Friday, 11 August 2017

Mencontoh Ahlaq Rasul, Sikap Muslim Menghadapi Hujatan, Penistaan dan Penghinaan Islam

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ



Penulis :
Muh. Ashabus Samaa’un
(Pembina majelis ashabul muslimin)



Dari jaman dahulu kala sejak islam datang dalam keadaan asing kemudian menjadi besar jumlahnya seperti sekarang ini, tidak pernah sekalipun berhenti dari dari fitnah, hujatan, celaan dan kezaliman yang tiada akhirnya dari orang-orang fasiq dan kafir. Nabi Muhammad sejak pertama kalinya beliau menerima amanah dari Allah SWT sebagai seorang rasul selalu ditimba ujian, celaan dan cercaan dari orang-orang kafir yang tidak menyukai dakwah beliau. Jika kita mau menengok sejarah nabi Muhammad saw dalam berdakwah menyebarkan rahmat bagi semesta alam (agama islam), beliau selalu mendapatkan ujian yang sangat berat seperti dicela, diumpat, difitnah, dihujat, dihasud, dicacimaki, dilempari batu sampai beliau berdarah-darah, bahkan dilempari kotoran binatang oleh orang kafir . MasyaAllah
Akan tetapi apa sikap beliau terhadap mereka. Beliau tidak membalas mereka dengan keburukan, Justru beliau malah bersabar dan malah mendo’akan supaya mereka mendapat hidayah-Nya, subhanallah wallahu akbar. Padahal do’a Nabi Muhammad saw pasti langsung dikabulkan oleh Allah SWT, sehingga bila orang kafir dido’akan kejatuhan matahari pun sudah pasti terjadi. Bahkan pernah ada malaikat penjaga gunung yang menawari beliau supaya meminta gunung ditimpukan kepada penduduk kafir yang menzalimi beliau, Nabi Muhammad saw yang mempunyai sifat sabar yang agung itu malah mengatakan biarkanlah mereka, mereka begitu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengerti, bahkan aku berharap supaya keluar dari mereka anak cucu yang bertaqwa kepada Allah SWT. Subhanallah. Maha Suci Allah Yang menciptakan Makhluk Agung seperti Nabi Muhammad Saw.

Begitulah tingginya akhlaq Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam sehingga malaikatpun tidak bisa menandingi kemuliaan sifat beliau. Itulah dakwah dengan keluhuran budi pekerti sehingga Allah membukakan Rahmat-Nya yang luas kepada agama ini untuk berkembang. Dakwah beliau telah berhasil karena islam telah berkembang keseluruh dunia  dan bahkan di Indonesia ini patut kita bangga dalam sisi jumlah umat islam karena Indonesia termasuk islam terbesar didunia. Meskipun Islam bukan berasal dari Indonesia tapi apakah kita tidak senang karena jumlah kita paling banyak. Tapi jangan lebay dengan jumlah yang besar. Karena realitas kita hari ini adalah jumlah yang besar namun bodoh dan mudah dipermainkan.

Kembali kepembahasan akhlaq Rasulullah saw, siapakah yang dapat menandingi ketinggian akhlaq beliau. Karena malaikat saja tidak bisa menandingi keluhuran sifat beliau Nabi Saw. Meski begitu berat jalan dakwah beliau, namun sifat kesabaran dan sifat pemaaf beliau melebihi penderitaan yang beliau alami. Begitulah islam ajaran nabi Muhammad saw. Kita dianjurkan bersikap sabar dan memaafkan demi keberhasilan islam. Namun kita juga harus bersikap tegas kepada mereka para kafir dan fasiq yang mengancam kelangsungan dakwah islam dengan cara menghukum mereka dengan syari’at. Bukan dengan main hakim sendiri dengan meluapkan emosi yang berlebihan sehingga justru malah dampaknya menimbulkan mudhorot (kerugian/kerusakan) bagi lingkungan sekitarnya.

Bagaimanakah Umat Islam Menghadapi Hujatan ?

Dibandingkan dengan beliau nabi Muhammad saw tentu saja kita hanyalah segumpal daging yang tidak ada artinya dihadapan Allah SWT. Karena kita hanyalah manusia biasa, rendah dan hina namun selalu bersikap sombong dengan kelebihan kita yang sedikit. Bahkan tidak jarang dakwah islam jadi tercemar karena ulah kita sendiri, akibat dari kesombongan dan sifat tercela dari dalam sendiri.

Akan tetapi dalam menyikapi munculnya hujatan-hujatan dari musuh islam bahkan sampai penghinaan kita tidak bisa tinggal diam. Karena kemungkaran harus kita cegah karena hukumnya fardhu kifayah. Dikawatirkan jika ada kemungkaran tapi tidak ada yang peduli maka azab yang akan turun kebumi, Naudzubillah.

Khususnya berkaitan dengan berita yang muncul dan sedang jadi “hot topic” diberbagai media dan menjadi berita sorotan utama diseluruh dunia adalah munculnya hujatan kepada islam yang tersebar dimedia internet dan tujuannya memancing munculnya huru-hara dan kekacauan diberbagai wilayah umat islam. Sikap tidak terima agamanya dihina adalah sangat baik bukti loyalitas iman, Akan tetapi jika ditanggapi dengan kemarahan umat islam meskipun sesuatu hal yang baik jika tidak terarahkan dengan benar hasilnya malah merugikan. Misalnya demo hingga gedung-gedung, kendaraan, sarana jalan dan sebagainya menjadi sasaran pengrusakan massa.


Jika umat islam mau berpikir dingin maka seharusnya sikap kita menghadapi hujatan terhadap nabi kita yang paling kita cintai menggunakan cara-cara yang efektif. Kita harus berpikir jernih bagaimana caranya supaya musuh jera dengan perbuatannya sendiri. Karena sesungguhnya jika kita melawan kemungkaran dengan cara yang tidak dibenarkan maka hasilnya pun malah justru akan menghasilkan kerugian / mudhorot yang lebih besar. 

Kita bisa lihat sendiri hasilnya, sebagian umat islam yang masih peduli dengan amar makruf nahi munkar (membela yang benar meluruskan yang salah) seringkali dicampuri dengan emosi yang tidak terkontrol sehingga hasilnya pun ternyata menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Fasilitas-fasilitas umum terkadang jadi sasaran pengrusakan massa sehingga dana yang seharusnya untuk rakyat terpotong untuk memperbaiki sarana yang rusak misalnya.

Apakah yang seharusnya kita lakukan, pada saatnya umat islam dicela, dicaci maki dan bahkan nabi kita tercinta dihujat?

Yang Pertama, lawanlah musuh dengan Sabar

Sesungguhnya Rasulullah saw pernah berkata bahwa “kemenangan menyertai kesabaran”. Apakah maksud rasulullah tersebut?. Ya, hanya dengan kesabaran maka kita dapat mengalahkan musuh besar kita. Yaitu hawa nafsu yang selalu menyuruh kita kepada perbuatan mungkar. Selain itu jika kita sudah bisa “mengalahkan diri sendiri” atau melawan hawa nafsu kita maka sesungguhnya kita akan mudah mengalahkan musuh diluar kita dengan mudah. Karena musuh terbesar manusia sesungguhnya adalah hawa nafsunya sendiri. Sabar disini bukan berarti kita diam saja tanpa berbuat apapun. Tapi sabar disini adalah sabar menahan emosi ketika kita disakiti, apalagi agama kita yang dinodai oleh orang kafir. Yaitu kepedulian itu dapat kita wujudkan dengan amar makruf nahi munkar semampu kita.

Kita tidak harus pergi ke Amerika untuk menangkap penjahat terlaknat yang menghujat Rasulullah SAW. Akan tetapi dengan cara yang kita bisa. Minimal kita berdo’a supaya fitnah ini segera berakhir. Adapun usaha kita yang dapat kita lakukan misalnya dengan memasang slogan-slogan baik di jaringan internet atau dipinggir jalan raya tentang kepedulian kita terhadap agama kita yang dinodai, atau slogan tentang petisi bahwa umat islam tidak setuju dengan ditayangkannya film tersebut. Atau jika seandainya ada umat islam yang pandai dalam dunia teknologi misalnya ada yang menjadi hacker atau mujahid cyber maka kita hack saja video itu. Atau kita hapus video itu sampai keakar-akarnya supaya virus yang ditimbulkan video sampah itu tidak menyebar kemana-mana. 

Padahal kita jika bisa berpikir jernih. Masa sih cumin gara-gara video sampah umat islam jadi kacau balau. Tapi memang mungkin barangkali itu strategi musuh islam untuk semakin menggentarkan umat islam ditengah badai fitnah akhir zaman melanda umat islam. Padahal video itu letaknya didunia maya (internet) atau penayangannya didunia barat sana. Jika ada mujahid cyber yang mampu memblokir video itu maka urusan telah selesai dengan mudah, tanpa repot-repot mengarahkan massa yang terorganisir untuk demo didepan kantor pemerintahan yang kadang terjadi konflik antara aparat keamanan dan sebagian umat islam. Yang terjadi malah kerusakan dimana-mana dan anarkisme yang tidak terbendung.

Jika memang diantara 1,2 miliar umat islam yang tersebar diberbagai belahan dunia ini tak ada yang punya kemampuan untuk meng-hacking video itu maka seharusnya ada cara yang lebih mudah dan aman. Yaitu dengan melacak dan melaporkan semua video sampah ini ke depkominfo supaya alamat situs tersebut diblokir agar video itu tidak ada yang menonton.  Karena jika kita bisa melihat dengan pikiran jernih. Menonton video itu sama saja dengan mendengarkan gunjingan orang kafir laknat yang menjelek-jelekan kita.

Kenapa kita tidak abaikan saja orang yang menggunjing itu, kita do’akan saja supaya mendapatkan azab yang setimpal dan akan lebih baik lagi kita laporkan ke amir kita supaya orang yang menjelek-jelekan agama kita dihukum. Sama saja dengan video ini. Umat islam seharusnya menghadapi hujatan kecil seperti ini adalah dengan cara berpikir jernih. Menyelesaikan masalah dengan baik dan benar sehingga kerugian akibat emosi yang berlebihan dapat diminimalisir. Misalnya dengan cara memblokir video tersebut dengan melaporkan ke departemen agama atau departemen teknologi dan informasi (depkominfo). 



Apalagi malah sebagian media mengatakan bahwa sikap emosional yang lebay (berlebihan) dan mudah terpancingnya umat oleh tindakan orang gila yang membuat film sampah tersebut, justru bisa membuat banyak orang untuk penasaran menonton film tersebut. Aliasnya menjadi promosi gratis  bagi film bodoh yang awalnya tak laku itu !.

Karena kita melihat. Ditengah kompleknya masalah umat islam hari ini dari kerusakan moral generasi muda yang gagal ditangani sampai masalah pembantaian umat islam oleh kafir yahudi dan musyrik budha di palestina, suriah dan rohingnya misalnya itu saja sudah cukup memusingkan kita. Lalu dengan datangnya video sampah ini tentu saja jika tidak ditangani dengan cepat dan efektif maka hasilnya akan menambah masalah kita dan kemudian menyibukkan kita dengan hal yang tidak perlu. Sehingga hasilnya kerugianlah yang terjadi. Ditengah seperti itu, apa kita tidak berpikir bahwa ada banyak saudara kita yang tertimpa musibah lebih membutuhkan bantuan dan pertolongan kita.


Kedua mengendalikan emosi dengan benar

Sesungguhnya film sampah ini (film penghujat agama islam). Awal mulanya beredar disalah satu situs video streaming diinternet (youtube.com). Kemudian ketika protes umat islam muncul disebagian wilayah dengan adanya penembakan kantor duta besar amerika di libya dengan roket kemudian menewaskan salah satu tokoh kedubes amerika tersebut, ternyata video ini menjadi semakin popular. Ibarat penyakit gatal yang digaruk-garuk. Ternyata fitnah yang ditimbulkan oleh video ini semakin menjadi-jadi. Akibatnya pun yang ditimbulkan suasana semakin kacau dan meluas dimana-mana. Bahkan kemudian sampai ke Indonesia. Begitulah ibarat fitnah yang ditimbulkan oleh pembuat video sampah penyulut keonaran itu.

Ketika mendapatkan celaan atau caci makian maka hawa nafsu akan menyuruh kita marah dan menuntut balas serupa kepada yang menyakiti kita. Marah memang sesuatu yang jelek. Tapi jika diarahkan dengan baik maka marah dapat menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan musuh. Yaitu marah yang diarahkan untuk membela islam. Marah disini bukan berarti marah yang merusak segala sesuatu disekitarnya. Tapi marah disini adalah marah yang dikontrol dengan kesabaran. Sehingga marah dikombinasikan sabar akan menjadi kekuatan yang sangat besar yang jika sebagian besar  umat islam mampu mengendalikan monsternya (sifat marah) dengan baik maka kemenangan akan mudah kita dapatkan.

Marah adalah ibarat bensin yang digunakan sebagai tenaga pendorong kendaraan bermotor. Tanpa marah, semangat kita membela islam juga kurang. Namun marah yang tidak dikontrol hasilnya kerusakan. Marah yang diarahkan misalnya marah jika islam dihujat lewat video itu. Kemudian dengan semangat dan kepedulian yang besar, dengan segenap kemampuan yang ada kita usahakan untuk membuat slogan dan protes kepada orang kafir dan amerika untuk segera menghapus video itu dan menangkap pelaku pembuat video sampah itu untuk dihukum habis-habisan. Dengan catatan tidak ada umat islam yang sambil demonstrasi  kemudian merusak fasilitas umum dalam menyerukan slogan tersebut.

Istilahnya disini adalah maju tak gentar membela yang benar dengan kesabaran. Tidak pernah menyerah kita berusaha sampai akhirnya berhasil.  Namun dengan usaha itu kita tidak perlu mengeluarkan emosi yang berlebihan sehingga akan menguras tenaga kita untuk yang tidak perlu. Misalnya berkelahi dengan aparat keamanan adalah salah satu contoh tindakan tidak berguna akibat emosional yang berlebihan.

Jujur saja saya katakan. Memang jumlah kita sekarang ini sangat besar. Namun kenapa musuh tidak ketakutan dengan jumlah kita sekarang. Justru kita malah dipermainkan bak bola gelinding. Musuh kita sepertinya tertawa terbahak-bahak dengan jumlah kita yang banyak. Akan tetapi mudah di bodohi oleh musuh. Berbeda sama sekali dengan keadaan jaman rasulullah saw dan para sahabat ra. Mereka waktu itu jumlahnya sangat sedikit bila dibandingkan dengan orang kafir. Namun mereka bagaikan singa yang ditakuti orang kafir. Karena mereka selalu berjuang menegakkan islam dengan kesabaran dan ilmu din yang benar dan matang. Tidak seperti kita sekarang, umat islam jumlahnya sangat besar namun tak ada musuh yang gentar dengan kita. Justru malah selalu menghina dan mengejek, bahkan menindas kita habis-habisan. Sebabnya tidak lain adalah sebagian besar umat islam sekarang ini menegakkan islam dengan emosi dan kebodohan. Akibatnya yang ditimbulkan adalah kekacauan !
                                              
Ketiga, Tawkal dan Do’a Kepada ALLAH SWT agar kita diberikan kemenangan.

Do’a adalah senjata pamungkas umat islam. Kita sering berusaha namun lupa berdo’a padahal kemenangan itu adalah karunia Allah SWT. Dan kita kadang sering berdo’a namun malas berusaha. Karena Allah tidak mungkin memberi pertolongan kepada orang yang malas berusaha.

Nah, kaitannya dengan pembahasan kita tersebut. Do’a memang factor yang sangat penting sekali untuk mengiringi usaha jihad kita membela islam. Dengan do’a yang tekun disertai kesabaran dan tawakal yang tidak mengenal menyerah, InsyaAllah kemenangan umat islam suatu saat nanti akan terwujud. Yahudi dan kafir akan segera kita binasakan. Itulah janji Allah yang pernah dinyatakan oleh rasulullah saw. Bahwa suatu saat nanti aka nada khilafah dipenghujung zaman yang akan menaungi dunia dengan kedamaian. Sebelum akhirnya kehidupan dunia ini binasa bersama para penghuninya. Kita yakini dengan usaha dan do’a yang disertai kesabaran dan pantang menyerah dalam berusaha. Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan usaha para hamba-Nya yang dimuliakan. Insya Allah

Sekian sekelumit kajian dari kami. Mengingat kami adalah orang awan yang masih berteman dengan kebodohan dalam diri kami maka kami mohon maaf jika ada salah tulis atau yang lainnya. Semoga tulisan kecil ini dapat bermanfaat bagi umat islam dan para pembaca khusunya yang mau mempraktekan ilmu yang kecil ini.

Wallahu’alam











Belum Sempurna Keimanan Sebelum Mencintai Rasulullah saw Melebihi Cinta Keluarga dan Kekasihnya


Demi Allah, belum sempurna iman seseorang sampai aku lebih dicintai daripada bapak-ibunya, keluarganya dan manusia seluruhnya 

(Al Hadist).

Sekarang ini Rasulullah telah tiada. Cara yang paling tepat untuk menunjukkan kecintaan kita adalah mengikuti semua ajarannya, ajaran yang dibawa oleh Rasulullah yang bersumber dari wahyu Ilahi. Mengikuti semua ajaran Nabi berarti juga mengikuti ajaran Allah SWT karena semua apa yang disampaikannya bersumber dari wahyu Ilahi. Al Quran telah menegaskan hal ini, bahwa semua yang dibawa oleh Rasulullah bukanlah berasal dari dirinya:

 Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (QS. An Najam 53:1-4)

Agama Islam ini, ajaran yang dibawa oleh Rasulullah yang berdasarkan wahyu Ilahi ini sudah demikian paripurna, lengkap menyeluruh mengatur semua aspek kehidupan kita. Ia mengatur dari mulai kita bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan seandainya pun di tengah-tengah tidur kita terbangun, kita akan dapatkan pembahasan mengenai kegiatan di antara tidur ini baik itu aktivitas rohani, misalnya mendekatkan diri dengan Ilahi melalui ibadah sholat tahajjud maupun aktivitas non-spiritual. Kesemuanya sudah tersusun lengkap di dalam Islam.

Persaudaraan, akhlak mulia, penghormatan terhadap kemanusiaan semua manusia dalam arti persamaan derajat juga mendapatkan porsi yang besar dalam ajaran ini. Kasih sayang sesama manusia tanpa memandang status keduniaan sangat jelas dalam Islam.

Pernah salah seorang sahabat terpandang tanpa sengaja melakukan penghinaan terhadap sahabat Bilal dengan memanggilnya dengan sebutan putra budak hitam. Mendengar itu muka Rasulullah merah padam, marah sampai keluar ucapan celaka, celaka, celaka tiga kali. Lanjutan hadis mengenai hal ini menegaskan bahwa tidak ada kelebihan keturunan arab dan bukan arab. Yang membedakan antara seorang hamba dengan hamba lainnya hanyalah derajat ketakwaan. Mendengar teguran keras dari Rasulullah, sang sahabat bangsawan tersebut langsung menjatuhkan diri di hadapan Bilal, dengan menempelkan pipinya di tanah meminta Bilal untuk menginjak mukanya sebagai balasan atas penghinaan yang telah beliau lakukan. Subhanallah!

Bilal, salah seorang sahabat keturunan kulit hitam, yang dulunya seorang hamba sahaya kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar, yang bermuka buruk sampai kalau pun tersenyum anak kecil pun menangis ketakutan, Bilal yang miskin dan hitam ini pun mendapatkan penghormatan yang sama dengan sahabat-sahabat lain yang kebetulan mendapatkan anugerah kekayaan. Bahkan diceritakan dalam sebuah hadis sewaktu melakukan Isra Mikraj, Rasulullah menemukan terompah Bilal sudah lebih dahulu berada di surga. Jadi betul-betul hanyalah derajat ketakwaan yang membedakan, bukan derajat lainnya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling takwa.

Marilah sekarang kita tengok keseharian kita. Berapa sering kita nunduk-nunduk atau paling tidak merasa lebih sreg bergaul dengan orang-orang perlente, golongan bos-bos; dan berapa sering kita acuh tak acuh terhadap orang-orang yang di bawah kita, lebih rendah status keduniaannya daripada kita. Ada dikotomi pergaulan staff  nonstaff. Terkadang kita juga sering menerapkan persaudaraan parsial. Terhadap orang-orang yang segolongan dengan kita, alangkah manis raut muka dan senyum kita. Panggilan saudara, akhi dan jabat erat kita berikan kepada ikhwan-ikhwan yang sekelompok dengan kita, sementara orang yang di luar kelompok kita, untuk tersenyum pun terasa berat. Dakwah mengalir deras, persaudaraan terasa kental untuk ikhwan-ikhwan yang terbiasa bersama kita di jamaah sholat, sedangkan orang yang baru datang, sambutan hangat hanya milik orang-orang ahli pengajian yang bersama kita. Astaghfirullah!

Ini baru satu ajaran yang mestinya kita pegang erat-erat, kita terapkan tanpa membeda-bedakan status, kedudukan dunia.

Mari kita renungkan hal ini.

Terakhir, saya ulangi hadis Rasulullah yang saya kutip di atas. Demi Allah, belum sempurna iman seseorang sampai aku lebih dicintai daripada bapak-ibunya, keluarganya dan manusia seluruhnya dengan harapan agar kita semua dapat membuktikan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dengan melaksanakan semua ajarannya.

Wallahualam bishshowab

Thursday, 10 August 2017

Hukuman Bagi Pezina Yang Sudah Menikah dan Belum Menikah


Saudara-saudaraku kaum muslimin,
Sungguh dizaman yang serba globalisasi ini semua telah mengalami perubahan. Baik dalam bidang teknologi  informasi maupun komunikasi begitu juga dalam bidang pembangunan nasional akan tetapi justru juga ada perubahan-perubahan yang lebih buruk yang harus menjadi perhatian seluruh kaum muslimin. Yaitu semakin hari semakin banyak kejahatan dan terutama perzinaan sudah tidak bisa dihitung lagi kasusnya. Sesungguhnya sudah jelas firman Allah dalam Kitab-Nya dan sabda Rasulullah saw. dalam Sunnahnya serta Ijma' para Ulama tentang haramnya zina dan bahwasanya dia termasuk kekejian dan dosa besar.
Melihat tanda-tanda akhir zaman ini Sungguh benar ucapan Rasulullah saw. :

"Pasti akan ada dari ummatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khomer (minuman keras), dan alat-alat musik!." (H.R. Bukhori.)


Saudara-saudaraku kaum muslimin,
Tidakkah anda ingat ucapan Allah Ta'ala dalam KitabNya yang mulya :


 “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,” (al-Israa’: 32)

HUKUMAN BAGI PELAKU ZINA

Hukuman Bagi Pelaku Zina yang Belum Pernah Menikah
Para ahli fiqih telah sepakat bahwa orang merdeka yang belum menikah jika melakukan zina maka dicambuk 100 kali baik laki-laki maupun perempuan, karena Azza wa Jalla berfirman:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 2)

Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa pelaku zina ini diberi hukuman cambuk dan diasingkan selama 1 tahun sebagaimana pendapat yang benar dari para ulama. Demikian itu karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan hukuman untuk orang yang berzina dan belum menikah dengan diasingkan selama satu tahun dan ditegakkan hukuman (cambuk) atasnya.
Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ambillah oleh kalian hukuman (bagi pezina) dari saya, ambillah oleh kalian (hukuman bagi pezina) dari saya … sesungguhnya Allah telah menjadikan hukuman yang jelas untuk mereka (para pezina) : laki-laki yang belum menikah (berzina) dengan gadis dicambuk 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun sedangkan laki-laki dan perempuan yang sudah menikah dicambuk 100 kali dan dirajam.”

Beliau mengasingkan orang berzina yang belum menikah, demikian pula khalifah ar-rasyidin. Adapun jika yang diasingkan adalah wanita, maka tidaklah dia diasingkan kecuali bersama mahram atau suaminya karena wanita adalah aurat.

Hukuman Bagi Pelaku Zina yang Telah Menikah

Para ahli fiqih telah sepakat atas hukuman rajam sampai mati bagi (pelaku zina yang) muhshin (berakal, baligh dan merdeka yang telah menikah dengan pernikahan yang benar dan telah menyetubuhi istrinya meskipun air maninya tidak keluar) demikian pula seorang janda atau duda berdasarkan hadits yang telah lalu dan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Seseorang didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berada di masjid maka dia memanggil beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya saya telah berzina.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling darinya sehingga orang itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hingga 4 kali. Maka tatkala dia telah mempersaksikan dirinya sebanyak 4 kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan bertanya, “Apakah kamu punya penyakit gila?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi, “Apakah kamu telah menikah?” diam menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Bawalah dia pergi dan rajamlah.” (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim)

Asy-Syaukani menyebutkan bahwa hukuman rajam telah disepakati. Hukuman itu ditetapkan berdasarkan sunnah mutawatir dan dalil Al-Qur’an, karena hadits Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata,
“Di antara ayat yang diturunkan atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ayat rajam, kami telah membaca dan memperhatikannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukan hukuman rajam dan kamipun melakukannya sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Diriwayatkan oleh Jamaah)

Ayat yang disebutkan Umar radhiyallahu ‘anhu adalah:
“Laki-laki dan wanita yang tua (yang telah menikah) jika keduanya berzina, maka rajamlah keduanya disebabkan kelezatan yang telah mereka berdua rasakan.”
Ini merupakan bagian dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang telah dimansukh (dihapus) bacaannya tetapi tidak hukumnya.

Para ulama berselisih tentang menggabungkan hukuman cambuk dan rajam. Mayoritas ulama berpendapat bahwa pelaku zina yang telah menikah cukup dirajam karena demikianlah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Maiz, Al-Ghamidiyah dan orang Yahudi yang telah berzina, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Unais radhiyallahu ‘anhu,

“Jika dia (wanita yang telah menikah) itu mengaku bahwa dirinya telah berzina, maka rajamlah dia.”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu telah merajam pelaku zina saat keduanya menjabat kekhilafahan dan tidak menggabungkan antara hukuman cambuk dan rajam.

KESIMPULAN HUKUMAN

Pertama, hukuman mati secara buruk (rajam) bagi pezina kemudian diperingan (bagi yang belum nikah) dengan dua jenis hukuman, hukuman fisik yakni dijilid seratus kali dan hukuman mental psikis dengan diasingkan selama satu tahun.

Kedua, Allah secara khusus menyebutkan larangan menaruh rasa iba yang sampai mengalahkan hukum agama. Kasihan diperbolehkan bahkan Allah itu Maha Pengasih namun itu semua jangan sampai menghalangi dari menjalankan syariat Allah. Hal ini ditekankan karena orang biasanya lebih kasihan kepada pelaku zina daripada kepada pencuri, perampok, pemabuk dan sebagainya. Disamping itu dosa zina bisa saja dilakukan oleh siapa saja termasuk orang kelas atas dan punya kedudukan tinggi yang memungkinkan penegak hukum merasa enggan dan kasihan untuk menjalankan hukumannya.

Ketiga, Allah memerintahkan agar pelaksanaan hukuman zina disaksikan oleh orang-orang mukmin dengan maksud bisa menjadi pelajaran dan memberikan dampak positif bagi maslahat umat.

Wallahualam

Wanita Dinikahi Karena 4 Perkara, Pilih Agamanya Maka Kamu Beruntung

Istri shalehah (seorang wanita yang yang bagus agama dan akhlaknya). Wanita salehah adalah dambaan laki laki yang inginkan rumah tangga bahagia.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
“Wanita dinikahi karena 4 perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita shalihah), kamu akan beruntung” (Bukhari dan Muslim)

Seorang wanita shalehah akan memudahkan pernikahan dan mudah taat pada sang suami
Wanita yang berakhlak mulia adalah wanita yang memberikan belaian kasihnya kepada suaminya dan menghormatinyaBerusaha tulus-ikhlas menyerahkan hidupnya untuk berbakti kepada suami mengharap pahala disisi AllahSenantiasa patuh kepada suaminya dalam segala hal (selain maksiat kepada Allah)
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
“Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf” (HR. Al-Bukhari no. 7145 dan Muslim no. 4742)
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala” (HR. Ahmad 1/131, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullahu dalam syarah dan catatan kakinya terhadap Musnad Al-Imam Ahmad dan dishahihkan pula dalam Ash-Shahihah no. 181)

Membantu suami untuk taat kepada Allah, maka jika suami malas ia menyemangatinya
Tak bosan-bosan senantiasa menasehati sang suami...
“Berhati-hatilah wahai suami tercintaku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa bersabar dari api neraka…”
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
"Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para Rasul. Maka, Allah berfirman:

’Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih" (Al-Mukminuun: 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian" (Al-Baqarah: 172)

"Uang yang engkau infaqkan di jalan Allah, uang yang engkau infaqkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), uang yang engkau infaqkan untuk orang miskin, dan uang yang engkau infaqkan untuk keluargamu, maka yang lebih besar ganjarannya adalah uang yang engkau infaqkan kepada keluargamu” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 995),

dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)
"Dan sesungguhnya, tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat untuk mencari wajah Allah, melainkan engkau diberi pahala dengannya sampai apa yang engkau berikan ke mulut isterimu akan mendapat ganjaran” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1295) dan Muslim (no. 1628), dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu)
"Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang wajib ia beri makan (nafkah)"  (Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1692), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (V/376, no. 1485)
Mengingatkan ketika suami lupa
Menolong ketika suami ingat
Mengingat nasehat;
”Seorang wanita hanya ingin suaminya, dan setelah memilikinya ia menginginkan segalanya”
“Tiap lelaki besar kebanyakan dibelakangnya ada wanita yang besar, demikian juga sebaliknya”
Mengurus dan memperhatikan ketika suami ada
Menjaga kehormatannya dan harta suaminya, tatkala sang suami tiada disisinya
Akan lebih siap mendidik dengan sepenuh jiwa dan keteladanan
Seorang ibu shalihah yang memahami peran dan tugasnya secara amanah adalah pilar utama keberhasilan pendidikan anak
Tidak keluar rumah tanpa sepengetahuan suami dan tidak mengizinkan siapapun yang tidak disukai suaminya masuk ke dalam rumahnya
وَلاَ تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tidak boleh seorang istri mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya terkecuali dengan izin suaminya” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 2367)
Menyegerakan apa yang disukai suami dan tidak menunda-nundanya
Tidak berpuasa sunnah sedangkan suami sedang bersamanya, kecuali dengan izinnya Sebagaimana sabda rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
"Tidak boleh seorang istri berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya ada bersamanya, kecuali dengan idzinnya" (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Larangan ini menunjukkan keharaman. Demikian yang diterangkan dengan jelas oleh kalangan ulama dari madzhab kami.” (Al-Minhaj, 7/116)
Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari (9/367)
Adapun sebab/alasan pelarangan tersebut, wallahu a’lam, karena suami memiliki hak untuk istimta’ dengan si istri sepanjang hari. Haknya ini wajib untuk segera ditunaikan dan tidak boleh luput penunaiannya karena si istri sedang melakukan ibadah sunnah ataupun ibadah yang wajib namun dapat ditunda. (Al-Minhaj, 7/116, Syarah Shahiih Muslim (VII/115)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu mengatakan: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib, sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah” (Fathul Bari, 9/357)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa hak suami lebih utama dari amalan sunnah, karena hak suami merupakan kewajiban bagi isteri. Melaksanakan kewajiban harus didahulukan daripada melaksanakan amalan sunnah. (Fat-hul Baari (IX/296)
Maka jika sang isteri berkewajiban mematuhi suami dalam urusan syahwat, maka alangkah lebih wajib lagi baginya untuk menaati suaminya dalam urusan yang lebih penting dari itu, yaitu yang berkaitan dengan pendidikan anak dan kebaikan keluarganya, serta hak-hak dan kewajiban lainya

Jika suami marah ia yang membuatnya ridha
Tetap taat dan memenuhi hak-hak suaminya, berbakti sebaik-baiknya meski didzalimi
Berusaha selalu sabar dan tidak menyakiti hati suami apapun yang bergejolak didalam hati
Mengingat bahwa dirinya sedang berhadapan dengan dengan seseorang yang Allah beri kuasa sangat besar atas dirinya
"Seorang perempuan belum dianggap menunaikan hak Tuhannya sehingga ia menunaikan hak suaminya"  (HR Ibnu Majah)
لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya” (HR. Ahmad 4/381 dan Tirmidzi, dishahihkan Al Albany, lihat “Shahihul Jami`us Shaghir” no. 5294, Irwa` Al-Ghalil no. 1998 dan Ash-Shahihah no. 3366)
Maksudnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandaikan bila boleh bersujud kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya istri akan diperintah sujud kepada suaminya. Namun mendapatkan sujud dari para hamba hanyalah merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satu pun makhluk-Nya yang berserikat dengan-Nya dalam hak ini
Dan mengingat hadist ini...
إِثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُؤُوْسُهُمَا: عَبْدٌ آبَق مِنْ مَوَالِيْهِ حَتَّى يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ
“2 golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali”  (Riwayat Thabrani dan Hakim dalam “Mustadrak“nya, di-shahih-kan Al Albany hafidhahullah sebagaimana dalam “Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah” no. 288)
Hingga Aisyah (Ummul Mukminin) pernah memberi nasehat kepada para wanita:
“Wahai sekalian wanita, seandainya kalian mengetahui hak suami-suami kalian atas diri kalian niscaya akan ada seorang wanita di antara kalian yang mengusap debu dari kedua kaki suaminya dengan pipinya” (kitab “Al Kabair” oleh Imam Dzahabi hal. 173, cetakan Darun Nadwah Al Jadidah)
Istri yang meski dalam penderitaan (semisal suami menelantarkanya) ia tetap bersabar
Berusaha mendampingi sang suami baik dalam suka maupun duka
Apapun yang dialami sang suami berusaha untuk menjadi pendampingnya yang setia
"Disaat suka menjadi pengingat agar suami tidak terlena, dan disaat duka menjadi pelipur lara"
Menerima keadaan suami bagaimanapun adanya penuh kelapangan
Mudah bersikap qana’ah (merasa cukup dengan segala karunia yang Allah berikan)
Merasa ridla dengan apa yang diberikan (suami) untuknya, baik itu sedikit maupun banyak
Tidak menuntut diluar kesanggupan suami atau meminta sesuatu yang tidak perlu
Segala derita menjadi ladang pahala baginya, amanah yang terus ditunaikan dan menguatkan keimananya
Menjadi seperti khadijah, bagaimana ia mengokohkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi dorongan kepada beliau. Ia menyerahkan semua yang dimilikinya dibawah pengaturan beliau demi menyampaikan agama Allah
Dan saat Nabi begitu terguncang bisa menjadi tenang dan bisa begitu bahagia setelah bersedih ketika wahyu pertama turun, dengan perkataan beliau:
وَاللهُ لا يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi, menanggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran” (Muttafaq alaihi, diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab Bad’il Wahyi” dan Muslim dalam “Kitabul Iman“)
Yang ditengah malam (saat didzalimi) ia terus berdo’a...
“Ya Allah, hamba mengaku begitu banyak dosa dan kekurangan
Ilhamkan pada diri hamba cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suami tercinta
Ya Allah, dengan segala kemurahan-Mu...
Hamba memohon jangan murkai ia karena kelalaiannya
Maafkanlah ia…
Dengan sepenuh cinta hamba masih tetap menyayanginya
Ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya
Engkau maha Tahu Ya Allah...
Hamba begitu mencintainya karena-Mu
Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara terbaik-Mu
Tegurlah ia dengan jalan terbaik menuju keridhaan-Mu”

Dan berdo'a...
"Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan Rasul-Mu, dan aku menjaga kehormatanku hanya untuk suamiku, maka lindungilah aku daripada dikuasai oleh orang-orang kafir dan dzalim" (Riwayat al-Bukhari, no 2104, 2/722)

Download Ebook Ringkasan Hadits Sohih Bukhari chm


Ebook ini adalah ringkasan sohih bukhari yang dirangkum syeh nasrudin albani format chm filesize 800 kb dikompilasi oleh pakdenono.com


Tuesday, 8 August 2017

Tragedi Joya, Tukang Ampli Yang di Bakar Hidup Hidup Dibekasi, Negri Ini Krisis Kemanusiaan

Ini adalah kisah tukang amplifiyer yang dituduh maling motor hingga dibakar hidup hidup hingga kini meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, anaknya yang berusia 5 tahun kini jadi anak yatim yang tidak tahu apa apa. Bapaknya yang jadi tulang punggung keluarga kini sudah tiada. Dapatkah para algojo pembakar dan pengeroyok tukang ampli dan guru ngaji ini merasakan derita yang anak ini rasakan, saya rasa tidak dan mereka layak dianggap binatang buas tak punya nurani atau monster berdarah dingin tak kenal manusiawi. 


 Waktu kecil, ayahanda kerap berkisah tentang masa penjajahan dan pemberontakan komunis. Kisah-kisah mengharukan masih terhujam dalam ingatan. Saat itu, terjadi pemberontakan PKI tahun 1948.Ayahanda bersama rekan diburu komunis. Masuk ke hutan. Apes bagi beberapa rekannya yang tertangkap.

Ketika mereka kembali, beberapa rekannya telah jadi mayat. "Ada yang ditelanjangi, kemaluannya dipotong, ada yang gosong dibakar."
Kekejian komunis tak lekang dalam ingatan. Kobaran api kebencian mereka kerap dialamatkan pada Islam dan TNI. Terutama pada Ulama, santri dan kaum Muslimin.Memori menyeret saya pada kisah kehidupan Rasulullah. Berkali-kali Rasul mendapat perlakuan percobaan pembunuhan.
Namun, beliau menyikapinya dengan kemuliaan akhlak. Hasilnya, pihak yang ingin melakukan percobaan pembunuhan justru jadi pembelanya.
Menjadi pengikut setia sampai akhir hayatnya. Seperti kisah menajukban dari kehidupan Khalifah Umar bin Khattab.

Atau kisah Umair bin Wahb, Tsumamah bin Utsal al-Hanafi. Fadlalah bin Umair, Ghaurats bin al-Harits.Mereka dulunya memiliki keinginan membunuh Nabi. Namun, menyaksikan keindahan akhlak Rasul, justru jatuh hati.Menjadi sahabat setia dan generasi terbaik sepanjang zaman berkat didikan kemuliaan akhlak Rasul. Shalaallahu alaa Muhammad.

Sejarah dan kisah-kisah kehidupan Rasulullah dan sahabat, kini seolah barang langka. Terutama bila mengaitkan dalam realitas kehidupan sekarang. Seolah hanya kampanye dan klaim sepihak: kami ahli Sunnah.Dada serasa terguncang membaca berita pembakaran pemuda shaleh di Bekasi. Miris.Teramat miris lagi menyaksikan video pembakaran korban tersebut, yang menjadi viral. Sang korban bernama Muhammad Al Zahra Zoya, dikenal sebagai Zoya atau Joya: korban tragedi amplifier​ berdarah di Bekasi.

Pemuda shaleh yang meninggalkan anaknya yang masih kecil dan istrinya yang hamil itu, dibakar massa, awal Agustus. Tanpa pengadilan, dikepruk kepalanya, ditelanjangi, dibakar hidup-hidup, disaksikan ratusan warga.Dalam video, tersua teriakan massa yang bersorak sorai dan bertepuk tangan. Ya Allah, kita ini bangsa apa? Kenapa menjadi bar-bar begitu?

Bagaimana bisa sebagai manusia menyaksikan orang dibakar hidup-hidup dengan sorak sorai dan tepuk tangan? Ada apa dengan jiwa anak-anak bangsa? Kemana peran Ulama?Kenapa kita lebih takut kehilangan asesoris masjid dibanding kehilangan jiwa seseorang. Bahkan, nyawa seorang Muslim.

Pembunuhnya pun, bisa jadi, Muslim juga. Atau mengaku-aku sebagai Muslim.
Bukankah nubuah mengingatkan? Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim. Dosa membunuh seorang Mu'min lebih besar dibanding hancurnya dunia.Menyaksikan video itu, serasa mengenang kisah orangtua tentang kebiadaban komunis. Terlebih, satu per satu kesaksian muncul jika korban adalah orang shaleh di daerahnya.
Mertua korban, Pandi, misalnya. Beliau bersaksi jika korban shalatnya tak pernah ketinggalan.
Engkung Amir, Ketua RT 05, lingkungan korban tinggal, bersaksi almarhum berakhlak baik pada tetangga. Bahkan kerap menjadi imam shalat dan guru mengaji.

Kesaksian tentang perilaku terpuji dan keshalehan korban juga tersua dari para tetangga, tokoh masyarakat sampai pengurus masjid setempat.
Haji Darta, Ketua DKM, Mushala Baiturrahman Cikarang Kota, bersaksi jika almarhum Muhammad Zahra sering shalat di mushala tersebut. Bahkan, memberi sedekah mic untuk mushala.

Kesaksian akhlak korban juga tersebar dalam media, video dan pelbagai tulisan yang viral. Almarhum juga diketahui sebagai tukang servis dan jual beli amplifier​.Bahkan, kisah haru tersua dari istri korban ketika anaknya menanyakan keberadaan sang ayah. Terlebih anak tersebut kerap diajak shalat jamaah oleh korban.
Lantas, kenapa kita mudah memvonis seseorang bahkan melukai dan membakar hidup-hidup?
Ironinya lagi, saat membaca media online Merdeka, 2/8/2017, bertajuk: Polisi tegaskan pria yang dibakar warga pencuri amplifier musala. Kutipannya:

"Ada laporan polisinya," kata Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi AKBP Rizal Marito, Rabu (2/8).
Menurut dia, laporan polisi yang membuat adalah marbot di sebuah mushala yang amplifiernya hilang di Kampung Muara Bakti RT 012 RW 07, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan.
Karena itu, Rizal membantah, bahwa MA merupakan korban salah sasaran yang disebutkan di media sosial yang kini menjadi viral.
"Hasil penyelidikan menyebutkan, bahwa korban yang dibakar massa ini adalah pelaku pencurian amplifier mushala," ujarnya.

Penyelidikan, kata dia, dengan cara memintai keterangan saksi, seperti marbot mushala. Demikian mereka, melaporkan.Jika berita itu benar, janggal sekali keterangan polisi. Sebab bertolak belakang dengan kesaksian keluarga, tetangga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat di lingkungan korban.Lucunya lagi, diklaim membuat surat kehilangan laporan amflipier. Lalu, korban muncul membawa amfli dan langsung divonis maling.

Kejanggalan keterangan polisi itu: tak disebut laporan kehilangan kapan, korban muncul lalu diteriaki maling.Logikanya, laporan dibuat setelah barang hilang. Lantas, maling mana yang bodoh datang kembali ke tempat pencurian? Kenapa pula korban tidak ditanya, dan lalu main vonis. Sedangkan korban sempat menegaskan tidak mencuri, tapi tetap dihakimi massa.

Provokator dan pelaku pembakaran pun belum ditangkap, padahal wajahnya terekam dalam video yang menjadi viral. Belakangan, simpati dan dukungan terhadap korban serta keluarga terus mengalir bak gelombang pasang. Mulai masyarakat, anggota DPR sampai menteri.
Alangkah baiknya polisi menarik keterangan tudingan jika korban adalah pelaku pencurian. Sekaligus membersihkan nama baik korban dan keluarga. Janganlah tega menimpa mereka yang sudah jatuh masih ditimpa tangga.

Jika benar mencuri, entah dari mana bisa datangkan bukti-bukti valid itu. Sedang korban sudah tiada. Pengadilan tak mungkin digelar.
Aneh rasanya mencerna logika hukum: bila bukti sekadar dari keterangan saksi yang cuma sepihak. Belakangan, keterangan dari banyak saksi justru bertolak belakang dari saksi versi polisi.
Masyarakat kini tinggal berharap: mampukah polisi segera menangkap provokator dan pelaku pengroyokan serta pembakaran. Bukankah video pembakaran sudah tersebar viral.

Tragedi tersebut menjadi pelajaran amat berharga bagi semua. Kemana jati diri bangsa ini? Sudah hilangkah nurani. Kemana nilai kemanusiaan kita? Kemana iman kita? Kemana pula para Ulama?
Semoga para Ulama berkenan kembali ke khittahnya: mendidik dan menjaga umat. Tak tergelincir arus politik, nikmat semu kepopuleran atau kelezatan palsu kemewahan.
Ini pun menjadi pelajaran bagi pengurus masjid. Sayangilah jiwa dan nyawa manusia tenimbang sekadar kehilangan asesoris masjid.
Bukan kita membiarkan seenaknya kasus pencurian. Tapi mari kembali mengingat sejarah kehidupan Rasul dan Sahabat. Dengan kemuliaan akhlak, merangkul hati, menembus jiwa-jiwa yang rusak.

Dalam kasus tragedi amfli, pengurus masjid tak diancam dibunuh. Korban tak membahayakan.
Pelaku pun belum bisa dipastikan secara de facto sebagai pencuri. Tiba-tiba diteriaki maling: lalu menimbulkan anak yatim baru.Mampukah kita kemballikan fungsi masjid? Membumikan akhlak mulia, welas asih dan rahmatan lil alaamiin dari masjid. Ini PR besar bagi semua.

Pertanyaan selanjutnya: Beranikah para algojo pembakar itu membakar koruptor? Tentu saja mustahil. Sebab, amat sangat dilarang.
Sebesar apapun kesalahan manusia, tak patut bagi kita seenaknya main hukum riba. Bukankah semua sudah aturannya.

Lantas, beranikah para algojo pengroyokan dan pembakaran mendatangi dan meminta maaf pada keluarga korban?

Terutama pada istri dan anaknya. Seperti keberaniannya ketika membakar korban. Lalu, menyerahkan diri ke polisi. Ah mungkin, lebih mustahil lagi.Ketika para algojo menjadi pengecut meminta maaf, ketika itu pula ketenangan jiwa takkan mungkin diraihnya. Bahkan mungkin, selama sisa hidupnya.

Ikut duka pada keluarga korban. Semoga Sang Maha memberi ganti yang jauh lebih baik di dunia dan akhirat.Semoga si kecil, yatim anak korban, menjadi orang besar: yang mampu menebar manfaat untuk umat dan bangsa.
Ikut berduka pula terhadap rasa kemanusian bangsa ini. Juga, duka pada jiwa-jiwa kita yang mungkin amat banyak kerusakannya.
Allahumaghfir ummatam Muhammad. Allahummaslih umatam Muhammad. Shalaallahu alaa Muhammad.
Al Fatihah untuk almarhum Muhammad Al Zahra Zoya...

Sumber republika

Monday, 7 August 2017

Hadits ; Yahudi Kaum Yang Dimurkai, Nasrani Kaum Yang Tersesat

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda,

"Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani."(HR Ahmad dan Tirmidzi)


Dua hal yang buruk ini, yaitu kesesatan dan penderitaan, banyak disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya. Allah SWT memberitakan bahwa kedua hal itu akan ditimpakan kepada musuh-musuh-Nya. Dia juga banyak menyebutkan lawan dari kedua hal ini, yaitu petunjuk dan keberuntungan. Dia mengabarkan bahwa dua hal ini adalah untuk kekasih-kekasih-Nya. Adapun yang pertama, yaitu kesesatan dan kesengsaraan adalah seperti terdapat dalam firman Allah,

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan di dunia dan dalam neraka." (al-Qamar: 47)

Yang dimaksud dengan kesesatan dalam ayat di atas adalah kesesatan itu sendiri, sedangkan neraka maksudnya adalah penderitaan dan azab. Allah SWT juga berfirman,


"Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk." (Yunus: 45)

Sedangkan yang kedua, yaitu petunjuk dan keberuntungan adalah seperti terdapat dalam firman Allah SWT di awal surah al-Baqarah, yaitu ketika Allah SWT menyebutkan sifat-sifat orang-orang mukmin,

"Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan merekalah orang-orang yang beruntung." (al-Baqarah: 5)

Demikian juga dalam surah al-An'aam,

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukannya dengan kezaliman, merekalah yang medapatkan keamanan. Dan mereka adalah orang-orang yang berpetunjuk." (al-ArTaam: 82)

Karena surah al-Faatihah merupakan surah yang paling agung, paling wajib dibaca, paling mencakup apa yang dibutuhkan hamba, serta paling luas manfaatnya, maka Allah SWT menyebutkan kebaikan dan keburukan di dalamnya. Allah SWT memerintahkan kita mengucapkan,

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka." (al-Faatihah: 6)

Di sini Allah SWT menyebutkan hidayah dan nikmat yang merupakan petunjuk dan kemenangan. Kemudian Allah SWT berfirman,

"Bukan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang sesat" (al-Fatihah:7)

Di sini Allah SWT menyebutkan orang-orang yang mendapat murka-Nya, yaitu mereka yang menderita. Juga menyebutkan orang-orang yang tersesat, yaitu mereka yang tersesat dari jalan yang lurus. Masing-masing dari kedua golongan ini adalah orang-orang yang mengalami penderitaan dan kesesatan. Allah SWT menyebutkan kedua sifat buruk ini secara bersamaan, supaya apa yang dituju oleh surah tersebut diungkapkan dengan lafal yang paling jelas.

Allah SWT juga menyebutkan salah satu sifat yang paling jelas bagi masing-masing golongan. Untuk orang-orang Yahudi, kemurkaan lebih sesuai dan lebih jelas. Hal ini dikarenakan mereka menentang kebenaran setelah mereka mengetahuinya. Sedangkan untuk orang-orang Nasrani, maka kesesatan lebih cocok dan lebih jelas, karena mereka tersesat disebabkan kebodohan dan ketidaktahuan mereka.

Wallahu'alam

Apakah Jin Ada Yang Masuk Surga Sebagaimana Manusia?


Dalam al quran  Firman Allah SWT

"Dan apabila petunjuk-Ku datang kepadamu." (Thaahaa: 123)

Adalah ditujukan kepada orang-orang yang diturunkan Allah SWT dari surga dengan firman-Nya,

"Turunlah semua dari surga itu kamu berdua, sebagian dari kamu menjadi musuh sebagian yang lain." (Thaahaa: 123)

Setelah itu Allah SWT berfirman, "Maka apabila petunjuk-Ku datang kepadamu."

Kedua hal di atas ditujukan kepada bapak jin dan bapak manusia. Ini menunjukkan bahwa jin mendapat perintah serta larangan dari Allah SWT. Mereka juga tercakup dalam syariat-syariat para nabi, dan kejahatan mereka juga layak mendapat hukuman. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus kepada mereka sebagaimana diutus kepada manusia. Semua ini tidak diperselisihan para ulama. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tenang apakah jin yang muslim juga masuk surga? Mayoritas ulama berpendapat bahwa jin muslim akan masuk surga, dan jinyang kafir akan masuk neraka. Ada juga yang mengatakan bahwa pahala jin yang muslim hanyalah keselamatan dari siksa neraka namun tidak akan masuk surga. Karena surga hanya dimasuki oleh Adam dan keturunannya, dan ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Orang-orang yang mengatakan bahwa jin muslim juga akan masuk surga memiliki beberapa argumentasi.

Pertama. Dalam ayat 123 dari surah Thaahaa di atas, Allah SWT memberitakan bahwa barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Nya, maka ia tidak akan merasa takut, sedih, tersesat dan menderita. Ini merupakan konsekuensi dari kesempurnaan nikmat-Nya. Tidak bisa dikatakan bahwa ayat tersebut hanya menunjukkan peniadaan azab, karena sudah menjadi kesepakatan bahwa jin mukmin tidak akan disiksa. Seandainya ayat di atas hanya menunjukkan peniadaan azab, maka itu bukanlah pujian bagi manusia yang mukmin, namun sekedar informasi peniadaan ketakutan dan kesedihan. Sebagaimana diketahui bahwa konteks dan maksud ayat adalah bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah SWT, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang paling besar dan terhindar dari penderitaan yang sangat pedih. Allah SWT mengungkapkan semua itu dengan meniadakan rasa takut dan kesedihan tersebut sesuai dengan tuntutan keadaan. Sehingga, ketika Allah SWT menurunkan Adam a.s. dari surga, maka ia dirundung rasa takut, kesedihan dan penderitaan. Lalu Allah memberitahukan kepadanya bahwa Dia memberikan janji baginya dan bagi keruturunannya. Yakni, barangsiapa mengikuti petunjuk-Nya, maka akan terhapus ketakutan, kesedihan, kesesatan, dan penderitaan darinya. Dan dimaklumi bahwa semua itu tidak akan hilang kecuali dengan masuk ke surga. Tetapi, dengan menyebutkan peniadaan keburukan yang paling berat adalah lebih tepat.

Kedua. Firman Allah SWT,

"Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Ai-Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu untuk mendengarkannya.' Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.' Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab 64/-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.'" (al-Ahqaaf: 29-31)

Dalam ayat di atas Allah SWT memberitahukan kepada kita tentang ancaman-Nya terhadap para jin, yaitu barangsiapa yang memenuhi seruan utusan-Nya, maka akan diampuni dan dibebaskan dari neraka. Seandainya ampunan bagi mereka hanya berupa pembebasan dari azab, maka cukup dengan firman-Nya, "Dan melepaskan kamu dari azab yang pedih." Akan tetapi, kesempurnaan ampunan itu adalah masuk ke surga dan selamat dari neraka. Sehingga barangsiapa yang mendapat ampunan dari Allah, maka dia masuk surga.

Ketiga. Firman Allah SWT tentang bidadari di surga,

"Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin." (ar-Rahmaan: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa jin dan manusia yang beriman akan masuk surga, dan bahwa bidadari di dalamnya belum pernah disentuh oleh mereka. Maka, ini menunjukkan jin-jin yang beriman dapat menyentuh bidadari setelah mereka masuk surga, sebagaimana yang terjadi pada manusia. Seandainya mereka tidak masuk surga, tentulah tidak pantas bagi mereka menerima berita seperti itu.

Keempat. Firman Allah SWT,

"Maka jika kami tidak dapat membuatnya, pasti kamu tidak akan dapat membuatnya. Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga itu, mereka mengatakan, 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. 'Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (al-Baqarah: 24-25)

Di antara jin ada yang mukmin dan ada yang kafir, sebagaimana dikatakan oleh jin-jin saleh di antara mereka,

"Dan sesungguhnya dari kami ada orang-orang taat dan ada pula orang-orang yang menyimpang dari kebenaran." (al-Jinn: 14)

Maka karena golongan jin yang kafir masuk dalam ayat kedua (al-Jinn: 14), maka

golongan jin mukmin juga harus masuk dalam ayat pertama (al-Baqarah: 25).

Kelima. Firman Allah SWT tentang jin-jin yang saleh,

"Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus." (al-Jinn: 14)
Maksud ar-rusyd di sini adalah petunjuk dan kemenangan, yaitu petunjuk dari Al-Qur'an. Maka, barangsiapa tidak masuk surga, dia tidak memperoleh tujuan dari petunjuk tersebut, melainkan petunjuk tersebut sekedar dalam pengetahuannya saja.

Keenam. Firman Allah SWT,

"Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (al-Hadiid: 21)

Golongan jin yang mukmin adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dan para rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka termasuk orang-orang yang memperoleh berita gembira dan berhak menerimanya.

Ketujuh. Firman Allah SWT,

"Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (Yunus: 25)

Dalam ayat ini Allah SWT menjadikan seruan-Nya bersifat umum, dan menjadikan hidayah-Nya bersifat khusus. Maka, barangsiapa mendapatkan petunjuk-Nya, dia termasuk yang diseru kepada petunjuk-Nya itu. Jadi jin yang mandapatkan hidayah-Nya, adalah termasuk yang diseru kepada hidayah itu.

Kedelapan. Firman Allah SWT,

"Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dan golongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan-Ku hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat seimbang dengan apa yang dikerjakannya. Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (al-ArTaam:

128-132)

Penjelasan ayat ini adalah umum untuk jin dan manusia. Dalam ayat tersebut Allah SWT memberitakan kepada mereka bahwa masing-masing mereka memiliki derajat sesuai dengan amalnya. Sebagai konsekuensinya, maka jin yang melakukan kebajikan juga memiliki derajat sesuai dengan amalnya, sebagaimana manusia.

Kesembilan. Firman Allah,

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' (Fushshilat: 30)

Dan firman Allah SWT,

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah,' kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak ada pula berduka cita. Mereka-mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (al-Ahqaaf: 13-14)

Ayat ini kami jadikan dalil, karena tiga alasan. Pertama, kata penghubung (alladziina) di dalam ayat tersebut bersifat umum. Kedua, disebutkannya pahala setelah hal-hal terpuji yang disebutkan sebelumnya. Dan ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menyandang hal-hal tersebut berhak menerima pahala itu. Hal-hal terpuji tersebut adalah ikrar bahwa tiada tuhan selain Allah disertai dengan istiqamah. Ketetapan ini adalah umum karena keumuman sebab. Apabila masuk surga adalah konsekuensi dari kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan pengakuan akan rububiyah-Nya, disertai dengan konsisten terhadap segala perintah-Nya, maka barangsiapa yang melakukan hal ini, dia pun berhak atas balasan tersebut. Ketiga, Allah SWT berfirman,

"Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak ada pula berduka cita. Mereka-mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (al-Ahqaaf: 13-14)

Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih adalah penghuni surga. Dan, tentang siapa yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih telah disebutkan dalam firman Allah,

"Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka mereka tidak akan merasa takut dan merasa sedih." (al-Baqarah: 38)

Ayat ini meliputi dua golongan, dan ayat ini menujukkan bahwa siapa saja yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih, maka dia adalah penghuni surga.

Kesepuluh. Jika jin-jin yang kafir masuk neraka karena keadilan Allah, maka masuknya jin-jin yang mukmin ke surga karena kemuliaan dan kasih sayang Allah adalah lebih utama. Sebab, kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya dan kebaikan lebih umum daripada keadilan.

Oleh karena itulah, tidak akan masuk neraka kecuali mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni neraka. Berbeda dengan surga, ia dapat dimasuki oleh mereka yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali. Karena Allah SWT telah menciptakan golongan untuk surga yang akan menempatinya tanpa harus melakukan amal kebajikan. Di dalam surga juga Allah akan menaikkan derajat hamba-hamba-Nya tanpa ada usaha dari mereka, melainkan karena doa, shalat, sedekah dan perbuatan baik yang dihadiahkan orang lain kepada mereka.

Merupakan ketetapan Al-Qur'an serta kesepakatan umat, bahwa jin kafir akan masuk neraka karena keadilan Tuhan dan karena apa yang mereka perbuat. Sedangkan, jin-jin mukmin akan masuk surga karena kemuliaan Allah dan karena amal mereka.

Ada juga yang berpendapat bahwa jin-jin mukmin tersebut berada di dasar surga, di mana mereka dapat dilihat oleh penghuni surga lainnya tapi mereka sendiri tidak melihat penghuni surga lainnya. Menurut pendapat ini, kondisi mereka di surga ini kebalikan di dunia, di mana jin-jin tersebut dapat melihat anak-cucu Adam, sedangkan anak-cucu Adam tidak dapat melihat mereka.

Akan tetapi, hal seperti ini tidak dapat diketahui tanpa ada dalil yang tidak bisa dibantah. Dan jika dalil tersebut memang benar, maka itu wajib diikuti. Namun jika tidak ada dalil yang mendukungnya, maka pendapat ini sekedar disampaikan agar dapat diketahui, sedangkan kebenarannya tergantung pada dalil. Wallaahu a'alam


Sumber ,: Buku kunci kebahagiaan karya ibnul qoyyim


Sunday, 6 August 2017

Download Ebook Pentingnya Wala dan Bara' Dalam Islam

Ebook ini menjelaskan tentang bahaya loyalitas kepada kafirin dan berikut sifat wala dan bara' adalah sifat utama menjaga kualitas keimanan dan tauhid kepada Allah swt. Simak selengkapnya

Download Ebook pdf


Thursday, 3 August 2017

Download Terjemah Hadits Musnad Ahmad Pdf


Musnad al-Kabir atau lebih dikenal sebagai Musnad Ahmad adalah salah satu dari Sembilan Kitab hadits yang dijadikan rujukan utama umat Islam kebanyakan, terutama dari golongan Ahlus Sunnah. Kitab ini disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad menyusun kitab ini berdasarkan sahabat yang lebih awal masuk Islam dan lebih utama kedudukannya dalam Islam. Dia memulainya dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, kemudian ahli badar, disusul ahli ba'it ridhwan dan seterusnya.


Download EBook Pdf


Download Ebook Pengetahuan Dasar Kewajiban Zakat pdf




Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam
tercurah kepada Nabi yang tidak ada nabi
setelahnya, dan atas keluarga dan para
sahabatnya.

Amma ba’du.

Saya menulis risalah ini untuk menasihatkan dan
mengingatkan kaum Muslimin dengan ikhlas
mengenai kewajiban membayar Zakat, sebuah
perkara yang oleh sebagian Muslim teledor dan
lemah terhadapnya (pelaksanaannya). Banyak yang
tidak membayarkan Zakatnya sesuai dengan yang
disyariatkan di dalam agama, padahal zakat
memiliki keutamaan dan merupakan salah satu
rukun Islam yang tanpanya Islam tidak dapat
tegak.


Sunday, 30 July 2017

Download Ebook Terjemah Nashaihul Ibad Pdf Lengkap 2 Versi Buku



Nashâ’ihul ‘Ibâd, sebagai pengingat terhadap persiapan menghadapi hari berpulang, kembali kepada Allah Swt. Mutiara nasihat di dalamnya ada yang beruntai dua-dua, ada yang tiga-tiga, dan seterusnya sampai sepuluh-sepuluh. Seluruhnya terdapat 214 nasihat dengan 45 khabar (hadis) dan selebihnya atsar (petuah, percik renungan, wejangan dari para sahabat, tabiin, dan ulama klasik). Aku memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar menjadikan buku ini bermanfaat bagi kaum muslim dan sebagai pusaka berharga hingga Hari Pembalasan—amin. —Imam Nawawi al-Bantani Kitab Nashâ’ihul ‘Ibâd yang jadi bacaan wajib di pesantren dari masa ke masa ini sangat dikenal di negeri-negeri muslim (Timur Tengah, Afrika, dan Asia). ‎Mata air penyegar ruhani orang beriman. Sumbernya terpercaya, ungkapan nasihatnya bikin perjalanan hidup sehari-hari jadi bercahaya.

Download EBook Pdf 
(sampul hijau)

Mirror link





Versi Ebook pdf sampul coklat hanya beda penerjemah Klik Disini 

Friday, 28 July 2017

Download Ebook Catatan Hitam 5 Presiden Indonesia, 1997 - 2007

 https://image.slidesharecdn.com/catatanhitamlimapresidenri-111219074924-phpapp02/95/catatan-hitam-lima-presiden-ri-1-728.jpg?cb=1324283731

Yang akan Anda baca ini memang bukan sesuatu yang manis. Buku ini juga tentu tidak ditujukan untuk menyenangkan setiap orang seperti cerita pengantar tidur. Di dalamnya, memuat rekaman hitam bersejarah yang boleh jadi belum pernah terungkap di media. Ini adalah hasil penelusuran jurnalistik selama 10 tahun. Catatan yang tajam dan paling komprehensif yang membedah kegagalan demi kegagalan presiden kita dalam membawa Indonesia tinggal landas. Satu hal yang pasti, ada solusi dan pencerahan yang ditawarkan sang penulis kepada kita dengan cara memberi gambaran apa adanya tentang tanah air tercinta. Setidaknya agar muncul ide-ide kreatif untuk menyelesaikannya.

 "Buku ini menarik karena merupakan hasil penelusuran jurnalistik sepanjang satu dekade, dengan dilengkapi analisis kritis yang komprehensif menyangkut aneka peristiwa ekonomi-politik yang berlangsung dalam kurun waktu itu."  Seputar Indonesia "Buku ini merupakan hasil penelusuran jurnalistik selama 10 tahun sekaligus analisis kritis yang komprehensif mengenai setiap peristiwa yang berlangsung selama itu. Buku ini memang tidak menyajikan sesuatu yang manis tentang republik." Media Indonesia "Ishak Rafick adalah wartawan yang mumpuni dan penuh ide. Buku ini adalah refleksi pikiran dan pandangan ekonominya terhadap berbagai masalah ekonomi di Indonesia, terutama sejak krisis. Saya salut atas hasil kerja kerasnya."

 Prof. Dr. Didik J Rachbini, Pengamat ekonomi dan Pendiri lembaga riset INDEF



DOWNLOAD EBOOK PDF

Mirror link

Download Ebook Terjemah Hadits Shahih Bukhari Lengkap Versi PDF

 https://shop.pengusahamuslim.com/wp-content/uploads/2014/10/ringkasan-shahih-bukhari.jpg
Kitab hadits hadits shohih bukhari adalah kitab hadits paling shohih yang menjadi rujukan utama umat islam setelah al-quran. Imam Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Di antara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah dia mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hafal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat di antaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat/pembawa) hadits itu tepercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami'al-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari. Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim.

DOWNLOAD EBOOK BUKHARI VERSI PDF


Mirror Link


Untuk DOWNLOAD VERSI CHM KLIK DISINI

Thursday, 27 July 2017

Download Ebook Adab Penuntut Ilmu

Adab seorang murid adalah
"Membersihkan hati dari kedengkian, dendam dan hasad serta
jeleknya keyakinan atau akhlak agar dengan itu dapat menerima
ilmu dan menghafalnya dengan baik."  selengkapnya......
   

Download Ebook Kumpulan Cerita Humor Abu Nawas

Abu nawas adalah sosok jenaka yang punya banyak akal sehingga dicap orang sebagai cerdik dan licik namun kelicikannya adalah dalam hal yang positif. Abu nawas sering disebut sebut sebagai tokoh sufi dan dianggap sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik ia digambarkan sosok yang bijaksana sekaligus kocak.

Simak kumpulan cerita humor dari abu nawas

Download Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami PDF

Cerpen kontroversil dan terkenal itu bernama, Robohnya Surau Kami karya AA navis yang meninggal 2003 lalu. Robohnya Surau Kami menceritakan tentang seorang kakek tua yang tinggal di sebuah desa dan tinggal di sebuah surau. Surau ini sangat sejuk dan rapi. sebagai penjaga surau beliau tidak mendapatkan apa apa, Kakek itu hidup mendapatkan sedekah dari orang tiap hari jumat dan mendapatkan hasil pemunggahan ikan mas dari kolam lalu setahun sekali orang orang mengantarkan sedekah pada hari idul fitri. Bagi kakek, Harta bukanlah segala segalanya sehingga dia sangat rajin beribadah dan tidak mengurusi urusan duniawinya.

Suatu hari kakek bertemu dengan seorang pembual yang bernama Ajo sidi. Ajo sidi bercerita tentang Haji Saleh kepada Kakek bahwa Haji Saleh yang masuk neraka walaupun sehari harinya beribadah di masjid. Ibadah A-Z sudah pernah dilaksanakan persis seperti Kakek. Haji Saleh protes kepada tuhan mengapa dia masuk neraka.Tuhan menjelaskan Haji saleh bekerjanya hanya beribadah saja dan malas lalu haji Saleh terlalu egois karena hanya mementingkan dirinya sendiri. Tuhan pun tetap memasukkan Haji Saleh ke dalam nereka. Mendengar cerita Ajo Sidi, Kakek merasa tersindir dan merasa ibadahnya sia sia, lalu kakek memutuskan untuk menggorok lehernya sendiri.

Sekarang  Surau ini tidak seperti dulu,surau ini makin hancur karena banyak perempuan yang kehabisan kayu bakar serong mencopoti papan dindin atau lantai malam hari dan anak anak yang menggunakannya sebagai tempat bermain.

Download Makalah kajian Filsafat Terhadap Kebenaran Sains



Filsafat adalah induk semua ilmu pengetahuan. Dia memberi sumbangan dan peran sebagai induk yang melahirkan dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan hingga ilmu pengetahuan itu itu dapat hidup dan berkembang. Sedangkan menurut Rapar (Pengantar Filsafat: 1995). Filsafat adalah mater scientiarum atau induk ilmu pengetahuan. Filsafat disebut ilmu pengetahuan karena memang filsafatlah yang telah melahirkan segala ilmu pengetahuan yang ada. Jauh dari keinginan untuk mendewakan dan memulia-kan filsafat, kehadirannya yang terus- menerus di sepanjang sejarah peradaban manusia sejak kelahirannya sekitar 25 abad yang lalu telah memberi kesaksian yang menyakinkan tentang betapa pentingnya filsafat bagi manusia.

Filsafat juga membantu ilmu pengetahuan untuk bersikap rasional dalam mempertanggungjawabkan ilmunya. Pertanggungjawaban secara rasional di sini berarti bahwa setiap langkah langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan dan harus dipertahankan secara argumentatif, yaitu dengan argumen-argumen yang obyektif (dapat dimengerti secara intersuyektif)..