaik



Sekarang ini dalam keseharian kita disuguhi banyak sekali acara pencari bakat di televisi. Mulai dari A sampe ke Z, ada semua. Semua konsep acara itu, tentunya satu, mencari bakat-bakat dari anak-anak muda yang teramat ingin eksis di dunia ini. Semua orang berjejal, dari yang muda sampai kepada yang tua. Mereka berjubel-jubel untuk antri, yang antriannya itu sampai mengekor ratusan meter, dengan hanya satu tujuan yaitu ingin menjadi artis terkenal, bisa disorot kamera dan tentunya bisa muncul di kotak yang bernama “Televisi”.Mereka rela berjam-jam mengantri dengan beragam dandanan yang aneh-aneh, dengan acuan fashion masa kini yang mereka lihat dari gaya artis-artis barat sana. Mereka dengan ikhlas dan rela meninggalkan waktu makannya demi mengikuti audisi. Bahkan tak jarang ada yang dengan sukarela meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim, memenuhi panggilan sayang dan cinta dari Sang Pemilik Sayang dan Cinta Sejati.

Padahal, tanpa disadari, kita semua adalah artis yang sangat terkenal. Setiap hari, bahkan setiap detik, kita di shoot oleh Cameraman yang super ulet dan teliti dengan menggunakan kamera yang super duper canggih dengan sutradara yang Maha Dahsyat. Manakala kita sendiri dan merasa tak ada yang mengawasi, kamera itu terus merekam setiap adegan yang kita buat. Film kita tinggal menunggu waktu untuk diputar.Nah saat waktu itu tiba, film kita pun akan ditonton seluruh ummat manusia mulai dari jaman Adam sampai nanti zaman akhir. Jadi sebenarnya kita adalah seorang aktris, yang kelak akan mendapatkan penghargaan berupa surgaNya ataukah nerakaNya.

Sekarang, tinggal bagaimana kita menjalankan setiap instruksi dari sutradara dengan baik. Ingat, seorang artis yang sangat berpengalaman saja bisa kena damprat sutradara manakala dia tidak profesional dan tidak menjalankan skenario sesuai arahan sutradara. Dia bisa saja kena marah sampai dipecat. Itu baru kejadian di dunia dan sesama manusia. Bagaimana bila berhadapan dengan Sang Sutradara sesungguhnya?  Ya, hal itu bisa berwujud cobaan, ujian, bahkan azab and finally berupa surgaNya atau nerakaNya. Jadi sebenarnya, kita semua adalah seorang artis di dunia yang fana ini, dunia yang penuh tipu daya. Karena memang dunia ini penuh dengan fatamorgana yang menyilaukan. Jadi, kita seharusnya mengikuti seluruh instruksi Sutradara karena kita sudah punya skenario yang berupa Al Qur’an dan Hadist. Sekali lagi, ingatlah bahwasa kita adalah seorang artis yang senantiasa dipantau dengan kamera yang super duper canggihnya.

Semoga kita semua bisa menjadi artis yang profesional dan bisa melaksanakan setiap instruksi dan arahan sutradara yang telah tertulis dalam skenarionya hingga kita dapatkan penghargaan berupa surgaNya kelak.

Insya Allah.

Oleh : masjid al amanah

Wednesday, 4 January 2017

Ini Alasan Kenapa Berdakwah Tidak Harus Pakai Dalil

 Oleh : M Alie Marzen


Sabda Nabi saw :

Mudahkanlah setiap urusan dan janganlah kamu mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kamu membuatnya lari, dan bersatu padulah, Lantas Abu Musa berkata; Wahai Rasulullah, di daerah kami sering dibuat minuman dari rendaman madu yg biasa di sebut dgn Al Bit'u dan minuman dari rendaman gandum yang biasa di sebut Al Mizru. Maka Rasulullah menjawab: Setiap yang memabukkan adalah haram. (HR. Bukhari).

 Penjelasan Singkat

Jaman sekarang ini makin banyak aliran yang aneh-aneh gaya dakwahnya pun selalu tidak dimengerti oleh bahasa orang pada umumnya, kesannya malah seperti membaca teks daripada orang yang sedang berdakwah kepada yang lainnya, tidak jarang mereka berdakwah sampai harus detil membawakan riwayat hadits ini nomer ini diriwayatkan ini dan ini seterusnya, malah sebenarnya ilmu intinya tidak sampai mengena kedalam hati pendengarnya. Yang ada pendengarnya malah mengantuk, wahai para da'i yang mengaku bermanhaj salaf mungkin sebagian kalian salah paham terhadap perkataan ulama bahwa tidak boleh berdakwah atau berbicara kecuali sesuai dengan dalil. Bahkan ada yang memahami bahwa setiap pembicaraan harus menyertakan dalil atau tidak boleh berdakwah kecuali menghafal dalilnya. Pemahaman ini tentunya salah  tanpa meremehkan hafalan dalil, Yang benar adalah berbicara atau berdakwah walau dengan bahasa manusia umumnya tapi harus sesuai dengan dalil dan tidak boleh menyelisihinya sekalipun tidak menghafal atau tidak menyebutkan dalilnya.


  Contoh saja: memerintahkan untuk menunaikan shalat tanpa menyebut ayat atau hadis tentang shalat, sebab shalat sesuai dengan dalil perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.Dan sebaliknya. Maka disyaratkan bagi seorang da'i untuk memahami dalil secara benar. Contoh: memerintahkan berbuat baik kepada orang tua atau berakhlak  mulia sekalipun tidak menghafal ayat atau hadis yang berkaitan dengannya.

Wahai para Da'i yang mengaku hafal ilmu hadits dan ayat al-Qur'an, kami tahu bahwa kamu memang orang intelek yang paham semua dalil dan penjelasannya, beserta rujukannya kitab-kitab ulama, tapi ingatlah tidak semua pemirsa atau pendengar atau obyek dakwah kita itu orang berilmu seperti anda bahkan kebanyakan adalah orang awam, yang hanya bisa paham dengan bahasa bahasa lugu seperti bahasa anak-anak.  Sebagai contoh dai sukses adalah Alm. KH zainudin MZ disebut dai sejuta umat karena bahasanya mampu diterima seluruh lapisan masyarakat, contohlah dia jika anda ingin jamaah anda tambah banyak dan cara dakwah anda diminati banyak orang, beliau metode dakwahnya adalah satu dalil dijabarkan dengan beribu kata, bukan satu kata dijabarkan dengan seribu dalil seperti kebanyakan dai dai muda jaman sekarang, apalagi ditambah-tambah istilah arab yang tidak semua orang awam tahu artinya, seperti contoh bahasa-bahasa istilah seperti antum, ana akhi atau ukhtifillah, ihkwanifillah, barokallahufikum dan sebagainya, lebih baik anda gunakan bahasa seperti wahai kaum muslimin yang dirahmati Allah atau wahai saudara seiman, semoga kita dapat berkah dari Allah dsb, sesuai kaidah bahasa kita. Maka hal itu akan lebih diterima banyak kalangan.

Intinya Berdakwah dibolehkan tidak pakai dalil, yang penting apa yang disampaikan tidak bertentangan dengan dalil, karena nasehat yang baik dan bijak hakikatnya adalah dakwah pula, Intinya dakwah harus dengan ilmu yang mapan tidak asal omong semaunya sendiri.

wallahualam

Sunday, 31 January 2016

ISLAM AGAMA PERADABAN ANTI TEROR

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Jika orang melihat Islam hanya sebagai agama, kesan yang pertama dibenaknya adalah doktrin, dogma, syariat atau ajaran halal-haram. Dalam persepsi orang sekuler, dogma akan dibarengi dengan fanatisme, fanatisme berarti ekslusifisme yang akan membawa kekerasan dan bahkan terorisme. Untuk orang yang berfikiran seperti ini Islam perlu ditampilkan sebagai agama dan sekaligus peradaban.

Islam sebagai peradaban berarti di dalam ajaran Islam terdapat aspek aqidah atau kepercayaan kepada Tuhan, dan syariah meliputi aspek peribadatan pada Tuhan dan tata tertib kehidupan sosial yang diatur oleh hukum. Jadi aqidah dan syariah itu mengandung konsep hubungan antar sesama manusia, sebagai implikasi dari hubungan dengan Tuhan. Semakin baik hubungan seseorang dengan Tuhan semakin baik pula hubungannya dengan manusia.

Jadi Islam bukan agama yang melulu berisi dogma-dogma dan ritual peribadatan, tapi agama yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Maka dari itu ketika Islam diamalkan dalam kehidupan kemasyarakatan ia akan membentuk sistim-sistim kehidupan, seperti ekonomi, politik, kebudayaan, sosial dan sebagainya. Itulah din al-Islam yang menjadi tamaddun

Tamaddun atau peradaban Islam tentu lahir di tengah kebudayaan lain. Ketika berinteraksi dengan umat, komunitas atau peradaban lain banyak hal yang mungkin terjadi. Pertama, umat Islam yang datang pada peradaban lain akan menawarkan ajaran agama Islam. Ketika tawaran diterima ada aspek kebudayaan itu yang akan tergeser oleh ajaran Islam. Kedua, dengan masuknya Islam ke sebuah kebudayaan atau bangsa lain tentu selain menerima Islam mereka akan mempertahankan tradisi, kultur ataupun kebiasaan mereka masing-masing yang tidak bertentangan dengan Islam. Ketiga, ketika memasuki kebudayaan atau bangsa lain umat Islam akan memanfaatkan apa-apa yang telah mereka capai, oleh sebab itu proses-proses adapsi, asimilasi dan integrasi hal-hal yang berasal dari peradaban lain tidak dapat dihindarkan.

Ketiga kemungkinan di atas dapat dikatakan sebagai proses dan hasil perkembangan peradaban Islam. Prosesnya oleh al-Attas disebut Islamisasi dan hasilnya adalah peradaban Islam. Islamisasi adalah pembebasan masyarakat dari tradisi kultural bersifat magis, mitologis, animistis and etnis yang tidak sesuai dengan Islam. Dan juga pembebasan pikiran dan bahasa manusia dari kontrol paham sekuler, yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Jadi Islamisasi adalah mengembalikan manusia kepada fitrah atau naluri aslinya.

Hasil dari proses itu adalah apa yang dapat disebut sebagai peradaban Islam. Peradaban Islam adalah "Peradaban yang muncul dari berbagai kultur umat Islam di dunia, sebagai hasil dari penyerapan mereka terhadap din Islam dan dari sesuatu yang mereka lahirkan dari hasil penyerapan itu. (SMN.Al-Attas, Historical Fact and Fiction, UTM-CASIS, Kuala Lumpur, 2011, xv). Sudah tentu disini tidak berlaku inkulturasi atau akulturalisasi dimana Islam menyesuaikan dengan kultur manapun meskipun itu bertentangan dengan ajaran Islam.

       Proses Islamisasi pandangan hidup yang telah terjadi dalam sejarah peradaban Islam diilustrasikan dengan baik oleh al-Attas melalui teorinya tentang Islamisasi pandangan hidup bangsa Melayu. Dalam hal ini al-Attas membagi proses itu menjadi tiga periode. Periode pertama dimulai sejak abad ke 13 dimana Islam masuk ke dunia Melayu melalui penerapan syariah. Maka dari itu Fiqih dan pengamalan Islam secara praktis disaat itu sangat dominan. Konsep Tuhan dalam Islam belum banyak ditekankan sehingga masih kabur, difahami secara samar-samar dan bahkan bertumpang tindih dengan pandagan hidup kuno Hindu-Buddha. Periode kedua, dimulai sejak abad ke 15 hingga akhir abad ke 18. Pada periode  ini tasawwuf dan kalam cukup dominan, sehingga konsep fundamental tentang Keesaan Tuhan dijelaskan. Disini pandangan hidup Islam jelas mempengaruhi pandangan hidup bangsa Melayu dengan masuknya istilah dan konsep-konsep Arab kedalam istilah-istilah bahasa Melayu. Periode ketiga proses Islamisasi adalah kelanjutan dari fase kedua.  Sebagai hasil dari proses Islamisasi tersebut al-Attas menyimpulkan:

Melalui tasawwuflah masuknya semangat intelektual dan rasional yang tinggi ke dalam pikiran masyarakat waktu itu, ia membangkitkan semangat intelektualisme dan rasionalisme yang tidak wujud pada era pra-Islam… yang merevolusi pandangan hidup bangsa Melayu-Indonesia, mengubahnya dari suatu dunia mitologi yang rapuh.. kepada dunia intelektualisme,   dunia akal dan dunia yang teratur; ….dan akhirnya semangat itu mempersiapkan bangsa Melayu-Indonesia, dalam beberapa hal, untuk dunia modern yang akan datang. (Al-Attas, The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur: University of Malaya Press, 1970, hal. 191-192).

Bagaimana konsep dari masa pra-Islam itu berubah oleh karena konsep-konsep dalam pandangan hidup Islam, dicontohkan dengan jelas oleh al-Attas dalam  kata "ada" dan "wujud". Kata-kata "ada" (yang berarti menjadi, meng-ada atau sesuatu yang ada) pada masa Pra-Islam telah dipakai dengan prefix ber atau digunakan secara sinonim dengan kata-kata isi. Ia menunjuk suatu kategori wujud atau Being yang terbatas yang sebenarnya bersifat material, kebendaan atau fisik yang meruang dan me-waktu. Namun dengan datangnya Islam, khususnya melalui tasawuf dan kalam,  konsep ada itu berubah secara mendalam dan radikal, yang merefleksikan suatu pandangan hidup metafisika Islam yang baru yang dikaitkan dengan konsep al-mawjud, yaitu yang mengejawantah secara zahir tapi juga yang tersembunyi secara batin.( Al-Attas, The Mysticism, hal. 163–169). Demikian pula kata-kata bahasa Arab wujud, yang menunjukkan makna suatu konsep yang  abstrak yang sekaligus juga suatu realitas Being  atau sesuatu yang ada (being), tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu karena tidak adanya kata-kata yang sesuai.

Selain kedua istilah di atas masih terdapat beberapa istilah dan konsep-konsep kunci yang berasal dari bahasa Arab yang kemudian terserap dalam bahasa Melayu dari sejak abad ke 15 hingga sekarang. Konsep-konsep itu diantaranya adalah roh (ruh), akal ('aql), kalbu (qalb), nafsu (nafs), faham (fahm), jasad (jasad), jisim (jism), jasmani (jusmani), jauhar (jawhar), juz (juz'), kuliah (kulliyah), ilham (ilham), sedar (dari bahasa Arab sadr = dada), fikir (fikr), zikir (dhikr), ilmu ('ilm), yakin (yaqin), shak (shakk), zann (zann), jahil (jahl), alam (alam), pengalaman (dari bahasa Arab: 'alam), sebab (sabab), musabab (musabbab), akibat (aqibah), hikmah (hikmah), adab (adab), martabat (maratib), derajat (darajat), maudu' (maudu'), adil (adl), zalim (zulm), ma'rifat (ma'rifah), ta'rif (ta'rif), hakekat (haqiqah), kertas (qirtas), sharah (sharh), bahas (bahth), hukum, hakim, mahkamah  (dari Arab: hukm), murid (murid), tarekh (tarikh), zaman (zaman), awal (awwal), akhir (akhir), sejarah (shajarah), abad ('abad), waktu (waqt), saat (sa'ah), kursi (kursiy), dan banyak lagi lainnya. Penggunaan istilah dan konsep-konsep kunci tersebut telah mengindikasikan adanya perubahan cara pandang bangsa Melayu terhadap banyak hal dalam kehidupan mereka. Karena cara pandang bangsa atau masyarakat (Melayu) didominasi oleh konsep atau cara pandang asing (Islam) maka identitas bangsa dan masyarakat itu akan hilang digantikan oleh konsep dan cara pandang asing (Islam) yang lebih dominan. Demikian pulalah yang terjadi jika konsep dan cara pandang yang dominan adalah Barat.

Penggunaan istilah dan konsep-konsep kunci tersebut telah mengindikasikan adanya perubahan cara pandang bangsa Melayu dan digantikan oleh cara pandang Islam. Teorinya dapat dirumuskan begini jika suatu bangsa atau masyarakat didominasi oleh konsep atau cara pandang asing maka identitas bangsa dan masyarakat itu akan hilang digantikan atau didominasi oleh konsep dan cara pandang asing.

Pembahasan singkat tentang Islamisasi di atas sekedar menunjukkan suatu proses yang tak terlihat dalam tulisan sejarah Melayu, khususnya jika kajiannya terpusat pada aspek politik. Dengan kata lain proses Islamisasi melalui jalur politik dan kekuasaan sejatinya didahului oleh atau disertai dengan Islamisasi pandangan hidup dan konsep-konsep, dan pada tingkat tinggi Islamisasi sistim-sistim.

Dalam edisi ini kajian difokuskan pada kronologi masuknya Islam melalui para saudagar. Sebab Islam datang ke Nusantara tidak dengan sebuah serbuan bala tentara perkasa dengan pedang terhunus. Islam datang melalui perdagangan alias dibawa oleh para saudagar. Sebab Nusantara memang kawasan lalu lintas perdagangan dunia. Para pedagang, pelaut, atau musafir dari berbagai belahan dunia seperti China, Arab, India, Asia Tenggara, Persia, sudah biasa berlalu lalang dikawasan ini. Namun, dari para saudagar itu Islam dibawa masuk ke dalam jantung kekuasaan raja-raja sehingga proses politik menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Sorotan kajiannya diarahkan pada proses awal masuknya Islam ke Nusantara secara umum, kemudian dilanjutkan dengan kajian tentang pembebasan kawasan Sunda, Jawa dan Sulawesi.  Kajian yang belum dilakukan adalah masuknya Islam kedalam kawasan Sumatera dan kawasan lain di Indonesia.

Kajian tentang kapan Islam pertama kali masuk ke Nusantara merupakan wacana yang menarik para sejarawan Melayu. Pendapat yang lebih dapat dipercaya adalah bahwa Islam telah masuk ke Nusantara seawal abad ke-7 Masehi, yakni zaman Khulafa' Rasyidin. Faktanya dari Cina bahwa zaman Dinasti T'ang (618-907 M) yang menyebut orang-orang Ta-Shih (yakni Arab) mengurungkan niat mereka menyerang kerajaan Ho Ling yang diperintah Ratu Sima (674 M). Fakta lain merujuk kepada angka tahun yang terdapat pada batu nisan seorang ulama bernama Syaikh Ruknuddin di Baros, Tapanuli, Sumatera Utara, dimana tertulis tahun 48 Hijriah yakni 670 Masehi. Informasi lain menunjukkan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara melalui Champa (Kamboja dan Vietnam sekarang) sejak zaman Khalifah 'Utsman, yakni sekitar tahun 30 Hijriyah atau 651 Masehi.

Selain sejarah masuknya Islam ke Nusantara asal muasal Islam yang datang ke Nusantara juga menjadi kajian penting di sini. Ada sedikitnya enam kemungkinan dari mana Islam datang. Ada yang mengatakan dari Gujarat, ada pula yang meyakini dari Benggala, jazirah Arab, Persia dan terakhir dari Cina. Dan yang tidak kalah penting adalah siapa yang membawanya apakah para saudagar, para ulama yang berdagang atau siapa. Sebab dengan itu akan diketahui corak Islam yang seperti apa yang pertama kali masuk ke negeri ini. Di tengah kontroversi itu al-Attas membuktikan bahwa Islam dibawa oleh Syaikh Isma'il yang atas perintah Gubernur (Syarif) Mekkah pada sekitar abad ke-9 Masehi. Lebih lanjut tentang kajian bagaimana model da'wah di Nusantara dan apa kekuatan Islam sehingga dapat masuk ke dalam kehidupan bangsa Melayu di Nusantara lihat Dr Syamsuddin Arif, Islam di Nusantara: Historiografi dan Metodologi.

Khusus untuk kawasan Sunda, Islam masuk melalui para pedagang yang diperkirakan pada abad ke-7 M hingga abad ke-11 M. Pada masa itulah kemungkinan bertemunya masyarakat Nusantara dengan para pedagang Muslim dari negara-negara Islam. Tempat-empat persinggahan para pedagang di Tatar Sunda meliputi Banten, Jakarta dan Cirebon. Di Cirebon dipelopori oleh Sunan Gunung Jati, namun lebih awal dari itu pemeluk Islam pertama adalah Bratalegawa. Bratalegawa adalah putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, penguasa Kerajaan Galuh yang mendapat julukan Haji Baharudin atau disebut juga sebagai Haji Purwa. Bukti lain masuknya Islam ke kawasan Sunda adalah munculnya komunitas Muslim di kawasan pesisir utara Jawa Barat seperti Cirebon, Karawang, dan sekitarnya. Pertanda adanya komunitas Muslim pada abad 11 M bisa dilihat dari dikenalnya nama orang yang disegani dan ditokohkan masyarakat. Nama-nama seperti Syeikh Qura, Kean Santang dan lain lain sudah merupakan pertanda masuknya Islam ke kawasan ini hingga abad ke 13.

Komunitas tersebut kemudian perlahan-lahan berkembang menjadi kekuasaan. Di kawasan Sunda (Tatar Sunda) abad-abad 13 hingga 16 merupakan abad berubahnya komunitas Muslim menjadi kekuatan politik. Di zaman itulah orang mengenal kerajaan Cirebon dan Banten, sementara pada zaman yang sama kekuatan kerajaan Sunda perlahan-lahan telah menunjukkan kemundurannya. Fakta lain yang dapat membuktikan masuknya Islam ke tanah Sunda adalah masuknya prinsip-prinsip Islam kedalam pandangan hidup orang Sunda. Berkembang jargon di tengah masyarakat Sunda Sunda teh Islam, Islam teh Sunda adalah bukti mendarah mendagingnya agama Islam dalam kehidupan mereka. Kondisi masyarakat Sunda seperti ini dalam teori al-Attas telah mengalami proses Islamisasi tahap pertama menuju tahap kedua, yaitu tahap perkenalan syariah. Di sini haji dianggap pelaksanaan syariah yang tertinggi dan kerena itu yang telah menunaikan ibadah haji mendapat penghormatan yang tinggi. (Baca : Tiar Anwar Bachtiar, Islamisasi Tatar Sunda, Perspektif Sejarah Dan Kebudayaan).

Sementara di Jawa Islam masuk kira-kira pada abad ke 8 H (1478M), melalui elit politik. Kronologinya mirip dengan penyebaran Islam di kawasan Kristen di sekitar jazirah Arab, yaitu ketika kekuasaan politik lokal melemahnya. Sebab memang pada abad ini kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha mengalami konflik internal yang berkepanjangan dan akhirnya melemah. Pada tahun 1404-1406 Masehi terjadi Perang Paregreg, yaitu perang antara Majapahit istana barat yang dipimpin Wikramawardhana melawan istana timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi.

Adalah Sultan Agung yang mempelopori Islamisasi penduduk Jawa dengan pendidikan. Islam disebarkan melalui berbagai sarana di kampung-kampung, dari pendidikan membaca al-Qur'an, tatacara ibadah dan pengajaran sederhana tentang rukun Islam dan rukun iman. Karena pemrakarsanya adalah istana maka guru agama diberi gelar Kyahi Anom atau Kyahi Sepuh.  Di tingkat kadipaten pendidikan Islam lebih tinggi lagi dengan mengkaji kitab-kitab karangan para ulama seperti Fiqih, Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam, Tasawuf, Nahwu, Sharaf dan Falaq. Dengan melalui pendidikan di tingkat kampung hingga tingkat kadipaten Islam tersebar secara luas dan difahami secara massal serta dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat umum.

(Sumber : Jurnal Islamia, 'Pembebasan Nusantara: Antara Islamisasi dan Kolonialisasi', Vol. VII, No. 2, 2012).

Wednesday, 4 November 2015

Mari Menulis Untuk Perubahan

Oleh : Dr. Azim Jamal

Salah satu cara yang sangat membantu untuk memahami diri kita sendiri adalah menulis catatan harian. Cara ini sangat berguna untuk memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita. Dengan catatan harian kita bisa menilai dengan lebih baik semua niat, reaksi, kelemahan, dan kekuatan yang kita miliki. Catatan harian bagaikan rekaman video yang terus-terusan merekam semua perilaku dan aktivitas kita.

Menulis catatan harian sangat membantu kita untuk memelihara kesadaran dan pemahaman kita mengenai perjalanan hidup yang sedang kita tempuh. Dengan memiliki catatan harian, kita dapat menangkap makna segala peristiwa yang kita alami dalam hidup. Dengan begitu, kita akan menjalani kehidupan secara lebih tenang dan lebih nyaman. Sering kali kita merasa bahwa selama ini kita telah bersikap sabar dan sadar. Namun, dengan memerhatikan catatan harian, kadang-kadang kita melihat kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan. Saya sendiri merasakan dan mengalaminya. Dengan menuliskan berbagai pengalaman sehari-hari, saya mendapati bahwa kadang-kadang saya berlaku tidak sabar ketika menghadapi orang lain dan tidak peka terhadap perasaan mereka.

Catatan harian akan membuka mata kita setiap saat untuk mengamati dan memerhatikan segala sesuatu yang telah kita lakukan. Kadang-kadang kita melakukan sesuatu tindakan yang kita larang dilakukan orang lain. Rekaman seperti itulah yang kita butuhkan untuk mengevaluasi setiap langkah yang kita ambil. Rekaman itu akan membantu kita untuk tetap terjaga dan memungkinkan kita untuk secara bertahap mengurangi dan menghilangkan kelemahan-kelemahan yang kita miliki. 

Catatan harian membantu kita untuk menangani kelemahan dan kekurangan kita secara lebih efektif. Sebab, melalui catatan harian, kita dapat melihat dan memahami secara lebih baik setiap masalah yang terjadi dan kemudian kita membulatkan tekad untuk membereskannya.

Sadar dan Terjaga untuk Mengenali Kelemahan dan Meneguhkan Kekuatan 
Catatan harian, yang merekam seluruh aktivitas, akan membantu kita untuk berpikir secara lebih objektif dalam menilai setiap perilaku kita untuk kemudian memperbaikinya sesuai dengan misi dan tujuan hidup kita. Dengan menulis catatan dan merenungkan pilihan yang kita buat setiap hari, kita akan mengenali titik-titik kelemahan kita. Setelah mengenali dan mengidentifikasi titik-titik kelemahan tersebut, kita bisa mulai mencari akar penyebabnya. Perhatikan, alasan atau pemicu utama seperti apakah yang mendorong kita melakukan sesuatu tindakan atau perilaku. Jika kita tetap sadar, terjaga, dan waspada, kita akan lebih memahami diri sendiri sendiri dan kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah.

Sebagai contoh, dengan menuliskan catatan harian, saya dapat mengamati beberapa kekurangan diri saya sendiri, menentukan penyebabnya, dan berupaya mencari cara untuk memperbaikinya. Misalnya:
  • Kadang-kadang saya sulit mengendalikan marah. Saat perilaku itu muncul, saya merasa kurang terkendali dan tidak sabaran. Saya sadar, saya cenderung sulit mengendalikan amarah ketika saya sibuk melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu sehingga saya merasa tertekan dan akibatnya, saya kehilangan ketenangan dan kendali emosi. 
  • Pada saat-saat tertentu saya sulit merasa rileks dan nyaman. Pada saat seperti itu, saya cenderung bersikap tergesa-gesa dan tak dapat menikmati momen indah yang terjadi dalam kehidupan. Saya menemukan bahwa kebahagiaan berasal dari proses menghayati hidup dari momen ke momen. Setiap momen dan setiap hari senantiasa menyediakan kesempatan emas untuk merasa bahagia. 
Mengenali titik-titik kelemahan akan membantu kita tetap sadar. Kesadaran itu akan menjaga kita agar tidak melenceng dari tujuan dan misi hidup kita. Saat kita mengetahui dan memperbaiki kelemahan kita, saat itu pula kita memahami kekuatan yang kita miliki. Tahun kemarin, jauh-jauh hari kami telah merencanakan untuk berlibur di Inggris. Namun, dua hari sebelum berangkat, istri saya sadar bahwa paspornya kadaluarsa.

Biasanya, menghadapi keadaan seperti itu saya cenderung bersikap tidak sabaran dan emosional. Namun, pengalaman telah mengajari saya bahwa sikap dan perilaku seperti itu merupakan kelemahan diri yang harus saya perbaiki, sedikit demi sedikit. Karenanya, alih-alih merasa kesal dan memarahi istri saya, saya mengajaknya berunding dan mempertimbangkan beberapa pilihan untuk mengatasi persoalan itu. 
Kami bersepakat pergi ke kantor imigrasi keesokan paginya untuk menanyakan kepada petugas apakah mereka bisa memperbarui paspor dalam waktu satu hari. Sebenarnya kami tahu, biasanya butuh waktu lima hari kerja untuk memperbarui paspor, tetapi kami harus mencobanya. Entah hal buruk apa yang akan terjadi bila mereka tidak memperbarui paspor itu tepat waktu. Tentu saja rencana liburan kami akan hancur berantakan. Kesulitan lain datang. Sejak pagi hari salju turun dengan lebat sehingga kami kesulitan menempuh perjalanan ke kantor imigrasi. Kami bersabar dan berusaha agar dapat tiba di kantor itu. Sungguh beruntung, setibanya di kantor imigrasi, tak ada antrian sama sekali. Mungkin orang-orang enggan bepergian karena hujan salju ini. Ditambah lagi, ketika istri saya mengajukan permohonan pembaruan paspor, seorang supervisor datang dan berkata kepada penjaga loket, “Layani baik-baik ibu ini! Cuaca lagi buruk.” Begitulah, kesabaran telah membantu saya menuntaskan permasalahan. Urusan paspor selesai sesuai dengan harapan. Selain karena badai salju, ketenangan dan kesabaran saya menghadapi urusan itu telah memudahkan kami mendapatkan solusi yang tepat. Meski bersalju, kami benar-benar menikmati hari itu. Pengalaman itu semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa jika saya dapat mengendalikan amarah, kehidupan akan terasa lebih nyaman dan lebih indah. 

Kesadaran Membantu Kita untuk Selalu Belajar dari Orang Lain

Pergaulan dan perjumpaan kita dengan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari akan memberi kita banyak pelajaran dan pengalaman yang berharga. Jika kita membuka diri terhadap pengalaman orang lain dan berbagai pandangan mereka, kita akan memiliki sudut pandang baru tentang hidup, yang pada gilirannya akan memperluas cakrawala dan cara pandang kita. Namun, kita harus tetap terjaga dan membuka pikiran jika kita ingin belajar dari orang lain. Jika kita membuka pikiran, kita akan lebih memahami diri kita sendiri dan orang lain. Tentang hal ini, saya punya contoh yang lain dari kehidupan keluarga saya sendiri.

Saya sering kesal kepada putri saya, Sahar, karena tak pernah mau membereskan sendiri kamar tidurnya. Semakin saya merasa kesal dan memarahinya habis-habisan, akibatnya semakin buruk: anak itu menangis keras, sementara kamarnya tetap berantakan dan ia tetap menolak perintah saya. Lebih jauh, seharian itu kami saling mendiamkan dan terus-terusan bertengkar. Dan yang lebih buruk, dengan berperilaku seperti itu sesungguhnya saya telah memberikan contoh yang buruk kepada anak laki-laki saya yang menyaksikan pertengkaran kami. Ketika istri saya datang dan melihat kami bertengkar, ia langsung berlari ke arah Sahar dan memeluknya. Ia mengatakan kepada Sahar, betapa pada hari kemarin ia telah sangat membantunya dengan membersihkan dapur, mengerjakan PR-nya, dan menjaga adik laki-lakinya. Sesaat kemudian, Sahar tak lagi menangis dan ia langsung membereskan kamar tidurnya, dan kemudian mengerjakan PR-nya dengan wajah yang ceria. Istri saya mampu memberikan solusi yang sangat baik dengan menyentuh empati Sahar dan mengungkapkan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Cara itu dapat membuat putri kami kembali merasa tersanjung dan dengan sukarela mengerjakan tugas-tugasnya. Dalam keadaan seperti itu saya mempelajari perilaku saya sendiri dengan melihat kekuatan istri saya dan kebutuhan putri saya.

Bagaimana kita memandang berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita akan menentukan bagaimana kita bereaksi terhadap segala persoalan. Jika kita bersikap optimis, kita akan bereaksi terhadap berbagai peristiwa dengan sikap dan perilaku yang positif. Reaksi kita terhadap berbagai keadaan yang melibatkan orang lain sesungguhnya menggambarkan cara kita menangani permasalahan. 

Kesadaran akan Membawa Kita Pada Saat Ini 

Ketika kita sadar dan terjaga, kita akan terhubung sepenuhnya dengan segala sesuatu yang terjadi pada Saat Ini. Apa pun yang sedang kita lakukan, dan siapa pun yang terlibat dalam kehidupan kita, setiap momen baru yang kita alami akan memberi kita pengalaman dan pelajaran baru. Agar kita dapat benar-benar mengalami kehidupan yang kita jalani, kita harus mempergunakan seluruh indra, perasaan, emosi, dan intuisi kita. Potensi emosi dan intuisi akan membantu kita memahami pesan tersembunyi dari setiap peristiwa yang kita alami. Dengan kedua aspek itulah kita dapat memahami bahasa-bahasa yang tak terkatakan serta ungkapan jiwa dan bisikan hati orang lain.

Ketika kesadaran kita tentang pengalaman hidup berkembang semakin baik, kita akan cepat mengetahui dan menyadari saat kita berjalan menyimpang dari misi hidup yang telah kita tetapkan. Selain itu, kita dapat merespons setiap permasalahan yang kita hadapi dengan cara yang pantas dan lebih baik. 
Jika kita berani mengakui dan mengenali kelemahan diri kita, berarti kita telah mengambil jalan yang tepat untuk mengatasi dan memperbaiki kelemahan tersebut. Namun, mengetahui dan mengakui kelemahan kita hanyalah separuh solusi. Separuh lainnya adalah menguatkan tekad untuk melakukan langkah-langkah perbaikan. Mungkin pada awalnya kita sulit menerima kekurangan atau kelemahan diri kita tersebut. Namun, jika kita menempuh proses ini dengan tulus, kita akan menemukan fakta-fakta baru mengenai diri kita dan orang lain. Pemahaman-pemahaman baru ini akan membuka pintu bagi munculnya makna-makna sejati kehidupan yang akan memandu kita menuju kebahagiaan dan kepuasan sejati.

Bagaimana Memulainya:

Catat dalam buku harian dan tandai secara khusus saat-saat ketika Anda merasakan suatu perasaan yang benar-benar mendalam. Luangkan waktu selama lima atau sepuluh menit sebanyak dua atau tiga kali dalam satu hari sehingga berbagai pemikiran dan gagasan yang sangat berharga tidak berlalu begitu saja. Atau, jika Anda menuliskannya hanya satu kali dalam sehari, luangkanlah waktu yang lebih lama. Namun, menurut pengalaman saya, dibutuhkan perhatian yang lebih besar untuk mencermati berbagai hal jika Anda hanya melakukannya sekali dalam sehari. Bacalah lebih sering buku harian Anda agar Anda lebih mengenal diri Anda dengan segala kekuatan dan kelemahannya. 

Luangkanlah waktu satu jam untuk mencermati dan memikirkan berbagai gagasan serta pemikiran yang telah Anda rekam dalam buku harian. Tuliskan hasil pengamatan Anda itu. 

Tuliskan satu pelajaran yang Anda dapatkan dari pengalaman hidup selama hari itu. Cermatilah pelajaran tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menghadapi hari esok. Lakukanlah tugas harian ini selama satu minggu penuh dalam setiap bulan dan perhatikanlah bagaimana hidup Anda berkembang lebih baik dan setiap pengalaman yang Anda rasakan menjadi lebih berharga.

Diskusikan hasil pengamatan Anda itu dengan pasangan Anda atau dengan teman dekat untuk mengetahui begaimana pendapat mereka tentang perilaku Anda. Ini akan memberi Anda pemahaman-pemahaman baru mengenai diri Anda yang sesungguhnya. 

Sumber : penerbit zaman


Tuesday, 24 March 2015

Solusi Dampak Negatif Arus Globalisasi


Judul  : Mari Waspadai Efek negatif Globalisasi dengan Banyak Belajar Agama.

oleh : muhammad abdulrahman al muslim a.k.a (Ali Marzen)

Profil penulis : alumni majelis dakwah sekolah al-ijtihad SMK N 2 Temanggung, Jawa Tengah, lulusan 2010. juga sebagai editor dan publisher aktif di majelis www.ashabul-muslimin.tk sejak berdiri 2009 - sekarang.

MUKADIMAH

BISMILLAHIRROHMANIOHIM,

Sudah 6 tahun saya sebagai aktivis blogger muslim dengan berbagai pengalaman suka dan duka saya kembali menengok arsip tulisan lama saya, barangkali sudah basi kalau itu makanan, kalau kertas sudah usang, tapi tidak ada kata basi atau kadaluarsa bagi ilmu pengetahuan.

Artikel ini sebenarnya adalah artikel daur ulang. eits tapi bukan daur ulang rongsokan loh. apa maksudnya?

Tulisan ini adalah tulisan pertamaku dulu ketika mulai aktif di majelis dakwah. tepatnya pertengahan tahun 2010. waktu itu aku belum lancar menulis dan susunan paragrafnya belepotan, dengan sedikit edit kami sajikan tulisan artikel ini kembali untuk anda. memang menulis itu adalah sulit bagi sebagian orang tapi kalau sudah terbiasa lama-lama dan tulisan kita terorganisir rapi dan mudah dimengerti. tulisan ini diharapkan menjadi nasehat bagi kaum muslimin dan sebagai motivasi bahwa setiap orang bisa jadi penulis tanpa copy paste karya orang lain. tulisan ini teks aslinya adalah ; http://dulrohman.blogspot.com/2011/02/mewaspadai-perkembangan-zaman-melaui.html mari kita simak, tema tentang globalisasi dan kerusakan moral remaja.

MENENGOK KEADAAN GENERASI MUDA HARI INI.

sejenak mari kita tengok dunia kita yang sudah serba berantakan, anak muda semuanya gemar facebook dan  media sosial. bahkan tiap harinya ia habiskan untuk facebook, menurut penulis itu merupakan hal yang sia-sia. karena disamping kita rugi waktu kita juga berpotensi mengarah ke hal-hal yang tidak baik jika kita sudah kecanduan barang satu ini.

Sebagai umat islam, maka kita jangan sampai dibodohi oleh kaum kafir khususnya orang barat, apa buktinya? kita kecanduan facebook, sms tidak manfaat seperti pacaran dalam HP, main PS, game online, kecanduan siaran sinetron dan sebagainya yang mana mudhorot / kejelekannya sangat banyak untuk di bicarakan daripada kebaikannya. manfaat dari semua teknologi ini memang ada akan tetapi kita juga harus mengerti kalau mungkin manfaat nya itu lebih sedikit dibandingkan efek negatifnya.

jika kita tidak pandai-pandai menggunakan semua fasilitas teknologi di zaman globalisasi ini, disabdakan oleh rasululloh itu termasuk orang yang merugi, kenapa? karena waktu yang seharusnya kita gunakan untuk beramal salih malah kita gunakan untuk hal-hal yang tidak perlu dan bahkan merugikan diri kita.

seperti dalam hadits (nasehat nabi Muhammad SAW) dijelaskan

“Dari Abu Huroiroh beliau mengatakan, Rosululloh r bersabda : “Diantara tanda baiknya keimanan seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya”.

Ket Hadits :

(Hadits ini di keluarkan oleh -Imam Turmudzi ,
- Ibnu Majah , 
-al-Baihaqi, 
-Ibnu Hibban,  
-al-Baihaqi 
- di hasankan oleh Imam Nawawi, dan shohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Misykatul Masobih No. 4839.)

Ibnu Daqiq al-‘Ied mengatakan : “Hadits ini merupakan ungkapan yang mencakup banyak makna yang agung pada lafadz yang sedikit”.

maka kita pun dapat mengartikan bahwa melakukan kesia-siaan juga berarti tanda buruknya keimanan seseorang. Dari hal tersebut maka kita harus berpikir dua kali jika kita mau menghabiskan waktu kita untuk hal-hal yang merugikan itu. sekarang cobalah kita tengok diri kita dan lingkungan kita.

Apakah semuanya baik-baik saja atau sebaliknya, bahkan justru yang penulis lihat hampir semua lingkungan tempat anak-anak generasi penerus bangsa ini selalu disuguhi oleh tontonan negaif dan fasilitas yang canggih namun merusak seperti TV, HP, Internet dan sebagainya yang mungkin digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna dan mencontohkan sikap cinta duniawi.

TANGGUNG JAWAB ORANG TUA KEPADA ANAK

oleh karena itu kita sebagai orang tua jika tidak memperhatikan apa dan bagaimana anak tersebut menggunakan berbagai fasilitas tersebut maka orang tualah yang akan merugi. karena tanpa kontrol dari orang tua maka seperti yang terjadi kebanyakan yaitu akan membahayakan anak tersebut untuk menuju hal-hal yang negatif.

Kita perhatikan di tv, majalah , internet dan media lain banyak kasus-kasus pelanggaran oleh remaja-remaja termasuk juga yang masih anak anak dari pencurian, perampokan perjudian, pemerkosaan,  tawuran antar pelajar dan sebagainya, itu tidak lain tidak bukan adalah akibat negatif dari perkembangan zaman yang serba canggih tetapi tanpa kontrol orang tua sehingga ketika anak tersebut telah dewasa bingung mau jadi apakah anak tersebut.

apakah hanya akan main nongkrong dipinggir jalanan sambil merokok sambil main Gitar atau mungkin malah sampai mabuk-mabukan menjadi perampok atau begal?.

Hal itu sungguh ironis karena hal itu terjadi banyak sekali di Indonesia , tanah Air Kita yang sebagian penduduknya adalah Muslim, apa yang telah kita perbuat pada anak-anak kita sehingga Generasi kita ini rusak berat. Tidak lain adalah ulah kita yang acuh tak acuh terhadap anak apalagi ditambah pengetahuan agama yang sangat kurang sehingga tak salah jika banyak terjadi Demoralitas/kemorosotan moral.

Kalau kita hanya mengandalkan sekolah saja untuk mendidik anak kita, tetapi kita pontang -panting bekerja tanpa waktu luang untuk keluarga tanpa perhatian khusus untuk anak-anak kita maka berakibat pada rusaknya hubungan antar keluarga. apalagi dizaman akhir sekarang ini, cobaan tentu saja semakin berat maka kita harus waspada dan selalu meningkatkan Ilmu Agama kita.

Umumnya disekolah formal yang bukan pesantren atau berasaskan Keislaman, maka berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah adalah saya mengalami sendiri waktu sekolah pelajaran moral dan agama seminggu hanya satu setengah jam, itu saja Gurunya sering Kosong dan malas mengajar. jadi apa yang kita kita harapkan dari anak setelah mereka lulus? 

Lulus sekolah bukannya anak tersebut membantu meringankan beban orang tua tapi mungkin justru akan merepotkan orang tua karena kenakalan yang amat sangat pada anak tersebut. Disisi lain dampak Negatif teknologi tentunya sangat lebih banyak dibanding dampak posistifnya, karena Setan yang dilaknat Allah tentunya sudah membuat perangkap yang sedemikian banyaknya sehingga semua kebenaran tampak semu, antara hal yang baik dan yang buruk sampai-sampai hampir tidak terlihat perbedaannya, tentunya segala perangkap setan itu tentunya adalah hal-hal yang disenangi, seperti dari game, TV, internet, gadget dsb. segalanya memang menyenangkan akan tetapi akibatnya menjadikan anak jadi malas belajar, akhirnya membolos setelah itu terlibat pergaulan bebas akhirnya keluar sekolah ditengah jalan, naudzubillah.

sehingga dari sinilah kita belajar untuk mendidik anak sejak Dini sampai ia dewasa dan kita harus selalu menaruh perhatian yang besar kepada anak sehingga Generasi kita menjadi generasi yang sholeh yang akan membangun negri ini dengan adil dan bijak.

Selaku orang tua, untuk membentuk anak sholeh maka jika kita kurang mampu dalam mendidik ilmu agama kita bisa menitipkan anak-anak kita dipondok pesantren, akan tetapi tak lepas kewajiban kita sebagai orang tua dan guru dirumah maka kita juga harus selalu senantiasa memperhatikan dan menasehati anak, karena sesungguhnya dari lingkungan keluargalah yang menetukan sukses tidaknya pendidikan diluar rumah seperti di Sekolah atau Pesantren.

MARI KITA KAJI MANFAAT IPTEK UNTUK BERDAKWAH

Ilmu agama merupakan erat kaitannya dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi supaya segalanya menjadi terarah menuju hal yang bermanfaat. maka kita sebagai umat islam dituntut untuk menuntut ilmu setinggi mungkin untuk mengembangkan Iptek supaya segala sesuatu itu lebih maslahat terhadap Umat Islam Khususnya dan Bagi seluruh manusia di Dunia Umumnya.

Adapun kaitannya dengan tema tadi yaitu hubungan ilmu agama dengan Iptek maka tidak salah jika penulis mengajak kepada seluruh pembaca khususnya dan Seluruh Umat Islam untuk selalu menambah ilmu pengetahuan Agama dan juga tidak meninggalkan Ilmu Duniawi seperti Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dengan pesat seperti zaman sekarang ini. kemudian kita manfaatkan untuk kepentingan agama. demi kemajuan bangsa dan umat islam.

Disini Penulis berupaya supaya sekelumit materi yang amat sedikit ini bisa memotivasi umat Muslim untuk selalu mengembangkan semua Ilmu pengetahuan dijalan yang diridhoi Oleh Allah. kita sebagai Umat islam wajib menuntut ilmu tanpa mengenal batasan umur.

Jika kita sudah mengerti cara memanfaatkan Ilmu tersebut maka kita dituntut untuk meneruskannya kepada generasi setelah kita sehingga ilmu tersebut tidak hilang. Dari kajian ini untuk masalah Iptek yang sedang tren di zaman ini adalah Internet, gadget, dan Hp, dll dari situ kita bisa memperoleh gambaran tentang pergaulan didunia maya sangat berpengaruh dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti facebook contohnya, banyak anak-anak sekarang yang menggunakan facebook dan media sosial hanya sekedar untuk menghabiskan waktu luang, untuk ngobrol yang tidak-tidak atau menggosip, bahkan juga yang lebih buruk untuk berpacaran secara online.

Maka dengan diimbangi ilmu agama maka hal buruk tersebut harusnya berkurang dan kita manfaatkan internet untuk berdakwah karena potensinya sangat besar.

PENUTUP

Alangkah baiknya jika internet tersebut kita kaji sehingga bisa menghadirkan manfaat seperti kita membuat website untuk Forum diskusi Umat muslim, radio dakwah internet, facebook yang mengarah pada forum Islam dan sebagainya. Penulis melihat sebenarnya sudah banyak yang telah mendirikan forum dakwah online tersebut.

akan tetapi masalahnya banyak anak muda yang lebih menyenangi hal-hal yang sekiranya menyenangkan tapi menjerumuskan seperti pergaulan yang tidak terkontrol dalam baik dikenyataan maupun media sosial, sehingga penulis bisa memeperoleh gambaran akan sepinya majelis-majelis Islam baik didunia nyata maupun Internet.

sebenarnya ada yang mengkaji, tetapi kebanyakan dari kalangan orang dewasa, dan anak kecil yang belajar iqro,  hal ini sungguh ironis karena generasi mudalah yang berpotensi besar mengembangkn ilmu agama ini. oleh karenanya kita dituntut untuk memiliki sikap tanggung jawab yang besar kepada anak-anak kita untuk mendidik pengetahuan agama yang lebih banyak kepada anak dirumah, kita dituntut bisa membentuk anak kita yang sholeh dan mampu berbakti kepada kedua orang tua.

sebagai penutup penulis ingin menyampaikan supaya 'KAJILAH' Ilmu walau hanya seberapa, tapi manfaatnya jauh lebih besar dari yang kita bayangkan, contohnya seperti membuat sebuah website Islami yang didalamnya berisi pengembangan-pengembangan ilmu pengetahuan dan agama supaya pengunjung web tersebut bisa menambah ilmunya, semoga kita mendapatkan rahmat-Nya sehingga hal itu bisa kita wujudkan bersama Amien.

Wallahu 'alam.

sumber refrensi : tulisan web ini paling jadul bersamaan dengan berdirinya www.ashabul-muslimin.tk dan berbagai ubahan dan penyempurnaan.

Thursday, 5 September 2013

Cara Mempersatukan Umat Islam Secara Sederhana

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

Oleh M. Ashabus Samaaun
Narator M. Alie Marzen


Sebelumnya mohon maaf bila judul ini terkesan membingungkan atau malah membuat anda penasaran. Perpecahan Umat islam hari ini adalah masalah yang paling momok dalam perjuangan umat islam menegakkan kedamaian dimuka bumi. Sebenarnya masalah itu bukan berasal dari agama tapi berasal dari umat islam sendiri yang menuruti emosional dan ego masing masing. masing-masing merasa benar sendiri sambil menjelek-jelekan golongan yang lain. Sebenarnya masalah umat islam itu kebanyakan sepele, namun umat islam saling menyikapi dengan idealisme dan sikap berlebihan. Sehingga percikan api kecil menjadi besar. Semacam sholat subuh yang ini pakai qunut yang itu tidak ternyata hal itu sudah menjadi bahan perselisihan tanpa ujung. Padahal itu adalah masalah fikih bukan masalah pokok (aqidah). sebenarnya kalau ditinjau dari pemahaman yang benar, ibadah terserah masing-masing mau ikut mazhab yang mana tetapi yang penting lurus niat karena Allah. itu sudah cukup meminimalisir perselisihan umat islam hari ini jika tiap golongan mau berpikir seperti itu.

Mengenai hal itu Ada sebuah nasehat yang inspiratif dari Bpk. Ust. Ashabus Samaaun tentang hal ini :
"Masalah umat islam hari ini sebenarnya sepele,  semacam beda warna pakaian, karena perselisihannya tidak menyangkut masalah akidah, hanya masalah fikih. Jika mereka mau bersatu sebenarnya itu mudah, tidak usah banyak dalil nanti malah keblinger sendiri ! Solusinya hanyalah CARI PERSAMAANYA BUKAN CARI PERBEDAANNYA. ya memang manusia itu dari wajahnya otomatis tiap individu berbeda apalagi masalah agama. misalnya kita cari persamaannya semacam kita sama-sama manusia makhluk Allah, Kita sama-sama umat islam, kita sama-sama makan pernah berbuat salah, kita sama-sama pendosa, kita sama-sama makan nasi, kita sama sama mengeluarkan kotoran dan sebagainya. Sehingga tidak timbul rasa bangga diri yang merupakan otak perpecahan itu sendiri. Apakah Ide ini cukup logis menurut anda? jika kurang puas silahkan koment dibawah postingan ini :). hehehe.

4 langkah menjadi seorang “Leader/Modelman Muslim”

Oleh : M. Ashabus Samaa'un

Ada  sebuah  catatan  menarik  dari  pertemuan  antara  Anis  Matta  dan  Dr.  Boyke. Dari  beberapa  kalimatnya,  Dr.  Boyke  berkata,  "Saya  baru  bertemu  ustadz  seperti  ini. Ternyata dalam Islam ada juga yang seperti ini!" Ungkapan yang terakhir, ada anggapan bahwa  seolah-olah  Islam  hanya  mengurusi  bagaimana  cara  orang  masuk  surga  dengan ibadah-ibadah mahdhoh. Islam  lebih  dari  itu,  bahkan  mungkin  di  luar  bayangan  orang-orang  yang  sudah mengenal Islam sekalipun. Proses pengembangan diri dalam kacamata Islam diilhami akan adanya  rekonstruksi  (pembangunan  ulang)  dari  manusia-manusia  yang  berada  di  zaman pasca  keberadaan Rasulullah  di  medan  revolusi  peran  manusia  di  dunia.  Dalam  kondisi perubahan peradaban manusia, diperlukan         kekuatan-kekuatan yang  dapat mengimbanginya. Konsep-konsep pengembangan  diri yang dalam Agama  Islam berorientasi  pada  pembentukan  pribadi  Muslim  yang  berkarakter  kuat,  lahir  sebagai "manusia baru" yang membawa pencerahan pada peradaban Islam.

Dalam hal itu terdapat 4 hal penting dalam membentuk diri sebagai seorang calon model (panutan) bagi umat manusia khususnya umat islam. Yaitu :

Pertama, Untuk  menjadi  manusia Muslim  yang  bisa  diandalkan  pada  abad  ke-21  harus  memenuhi  tiga  kualifikasi,  yaitu afiliasi, partisipasi, dan konstribusi.

Afiliasi adalah kita memahami dengan baik mengapa kita  memilih  Islam  sebagai  agama  dan  jalan  hidup.  Dengan  afiliasi,  manusia  diharapkan mempunyai  kecenderungan  terhadap  sesuatu,  yaitu  wilayah  nilai  Islam  sehingga  dapat menjadi  pribadi  yang  saleh.  Saleh  secara  pribadi  dapat  dibentuk  melalui  komitmen terhadap akidah, metodologi, dan sikap/akhlak. Setelah dapat saleh secara pribadi  memberikan  kualifikasi  partisipasi.  Dalam  hal  ini,  manusia  dapat  mensalehkan orang lain karena dia sudah bisa mensalehkan pribadinya. Kualifikasi yang terakhir adalah konstribusi, yaitu manusia Muslim abad ke-21 haruslah mempunyai spesialisasi dalam satu bidang keilmuan/profesi. Spesialisasi yang dimaksud adalah spesialisasi dalam pemikiran, kepemimpinan, profesional, dan keuangan.

Kedua, Selanjutnya untuk menjadi model manusia abad ke-21 kita perlu memiliki konsep diri yang jelas.

Sehingga kita akan mempunyai orientasi yang jelas  dalam  melakukan  pengembangan  diri.  Dalam  pengenalan  diri  ini,  mengambil ungkapan Ibnul Qoyyim bahwa untuk mengenal diri diperlukan pengetahuan tentang Ma'rifatulläh dan Ma'rifatunnäs . Dengan kedua pengetahuan ini manusia mempunyai orientasi/tujuan hidup, dan mengetahui cara mencapainya. Tingkatan konsep diri  adalah aku diri (di sini manusia memandang dirinya apa adanya seperti yang dia pahami); aku sosial (pada tingkatan ini manusia adalah sesuai anggapan orang lain); dan aku ideal (yaitu tingkatan dimana manusia pada kondisi seperti yang dia inginkan). Untuk  menjadi  manusia  Muslim  abad  ke-21  yang  secara  otomatis  telah  melalui  'seleksi   alam'  kita   perlu   merencanakan   pengembangan diri.  Sehingga tantangan- tantangan dakwah sekeras dan seberat apa pun dapat diatasi. Berbekal pemahaman akan diri dengan  berlandaskan  pada  pemahaman  syari'at  akan  melahirkan  kemampuan  untuk mengembangkan diri secara optimal. Mengambil Qur'an surat Al Hasyr ayat 18, yang berbunyi "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Bisa didefinisikannya sebagai perintah untuk merencanakan hari esok yang diiringi dengan ketakwaan sebagai landasan syar'i untuk melakukan pengembangan diri. Maksud Tafsir ayat ini secara tersirat adalah, "Ekspresi yang paling kuat dari bertakwa adalah merencanakan pengembangan diri kita untuk hari esok/masa depan".

Ketiga, Membuat Analisis Swot

Kemudian juga Analisis  SWOT  yang  biasa  digunakan  pelaku  manajemen  berlaku pula untuk  membuat  SWOT  pribadi.  Dengan analisis SWOT,  pribadi Muslim akan mengetahui titik kekuatan dan kelemahan sekaligus peluang untuk diambil dan ancaman yang harus diantisipasi. Hal  yang  cukup  berpengaruh  dalam  proses  pengembangan  diri  adalah  adanya motivasi  dan  kemauan  untuk  menujunya.  Bisa didefinisikan sebagai  kemauan  sebagai tenaga jiwa, sehingga untuk membangun kemauan kita 'hanya' butuh manajemen tenaga. Manajemen  itu  meliputi  bagaimana  kita  dapat  mengumpulkan  tenaga,  menggunakannya dan  mengembalikan  tenaga  yang  telah  dimanfaatkan  sebelumnya  sehingga  kita  dapat mengantisipasi hadirnya kejenuhan. Proses  pengembangan  diri  berlanjut  pada  mengembangkan  kemampuan  berpikir. Pikiran itu seperti  tanah.  Bibit yang Anda  tanam  didalamnya adalah  motivasi.  Yang  tumbuh dari bibit tersebut adalah perilaku. Anda tidak dapat sembarangan menanam bibit pada sembarang tanah.  Anda harus mengapling terlebih dahulu tanahnya dan mengetahui tanaman yang cocok untuk pikiran seperti ini.

Keempat, Melatih kemampuan berpikir cepat dan peka keadaan

Kita harus melatih kemampuan berpikir karena kemampuan  berpikir  merupakan  salah  satu  dari  nilai-nilai  dasar  untuk  menjadi orang  multidimensi  di  samping  mentalitas  yang  luar  biasa,  karakter  yang  seimbang,  dan kondisi  fisik  yang  mendukung.  Dengan  mengembangkan  kemampuan  berpikir,  manusia dapat hidup di mana-mana, terlepas dia sebagai juru dakwah, mahasiswa, pengusaha, atau bagian dari masyarakat. Kemudian juga seorang muslim tidak akan mempunyai sikap kepedulian jika kemampuan berpikirnya tidak berkembang dan hanya memikirkan keadaan sendiri. Oleh karena itu sikap berpikir secara cepat dalam memahami lingkungan sekitarnya adalah salah satu faktor besar untuk mendorong manusia melakukan amal shalih atau sebuah kepedulian kepada sesama yang membutuhkan. Selain itu dengan memahami keadaan sekitar dengan baik maka kita akan mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan dimasyarakat. Hal itu adalah salah satu faktor besar untuk memperoleh tempat untuk memperluas jangkauan sebagai seorang pendakwah atau pembangun umat.

Refrensi :

-          Buku Modelman muslim karya Anis Matta.

-          Jurnal almanar edisi 1 tahun 2004

Wallahu'alam