Monday, 24 July 2017

Download Mp3 Kumpulan Ceramah KH Zainudin MZ Lengkap


K.H. Zainuddin Hamidi atau dikenal sebagai K.H. Zainuddin MZ (lahir di Jakarta, 2 Maret 1952 – meninggal di Jakarta, 5 Juli 2011 pada umur 59 tahun) adalah seorang pemuka agama Islam di Indonesia yang populer melalui ceramah-ceramahnya di radio dan televisi. Julukannya adalah "Dai Sejuta Umat" karena dakwahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ia pernah menjabat sebagai ketua umum Partai Bintang Reformasi, kemudian digantikan oleh Bursah Zarnubi. Berikut ini kumpulan ceramah beliau dai sejuta umat yang ceramahnya banyak dipahami semua kalangan masyarakat karena gaya bahasanya yang mudah sehingga beliau termasuk orang yang sukses dalam berdakwah :


 

Ceramah Islam~oleh Ust.KH.Zainudin MZ tentang Cara Mendidik Anak.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Dasar & Tujuan Hidup Muslim.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Golongan Penghuni Syurga.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Golongan Yang Mendapat Perlindungan Dari Allah.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Harta Dunia.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Harta, Takhta & Wanita.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Mari Berhaji.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Mencari Jodoh.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Nabi Ibrahim.mp3
Download




kh zainuddin mz - nabi sulaiman & ratu balqis.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Nabi Yusuf & Siti Zulaikha.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Neraka & Calon Penghuninya.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Pahala & Dosa.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Para Kekasih Allah.mp3
Download




kh zainuddin mz - rumahtangga.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Sikap Kita Terhadap Al-Quran.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Syurga & Calon Penghuninya.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Taubat.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Ulamak Pewaris Nabi.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Ulamak & Umarok.mp3
Download




KH Zainuddin MZ - Umar Al-Khattab.mp3
Download




KH.Zainudin MZ.di Mesid Raidhatul Mutaalimin Pdk.Gede.mp3
Download




KH.Zainudin Mz Nuzulul Quran di Mesjid BI.mp3
Download






KH.Zainudin MZ~Tabligh Akbar di Mesjid AT-Taqwa Kemanggisan Jakarta.mp3
Download




Pengajian KH.Zainudin MZ _ Bila Ajal Tiba.mp3
Download




Ust.Zainudin MZ~Mesjid Pdk Indah RecTVone.mp3
Download





Jika Gagal, Bagi Pengguna Android Bisa Download di Mirror Link

Download Ebook Zaadul Ma'ad (Bekal Perjalanan Akhirat) Ibnul Qoyyim PDF




Al-lmam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- , tentunya nama ini tidaklah asing ditelinga kaum muslimin yang cinta kepada ilmu. Beliau adalah yang alim dalam semua bidang keilmuan, dan karya tulisnya banyak sekali diantaranya kitab Zaadul Ma’ad yang berisikan petunjuk dan bimbingan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam serta sejarah kehidupan Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam  diawal-awal dakwah Islam, hijrah sampai Allah meninggikan Islam dan Nabi-Nya. Beliau kupas setiap permasalahannya dengan ilmiyyah. Sungguh beliau telah menghimpun dan sangat dalam membahas sesuatu yang belum tentu mudah bagi orang selain beliau. Kitab  tersebut sudah dicetak berulang kali, tersebar dan diambil Manfaatnya.
Inilah terjemah serial kitab Zadul ma’ad tersebut dalam edisi lengkap. Buku ini cukup bagus dan sangatlah tepat untuk dijadikan sebagai bekal di dalam menyongsong kehidupan akhirat sebagaimana judul Zadul  Ma’ad (bekal untuk menuju hari kembali). Dan sebaik-baik bekal kembali adalah taqwa.




Download Ebook Tafsir Kalimat Tauhid PDF

 
Judul Asli :    

    Penulis : Syaikh Rabi’ bin Hadi Hafidzahullah

Judul terjemahan : Tafsir Kalimat Tauhid

Alih Bahasa : Ummu Abdillah al-Buthoniyah

Editor : Muhammad Abduh Tuasikal, ST.

Sampul : MRM Graph








Perpustakaan ashabul muslimin logo


Sunday, 23 July 2017

Download Ebook Bahaya Mengekor Non Muslim, Ibnu Taimiyyah


 Alhamdulillah buku Bahaya Mengekor Non Muslim telah terbit. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah saw, keluarganya, para shahabat- nya, dan para pengikutnya yang setia mengikuti sunahnya hingga akhir zaman. Dewasa ini banyak banyak muncul perilaku mengekor musuh musuh Allah –yaitu golongan kafir dan musyrik– hampir di segala segi dan tata kehidupan, seperti cara berpakaian, gaya bicara dan penampilan, sampai kepada hal yang lebih besar, yaitu soal-soal ibadah. Padahal Allah telah mengingatkan kita pada banyak ayat-Nya untuk tidak meng- ikuti jalan-jalan mereka. Buku yang ada di hadapan pembaca ini adalah ter- jemahan kitab Mukhtarat min Kitab Iqtidha’ Ash-Sirathal Mustaqim Mukhalafatu Ash-habil Jahim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Buku ini mengingatkan bahaya meniru kaum kafir dalam tradisi, adat dan kebiasaan mereka, cara berpa- kaian, bahasa, hari-hari peringatan mereka, dan sebagainya.


Download Ebook Jalan Islam Vs Jalan Setan, Iqtidha'us Shirathil Mustaqiem


Suatu kenyataan aneh yang menggejala di sebagian besar kehidupan kaum muslimin, yakni pola hidup tasyabbuh (meniru-niru) kaum kuffar yang nota bene adalah musuh- musuh Allah dan Rasul-Nya. Kaum kuffar, baik Yahudi, Nashrani atau musyrikin menjadi panutan pada sebagian besar pola hidup kaum muslimin. Tak sedikit kaum muslimin yang gaya hidup, berbicara, berpakaian, bergaul, berhari raya, berbudaya dan lain-lain menyerupai kaum kuffar. Kemungkinan ini memang jauh-jauh waktu sebelumnya telah diingatkan Rasulullah dalam banyak haditsnya. Tasyabbuh dengan kaum kuffar adalah bahaya besar yang tak dapat dianggap enteng. ' Demi mengingatkan umat Islam terhadap bahaya tasyabbuh dengan kaum kuffar, maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah secara khusus menggoreskan tinta emasnya, dan hasilnya adalah sebuah kitab spektakuler yang senantiasa aktual menjadi kajian sepanjang zaman.

 Kitab "Iqtidha'us Shirathil Mustaqiem Mukhalafata Ashhabil J ah i m adalah buah karya beliau yang secara khusus membahas permasalahan di atas. Selain masalah tasyabbuh, beliau juga mengingatkan umat Islam agar mewaspadai bid'ah dan macam ragamnya baik yang berupa i ticjadiyyah atau amaliah. Bid ah-bid^h itu banyak disebarluaskan oleh para Quburiyyun (penyembah kubur) dan Shufiyyun (pelaku sufi) dan berbagai firqah-firqah sempalan lainnya.




Download Ebook Ringkasan Minhajussunah Ibnu Taimiyyah




Buku Minhajus sunnah ditulis oleh Ibn Taimiyyah sebagai kritik dan tanggapan atas buku Minhajul Karomah karya Ibnul Muthohir yang merupakan salah satu proponen Syi’ah Rafidlah. Dalam penulisan Minhajus Sunnah tersebut, syubhat-syubhat Argumen Rafidlah tersebut dikritisi oleh Ibn Taimiyyah dengan menampilkan pula syubhat-syubhat Argumen dari kaum Nasibah. Ibn Taimiyyah menampilkan syubhat Argumen dari dua Fihak yang saling bermusuhan itu dimaksudkan untuk menunjukan bahwa ternyata syubhat-syubhat dua belah fihak itu dibangun dari proposisi yang sama yakni Kebencian yang tidak mendasar terhadap para Sahabat Rasulullaah s.a.w.



 

Download Ebook Pedoman-Pedoman Bermazhab Dalam Islam



Isi Buku


Kata Pengantar

1.      Sejarah Kemunculan Mazhab

2.      Berkenalan Dengan Para Imam Mazhab      

3.      Pegangan Dan Prinsip Para Imam Mazhab

4.      Sebab-Sebab Wujudnya Perbezaan Pendapat Antara Para Imam Mazhab

5.      Teladan Para Imam Mazhab Dalam Menghadapi Perbezaan Pendapat

6.      Beberapa Contoh Sikap Taksub Mazhab

7.      Perintah Allah Mentaati al-Qur’an dan Rasul-Nya

8.      Kepentingan Mazhab Kepada Umat Islam

9.      Wasiat Para Imam Mazhab Kepada Umat Islam

10.  Adakah Seruan “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah” Bererti Meninggalkan Ajaran Para Imam Mazhab?

11.  Memilih-milih Antara Mazhab

12.  Berusaha Menjauhkan Taqlid

Kata Penutup
 




Saturday, 22 July 2017

Download Ebook Tamamul Minnah Jilid 1 dan 2, Koreksi Kitab Fiqh Sunnah


Buku ini adalah koreksi terhadap buku fiqih sunnah karya sayyid sabiq yang di susun oleh syeh nasrudin albani. Buku ini merupakan salah satu buku yang layak menjadi rujukan bagi kaum muslimin yang ingin mengkaji dan mengaplikasikan isinya dalam keseharian mereka, terutama yang berkaitan dengan masalah syariat (ibadah). Dengan pembahasan yang sistematis, bahasa yang lugas dan mudah dipahami, serta adanya kesimpulan dari tiap pembahasan, kian memudahlan pembaca untuk memahaminya.

Dengan dalil yang lengkap, baik berupa ayat al-Qur'an maupun hadits, disertai takhrij hadits dari ulama terkenal, serta metode istinbath hukum sesuai metode salafus shahih, para pembaca tidak ragu lagi untuk mengikuti pendapat yang rajih (kuat) ibadah maupun muamalah. Naskah asli dari buku ini diterbitkan dalam tiga jilid, Pustaka As-Sunnah pun menerbitkannya sesuai dengan naskah aslinya, dengan harapan tidak ada distorsi dari isi buku ini.




Download Ebook Terjemah Fathul Baari Jilid 1 - 8 Full PDF



Ibnu Hajar Asqalani, seorang ulama hadits bergerlar al Hafidz (773-852 H) yang terkenal ahli dalam bidang periwayatan, telah mengukuhkan semua itu dalam sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul Fat-hul Baari Syarhu Shahiihil Bukhari. Kitab ini merupakan magnum opus beliau dalam bidang hadits yang paling tersohor. Kredibilitas dan kapabilitas beliau dalam mengulas dan menganalisis satu per satu hadis dari kitab Shahiihul Nukhari sangat tuntas, lengkap, dan memukau sehingga tidak menyisakan ruang bagi orang lain untuk memberikan komentarnya. Pantaslah jika buku ini digelari dengan Laa Hijrata Ba’dal Fath yang artinya tidak perlu menengok ke kitab lain jika telah ada Fat-hul Baari.










Friday, 21 July 2017

Download Ebook Hadist Shahih Sunan Abu Dawud Jilid 1 - 3 PDF

 
Mengetahui segala sesuatu berkenaan dengan salah seorang periwayat hadis bukan hal yang mudah, sebagaimana pendapat para ulama tentang seorang periwayat juga berbeda-beda, ada yang berlebihan, ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang meremehkan. Perbedaan penilaian terhadap seorang periwayat akan mempengaruhi perbedaan dalam menghukumi suatu hadits, apakal shahih, hasan, dha'if, atau maudhu '.

Allah Ta’ala  berfirman,yang artinya:

“orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Qs. Al Hujuraat [49]: 6)

Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-  bersabda,

"Semoga Allah membaguskan akhlak dan mengangkat derajat orang yang mendengar sesuatu dari kami (yakni : hadits)  lalu dia menyampaikannya seperti yang dia dengar, Berapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

Buku jenis hadits ini di kalangan ulama Ahlus Sunnah ada beberapa yang terkenal, diantaranya Sunan Abu Dawud , At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasai ,Ad Darimi dan lainnya. Namun demikian Kitab sunan ini masih tercampur antara hadits shahih dan hadits dhalif termasuk diantaranya kitab sunan abu dawud ini. Kemudian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani-rahimahullah- diteliti ulang dan dipisahkan hadits- shahih dengan  hadits dhaif , Kitab beliau-rahimullah- yang memuat Shahih dari kitab sunan Abu Daud berjudul Shahih Sunan Abu Daud yang kemudian diterjemahkan berjudul sama dengan kitab aslinya ini, sehingga Insya Alloh, memudahkan muslimin Indonesia untuk mempelajarinya, menghafal dan mengamalkannya.






Download Ebook Hadits Shahih Sunan Ibnu Majjah Jilid 1-3 PDF




Sebagian ulama sepakat bahwa kitab hadits yang pokok ada lima, yakni : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa'I, Sunan At Tirmidzi. Sebagian ulama tersebut tidak memasukkan Sunan Ibnu Mjah, mengingat derajat kitab ini lebih rendah dari pada kitab tersebut, Namun sebagaian ulama menetapkan enam kitab hadits pokok dengan menambah Sunan Ibnu Majah ini sehingga terkenal dengan istilah Kutubus Sittah. Ulama pertama yang menjadikan Kitab Sunan Ibnu Majah sebagai kitab keenam adalah Al Hafizh Abdul Fadli Muhammad bin Tahrir Al Maqdisi -rahimahullah- (w 507 H) dalam kitabnya Atraful Kutubus Sittah dan dalam risalahnya Syurutul A'immatis Sittah. 

Pendapat ini kemudian diikuti oleh Al Imam Abdul Ghani Al Maqdisi -rahimahullah- (w 600 H) dalam kitabnya Al Ikmal fi Asma' Ar Rijal. Pendapat inilah yang diikuti sebagain besar ulama. Mereka memasukkan Sunan Ibnu Majah sebagai kitab keenam, tetapi tidak memasukkan Al Muwatha Imam Malik ( padahal Kitab Al Muwataha Imam Malik lebih Shahih daripada Sunan Ibnu Majah), dengan alasan didalam Sunan Ibnu Majah banyak terdapat hadit yang tidak tercantum dalam Kutubul Khamsah ( Lima Kitab Induk hadits). Sedangkan hadits yang terdapat dalam kitab Al Muwatha' seluruhnya sudah termaktub dalam Kutubul Khamsah.

Sunan Ibnu Majah berisi hadits shahih, hasan, dhaif bahkan hadits munkar dan maudhu meskipun jumlahnya sedikit. Oleh karena itulah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah- menelitisetiap hadits yang terkandung didalamnya kemudian beliau pilih hadits Shahihnya saja dan kitab kumpulan hadits shahih dalam Sunan Ibnu Majah ini disebut Shahih Sunan Ibnu Majah. Inilah rangkai kitab terjemah dari Shahih Sunan Ibnu Majah. sehingga Insya Alloh, memudahkan muslimin Indonesia untuk mempelajarinya, menghafal dan mengamalkannya.



Download Ebook Penjelasan Hadits Shahih Gambaran Surga

Ebook Ini menjelaskan kepada anda tentang hadits hadits shahih beserta penjelasannya tentang surga dan gambaran didalamnya. Simak selengkapnya




Mengenal Pokok Akidah Islam Ahlussunah Wal Jamaah


Bisyr bin Musa menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Humaidy menceritakan kepada kami, beliau berkata:As-Sunnah menurut kami adalah:

Seseorang beriman kepada al-qadr ‘takdir’ yang baik atau yang buruk, yang manis atau yang pahit. Sepatutnya ia mengetahui bahwa musibah yang menimpa dirinya tidak akan meleset darinya, dan segala yang meleset darinya tidak akan menimpanya. Semua hal itu adalah al-qadhâ` ‘ketentuan’ dari Allah .

Bahwa, sesungguhnya iman mencakup ucapan dan perbuatan, (yang bisa) bertambah dan berkurang; suatu ucapan tidak akan bermanfaat, kecuali dengan amal, tidak pula amal dan ucapan (bermanfaat), kecuali dengan niat, juga tidak pula amal, ucapan, dan niat (bermanfaat), kecuali dengan sunnah.

 At-tarahhum ‘mengucapkan dan mendoakan rahmat’ bagi segenap para sahabat Rasulullah SAW   karena Allah   berfirman,

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan.’.” [Al-Hasyr: 10]

Tidaklah kami diperintah, kecuali untuk memintakan istighfar bagi mereka. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela mereka, atau membenci mereka atau salah seorang di antara mereka, tidaklah ia berada di atas Sunnah dan tidak ada hak baginya berupa fai`.

Lebih dari seorang mengabarkan kepada kami dari Malik bin Anas bahwa beliau berkata,

“Allah SWT telah memberi bagian rampasan perang. Allah Ta’âlâ berfirman,

 Dan orang-orang faqir dari kaum Muhajirin yang telah dikeluarkan dari kampung-kampung mereka.” [Al-Hasyr: 8]

 Allah Ta’âlâ berfirman,

 “Dan orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan.’.” [Al-Hasyr: 10]

 Barangsiapa yang tidak mengucapkan hal ini, ia bukanlah orang yang berhak diberi bagian berupa fai`.”

 Al-Qur`an adalah Kalamullah. Saya telah mendengar Sufyân berkata, “Dan Al-Qur`an adalah Kalamullah. Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah makhluk, ia merupakan seorang mubtadi’ ‘ahli bid’ah’. Tidak pernah kami mendengar seorang pun mengatakan hal ini.”

 Saya mendengar Sufyân berkata, “Dan iman adalah ucapan dan amal, (bisa) bertambah dan berkurang,” maka saudara beliau, Ibrahim bin ‘Uyainah, berkata, “Wahai Abu Muhammad, janganlah engkau mengatakan, ‘iman itu berkurang’.” Sufyân pun marah kemudian berkata, “Diamlah engkau, wahai anak kecil! Demikianlah bahwa iman itu berkurang hingga tidak bersisa sedikitpun.”

Pembenaran adanya ar-ru’yah, yakni melihat wajah Allah setelah meninggal.

Segala yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits semisal firman Allah Ta’âlâ,

 “Dan kaum Yahudi berkata bahwa tangan Allah terbelenggu, padahal sesungguhnya tangan merekalah yang terbelenggu ….”
[Al-Mâ`idah:

Sebagaimana di dalam firman Allah,

“Dan tujuh langit digenggam dalam tangan kanan-Nya ….” [Az-Zumar: 67]


Ayat-ayat semisal ini, yang banyak terdapat di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, tidaklah kita tambah, tidak (pula) kita tafsirkan. Kita berhenti pada apa-apa yang Al-Qur`an dan Sunnah berhenti di atasnya.

 Kita menegaskan (firman Allah Ta’âlâ),

“Ar- Rahmân (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.” [Thâhâ: 5]

Barangsiapa yang menyangka selain ini, ia adalah seorang ahlut ta’thîl lagi pengikut sekte Jahmiyah.
Kami tidak berpendapat sebagaimana pendapat kalangan sekte Khawârij bahwa barangsiapa yang tergelincir ke dalam dosa besar, ia telah kafir.

Tidaklah kita mengafirkan seseorang karena salah satu di antara perbuatan dosa.
Namun, kekafiran hanyalah bagi seseorang yang meninggalkan lima sendi utama, yang Rasulullah  SAW bersabda,

“Islam didirikan diatas lima sendi: syahadat (persaksian) bahwa Tiada Ilah (sembahan yang benar) selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji.”

 Adapun tiga sendi pertama, orang yang meninggalkannya tidaklah diajak berdebat, yaitu yang tidak mengucapkan syahadat, tidak mendirikan shalat, dan tidak berpuasa, karena hal ini tidaklah dapat diakhirkan dari waktunya. Ia tidak dibenarkan mengqadha hal tersebut setelah meninggalkan hal itu dengan sengaja karena sikap ia yang melampaui batas terhadap amalan ini dari waktunya yang telah ditentukan.

Adapun mengeluarkan zakat, tatkala telah mengeluarkan (zakat), hal itu telah cukup baginya, tetapi ia akan berdosa jika menolak mengeluarkan zakat.

Adapun haji, barangsiapa yang telah wajib (menunaikan haji) dan mendapat kemudahan untuk melaksanakan (ibadah) itu, dia wajib menunaikan (ibadah) tersebut. Tidaklah haji ini diwajibkan secara keseluruhan, kecuali setelah menjadi wajib untuknya. Apabila telah menunaikan (ibadah haji), ia telah melakukan kewajiban itu. Tidaklah ia berdosa karena mengakhirkan (pelaksanaan haji) itu jika telah ia tunaikan sebagaimana ia akan berdosa jika melakukan hal tersebut pada zakat karena zakat adalah kewajiban yang (hasilnya) diperuntukkan kepada kaum muslimin yang miskin yang ia tahan untuk mereka maka ia berdosa hingga kewajiban itu telah sampai kepada mereka.

Adapun haji, (ibadah) itu adalah kewajiban antara ia dan Rabb-nya. Jika telah menunaikan (ibadah haji), berarti ia telah melaksanakan kewajibannya.

Sekiranya ia meninggal dalam keadaan mendapatkan kemudahan dan sanggup, tetapi ia tidak melaksanakan ibadah haji itu, ia akan memohon agar dikembalikan ke dunia guna menunaikan ibadah haji yang telah ia lalaikan. Keluarganya wajib menghajikannya, yang semoga hal itu dapat menutupi ibadah haji yang seharusnya ia tunaikan sebagaimana halnya jika ia berutang lalu (utang tersebut) dibayarkan oleh keluarganya setelah ia meninggal.

sumber zdulqarnain.net

Tafsir Surat Al-Kautsar 1 -3, Penjelasan Sungai di Surga





AL-KAUTSAR, SUNGAI DI DALAM SURGA

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin
 
Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, ketika Ka’ab bin Asyraf tiba di kota Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, “Apakah engkau pemuka mereka? Tidakkah engkau melihat orang ini, yang mengaku lebih baik daripada kami?Padahal kami adalah ahli haji, pengabdi Ka’bah, dan pemberi (penyaji) minuman.’ Ka’ab berkata, ‘Kalian lebih baik darinya.’ Turunlah ayat, ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak’.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al- Bazzar rahimahullah dan sanadnya sahih.

Mufradat Ayat
الْكَوْثَرَ
“Kenikmatan yang banyak.”

Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna “al-Kautsar”:

a. Maknanya adalah sungai di dalam jannah (surga) yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan riwayat dari beberapa sahabat, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, ‘Aisyah , serta tabi’in seperti Mujahid dan Abul ‘Aliyah rahimahumallah.

b. Maknanya adalah kebaikan(nikmat) yang banyak. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, dan Mujahid rahimahumullah. Pada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari rahimahullah dan yang lain, dari Abu Bisyr rahimahullah, dia pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair rahimahullah tentang pendapat yang mengatakan bahwa al- Kautsar adalah sungai di jannah. Beliau menjawab, sungai di jannah termasuk bagian dari kebaikan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Ikrimah rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, kenabian, Islam, al-Qur’an, dan hikmah.

c. Maknanya adalah telaga di jannah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Atha’ rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah telaga di jannah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari sekian pendapat di atas, yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa al-Kautsar merupakan sungai di jannah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya dengan al-Kautsar (kebaikan atau kenikmatan yang banyak) karena keagungan nilainya.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Terdapat beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang ayat di atas.

a. Maknanya adalah meletakkan tangan kanan pada tangan (lengan) kiri di atas dada ketika shalat. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pendapat yang semakna diriwayatkan pula dari asy-Sya’bi.

b. Maknanya adalah shalat fardhu dan mengangkat kedua tangan sejajar nahr (pangkal leher) saat membuka shalat (takbiratul ihram).

c. Maknanya adalah shalat fardhu atau shalat fajar dan menyembelih unta di Mina atau pada hari Idul Adha.

d. Maknanya adalah shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, orang-orang (musyrik) pada waktu itu melaksanakan shalat dan menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau, “Jadikanlah shalat dan sembelihanmu karena Allah Subhanahu wata’ala.” Sebagian ulama berpendapat, ayat ini turun saat terjadi Perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dikepung dan dihalangi dari Ka’bah.
Lalu Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar beliau melaksanakan shalat, menyembelih unta, dan kemudian berpaling. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari semua pendapat di atas, yang paling utama dan yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah ”Jadikanlah shalatmu seluruhnya karena Rabbmu, dengan mengikhlaskannya hanya untuk-Nya, bukan untuk selain- Nya. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala. 

Bersyukurlah kepada-Nya atas kemuliaan dan kebaikan yang tidak ada tandingannya yang hanya diberikan kepadamu.” Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini karena Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pemberian, kemuliaan, dan kenikmatan (al-Kautsar) yang dengannya Dia Subhanahu wata’ala memuliakan beliau. Tafsirnya, sesungguhnya Aku telah memberimu—wahai Muhammad—al- Kautsar, sebagai bentuk pemberian nikmat dan pemuliaan untukmu dari Kami. Maka dari itu, ikhlaskanlah ibadah hanya untuk Rabbmu. Tunaikanlah shalat dan kurban hanya untuk-Nya.
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”

Maknanya, orang yang membenci dan memusuhimu, dialah yang terputus, rendah, hina, dan binasa. Tentang siapa yang dimaksud oleh ayat ini, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan, yang dimaksud adalah al-‘Ash bin Wa’il. Ada pula yang menyatakan, dia adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Yang lain mengatakan, mereka adalah beberapa orang dari suku Quraisy. Yang benar, menurut ath-Thabari t menurutnya, Allah l mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang rendah, hina, dan terputus. Hal itu menjadi ciri setiap manusia yang membenci beliau, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan orang tertentu. (Tafsir ath-Thabari, 24/679—697)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Tafsir Juz ‘Amma, sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah, sedangkan yang lain berpendapat Madaniyah. Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, baik turun di Makkah maupun di Madinah, atau di waktu safar. Jadi, surat Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah hijrah. Inilah pendapat yang kuat dari sekian pendapat ulama. Adapun kata “al-Kautsar”, dalam bahasa Arab artinya adalah kebaikan (kenikmatan) yang banyak.

Demikianlah, Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kebaikan yang banyak, di dunia dan di akhirat. Di antara kebaikan itu adalah sungai besar yang berada di jannah, yang mengalir menuju telaga Nabi. Warna airnya lebih putih daripada air susu, lebih manis daripada madu, dan lebih harum daripada minyak wangi. Telaga itu berada di tempat yang terbuka di hari kiamat. Orang-orang mukmin dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendatangi tempat itu. Jumlah cangkir dan keelokannya sebanyak gugusan dan keindahan bintang yang berada di langit. Barang siapa hidup di dunia menjalani agama Islam di atas syariat beliau (sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), di akhirat ia akan diizinkan mendatangi telaga tersebut. Sebaliknya, barang siapa menjalani agama Islam tidak di atas syariat beliau, di akhirat ia akandihalangi sehingga tidak bisa mendatangi telaga itu. Di antara sekian banyak kebaikan yang telah diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia adalah apa yang terdapat dalam hadits berikut.
أُعْطِيْتُ خَمْسًا، لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةُ وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: (1) Diberikan kemenangan kepadaku dengan sebab gentarnya musuh dari jarak perjalanan satu bulan; (2) dijadikan bumi sebagai tempat shalat dan bersuci untukku, maka siapa pun laki-laki yang sampai kepadanya waktu shalat, hendaklah ia shalat; (3) diberikan kepadaku syafaat; (4) dihalalkan untukku ghanimah; dan (5) dahulu para nabi diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Semua ini adalah kebaikan (nikmat) yang banyak. Karena beliau diutus kepada seluruh manusia, konsekuensinya, beliaulah nabi yang paling banyak pengikutnya. Dimaklumi bersama bahwa seseorang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala seperti halnya pelakunya. Orang yang telah menuntun umat kepada kebaikan dengan jumlah yang luar biasa adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendapatkan bagian pahala dari setiap individu di antara umatnya. Tidak ada yang mampu menghitung jumlah umat beliau selain Allah Subhanahu wata’ala. Di antara kebaikan yang diberikan kepada beliau di akhirat adalah almaqam al-mahmud, seperti syafaat al-uzhma (syafaat yang agung).

Sebab, pada hari kiamat manusia mengalami bencana, kesulitan, dan kesusahan yang tak kuasa mereka menahannya. Akhirnya, mereka meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Nabi Adam, lalu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa ‘Alaihissalam, hingga berakhir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun berdiri dan memberi syafaat. Allah Subhanahu wata’ala  pun memutuskan di antara hamba-Nya dengan syafaat beliau. Ini adalah kedudukan yang akan senantiasa dipuji oleh orang-orang yang mterdahulu hingga akhir zaman. Kedudukan ini termasuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,
ڍ
عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Mudah-mudahan Rabbmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’: 79)
Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Di antaranya adalah sungai yang berada di jannah, yang juga disebut al- Kautsar. Akan tetapi, al-Kautsar tidak terbatas pada hal itu saja. Setelah menyebutkan karunia- Nya yang begitu banyak, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Maknanya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang sangat agung ini, dirikanlah shalat dan berkurbanlah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Yang dimaksud shalat di sini adalah seluruh jenis shalat. Pertama kali yang dimaksud oleh ayat ini adalah shalat yang disertai oleh berkurban, yaitu shalat Idul Adha. Meski demikian, ayat ini mencakup keseluruhan shalat. Jadi, “dirikanlah shalat karena Rabbmu,” baik yang fardhu maupun yang sunnah, demikian pula shalat ied dan shalat jumat. Makna “berkurbanlah” adalah dekatkanlah dirimu kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan cara berkurban. Kata “nahr” maknanya adalah cara penyembelihan unta (dengan menusuk/memotong aliran darah di bagian atas dada, dalam posisi hewan berdiri). Adabun “dzabh”, adalah istilah penyembelihan hewan sapi ataupun kambing (dengan memotong empat saluran pada bagian leher, dalam posisi hewan direbahkan).

Ayat ini hanya menyebutkan “nahr” karena daging unta lebih bermanfaat daripada yang lain ketika dibagikan kepada orang-orang miskin. Karena itu, pada Haji Wada’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memotong 100 ekor unta, 63 ekor beliau potong sendiri dan sisanya beliau wakilkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya beliau sedekahkan kecuali sedikit dari setiap unta, yang beliau ambil untuk dimasak lalu dimakan dagingnya dan diminum kuahnya. Perintah dalam ayat ini berlaku untuk beliau dan umatnya. Maka dari itu, kita wajib mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.”
Makna syaniaka adalah orang yang membencimu, karena syana’an artinya kebencian. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ
“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).” (al Maidah: 2)
Artinya, janganlah kebencian (kalian) kepada mereka membawa kalian berbuat melampaui batas. Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Artinya, janganlah kebencian kepada mereka membawamu untuk meninggalkan keadilan (sikap adil). Al-abtar adalah isim tafdhil. Arti kata ini adalah terputus, yaitu terputus dari semua kebaikan. Hal ini terjadi karena orangorang kafir Quraisy mengatakan bahwa Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah abtar, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya, serta dalam mengikuti ajarannya. Kata ini mereka munculkan ketika Qasim, putra beliau, meninggal. Mereka lalu mengatakan bahwa Muhammad abtar, yaitu tidak ada keturunan. Kalaupun ada, maka akan terputus keturunannya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa al-abtar adalah yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dialah yang akan terputus dari semua kebaikan. Tidak ada berkah pada dirinya. Hidupnya hanya berisi penyesalan. Jika hal ini berlaku atas orang yang membenci beliau, begitu pula bagi yang membenci syariat (ajaran)nya. Oleh sebab itu, barang siapa membenci syariat Rasulullah n, atau salah satu syiar Islam, atau membenci ibadah apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk melaksanakan agama Islam, dia telah kafir, keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Hal itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9)

Tidak ada yang menghapus amalan selain kekufuran. Barang siapa membenci kewajiban shalat, dia telah kafir, walaupun ia menjalankan shalat. Barang siapa membenci kewajiban zakat, dia telah kafir walaupun menunaikannya. Adapun yang merasa berat menjalaninya, namun tidak membencinya, dikhawatirkan pada dirinya ada salah satu perangai kemunafikan, meski tidak dikafirkan. Jadi, terdapat perbedaan antara orang yang merasa berat (tanpa membenci) dengan orang yang membenci. Dengan demikian, surat ini mengandung penjelasan tentang nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu kebaikan yang banyak. Selain itu, surat ini memuat perintah untuk mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Perintah ini berlaku dalam seluruh bentuk ibadah. Surat ini juga menjelaskan, siapa yang membenci Rasul n atau sebagian syariat beliau, dialah yang terputus, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya. Wallahu a’lam.

Thursday, 20 July 2017

Download Ebook Tamasya Ke Surga, Gambaran Keindahan Surga Ibnul Qoyyim Jauziyah PDF



Kita simak salah satu karya ulama fenomenal. Buku “Tamasya Ke Surga” ini atau dengan judul asli “Hadil Arwaah ila Biladil Afraah” merupakan buku yang menggambarkan bagaimana luasnya rahmat Allah kepada para hamba-Nya. Seorang hamba yang hanya memiliki iman sekecil atom atau memiliki ternoda akan dosa bisa Ia masukkan kedalam surga dengan rahmat-Nya. Sebaliknya hamba yang memiliki pahala yang sangat besar tidaklah cukup memasuki surga bila hanya mengandalkan amalnya saja dan bahkan ia mencampakkan rahmat Allah disana. Sungguh kenikmatan surga sangatlah besar dan indah, bahkan kenikmatannya ini tidak pernah terbetik dihati kita.


Bagaimana kita bisa membayangkan, rumah para penghuni surga di akhirat Allah sendirilah yang membuatnya, yang rumah-rumah ini bagaikan istana yang sangat megah dan indah tiada tara. Istana-istana tersebut dibangun dengan batu bata dari emas dan perak, pepohonannya terbuat dari emas dan perak yang bening bagaikan kaca, yang buah-buanya sangatlah nikmat dan lebih manis dari madu, yang sungai-sungainya mengalir madu, susu dan juga khamer yang tidak akan memabukkan orang yang meminumnya, mereka dikelilingi oleh bidadari cantik nan jelita lagi disucikan, dan puncaknya adalah melihat wajah Allah yang Maha Mulia, yang itu merupakan sebaik-baiknya nikmat disana.Itulah diantara yang dibahas oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pada buku ini, yang semuanya itu akan membuat iman anda bertambah, dan membuat anda seolah-oleh melihat surga dengan mata dan kepala sendiri. Semoga kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat. Amiin.



Wednesday, 19 July 2017

Download Ebook Tafsir Al-Quran Ibnul Qoyyim Ayat Ayat Pilihan


Penyusun: Syaikh Muhammad Uwais An-Nadwiy
Penerbit: darul Falah

Ukuran:  17 x 24 cm
Halaman: 778 Halaman, HARD COVER

Resensi:

Kalau boleh dimisalkan Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam, ibarat sebuah taman asri nan indah menawan, yang setiap sudut dan bagiannya mengundang pesona bagi orang yang memang mengamatinya. Apalagi jika penjaga dan pemandunya adalah orang yang benar-benar handal dan relatif lebih tahu seluk-beluknya. Sehingga siapapun yang sudah masuk kesana, seakan tak ingin keluar lagi, karena disamping terpesona oleh keindahannya, dia juga mendapat penjelasan dari sang pemandu yang mahir.

Kita adalah para pengunjung taman Al-Qur'an yang hendak masuk ke dalamnya untuk menikmati lekuk-liku pesona dan keindahannya dari pintu gerbang Al-Fatihah hingga ke ujung An-Nas. Di sana kita mendapat uraian dari pemandu yang bobot keilmuan dan profesionalitasnya tak perlu disangsikan lagi, dialah Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Diawali uraian tentang Al-Fatihah, kita diajak menelusuri berbagai hakikat mengenai Asma' Allah, kehidupan dunia dan akhirat, ubudiyah, kebenaran dan kebatilan, tauhid, hidayah dan segala aspek kehidupan orang Mukmin maupun kafir. Bahkan tidak jarang disertai pula uraian tentang detail-detailnya dari sisi linguistik.

Yang pasti, di sini pembaca dibawa Imam Ibnu Qayyim untuk menapaki jalan yang terus menanjak, hingga sampai ke titik kulminasi, yang tercermin dalam uraian surat al-Falaq dan An-Nas. Di bagian inilah pembaca dapat merasakan sebuah keteduhan, kenikmatan dan kesenangan yang sulit dilukiskan, sehingga segala kepenatan menjadi sirna, terobati oleh kepuasan hati bersifat internal dan rahmat serta asy-syifaa' yang bersifat eksternal yang datangnya dari Allah.

Karena itu, Anda belum terpuasi jika tidak membaca buku ini hingga ke huruf terakhir yang terkandung di dalamnya.




 (Drobbox)